Hasna Diana's Reviews > To Kill A Mockingbird: Novel Tentang Kasih Sayang dan Prasangka

To Kill A Mockingbird by Harper Lee
Rate this book
Clear rating

by
857986
's review
Nov 26, 08

bookshelves: fiction
Read in November, 2008

Buku ini akan menjadi buku fave-ku sepanjang masa.. TOP BGT! Serasa sudah lama banget ga ketemu buku yang bagus, tapi baca buku ini, mengobati rasa kehilangan itu.. alhamdulillah..

Membaca halaman awal buku cerita setebal 533 halaman ini, benar-benar sebuah upaya yang tidak ringan. Tidak terlalu paham apa yang dimaksud penulisnya, tapi biarlah, tetap saja dibaca halaman demi halamannya, mungkin nanti juga akan mengerti.

Cerita ini dikisahkan dari sudut pandang Scout, seorang gadis tomboy berusia 7 tahun, yang ke mana-mana selalu berdua dengan abangnya yang 4 tahun lebih tua darinya, Jem. Membaca buku ini jadi mengingatkan saya pada buku Totto-chan, yang juga dikisahkan dari sudut pandang seorang gadis kecil.

Jem dan Scout adalah dua bersaudara yang dibesarkan oleh single parent, seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara, Atticus Finch. Mereka tinggal di Maycomb, sebuah kota tua di Alabama, salah satu negara bagian Amerika Serikat yang berada di bagian selatan.

Kisah ini memenangi Pulitzer Award 1961, dengan pusat cerita pada masalah yang harus dihadapi keluarga kecil itu ketika Atticus ditunjuk menjadi pembela bagi seorang kulit hitam yang didakwa telah melakukan tindak pidana memperkosa seorang gadis kulit putih.

Proses pengadilan yang digambarkan secara jelas dalam beberapa bab buku ini mencoba mengurai makna kesamaan derajat, bahwa semua manusia diciptakan sederajat, tanpa pandang bulu, dia kulit putih atau tidak.

Apakah Atticus dapat memenangkan kasusnya dan dapat menyelamatkan kliennya si Negro yang diancam hukuman mati? Silakan baca bukunya :)

Buku ini juga menceritakan hari-hari Jem dan Scout, masa kanak-kanak yang dilewatkan dengan bermain di lingkungan sekitar rumah, masa-masa belajar di sekolah, atau bermain di liburan musim panas.

Tentang rasa ingin tahu mereka kepada salah seorang tetangga yang tidak pernah tampak keluar rumah selama bertahun-tahun, sehingga banyak rumor yang menyeramkan mengenai tetangga tersebut.

Saya pribadi lebih terkesan dengan nilai lain dari cerita ini. Yaitu bagaimana seorang ayah membesarkan dua anaknya, berusaha menjadi teladan bagi mereka, sehingga anak-anak ini nantinya akan bisa menjadi orang yang terhormat, yang berani memperjuangkan kebenaran, sepahit apapun resiko yang harus dihadapi. Bagaimana Atticus harus menghadapi si kecil Scout yang merajuk tidak mau sekolah, bagaimana Atticus mendidik si abang Jem yang besar rasa ingin tahunya.

Salah satu hal yang menarik adalah kebiasaan membaca yang ditanamkan oleh Atticus sejak Jem dan Scout masih kecil. Kegiatan keluarga tersebut saat berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam adalah membaca bersama. Bahkan ketika masing-masing masuk ke kamar tidurnya, rutinitas yang dilakukan sembari menunggu kantuk adalah membaca di tempat tidur dengan penerangan lampu baca. Subhanallah, coba kalau kita membiasakan anak-anak kita seperti itu, pasti mereka akan lebih gemar membaca dan cinta ilmu.

Hal yang menarik lainnya adalah Atticus terkadang juga membicarakan kasus yang sedang ditanganinya kepada Jem dan Scout, dalam batas yang bisa mereka pahami, pun kalau keduanya tidak mengerti, tidak masalah, suatu hari nanti juga akan mengerti. Dengan sabar Atticus menjelaskan kata-kata yang baru mereka dengar yang tidak dipahami artinya.

