Bunga Mawar's Reviews > Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang

Maryamah Karpov by Andrea Hirata
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Dec 20, 08

bookshelves: fiction, indonesia, it-s-mine
Read in December, 2008

Kalau saya akan membuat sinopsis dari buku yang sudah setahun lebih dinanti sejuta umat ini, maka saya akan menuliskannya seperti ini:

"Ikal telah berhasil menyelesaikan S2-nya di kampus mentereng Sorbonne, Perancis, dan kini kembali ke kampungnya di pedalaman Belitong. Tanpa pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya, pemuda ini menjelma menjadi pengangguran kronis. Capek terus-terusan dikejar target berumahtangga oleh ibundanya, pemuda ini mengalihkan perhatian dengan memulai lagi mengamati lingkungan masyarakat kampungnya. Ia mencatat beberapa karakteristik kaum Melayu pedalaman dan etnis lain di kampungnya yang telah mendarah-daging hingga berbau busuk tak kepalang. Misal: memberi julukan-julukan seenak jidat pada nama seseorang, membual setinggi langit, sampai bertaruh tak kenal rasio untuk hal-hal kecil.

Kemudian terdamparlah sesosok mayat bertato kupu-kupu di perairan desa mereka, dan Ikal pun menyadari misi hidupnya mencari A Ling masih harus terus ditunaikan. Ingat ya, Eropa dan Afrika pun telah dijejakinya demi cinta pertamanya ini. Ia pun giat bekerja, jungkir balik mengumpulkan rupiah demi membangun dengan tangannya sendiri sebuah kapal untuk menyeberangi lautan, menggenapi kemungkinan A Ling terdampar di pulau yang dikuasai perompak laut terkejam.

Dengan segenap bala bantuan, termasuk dari si jenius Lintang yang kini jadi juragan kopra, dan dari dunia gaib yang masih diakrabi Mahar, kapal itu pun selesailah. Ikal siap mengarahkan haluan ke Selat Karimata. Nah, berhasilkah Ikal menaklukkan kekejian para lanun? Akankah ia menjumpai lagi A Ling di pulau loncatan ke Singapura itu? Mungkinkah Ikal akhirnya dapat hidup bahagia bersama A Ling?"

Demikianlah sinopsis saya, tanpa emosi, tanpa spoiler. Mudah-mudahan. Tidakkah akan terasa bahwa cerita ini bakalan begitu adventurous, fantastis, bahkan romantis? Nyatanya memang begitu, karena demikianlah adanya. Petualangan Ikal kembali mengajak pembaca berdebar mengalami sulitnya sidang tesis magister di negeri orang, menjalani rute kembali ke Belitong lewat perjalanan laut dan dikocok jalan kampung dalam bus tua Dendang Ria Suka-Suka yang disupiri Bang Zaitun, mantan pemimpin Orkes Melayu Pasar Ikan Belok Kiri. Belum lagi nanti ketika Ikal bercucuran keringat membangun kapalnya. Bisa jadi kuping ikut panas 'mendengar' celaan orang kampung yang hobi nongkrong sambil berbual dan bertaruh di kedai kopi Pasar Gantong.

Andrea Hirata masih fasih menggoreskan untaian kalimat yang berbunga, diksi yang jenaka, serta kata bercabang yang sulit dikira maunya. Sedikit-sedikit kita dibuatnya terkekeh, walau kadang agak telat. Satu peristiwa kadang tidak cukup diungkap lewat satu kalimat S-P-O-K standar, kata-kata dilipat hingga sekiranya dijajar akan mencapai pucuk pohon kelapa.

Stop dulu. Kalau Anda berminat membaca bukunya tapi sampai sekarang belum baca, sebaiknya jangan diteruskan membaca racauan saya di bawah ini. Nggak pakai alasan, pokoknya jangan. Ntar sedih.

Kalau sudah membaca, atau tidak takut ancaman di atas, mari lanjutkan. Dinanti-nanti sejak buku ketiga Edensor muncul Mei 2007, bagi saya terbitnya buku MK ini menjadi anti-klimaks misi kepenulisan seorang Andrea Hirata yang dimulainya dengan karya fenomenalnya Laskar Pelangi. Nah lho? Kok bisa...? Ya bisa dong. Karena kok isi buku ini jadi kacau tak karuan maunya ke mana.

