Haryadi Yansyah's Reviews > Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng by Jostein Gaarder
Rate this book
Clear rating

by
581237
's review
Jun 12, 2009

really liked it
bookshelves: novel
Read in July, 2009

Ini buku kedua Jostein Gaarder yang aku baca. Sebelumnya, Aku sudah berkenalan dengan Dunia Sophie yang tersohor itu. Namun, untuk sementara, ’kencan’ dengan Dunia Sophie aku hentikan. Bukan karena jelek, tetapi baca novel-filsafat seperti Dunia Sophie dibutuhkan ketenangan dan waktu khusus (setidaknya itu yang aku rasakan dan butuhkan). Kapok ’bertemu’ dengan Jostein Gaarder? Tentu tidak :D Prihal ketertarikanku akan Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini bahkan sudah tercipta sejak Mbak Rini, sebagai pemilik blog resensiSinarbulan memasukkan buku ini ke dalam daftar Bacaan Favorit.

Tentang – Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng -

Bagaimana rasanya memiliki ledakan imajinasi? coba ’tanyakan’ hal itu kepada Petter ”Si Laba-laba” yang sedari kecil telah dianugerahi imajinasi yang brilian. Petter, yang hanya hidup bersama sang Ibu, terlanjur menyukai kesendirian ketimbang bermain permainan yang menyenangkan selayaknya anak-anak yang lain. Ketika beberapa teman sebaya mengajaknya bermain di luar, Petter memilih berbohong dengan mengatakan ia tengah sakit perut agar bisa terbebas dari permainan (yang menurutnya) membosankan. ”Saya bisa bermain lebih baik dengan khayalan Saya sendiri,” batinnya. Hal.27.

Lantas, apa permainan menyenangkan menurut Petter? Seorang anak dengan kekayaan imajinasi sepertinya, lebih memilih cara yang menurutnya jauh ’berkelas’ untuk bermain. Misalnya saja dengan cara diam-diam memakai telepon ketika sedang sendirian di rumah, menghubungi perusahaan taksi, dan dengan kelihaiannya memesan 6 taksi untuk tetangganya dalam waktu yang bersamaan. Ekspresi kebingungan si tetangga yang tiba-tiba didatangi 6 buah taksi adalah permainan yang sangat menyenangkan bagi Petter.

Petter (yang hidup bersama tokoh imajiner bernama Lelaki Semeter) tak hanya dianugerahi imajinasi yang dahsyat. Ia juga dianugerahi kecerdasan jauh melebihi teman-temannya. Beberapa kali Petter memanfaatkan kecerdasannya itu untuk membantu mengerjakan PR beberapa temannya dengan upah uang atau kencan singkat (jika temannya itu adalah seorang wanita). Walau begitu, Petter tidak mentah-mentah menadaptasi jawaban yang sama untuk sebuah PR kepada beberapa teman-temannya. ”Saya paling suka menyusun jawaban dengan banyak kesalahan. Tugas semacam itu menuntut lebih banyak kecerdasan daripada tugas menyusun jawaban yang bebas kesalahan....” Hal.60

Ketika dewasa, Petter yang bingung bagaimana memanfaatkan imajinasinya yang semakin hari semakin menumpuk (tanpa pernah mau ia realisasikan dalam bentuk nyata seperti buku) , secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang bersedia membeli imajinasinya itu. Mulai saat itulah Petter sadar bahwa ia bisa hidup dengan imajinasinya.

Petter lalu mendirikan Writers’ Aid, sebuah lembaga ’dunia bawah’ untuk ’membantu’ penulis-penulis buku yang miskin ide. Semua ide yang ia jual diakui sebagai ide yang original, dan itu benar adanya. Usaha Petter untuk meyakinkan kliennya bahwa ia tidak akan membocorkan ’kerja sama’ mereka cukup menarik. Dengan menjual ide, Petter menjadi kaya raya. Ia juga dengan ’bebas’ dapat mengencani klien-kliennya yang berjenis kelamin wanita.

Namun, pepatah sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga akhirnya mampir ke dalam kehidupan Petter. Writers’ Aid mulai tercium pihak lain yang lalu secara bias mulai mengancam kehidupan Petter. Penyebabnya adalah ada buku buku dengan ide yang (hampir) sama namun ditulis dua penulis yang berbeda. Belakangan, Petter menerka-nerka bahwa Maria, wanita yang sebelumnya sangat dicintainya, yang menyebarkan ide tersebut. Karena disepanjang hidupnya, hanya kepada Maria, Petter menceritakan ide-ide yang ia punya.

Sebuah kisah unik dan menarik. Dari awal, kata-kata pada judul... ”Lelaki Penjual Dongeng”, adalah magnet terbesar bagiku sehingga tertarik pada buku ini. Satu-satunya ketidaknyamananku terhadap buku ini, adalah penggunakan kata ”Saya” yang digunakan penerjemahnya, yang menurutku akan jauh lebih enak dibaca jika menggunakan kata ”Aku”.

Walau tidak seberat Dunia Sophie, bukan berarti Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng adalah sebuah kisah yang ringan. Butuh konsentrasi untuk mengencani buku ini. Kenapa? Karena Jostein suka sekali menggunakan narasi-narasi yang panjang, walau tidak juga membosankan. Awalnya aku memang sedikit tertarih memahami tokoh Petter si Laba-laba ini, namun... semakin ke belakang, semua jadi semakin jelas dan menarik. Endingnya juga tak kalah mengejutkan. Tepok tangan untuk Jostein Gaarder si pemilik ledakan imajinasi yang sebenarnya.

”Saya memiliki lebih banyak imajinasi daripada yang bisa dimanfaatkan oleh dunia. Saya tidak pernah hidup dalam kenyataan, Saya hanya membuat kompensasi dalam kehidupan.”
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng.
Sign In »

Reading Progress

06/12/2009 page 2
0.51% "pertarungan dimulai... :)" 4 comments
06/15/2009 page 13
3.3% "Sempat kehilangan arah di awal-awal ^^" 2 comments
06/17/2009 page 53
13.45% "Mulai asyik dengan Peter si pengkhayal ;)"
07/01/2009 page 281
71.32% "Dikiiiiit lagi, sabar ya ^^ *lirik Mbak Rini dan Sinta*" 2 comments

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

Haryadi Yansyah Hahaha... oh ya, tgl 15 JuLi kan mbak? bukan JuNi? coba liat di sini (http://www.goodreads.com/review/show/....)


Helna pinjeeeeeemm..hehe


back to top