Sebuah paragraf dari buku ini mengisahkannya,
"Aku (Scout -red) dan Jem sudah terbiasa dengan diksi ayah kami yang lebih cocok diterapkan pada surat wasiat, dan kami bebas menyela Atticus kapan pun untuk memintanya menjelaskan kata-kata itu kalau ucapannya tak kami mengerti."

Sepakat dengan Atticus, ketika dia meluruskan adiknya, si Paman Jack, yang menghindar dengan menceritakan hal lain ketika Scout bertanya padanya apa arti wanita jalang. Anak-anak adalah anak-anak. Jangan menghindar, berilah jawaban yang sesuai dengan usia mereka.

Seperti suatu ketika Scout bertanya pada Atticus, ”Memerkosa itu apa?” Atticus menjelaskannya dengan menggunakan diksi bahwa memerkosa adalah pelecehan badaniah terhadap seorang perempuan dengan pemaksaan dan tanpa persetujuan.

Maka, tak heran, jika kedua anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang kritis.

Nah, bagian yang paling mengagumkan adalah bagaimana si kecil Scout berupaya “menyelamatkan” sang ayah yang dikepung oleh orang-orang yang bermaksud menyerangnya. Tegang, mendebarkan, kagum, sekaligus geli membayangkan seorang gadis kecil mencoba mengulur waktu dengan mengajak bicara salah seorang yang mengepung.

Di saat yang kritis, di mana nyawa Atticus terancam karena serangan bisa terjadi setiap saat, si gadis kecil Scout mengajak bicara salah seorang lelaki yang mengepung mereka, lelaki yang hanya dia ketahui dari cerita ayahnya, mencoba mencari topik untuk bahan pembicaraan, akhirnya yang dibicarakannya adalah tentang sengketa warisan yang dialami lelaki itu karena Atticus pernah menceritakannya saat menangani kasus itu. Bagian ini benar-benar menyentuh sisi manusiawi siapapun.

Yang lebih mengagumkan lagi, Atticus menekankan pada mereka untuk menjadi anak yang terhormat. Walaupun orang lain mencaci dan menghina dengan kata-kata kasar, kata Atticus, "Tegakkan kepalamu tinggi-tinggi dan tahan keinginanmu untuk memukul. Apa pun yang dikatakan orang kepadamu, jangan dimasukkan ke hati. Cobalah untuk melawan mereka dengan pemikiranmu.."

Dengan permintaan dari ayahnya tersebut, si kecil Scout yang karakternya pemarah, menjadi lebih menahan diri. Ketika dia marah dan bersiap memukul teman yang menyinggungnya, dia teringat perkataan Atticus, lalu menurunkan kepalannya, dan pergi meninggalkannya.

Teriakan "Scout pengecut!" tak dihiraukannya. Baginya, "Aku merasa, kalau aku berkelahi, aku akan mengecewakan Atticus. Atticus sangat jarang meminta aku dan Jem melakukan sesuatu untuknya, jadi aku bisa menerima sebutan pengecut demi dia. Aku merasa sangat mulia karena aku mengingat nasihatnya."

Jem dan Scout adalah anak-anak yang luar biasa hasil dari didikan yang baik.

Itulah sebagian nilai yang dapat diambil dari buku ini.

Lalu, apa hubungannya dengan judulnya “Membunuh Mocking Bird” ?

Mocking bird adalah sejenis murai bersuara merdu. Mocking bird adalah burung penyanyi. "Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung. Mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mocking bird itu dosa”, itulah jawaban yang diberikan ketika si Scout bertanya tentang mocking bird ini.

Jadi, apa maksud judulnya? Pertanyaan ini akan terjawab jika Anda sudah menyelesaikan membaca buku ini sampai di akhir cerita.