Pertama, dari segi cerita. Penuh sekali romansa kampung dan manusia-manusianya yang dijejalkan Andrea di buku ini. Apakah lagi-lagi ini ekspresi penulis yang selalu menyatakan dirinya orang kampung pedalaman atau sekedar sinismenya yang terlanjur akut? Banyak pembaca yang terlanjur percaya ucapan pria ikal ini sebelumnya, yaitu bahwa buku ini akan menghadirkan penceritaan mengenai wanita dalam perspektif berbeda. Nyatanya, tidak ada tokoh wanita yang signifikan dalam cerita ini. Sepak terjang Makcik Maryamah yang katanya pandai mengajari pengunjung kedai kopi bertanding catur macam Anatoly Karpov, hanya muncul di sedikit halaman. Nurmi putrinya, cuma sekedar menjadi latar Ikal yang mendadak ingin menguasai satu lagu dengan biola.

Masih ada Budi Ardiaz, dokter gigi muda dari Jakarta yang ditugaskan di kampung pedalaman Belitong itu. Dedikasi dan pilihan hidupnya begitu tajam dipaparkan, namun kebebalan masyarakat kampung yang tidak mau berobat ke kliniknya tidak bisa ditembusnya dengan keramahan dan kerajinan berkebun. Ia tetap butuh turun tangannya Ketua Karmun. Masih kurang keren. Sedangkan A Ling, tokoh yang paling dirindukan (oleh Ikal, bukan oleh ibu saya tentunya), memang mendominasi hari-hari Ikal melamun di kampung. Tapi kebanyakan sebagai bayangan romantisme, bukan tokoh dengan kegiatan riil yang punya action. Ini sih lagi-lagi cuma sekedar Tokoh Cewek Dengan Potensi Asmara (meminjam istilahnya Om Isman di Parodi Film Seru).

Kedua, dari segi alur. Ini lho, bahayanya sebuah dwilogi, trilogi, tetralogi atau pancalogi. Pembaca (terutama yang rewel seperti saya) pasti masih ingat kejadian di buku-buku sebelumnya. Kenapa belasan tahun lalu Ikal saat berpisah dengan A Ling, diceritakan bahwa gadis itu pergi ke Jakarta menemani bibinya dalam LP, lalu bisa-bisanya dicari seantero Eropa dan Afrika dalam Edensor , sekarang kok tahu-tahu katanya terdampar di antah berantah begitu? Tadinya juga, saat diceritakan dalam LP bahwa Lintang masih miskin dan jadi supir truk tambang, Mahar sudah berhenti aktif di dunia sesat dan menjadi seniman "lurus". Mengapa sekarang saat Lintang sudah jadi juragan kopra, Mahar ternyata masih menguasai dunia bau menyan itu? Paradoks sekali.

Ketiga, segi tuturan. Oke, Ikal orang Melayu yang sejak bisa berucap sudah biasa berpanjang-panjang kata. Saking panjangnya, karena kebanyakan jadi pusing. Jadi hiperbolis. Episode Dendang Ria Suka-suka, misalnya. Perlukah sebanyak itu intro untuk memulai kegiatan Bang Zaitun memutar lagu? Berputar-putar seperti perjalanan ke kampung Gantong. Atau prosesi operasi gigi Ikal, yang sampai dilaporkan secara langsung oleh stasiun radio.

Keempat, editing. Kirain penerbit sudah kenyang masukan atas lolosnya berbagai kesalahan penyuntingan isi dalam Edensor, ternyata belum. Bahasa Latin ilmiah masih ada walau sudah tak melimpah ruah. Tapi banyak farewel masih lolos dengan manisnya, juga salah sebut di sana-sini.

Kalau banyak yang mempersoalkan akhir cerita, buat saya tak masalah. Cerita ini milik Andrea, terserah dong cara dia mengakhirinya. Tidak mungkin semua cerita berakhir "...and they live happily ever after". Inilah hidup, inilah dunia, inilah drama, inilah khayalan. Sekiranya ada salah satu tokoh penting yang "is dead" pun saya tak akan protes, karena sudah lama juga jargon "memoar" buat tetralogi LP ini nggak mempan buat saya. Empat buku ini hanya sebuah cerita yang memukau, dari seorang pencerita yang inspiratif, kreatif dan terus saja sudi berbagi pada makhluk tukang cela seperti saya.

Karena cerita buku ini bagi saya sangat imajinatif, maka pada review saya di multiply, saya golongkan buku ini dalam genre "Science Fiction & Fantasy". Fantasi yang keren, tiga bintang. I like it.

Proses saya membaca buku ini:
30/11
Belum akan saya baca sampai bulan depan (yang akan dimulai besok), tapi sudah banyak cerita tentang buku ini. Dan terutama mengenai perjuangan.

