Ita's Reviews > Buddha: Sebuah Novel

Buddha by Deepak Chopra
Rate this book
Clear rating

by
F_50x66
's review
Feb 08, 09


Kerajaan Sakya, 563 SM. Istana Kapilavastu, Nepal.

Siddharta, yang dalam bahasa Sansekerta berarti dia yang tercapai segala cita-citanya, dilahirkan secara darurat di Hutan Lumbini yang dingin dan sunyi. Waktu itu musim gugur. Ayahnya, Raja Suddhodana sedang sibuk perang. Ia adalah raja ambisius yang berperang bagaikan dewa. Ibunya, Ratu Maya Devi, ratu yang lembut hati dan diberkati dewa-dewa, meninggal seminggu setelah melahirkan.

Di tengah kedukaan dan kemarahan karena ditinggal istri yang dicintainya, Raja memanggil para Brahmana untuk membacakan mantra dan mengumumkan nama putranya dalam upacara resmi kerajaan. Para jyotishi (astrolog) istana meramal masa depan Siddharta. Dikatakan bahwa kelak ia akan menguasai keempat penjuru bumi. Namun seorang pendeta Brahmana yang sangat dihormati, Asita, yang juga pernah meramal Suddhodana kecil kelak menjadi raja pembunuh dan penakluk, mengatakan takdir lain bagi Siddharta. Bahwa ia akan menguasai jiwanya. Raja tidak bahagia dengan ramalan itu, meskipun Asita mengatakan bahwa menguasai jiwa sama seperti menguasai semua ciptaan, yang bahkan lebih tinggi daripada para dewa. Asita juga meramalkan bahwa raja akan menderita karena putranya bahkan akan sujud menghormatinya.

Raja murka mendengar itu. Ia mengusir Asita dan memaksakan Canki, pendeta yang melayani istana, meramalkan Siddharta yang menjadi penguasa dunia. Meskipun itu kehendak yang sangat rumit, Canki menyarankan agar raja membentuk dan mengontrol pikiran Siddharta sejak dini. Siddharta harus dilatih berpikir seperti raja, berlatih bertarung seperti prajurit perang. Raja harus ‘memenjarakan’ Siddharta di dalam kerajaan, tidak boleh satu kali pun keluar dari dinding istana. Siddharta tidak diperkenankan melihat penderitaan, kesakitan, ketakutan, kematian. Dan agar semua itu tercapai, raja harus melakukan usaha itu terus menerus selama 32 tahun.

Maka demi ambisinya, Raja membersihkan lingkungan istananya dari rakyat yang penyakitan, manula atau sedang sekarat, cacat. Mereka dibuang ke satu hutan yang jauh. Orang-orang yang tertinggal di sekitar kerajaan adalah yang berdarah biru dan tubuhnya dalam kondisi baik.

Siddharta remaja tumbuh besar di kompleks istana. Hatinya sangat lembut dan penyayang. Sebagai putra raja ia diwajibkan latihan bertarung. Namun ia selalu merasakan sesuatu tumbuh di dalam dirinya dan ia bergumul dengan pikiran-pikirannya. Sekali waktu Asita menampakkan diri di istana kerajaan dan bertemu Siddharta. Mereka tidak banyak bicara tapi Siddharta memahami sesuatu. Ia merasa sangat tentram dan damai saat mereka bersama. Secara alami ia bisa mengambil sikap samadi. Asita mengingatkan Siddharta bahwa kapan pun ia memerlukan kedamaian, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Siddharta terus bergumul dengan pikiran dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Sepupunya, Devadatta, sengaja didatangkan oleh ayahnya untuk tinggal bersamanya di istana sebagai teladan bagaimana seharusnya seorang putra raja bersikap. Tapi Devadatta membenci Siddharta. Ia memiliki kualitas karakter yang kejam dan pemarah, seperti Suddhodana.

Di usia 18, Suddhodana memperkenalkan Siddharta kepada para raja dan bangsawan sebagai penerus tahta kerajaan yang pantas dihormati dan ditakuti. Raja meminta Siddharta untuk bertarung. Siddharta sangat menderita dengan perintah itu. Tapi untuk menyenangkan ayahnya, ia bertarung dan memenangi pertarungan, bahkan melawan Devadatta.

Siddharta tinggal di istana hingga usia 29 tahun. Namun dorongan yang meluap dari hatinya tak dapat dibendung lagi. Ia meninggalkan istana, istri dan putranya yang baru berusia 4 tahun. Ia tahu hal itu membuat orang-orang yang dicintainya menderita. Tapi dorongan dari dalam jiwanya tak mampu membuatnya bertahan lebih lama di kerajaan. Ayahnya murka dengan kepergian Siddharta tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Siddharta menjadi pertapa. Ia berubah nama menjadi Gautama. Ia mengembara dari hutan satu ke hutan lain, bertemu petapa satu dan yang lain, mencari guru yang bisa mengajarinya menemukan pencerahan. Ditemani 5 petapa, mereka ke Puncak Himalaya. Di sini ia bersamadi berhari-hari, menyiksa tubuhnya, sampai tubuhnya hanya tinggal tulang berlapis kulit, kulit menebal dan pecah-pecah karena dingin. Ia lunglai tak berdaya. Para petapa bahkan pergi meninggalkan Gautama karena tak sanggup bertahan dalam penderitaan itu. Dalam samadinya, Gautama tiba di surga, lalu ke neraka menemui Mara, si raja setan. Ia mengalahkan 3 godaan Mara: nafsu, berahi, dan kebencian.