Satu hal yang saya garis bawahi, ini penting untuk diperhatikan. Ada kalimat yang sebenarnya tidak perlu dikatakan, menurut saya, karena tak ada pun, tidak mempengaruhi keseluruhan kisah ini. Tapi entah kenapa, penulis mencantumkannya juga. Yaitu tentang Yahudi.

Dalam suatu dialog di kelasnya Scout, gurunya memuji kaum Yahudi. "Tak ada orang yang lebih baik di dunia ini daripada kaum Yahudi." Ketika seorang teman Scout bertanya kenapa Hitler tidak menyukai mereka, guru tersebut menjawab, "Kalau sudah SMA, kau akan mempelajari bahwa kaum Yahudi sudah ditindas sejak awal sejarah, bahkan diusir dari negara mereka sendiri. Itu salah satu kisah paling buruk dalam sejarah."

Saya sarankan bagi yang memiliki buku ini, untuk memberi/menyelipkan catatan kecil yang meluruskan tentang siapa sebenarnya kaum Yahudi laknatullah ini.

Akhirnya, selamat menikmati sajian cerita menarik dalam buku To Kill A Mocking Bird. Happy reading :)

Quote:
"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.. hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya." (Harper Lee, dalam To Kill a Mocking Bird)

Jakarta, 27 Nov 2008


---wrote on 24 Nov 2008---

bacaan yang bagus :) TOP!
kayaknya sudah lama ga ketemu cerita sebagus ini..
a must read :)

insya Allah, review-nya akan ditulis di bagian writing
36 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read To Kill A Mockingbird.
sign in »

Comments (showing 1-26)




dateUp_arrow    newest »

Jimmy I can't hardly wait to read this book, dan udah lama juga masuk karung buku berjudul "to read".

Film-nya sih udah nonton, dan bagus juga.
Tapi sepertinya nunggu review Hasna dulu nih, sebelum memutuskan mempercepat jadwal pembacaan buku ini...hehehe...

Semangat!!!



Roos @Diana:Reviewnya Diana Keren Euy!, Vote yah...

@Jimmy: Kirain dah baca?....Seruan bukunya dari pada filmnya Jim...ayo baca! Semangat!!!




Hasna Diana thank you, mba Roos ;)

ya Jimmy, smangat!!!




miaaa lengkap euy ... spoiler alert! spoiler alert! hehehe gak ngaruh yah

Saya pribadi lebih terkesan dengan nilai lain dari cerita ini. Yaitu bagaimana seorang ayah membesarkan dua anaknya, berusaha menjadi teladan bagi mereka, sehingga anak-anak ini nantinya akan bisa menjadi orang yang terhormat, yang berani memperjuangkan kebenaran, sepahit apapun resiko yang harus dihadapi. aku suka bagian itu :D



message 22: by Roos (last edited Nov 26, 2008 08:42PM) (new) - rated it 5 stars

Roos Yups...aku juga suka Mia...*musim buah-buahan nih: Melon*...hehehehe.


Jimmy Cobalah untuk melawan mereka dengan pemikiranmu.."
Kalimat yang sangat bagus!!!
Vote juga ahh buat review-nya Hasna.

533 halaman??? Hmm..butuh perjuangan juga ya...
Iya Roos, dari nonton filmnya sih udah tertarik pengen baca bukunya, tapi masih dalam daftar tunggu hehehe..



nanto mbak hasna diana,

ikut dengan semangat menghargai perbedaan dan mengeliminir prasangka dalam buku ini. termasuk empati, seperti yang ditangkap Dian di reviewnya. saya ikut komen yah..

pertama sih saya selalu mencari review buku ini yang mengulas uraian aticus di pengadilan tentang kesederajatan sekaligus perbedaan. meski novel ini mengusung persamaan namun aticus yang menjadi protagonist juga melihat perbedaan sebagai bagian dari kerja yang kita hasilkan. itu belum ada. juga di review saya dan review teman lain yang saya baca sih.