Satu, perjuangan Roos, Lita, Dian dkk yang hadir saat launching buku ini (plus konferensi pers infotainment) Jumat (28/11) di Cilandak dan menyisihkan satu buruan mereka buat saya. Ada tandatangan Andrea di dalamnya, walau kali ini tanpa embel2 "Dear Vera" lagi, hehe... Dua, perjuangan Roos dan Dahlia mengantarkan buku ini pada saya sore ini di Blok M Plaza. Tiga, perjuangan Nanto pulang dari Bandung yang mampir ke Blok M untuk segera mengejar bis pulang ke Tangerang (ada hubungannya ga?). Empat, perjuangan saya menanti metromini/mikrolet/taksi di Kampung Melayu sampai basah kuyup lebih setengah jam di bawah hujan untuk mendapati genangan air nan parah di sekitar daerah penyangga komplek perumahan saya.

Semua perjuangan ini terasa manis manakala buku ini saya serahkan untuk dibaca pertama kali oleh Ibunda tersayang (yang setahun lebih memendam rindu pada Arai dan mengharap doktor mikrobiologi lulusan Essex University itu untuk jadi mantunya, hehehe...).

Ibu, selamat membaca. Nanti saya tuliskan review-nya deh di sini.

4/12
Tambahan setelah membaca hingga 211 halaman (Mozaik 33):
Semalam saya pulang ke Jakarta, disambut Ibu yang sudah mengkhatamkan 504 halaman buku ini, yang tidak membiarkan saya membaca Kak Maryamah ini dengan tenang karena sedikit2 cerita tentang Arai dan Nurmala, tentang Laskar Pelangi belasan tahun kemudian, tentang Pulau Batuan, tentang A Ling, dan tentang ending yang nyebelin.

Dengan "teror" dari Ibu yang sudah pasrah tak bisa bermantukan Muhammad Arai, Ph.D. itu, jangan heran kalau saya jadi sudah tahu apa yang termaktub pada halaman 504.

6/12
Akhirnya selesai juga dibaca setelah saya didera berbagai ngilu sendi akibat seharian kemarin mundar-mandir di area outbond D'Jungle di Ciburial kemarin.
Bintangnya sementara tiga. Sebenarnya 3,5. Tapi tunggu sehat dulu deh, biar bisa berpikir jernih dan sempat kembali lihat catatan.

28 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Maryamah Karpov.
Sign In »

Reading Progress

12/01/2008 page 7
1.39% "eeh... bener ga ya hal 7? Pokoknya abis subuh tadi udah kelar mozaik 1 deh sebelon ngabur ke stasiun..." 2 comments
12/03/2008 page 211
41.87% "Udah kelar mozaik 33."

Comments (showing 1-42 of 42) (42 new)

dateDown arrow    newest »

Hippo dari Hongkong eh.. dah keluar bukunya?
*ketinggalan info mode on*
:D


Bunga Mawar emang situ ga dikasitau ama Becky Blomwood?


Hippo dari Hongkong kikikiki... keasyikan shopping nih


message 4: by [deleted user] (new)

teruskan perjuangan!
*sambil masih nyimpen kaos buat Vera*


Ditta hm,,,mba vera,,arai dikisahkan udah nikah sama zakiah nurmala di sini,,,wah,,gimana tuh??he..he..


Bunga Mawar gapapa, Dit. Cita2 nyokap kan bukan cita2 anaknya, hehehe...
lagian andrea dan roxana aja bisa cerai... *OOT*




Rike Jokanan aku udah selesai baca. menurutku Andrea balik ke gaya penceritaan khas dia he he...


Bunga Mawar iya, kembali berbunga2 seperti di LP. Tapi kok kesannya mubazir deh, kebanyakan nyebar bunganya :)


Rike Jokanan aku sempat capek baca tuh Mbak, deskripsinya kayak orang jalan diseret-seret gitu. pesan moral tetap jadi magnet terkuat.


Nuring tante damiri disuruh ganti memimpikan calon mantu yang lain aja......robert pires misalnya ha...ha...ha... ;p



Bunga Mawar "... disuruh ganti memimpikan calon mantu yang lain aja......robert pires misalnya ha...ha...ha... ;p
"


Yang pengen punya mantu Robert Pires tu bokap gue, Ta ... :)


Endah kenapa si ibu milih Arai bukannya Ikal aja yg lebih riil sebagai menantu? :D


Bunga Mawar Emang Ikal riil yah? Bukannya sekarang udah invisible? :)
Mungkin Ibu udah punya firasat bahaya kalo sampe dikejar2 wartawan infotainment deh, hehehe...


