Jimmy's Reviews > Metropolis

Metropolis by Windry Ramadhina
Rate this book
Clear rating

by
1161178
's review
May 31, 09

Read in May, 2009

Mike beserta istrinya, Darla, terjerat narkoba. Bertahun-tahun, mereka mengkonsumsi heroin. Harta benda habis terjual yang membawa mereka akhirnya tinggal di rumah penampungan para tuna wisma. Namun, hal tersebut tidak menghentikan mereka untuk tetap mengkonsumsi heroin. Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh uang. Tentu saja, demi mendapatkan jatah heroin. Parahnya, dua anak remaja mereka, Matt dan Mike Jr. juga ikut terjerat. Keduanya mengaku meniru kelakuan orangtua mereka yang secara terang-terangan mengkonsumsi heroin di depan mereka. Tentu, Mike dan Darla tidak bisa melarang. Sesama pemakai akan terasa aneh bila saling menasihati, bukan? (Salah satu episode “Oprah Winfrey Show”)

Cengkeraman narkotika memang sangat kuat untuk dilepaskan. Ketagihan akan nikmat semu mungkin menjadi alasan. Dan mungkin pula itu yang menyebabkan bisnis barang terlarang ini demikian berkembang dan menjanjikan kekayaan tujuh turunan bagi pebisnisnya. Maklum, pelanggan akan selalu ada, mati satu tumbuh seribu.

Sebagian orang mungkin mengira kalau bisnis ini hanya sekedar bisnis kelas teri yang hanya beredar di pinggir-pinggir jalan. Kelihatannya memang seperti itu, tapi kenyataannya ada sebuah sistem besar yang bekerja untuk mendukung bisnis ini. Mulai dari pemasokan, pendistribusian, dan tentunya pencucian uang. Banyak yang tergiur untuk berbisnis yang menyebabkan terjadinya persaingan pasar dalam merengkuh pelanggan sebanyak mungkin. Dalam persaingan tentu ada yang kalah, ada yang menang. Apalagi bila persaingan sudah menjurus ke pertikaian, tak jarang menelan korban jiwa. Tidak jarang pula memunculkan konspirasi di lingkungan para pebisnis dan bahkan dengan para penegak hukum.

Indonesia sendiri sudah mulai merambah menjadi bagian jaringan internasional peredaran narkotika. Kita pasti sering mendengar berita terkait warga asing ataupun warna negara Indonesia yang ditangkap karena menyelundupkan narkotika. Bosan ditangkap petugas sebagai penyelundup, pabrik pun didirikan di Indonesia. Tidak berskala kecil, tapi besar. Baru-baru ini, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Widodo AS, menyatakan kalau Indonesia saat ini telah menjadi pusat produksi ekstasi berskala internasional. Hal ini terkait dengan semakin seringnya polisi menemukan banyak pabrik ekstasi berskala besar sejak tahun 2006. Dulu memang hanya menjadi tempat transit dan daerah pemasaran, tetapi sekarang berkembang menjadi tempat produksi.

Salah satu contoh pabrik ekstasi yang sudah digerebek adalah pabrik ekstasi berskala internasional di Jalan Camar, Pasir Gunung Selatan, Cimanggis - Depok. Pabrik ini diketahui sebagai pusat produksi bahan-bahan sabu-sabu dan ekstasi yang dipasarkan di Indonesia dan luar negeri. Jaringan yang bernama clandestine lab tersebut pun berhubungan dengan kelompok pengedar narkoba internasional. Para tersangka yang sudah ditangkap merupakan sindikat dari berbagai kalangan dan profesi Tidak hanya pria, wanita pun ikut serta. Ada yang berprofesi sebagai dokter gigi, karyawan, wiraswasta, dan bahkan ibu rumah tangga. Ini menandakan kalau target pelanggan mereka adalah semua lapisan masyarakat.
Windry Ramadhina, melalui bukunya yang kedua “Metropolis” mencoba memberikan gambaran sederhana kepada pembaca seperti apa sistem yang bekerja dalam bisnis narkotika ini. Bagaimana para pelaku bisnis ini berbagi wilayah kekuasaan, bagaimana mereka bisa saling berkerja sama mungkin sesering mereka saling bertikai dan saling membunuh. Tak ketinggalan bagaimana seorang polisi yang seharusnya bekerja sebagai penegak hukum, ikut terlibat dengan bisnis ini. Bagian ini mengingatkan saya dengan kasus yang menimpa Jaksa Esther Tanak dan Dara Veranita. yang disangka menjual barang bukti perkara psikotropika (Kompas, 14 April 2009). Benar bukan, kalau bisnis ini juga menggiurkan bagi aparat penegak hukum.

