Farah's Reviews > The Giving Tree

The Giving Tree by Shel Silverstein
Rate this book
Clear rating

by
2112750
's review
Mar 10, 2009

it was amazing
bookshelves: children, fiction, picture-book, reviewed
Read in March, 2008

Banyak yang gue ngga suka dari buku ini. Tapi gue tetap memberikan 5 bintang. Entah mengapa.

Banyak yang bilang, bahwa cerita the Giving Tree ini sebenarnya merupakan cerminan dari pengorbanan orang tua kepada anak-anaknya.
Makanya, apapun yang diminta sama si anak ini, si pohol apel ini ngasih aja.
Si anak butuh uang, si pohon bilang untuk menjual apel-apelnya.
Karena si pohon itu bilang bahwa dia bahagia saat melihat si anak bahagia juga.
Si anak perlu ini dan itu, dari ranting, ampe batang-batangnya juga dikasihin. Tinggal bonggolnya doang.
Si anak itu tumbuh jadi tua. Dan di hari tuanya, dia memerlukan tempat yang tenang untuk bersandar, dan dia kembali mendatangi bonggol pohon apel temannya itu. Dan menyandarkan tubuhnya disana.

Orang-orang bilang, seperti itulah orang tua kepada anaknya.
Semua yang diperlukan anaknya (atau yang dipikirnya perlu) akan dilakukan. Tidak peduli bahwa itu akan mengorbankan diri sendiri. Semua demi anak. Seperti itulah kasih orang tua terhadap anaknya.

Tapi gue ngga setuju. Karena buat gue, apa yang sudah dilakukan si anak itu, sungguh sangat keterlaluan. Masa, pohon bagus-bagus, semuanya diambilin?
Dari buah, ranting, batang, ampe tinggal bonggol?
Udah gitu datengnya kalo lagi butuh doang.
Tapi pada akhirnya, apa si pohon itu bahagia? Ngga juga. Tapi pohon itu ngga bisa marah sekalipun dia tahu betapa egoisnya si anak memperlakukan dia.

Buat gue, sebenernya ngga ada unsur pendidikan sedikitpun di dalam cerita ini.
Gue tahu, di luar sana, ada banyak orang tua yang menerapkan pola pendidikan macam ini. Semua yang diminta sama anak, dikasih. Berusaha diturutin. Ngga pernah dimarahin.
Hasilnya, si anak jadi anak yang ngga ngerti kesusahan orang tuanya. Egois. Tukang maksa.
Nah, apa yang mau ditiru dari pola pendidikan macam ini?

Sedikit curhat colongan ya, orang tua gue di rumah tahu betul kedudukannya. Orang tua di atas, anak berada satu tingkat di bawah.
Kalo anak-anaknya udah mulai badung dan ngga ngertiin orang tuanya, orang tua gue ngga segan-segan ngejitak anaknya ampe nangis. Untuk menunjukkan bahwa ada aturan di dalam keluarga ini. Tapi semua hal yang mau disampaikan oleh si anak, juga didengarkan. Karena si anak kan cuma satu tingkat dibawahnya. Jadi ibarat berdiri di tangga, yang di bawah mau ngomong, tetep kedengeran ama yang di atas. hehe

Balik lagi ke buku itu, pohon apel selamanya tetap pohon apel. Pohon apel bukanlah orang tua si anak. Itulah kenapa si anak hanya datang sesekali saat dia membutuhkan bantuan aja.
Jadi yang diceritakan, bukan analogi pengorbanan orang tua terhadap anaknya.
Kecuali yang diceritakan adalah pohon apel dan biji apel, gue percaya.
Mungkin, hanya mungkin, si penulis menuliskan cerita ini, sebagai analogi terhadap pola salah asuhan yang terjadi di lingkungan di sekitarnya. Bisa saja kan?

Jadi buat gue, cerita the Giving Tree ini tidak lebih hanyalah untuk menyampaikan, bahwa cara mendidik anak adalah sebuah pilihan. Dan pilihan itu yang nantinya akan membentuk karakter si anak.

Mari kembali kepada pendapat bahwa apa yang dilakukan oleh si pohon apel merupakan cerminan pengorbanan orang tua.
Logikanya seperti ini: Orang tua bisa saja memilih untuk jadi seperti si pohon apel. Statis, tidak bergerak dari tempatnya. Membiarkan si anak yang datang kepadanya, bukan menghampiri atau mendampingi si anak.
Hasilnya akan seperti itu. Bahwa si anak hanya akan datang kepadanya saat butuh aja. Karena si anak tahu, si pohon itu bisa memenuhi kebutuhannya saat itu.
Tapi yang tidak si pohon apel mengerti, bahwa si anak tidak akan pernah menyadari, bahwa keberadaan orang tua di sekitarnya, untuk mendukungnya, juga merupakan suatu kebutuhan.
Yang si anak tahu, kebutuhan itu segala sesuatu yang bersifat materi.
Si pohon apel kan tidak pernah mengikuti kemana si anak pergi?
Dia main sama siapa, apa yang dilakukan di sekolah, apakah si anak hari ini sedang sedih, atau gugup karena ada tugas menyanyi di depan kelas.
Si pohon apel tidak tahu akan hal itu. Karena dia bergeming di tempatnya. Dan hanya bisa berbicara dengan si anak, saat si anak yang datang kepadanya. Itupun datang untuk meminta sesuatu.
Dan itulah mengapa, si anak tumbuh menjadi orang yang egois.
Itulah hasil dari memilih untuk menjadi orang tua yang seperti si pohon apel.
Pada akhirnya, seegois apapun tindakan yang telah dilakukan oleh si anak kepadanya, si pohon apel tetap ngga bisa marah dan membiarkan si anak bersandar di sisa-sisa batangnya.
Itu kan, yang "orang tua tipe pohon apel" lakukan pada akhirnya? Ngga pernah bisa marah. Karena si anak udah terlanjur tumbuh dengan karakter seperti itu. Dan penyesalan selalu datang belakangan. Gue yakin, jauh di dalam hatinya, si pohon apel itu merasa menyesal. Bukan karena telah memberikan begitu banyak materi kepada si anak, tapi karena telah membiarkan si anak tumbuh jauh dari dia. Itu yang bikin dia ngga bisa marah sampai di akhir cerita.

Oh, iya. Di awal gue bilang bahwa gue ngga tahu kenapa gue memberikan 5 bintang buat cerita ini. Sekarang gue tahu kenapa. Karena kemauan si penulis menceritakan cerita ini, dan berbagi kepada pembacanya. Cerita yang banyak disalahtafsirkan sama orang lain. hahaha
6 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Giving Tree.
Sign In »

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Martha (new)

Martha Mom, minta buku The Giving Tree dong! hehe


Farah buku ini bacanya dulu lho, di perpustakaan sekolah tempat kerja pertama kali hahaha


back to top