Nuring Sudah jamak kalo jadi selebritis didepan fans or media selalu......JAIM...




message 15: by [deleted user] (new)

aku mau vote, vote, vote, vote, dan vote buat review terakhir ini tapi sayang cuma bisa satu kali :(


Bunga Mawar makasih mas ronny... inilah hasil bengong bikin soal UAS ga kelar2, hehe...
ga nyangka deh... hiks...hiks... *sok terharu*


message 17: by Roos (new) - added it

Roos Bujug...reviewnya setebal bukunya booo....

Salut to Mbak Vera...vote-vote-vote..*ngasih 4 jempol*
Semoga menular nih semangat baca Ikal lagi...huhuhuhu.


Bunga Mawar plis deh ahhh... masak review gw nyampe 504 halaman? :D
hehehe... makasih kak roos... Ayo baca dong, jadi kita bisa lanjutin buku ini jadi pancalogi, hihi..


Nanny SA Salut Vera reviewnya, aku jadi sudah bisa 'membaca' jalan ceritanya. Sudah bisa berpikir untuk membeli atau hanya meminjam saja :).
Gimana UAS nya moga sukses...


message 20: by Mel (new)

Mel ckckck..
buku ini sepertinya memancing luapan emosi jiwa pembacanya yak? lol
*numpang komentar


Bunga Mawar emosi jiwa... kakakakak...
yana julio bangets ni mbak Mel! *LOL-er*

Bu Nanny, makasi ya.. Kalo ngefans pada Arai kayak ibu saya, dibeli aja. Arai "happy ending" kok di sini :) *spoiler*


message 22: by Mel (new)

Mel iya ver.
angkatan tuwir. heheh


Ditta mau tambahin,,,
sebenernya kalau hari sabtu kemarin ada yang sempet datang ke IPDN, banyak kok pertanyaan2 dari mba vera dan temen2 GR yg laen yang udah dijawab sama Andrea.
Sebelum acara di IPDN saya sempet ngobrol sama dia,,(banyakan sih sama temen2 di walagri fm juga) dan Andrea bilang kalau dari masalah alur yang dibahas sama mba vera itu, dia bilang kalau dia ga punya pakem khusus dalam penulisan, saya juga ambil kesimpulan kalau dia malah pengen ngedobrak pakem2 penulisan sastra. Satu hal yang pasti, dia menuliskan apa yang ada di kepalanya,,,tanpa berpikir apakah itu bisa diterima oleh orang kebanyakan atau ngga.
Dan,,,pada saat acara kemarin juga Andrea bilang kalau Maryamah Karpov Istana Besi (yang tadinya lanjutan dari mimpi2 lintang)rencananya tidak akan diterbitkan, padahal kalau itu jadi diterbitkan, akan menjawab semua pertanyaan tentang subyek perempuan termasuk who is maryamah karpov sesungguhnya,,,,
sayang ya,,,
ada yang dateng tak??ayo bagi komen!!


message 24: by chep (new) - rated it 3 stars

chep reviewnya wOW!


message 25: by nanto (new) - added it

nanto reviewnya OWW!!


message 26: by Lee (new)

Lee reviewnya kereen..

hmm.. "gaya" penulisan Andrea Hirata sayangnya ndak cocok buat klom pencapir (kelompok pencela dan pencibir) macam saya. Bikin capek.
tapi tetep pengen baca juga sih, kali aja ada orang lewat yang mau minjemin.
=p


message 27: by Miss Kodok (new)

Miss Kodok Ver... review-nya keren
***angkat 4 jempol nich***


Ardita Gua baru sampe beberapa bab di awal. Lucu sih. Tapi emang iya, kaga jelas juntrungannya mau ke mana. Gua rasa ini hanya catatan lepas si Hirata aja. Sah-sah aja. Jarang ada yang nulis lepas tapi SPOK tetap terpelihara macam begini..


Bunga Mawar hi..hi.. ditinggal 2 hari ngurusin remedial, eh yang nge-vote jadi bertumpuk. Makasi...makasi... *membungkukkan badan berkali2*

Ada juga yang nanya lewat PM siy, kok bintang MK ini jatuhnya "jauh" dari Edensor yang saya kasih lima. Hm, jadi inget review Edensor belon di-publish ni.


message 30: by Meyli (new)

Meyli wulandari belum baca sama sekali. cos di daerah bukunya telat..
tapi thax aku dapat sedikit bayang2 untuk ngusir penasaran but aku ngak baca semua review nya, bukan karna takut ada peringatan itu...
karna biar aku yang bercerita setelah baca


