nurhasanah muchtar's Reviews > Cinta di Rumah Hasan al Banna

Cinta di Rumah Hasan al Banna by Muhammad Lili Nur Aulia
Rate this book
Clear rating

by
858254
's review
Dec 25, 08

bookshelves: q-biografi

Cinta di Rumah Hasan Al-Banna

Tidak seperti kebanyakan da’i saat ini, yang pintar khutbah dan dakwah kemana-mana tapi ternyata tidak harmonis dengan keluarga sendiri. Tidak begitu dengan Hasan Al-Banna, oleh musuh beliau disegani, oleh rakyat Mesir beliau disukai dan dihormati, apalagi oleh anggota Ikhwan dan keluarganya beliau sangat dicintai.

Hasan Al-Banna tokoh yang sangat karismatik, lembut perasaannya, tapi tegas dan konsekwen dalam beragama. Banyak orang yang mengatakan bahwa Hasan Al-Banna adalah peminpin yang telah disiapkan oleh Allah, bukan disiapkan oleh zamannya apalagi disiapkan oleh dirinya sendiri. Hanya dalam waktu kurang lebih 6 bulan ditambah 15 tahun, Hasan Al-Banna berhasil mendirikan pondasi yang kokoh bagi gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan 2000 cabang di Mesir dan berhasil melebarkan sayap dakwah di 20 negara lain.

Walau mempunyai kesibukan yang luar biasa, Hasan Al-Banna sangat faham bahwa keluarga adalah obyek dakwah yang paling pertama. Jika keluarga sudah terbentuk baik keislamannya, maka pembentukan masyarakat islami akan lebih mudah. Adalah memang fakta jika disebutkah bahwa antara perkataannya di mimbar-mimbar dakwah dengan realitas kehidupannya menyuarakan satu hal yang sama.

Buku ini ditutur menggunakan gaya bahasa yang ringan, hampir tidak ada ayat dan hadits di dalamnya karena memang bukan buku teori. Jika ingin refreshing sejenak, buku ini cocok sekali dijadikan bahan bacaan. Kejelekan buku ini hanya dua: yang pertama, masala kata ganti orang yag digunakan tidak konsekwen agak teganggu juga bacanya. Yang kedua, buku ini kurang tebal :D.


Bagaimana bentuk interaksi Hasan Al-Banna dengan keluarganya di rumah?, berikut ini akan saya ceritakan sedikit saja kepada anda, silahkan dinikmati :-).

Hasan Al-Banna membangun kedekatan hati yang sangat cantik dengan keluarganya, metode dan strategi yang diterapkan untuk mengarahkan keluarganya dilakukan dengan cara yang sangat halus. Keluarganya pun tidak merasa dikekang, tidak merasa diatur, mereka hanya merasa disayang, diperhatikan, diberitahu jalan yang terbaik. Maka dengan sukarela karena cinta yang sangat besar pada sang ayah, anak-anak Hasan Al-Banna selalu mematuhi perintahnya.

Hasan Al-Banna adalah ayah yang sangat perhatian pada keluarganya. Beliau selalu menyempatkan diri makan bersama. Beliau juga mengatur waktu seketat mungkin agar bisa bertamasya dengan keluarganya secara rutin. Walaupun begitu, beliau tidak perna terlihat stress karena beban pekerjaan yang banyak, beliau juga tidak pernah Bersuara keras sebagai bentuk kelelahan.

