Pera's Reviews > Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari
Rate this book
Clear rating

by
149151
's review
May 08, 09

it was ok
bookshelves: gender, indonesia, novel
Read in May, 2009

"yah..tak seru. Andai Srintil tak jadi Gila. Mungkin cerita ini lebih menarik"

Aku selalu membaca buku setelah di rekomendasikan oleh banyak orang. Ini memotivasiku untuk bertahan membacanya. Sering buku yang kubeli, di gilir dulu oleh adik-adikku. Setelah ku puas dengan komentar mereka, baru aku mulai membacanya.

Ronggeng Dukuh paruk tak jauh berbeda. Penasaran dengan banyak rekomendasi untuk membacanya. Sekian lama dalam pencaharian, kutemukan lah di rak buku sebuah toko buku yang baru di buka. Setelah sekian lama cuti baca buku akibat kesibukan suksesi caleg. Inilah buku pertama yang kulahap tapi tak mengenyangkan.

Aku pernah membaca karya pertama Ahmad Tohari yang berjudul Kubah. Dan meski cara berceritanya cukup menarik, tapi ide yang di sampaikan, entah kenapa tak bisa kuterima.

Ronggeng Dukuh paruk, berkisah dengan zaman yang sama dengan novel Kubah. Zaman peralihan, orde lama dan orde baru. Berkisah tentang korban-korban peralihan zaman tersebut. Sepakat, kalau Ronggeng dukuh paruk lebih membawa pesan moral lebih baik dari Kubah. Tapi tetap saja tak begitu menarik bagi ku.

Secara halus, novel ini menggambarkan kondisi orang-orang yang di sebut rakyat yang begitu lugu dan mudah di perdaya. Terzolimi seumur hidupnya oleh kebodohan yang membuatnya tetipu oleh permainan politik.

Dukuh Paruk adalah desa dengan kearifan lokalnya yang dilestarikan turun temurun. Tentu saja nilai daerah tersebut berbeda dengan daerah lainnya, belum tentu baik di daerah lain.
Baik tentulah berbeda dengan benar.
Baik bersifat relatif di setiap daerah.
Begitulah Ronggeng dukuh paruk, di hormati dan di nilai baik di masyarakatnya.
Karena baik itu relatif, maka waktu pun menggeser nilai baik Ronggeng dukuh paruk menjadi tak baik. Oleh keluguannya,dan phobia politik, Ronggeng tersungkur dalam dosa panjang.(mungkin hingga saat ini)

Di sudut ini, novel ini mengisahkan hancurnya sistem budaya sampai kepribadian rakyat Indonesia pada masa revolusi dengan sangat baik. Masa peralihan orde lama dan orde baru, Begitu mudahnya memberi cap komunis, untuk orang yang tak paham apapun. Hanya karena lambang yang terpajang di depan rumah, hanya karena ikut manggung, hanya karena ingin membantu teman naik dalam truk tahanan.
Mudah masuk, tapi sangat sulit untuk melepas diri.

Dari sudut isu gender yang terselip dalam tokoh Srintil, sang Ronggeng. Kekecewaanku tumpah saat Srintil menjadi gila di penghujung cerita. Kerasnya hidup yang di jalani Srintil, hingga dia menemukan apa perannya sebagai Ronggeng yang merupakan jati diri Dukuh paruk, ternyata sangat rapuh oleh cita cita tak kesampaian menjadi ibu rumah tangga.
Kecewa, karena cerita sebelumnya membuatku membaca dan percaya bahwa Dukuh paruk adalah bentuk dari kepedulian Srintil terhadap lingkungannya. Tahap tertinggi kepribadian dimana Srintil paham bahwa dia mampu memberi pengaruh nilai kepada Dukuh paruk.
Menjadi Ibu rumah tangga justru bagian kecil dari lingkungannya. Dan Srintil hilang kewarasan karena tak kesampaian menikah. Seolah proses panjang hingga tahap tertinggi proses hidup Srintil harus tergadai untuk sesuatu yang bersifat individual.

Dan, kenapa pula Rasus muncul sebagai penyelamatnya?. Si pengecut yang terlambat sadar bahwa dia lah putra dukuh paruk yang harusnya berbuat terhadap Dukuh paruk. Bukannya menghukum Dukuh paruk yang telah menculik srintil dari kepemilikannya terhadap Srintil.

Hmm... meski Srintil, sang Ronggeng menguasai laki-laki, tetap saja, laki laki lah yang menyelamatkannya.

kesimpulannya..
yah..tak seru. Andai Srintil tak jadi Gila. Mungkin cerita ini lebih menarik.
2 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Ronggeng Dukuh Paruk.
Sign In »

Comments (showing 1-6 of 6) (6 new)

dateDown arrow    newest »

Irwan Hehehe.. Pada bagian akhir buku ini, ada detik-detik yang membuatku cukup khawatir akan ending cerita ini. Akankah ini jadi roman klise yang happily ever after, setelah semua elemen cerita terbangun?

Syukurlah penulisnya memilih sebuah tragedi yang cukup tidak terduga. Menunjukkan sisi rapuh Srintil, atau kelemahan Rasus yang tidak bisa memutuskan sesuatu yang penting pada saat yang tepat.

We don't need another cinderella, do we? :-)






Pera ya.. memang tak harus cinderela, atau happily ever after .
Endingnya, memang tak tertebak. Tapi, Gila sama saja dengan tokoh cerita mati sebelum cerita nya usai.


message 3: by Abah (new)

Abah Masih mending gila karena ada tersimpan harapan mungkin sembuh lagi.


Pera Benar jg ya Bah, tapi kisah di bukunya gak sampai sembuh.

bisa di lanjutin di buku berikutnya tuh, Srintil sembuh, tapi dia gak mau nikah ma Rasus.
hmm..


Pera Benar jg ya Bah, tapi kisah di bukunya gak sampai sembuh.

bisa di lanjutin di buku berikutnya tuh, Srintil sembuh, tapi dia gak mau nikah ma Rasus.
hmm..


message 6: by Abah (last edited May 12, 2009 05:21PM) (new)

Abah Hehe Pera, harapan itu kudu ada tersimpan dalam angan. Biar buku boleh berkelanjutan. Okay Srintil sembuh, tapi gak mau nikah. What next? Kan kudu gituh tuh bu Pera.


back to top