Sebenarnya, isu yang mendasari kisah dalam buku ini adalah pembalasan dendam keluarga. Bagi yang sering nonton film India, Anda pasti paham jalan cerita yang berlatarbelakang pembalasan dendam. Tapi jangan terlalu girang dulu, karena Anda tidak akan menemukan nyanyian dan tari-tarian di lapangan luas dengan sejumlah pohon dan tiang. Isu pembalasan dendam ini dikemas dengan sangat menarik oleh penulis. Banyaknya tokoh dalam buku ini juga tidak membingungkan, setidaknya buat saya. Tokoh-tokoh yang memang berperan kuat dalam mendukung cerita, dimunculkan dengan mulus sesuai dengan porsi dan peranan masing-masing dalam cerita. Masing-masing tokoh juga memiliki karakter yang kuat sehingga benar-benar mendukung cerita dan tidak mudah hilang dari ingatan pembaca.

Dendam tidak selalu berakhir dengan skor 1-1 atau 2-1. Tidak harus selalu ada yang menang dan kalah. Ternyata bisa juga sama-sama kalah. Sebuah nilai tersendiri yang bisa diambil dari cerita ini. Namun, saya masih sulit membayangkan seorang Bram, anggota polisi Indonesia, bisa berseteru dan membantah Burhan, atasannya, secara terang-terangan. Biasanya adegan seperti ini sering saya lihat di adegan-adegan film Hollywood. Tapi bagaimanapun juga, hal tersebut tidak terlalu mengganggu saya dalam menikmati jalan cerita secara keseluruhan.

Sejumlah informasi yang saya dapat baik lewat wawancara singkat maupun dari acara peluncuran buku ini (16 Mei 2009, World Book Day di Museum Bank Mandiri), penulis memang benar-benar turun ke lapangan untuk melakukan riset, bukan rekaan imajinasi semata. Jadi tidak heran kalau detil-detil lokasi yang dimasukkan membuat buku ini semakin lengkap dan menarik. Misalnya bekas pabrik coklat di Penjaringan, juga ke tempat para pengedar biasanya bersosialisasi, dan bahkan sampai “touring” ke Kampung Ambon, yang merupakan salah satu tempat peredaran narkotika yang kata Windry tidak seangker yang diberitakan.

Akhirnya, saya pun harus mengungkapkan kalau saya tidak terlalu suka dengan sampulnya, terlalu buram untuk sebuah buku bagus, sebuah buku yang memang layak dibaca.
2 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Metropolis.
sign in »

Comments (showing 1-4 of 4) (4 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by Windry (new)

Windry *nunggu Jimmy kesandung*

Thanks ya Jim, karena sudah baca ^o^


Jimmy Hehehe...too bad, sampai hari ini kaki jalannya aman-aman aja, belum kesandung :D tapi udah mulai nulis kok, cuman belum kelar...

Terima kasih kembali, ngga nyesel kok bacanya. Sedang mencari "Orange", siapa tau ternyata ciklit tulisan Windry bisa seseru Metropolis haha...


message 3: by Windry (new)

Windry horeee ada reviewnya ^o^
makasih sekali lagi Jimmyyy


Jimmy Same-same, Windry :D


back to top