Saiful Islam, anak kedua Hasan Al-Banna, mengatakan: “Ayah –semoga Allah nerahmatinya—adalah manusia yang mendapakan taufiq Allah dalam hal ini. Beliau menggantikan waktu yang ia khususkan untuk kami dengan waktu yang lain bila beliau harus pergi.Tapi dalam hal lain ayah memiliki keistimewaan. Anda bisa saja duduk dengannya hanya dua jam, dan ternyata itu sudah memuaskan anda”. Tsanna, anak ketiga, Hasan Al-Banna bercerita: “Kami tidak pernah merasakan beban kegiatan yang dirasakan ayah selama di rumah. Misalnya saja, kami tidak pernah melihatnya seperti banyak orang yang kerap berteriak atau bersuara keras di dalam rumah, dan semavamnya sebagai akibat dari tekanan mental dan fisiknya setelah banyak beraktifitas di luar rumah. Bahkan yang paling penting dalam kehidupan ayah adalah soal pengaturan keluarga. Jika anda baca bagaimana perikehidupan ayah, anda akan lihat bahwa semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah”.

Hasan Al-Banna memiliki catatan yang luar bisa rapihnya tentang identitas diri anak-anaknya, juga catatan riwayat sakit secara detail, jadwal berobat, bahkan catatan prestasi anak-anaknya juga tersusun dengan rapih. Hasan Al-Banna tidak pernah lupa untuk memenuhi kebutuhan uang saku dan peralatan sekolah anak-anaknya, bahkan beliau memiliki catatan sendiri mengenai kebutuhan rumah dan dapur setiap bulannya. Semua keperluan keluarganya itu beliau penuhi sendiri, kalau tidak bisa beliau akan meminta tolong anggota ikhwan untuk mengantarkan barang-barang yang diperlukan ke rumahnya.

Hasan Al-Banna tetap meluruskan jika anak-anaknya berbuat tidak baik. Sangat halus metode yang beliau terapkan, tapi kehalusan itu tidak membuat anak-anaknya menganggap remeh bahwa kesalahan yang sama boleh diulangi lagi. Perhatikanlah cerita dari Tsana, berikut ini:

“Jarang sekali ayah menghukum kami. Kecuali bila melakukan kesalahan yang dianggap berat atau terkait dengan pelanggaran perintahnya yang sebelumnya kami telah diingatkan. Jika kami bersalah, tentu saja kami mendapatkan hukuman. Tapi itu jarang terjadi. Aku dua kali mendapatkan hukuman dari ayah. Kali pertama ketika aku keluar tanpa memakai sendal dan kedua ketika aku memukul pembantu di rumah. Aku ingat ketika itu aku dihukum karena pelanggaranku sendiri. Di rumah kami yang lama, ada beberapa pemisah ruangan. Ayah ingin menggunakan kamar yang ada di bawah dengan alasan agar anak-anak tidak lelah karena tidak harus melalui tangga. Selain itu juga, agar tetangga tidak usah lelah kalau mau berkunjung. Suatu ketika aku duduk di tas tangga itu danmelihat ayah datanag dari kejauhan.Aku segera bangun danmenghampirinya tanpa menggunakan sendal. Padahal ayah sudah menyiapkan sendal untuk bermain dan sepatu untuk sekolah. Aku pergi begitu saja lupa memakai sendal. Ketika itu ayah hanya melihatku sebentar saja, hanya sepintas. Dan saat itu pula aku sadar bahwa aku pasti akan mendapatkan hukuman. Aku segera kembali ke rumah”

“Setelah para ikhwan pamit, ayah masuk ke ruang makan dan memanggilku. Aku datang dengan langkah lambat karena takut. Ayah berkata:”Duduklah di atas kursi dan angkat kedua kakimu”. Lalu ayah memukul kakiku dengan penggaris pendek. Masing-masing kaki dipukul sepuluh kaki. Tapi terus terang aku sebenarnya ingin tertawa, karena pukulannya pelan sekali sampai aku tidak merasakannya. Ayah hanya ingin membuat aku mengerti bahwa aku telah melakukan kesalahan”
2 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Cinta di Rumah Hasan al Banna.
sign in »

Comments (showing 1-1 of 1) (1 new)

dateDown_arrow    newest »

amirah taip Lucu cerita Tsana.

Subhanallah menciptakan insan berperibadi indah begini :')


back to top