Akhirnya Gautama menemukan pencerahan sejati. Ia menjadi Buddha. Ia mencari ke-5 petapa yang kemudian menjadi pengikut pertamanya. Ia kembali ke istana Kapilavastu, menemui istri, anak, dan ayahnya, dan Devadatta. Ia membawa pesan damai bagi seluruh kerajaan. Ia menghentikan perang dengan cara yang ajaib. Untuk pertama kalinya kerajaan yang sibuk perang dari waktu ke waktu itu, menjadi damai.

***
Saya tahu Buddha sejak lama, tapi samar-samar dalam memahami arti mencapai pencerahan, dharma, karma, kasta, posisi dewa-dewa, nirwana. Dan saya temukan beberapa jawaban di buku ini. Saya melihat bagaimana pengarang buku ini melawat seluruh kehidupan Siddharta dan menceritakan ulang kisah hidupnya dengan penghormatan kepada Sang Buddha.

Deepak Chopra setia dengan keyakinannya. Ia bersikap jujur. Buku ini adalah rangkaian cerita yang ia buat demi menguak misteri kehidupan tokoh yang paling terkenal yang pernah hidup di bumi ini. Dalam kata pengantarnya Chopra berkata ia bekerja keras menciptakan tokoh-tokoh di sekitar kelahiran, masa kecil dan remaja Siddharta. Ia merekonstruksi kejadian-demi-kejadian.

Pengarang berusaha menyederhanakan pergulatan pikiran Siddharta sebelum menemukan pencerahan. Dengan tak kenal lelah ia mengolah pergumulan pikiran Siddharta, bagaimana ia menemukan ketakutan, kelemahan, penderitaan, bahkan kematian, dan mengatasinya. Chopra memaparkan kemanusiaan Buddha secara lembut. Ia gambarkan bagaimana Siddharta yang jatuh cinta, marah, kesal. Bersentuhan secara fisik dengan manusia lain.

Dialog-dialog jelas antara Siddharta dan batinnya, dengan Mara si raja setan, dengan para petapa, mengagumkan buat saya. Dengan keahlian dan pemahaman yang mendalam Chopra menjelaskan dengan gamblang bagaimana pikiran dapat tumbuh liar dan mematikan manusia. Ia mengulik dengan tekun sampai ia berani menulis frasa bunuh diri sebagai pernyataan kekalahan pertahanan manusia dalam mengatasi pikiran dan keputusasaannya.

Menurut Chopra semua bisa terjadi pada manusia. Yang baik dan yang jahat. Bagaimana kejahatan bisa dipadamkan dan kebaikan ditumbuhkan. Tanpa kecuali. Tidak ada yang hidup yang cuma-cuma. Semua mesti diupayakan. Termasuk kehidupan para petapa yang banyak dianggap sebagai orang suci. Chopra dengan tegas berkata pendeta tidak identik dengan orang suci. Mereka pun harus berjuang mengatasi pikiran-pikirannya. Ia menggambarkan petapa yang pemarah, pemalas, dan tidak memahami dharma atau ajaran apapun. Chopra tidak ragu-ragu menggambarkan rumitnya jenjang-jenjang pada kasta. Sebagai insider, ia berusaha menjadi outsider yang bercerita secara adil namun penuh hormat.

Saya menyukai Chopra menulis detail. Blio menyebutkan secara spesifik nama pohon, keadaan hutan, tumbuhan, buah-buahan yang dimakan para petapa. Ia memaparkan perempuan penghibur yang merawat tubuhnya dan trik-trik menarik lawan jenis. Namun ia tidak menulis pendapat Buddha tentang Tuhan. Ia berlapang dada menyatakan kemanusiaan tokoh Buddha yang meninggal di usia 80 tahun karena keracunan makan dan cukup rendah hati mempersilakan para pembaca menarik kesimpulan sendiri bagaimana usaha mendapatkan pencerahan dan menjadi Buddha.

Sedikit saja, saking terlalu sopannya blio bercerita, ia kurang memanfaatkan berbagai konflik antar tokoh menjadi satu bagian yang mencekam sensasi pembaca. Ia kurang menggali psikologis Siddharta ketika pertama kali menjadi manusia di luar istana. Ketegangan plot dibiarkan begitu. Klimaks tampil datar. Satu yang mengganjal adalah tokoh Devadatta. Ia seolah tempelan tak berjiwa. Ia seperti berada di sana untuk menjadi pelengkap penderita yang memuluskan jalan Suddhodana mencapai keinginan dan Siddharta menemukan pencerahan. Padahal ia seorang pangeran tapi dibiarkan tinggal begitu lama di istana yang tak memberinya harapan menjadi raja. Tetapi secara keseluruhan buku ini berhasil memberitahu apa dan siapa Buddha yang sebenarnya. Saya suka buku ini.

Februari, 2009
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Buddha.
sign in »

No comments have been added yet.