Bunga Mawar gapapa Meyli. Saya juga lebih senang baca sendiri daripada diceritain :)


ReSti Hai vera...aq suka sekali dengan review-mu...keren :D (sorry untuk bang ikal aq beri bintang 5 + 4 jempol untuk review vera hehehe...MK-nya 4 bintang ajah...)
Mang jadi banyak banget pemeran2 figuran n cameo di MK tapi sudahlah...resiko ditanggung penulis n pembacanya...hehehe...
Yang mem-bete-kan diri q...gara2 nonton film LP daya imajinasi q jadi sedikit terkacaukan... :(
Tapi untungnya ada tokoh "baru" Ketua Karmun..."Bintang Kejora!" :D

^_^


message 33: by Bunga Mawar (last edited Dec 22, 2008 07:08AM) (new) - rated it 3 stars

Bunga Mawar yak... saya lupa mencatat slogan keren ini... "Bintang Kejora!"
untung Ketua Karmun orang Belitong yah, kalau di Papua bisa disangka subversif beliau tuh, hehehe...

Makasih Resti...


Surya reviewnya Vera emang kereeeeen! Maryamah Karpov, karya Andrea yang satu ini menurutku biasa aja. terlalu datar, seperti dipaksakan gitu deh.. Tapi, reviewnya Vera, wow, two thumbs up!


message 35: by nanto (new) - added it

nanto iseng dikit ah, "...paradoks sekali" bedanya dengan kontradiktif apa? Ini bukan ngetes loh yah! bener nanya. walaupun gue berpendapat cocokan kontradiktif daripada paradoks. bener yang mana donk?


Bunga Mawar @ Surya, makasih lagi... Gw jadi bertanya2, apakah gw jadi keliatan terlalu mencela MK ini, yah? :)

@ Nanto, mungkin gw ga terlalu pinter untuk istilah2 ngilmiah gini, tapi gw milih "paradoks" daripada "kontradiktif" setelah nyontek kamus di komputer gw, yang isinya sebagai berikut:

paradox |ˈparəˌdäks|
noun
a statement or proposition that, despite sound (or apparently sound) reasoning from acceptable premises, leads to a conclusion that seems senseless, logically unacceptable, or self-contradictory : a potentially serious conflict between quantum mechanics and the general theory of relativity known as the information paradox.
• a seemingly absurd or self-contradictory statement or proposition that when investigated or explained may prove to be well founded or true : in a paradox, he has discovered that stepping back from his job has increased the rewards he gleans from it.
• a situation, person, or thing that combines contradictory features or qualities : an Arizona canyon where the mingling of deciduous trees with desertic elements of flora forms a fascinating ecological paradox.

contradict |ˌkäntrəˈdikt|
verb [ trans. :]
deny the truth of (a statement), esp. by asserting the opposite : the survey appears to contradict the industry's claims | he did not contradict what he said last week.
• assert the opposite of a statement made by (someone) : he did not contradict her but just said nothing | within five minutes he had contradicted himself twice.
• be in conflict with : that evaporation seems to contradict one of the most fundamental principles of physics.

Demikianlah, mohon maaf kalo salah nerjemahin... :p


message 37: by Rimbu (new) - added it

Rimbu Wah seru juga nih pro kontar ttg buku MK. Terus terang gue belum sempat baca bukunya dan masih cari cari review-nya di internet and pas baca review-nya mbak Vera, jadi bimbang deh beli apa nggak. tapi kayaknya beli deh. Pengen tahu aja gimana Andrea mengekplore curahan hatinya melalui kata. Urusan ending-nya gimana nanti aja.


Endah Vera, reviewmu kereeen. Aku nyaris mogok nih baca MK. Ilfil :D


Bunga Mawar Hai Rimbu, iya, kalau suka belitan kata2 Andrea, buku ini layak kok dikoleksi. Benar, ending mah adanya di ujung buku, hehe...

@Mbak Endah: semogok-mogoknya selesai juga kaaan... :) Ini kan artinya pasti ada energi eksternal di luar buku yang mendorong penyelesaiannya, hehehe...


message 40: by Fudz (new) - added it

Fudz awesome review..



message 41: by Dayang (new) - added it

Dayang Astuti menurut saya, apapun itu tulisan anrea hirata sangad keren, tak ada kekuragan sama sekali kawan.. biarlah intro kepanjangan yang penting bisa membawa pembaca untuk membaca ini sulit kawan


message 42: by Andi (new) - added it

Andi Sukma assalamu'alaikum,, bisa bantu,, klo udah punya book in my book trus cara baca,a gmana?? hehehe maklum baru buat


back to top