Arif nur's Reviews > Laskar Pelangi

Laskar Pelangi by Andrea Hirata
Rate this book
Clear rating

by
248962
's review
Aug 04, 07

Read in August, 2005

Novel pertama Andrea Hirata ini bagus juga. Ketika membaca Bab Pertama langsung disuguhi sebuah drama detik-detik penentuan nasib sebuah SD kampung yang diultimatum dinas pendidikan untuk segera tutup jika tidak bisa mendapat murid minimal 10 orang anak. Andrea bertutur melalui tokoh Ikal. Dia bercerita tentang keinginan bersekolah dan tidak ingin bernasib sama dengan abangnya yang menjadi kuli PN Timah di Pulau Belitong. Bapaknya sendiri dikisahkan merupakan karyawan rendah PN Timah yang bertugah mengeruk tailing.

Yah.. beberapa resensi ( koran Tempo, Pikiran Rakyat) sempat memfokuskan pada sosok sekolah dan guru. Bahkan Koran Tempo menuliskan bahwa cerita ini mirip sekolah Toto Chan-nya Tetsuko Kuronayagi. Mungkin karena suasana sekolah yang 'aneh' bila dipandang dari rumus umum sebuah sekolah. Atau mungkin memang sosok guru (Bu Muslimah dan Pak Harfan) yang mungkin lebih mirip sosok trainer perkaderan, atau malah sosok misionaris bila ditilik dari militansi yang digambarkan andrea.

Secara umum, dalam gaya bertutur yang kocak ( namun satir) Andrea seperti mencoba menolak rumus umum kesuksesan studi yang selama ini berlaku di khalayak. Walaupun memang tidak ingin meruntuhkan sama sekali konsep umum sebuah sekolah, di novel ini Andrea mencoba untuk memberikan sebuah alternatif bahwa selain fasilitas dan sistem pengajaran, dedikasi guru, semangat orang tua dan juga 'pegangan normatif' akan banyak menentukan keberhasilan pendidikan. Mungkin para pakar pendidikan akan mencibir bila kisah Andrea ini adalah kisah yang murni Fiktif, namun bisa jadi mereka akan bungkam karena kisah ini terjadi pada Andrea Kecil.

Memang, SD Muhammadiyah yg diceritakan di novel itu seperti ingin mewakili sebuah sekolah Swasta yang kadang dianggap pemerintah sebagai ban serep semata. Ketika pemerintah belum mampu mendirikan sekolah, sekolah swasta didorong-dorong untuk didirikan. Pendirinya disanjung. Demi pemakluman untuk tidak ikut menyokong pengelolaannya. Dan ketika Pemerintah bisa mendirikan sekolah negeri, sekolah-sekolah swasta yang telah 'babad alas' itu dengan semena-mena digusur dengan sekolah Negeri yang baru. Entah apa yang ada di otak para birokrat pendidikan kita sejak SD INpresnya Soeharta, hingga saat ini. Mungkin dengan demikian cukup logis bila kemudian ada gejolak di kalangan guru Swasta dengan 'pengabaian' guru swasta di Undang Undang Guru dan Dosen yang kemarin di sahkan.

Laskar Pelangi memuat pesan moral yang cukup 'berat' dalam kemasan sebuah komedi ala Sinetron-sinetronnya Dedi Miswar ( Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, Demi Masa). Beberapa resensi sering menggolongkan novel yang dikerjakan selama 3 minggu ini dalam kategori Sastra Riset. Kata mereka Novel Andrea mirip Genre Supernova atau Saman dan Larung. Atau Novel Futuristik Area X . Sehingga novel ini mungkin akan tidak nyaman bagi penggemar Novel yang tidak berat.Walaupun tidak se ektrim Supernova yang penuh dengan catatan kaki.

Novel model ini memang tidak akan mudah dicerna oleh para pembaca dari golongan tidak terdidik. Novel ini tentunya sangat berbeda dengan Novel-Novel Wiro Sableng, atau Novel Chic-Lit yang sekarang mewabah. Dalam bahasa Novel Area X, ini masuk ke novelnya 'orang pintar'. Bisa jadi akan ada sebuah umpatan dari pembaca novel ini "apa enaknya baca novel kok penuh dengan istilah latin..?" Yah Andrea tentunya sadar dengan penuh akan konsekuensi ini.

Namun, entah.. ternyata 'Novel-Novel Pintar' ini cukup laris di pasaran, berbeda dengan 'Film-Film Pintar' Garin Nugroho yang kalah dengan Film-Film semacam Eifel I'am In Love. Mungkin saja karena para pembaca Novel pintar ini bukanlah penonton Film.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Laskar Pelangi.
sign in »

No comments have been added yet.