yang menarik dari dalam review ini adalah persoalan yahudi. Saya rasa dalam novel ini, rasialisme nazi terhadap yahudi diangkat karena justru ketika si guru begitu jelas melihat rasialisme di seberang lautan. dia lalai pada rasialisme yang terjadi di kampungnya sendiri.

sehingga buat saya, ungkapan melaknat yahudi dalam konteks novel ini jadi keluar semangat untuk tidak berprasangka berlebih dan berperilaku fair bukan?

kalaupun ada sumber suci yang mengkritik yahudi. mulai dari bertanya tidak pada tempatnya pada saat disuruh mencari sapi. atau bangga menjadi umat monoteis tapi paling sering terjadi pembunuhan terhadap nabi di kalangan mereka. itu adalah bagian kritik Sang Maha.

yang buat saya pribadi, ironisnya bisa terjadi di bangsa ini. mengaku paling beragama. namun sebuah sumber penelitian menyatakan departemen agamanya diberitakan besar angka korupsinya. atau bangsa kita yang mengaku ber-Tuhan namun pernah mencatat pembantaian atas orang yang "katanya" tidak ber-Tuhan. padahal sebagian besar dari yang dibantai itu tidak bersenjata atau sudah dalam "pengamanan". Buat saya, perlakuan mengaku ber-Tuhan namun tidak mampu melindungi yang sudah dalam tawanan, bisa jadi akan "dikritik" Tuhan dalam catatannya yang lain. dalam singkat gumam saya, "jangan-jangan bangsa ini sama dengan cerita yahudi dalam kitab suci itu?" ah entah, saya hanya sekedar beranalogi asal mungkin terhadap bangsa yang konon banyak pujiannya ini.

jadi panjang :D, namun saya hanya berpendapat dan sedikit kaget dengan satu kata: laknat. saya juga kaget jangan-jangan ketika kita mencela yahudi, kita malah berprilaku sama dengan guru yang melukai nurani Jem. kita mengutuk kelakuan yahudi tapi apa sudah ditegakan penghormatan kepada kemanusiaan agar yang dilangit sayang kepada bangsa ini?

saya mungkin lebih ingin meniru (tepatnya baru sebatas mengagumi) seorang yang dekat dengan Tuhan dan pastinya tahu makna kecaman dan kritik untuk yahudi, namun Beliau satu ini, berperilaku santun kepada seorang yahudi yang menimpukinya dengan kotoran setiap ia berangkat solat. Menengoknya bahkan ketika si yahudi sakit. Beliau ini pastinya yang mbak sebut sambil menyandingkan dengan doa semoga salawat dan salam selalu tercurah untuknya.

begitu mbak hasna pendapat saya,

salam

nant's

*panjang mungkin karena iseng sambil isi tts dan ingat pertanyaan saya di kelas dulu, "jadi pak, yahudi itu sifat (sistem nilai) atau bangsa?" saya tidak percaya pada semata kebangsaan dalam arti fisik. karena saya tidak percaya agama yang mengenal takdir, mencela ras sebagai sebuah bagian dari takdir itu. namun pada pilihan pertama, maka setiap manusia dapat menentukan pada sistem nilai mana dia hidup.

"waktu lahir, pilihan ke berapa elo jadi jawa to?"


Hasna Diana @mba mia, thank you :)

@nanto, thank you :)

tentang kaum Yahudi, aku kutipkan sedikit dari majalah Eramuslim Digest edisi "Genesis of Zionism" (tulisan lengkapnya, insya Allah akan aku upload ke bagian write)

"Yahudi dalam terminologi merupakan istilah yang mengacu kepada keyakinan dan sikap hidup, millah, bukan ras.

Sebagaimana Qur’an mengatakan hal seperti itu.

Jadi, orang-orang berdarah Yahudi yang telah kembali kepada ketauhidan, mereka sesungguhnya bukan lagi Yahudi."

dalam bagian lain dijelaskan,

"Sesungguhnya, kaum Yahudi awalnya tidak seperti yang ada sekarang. Seperti juga kaum-kaum terdahulu yang bertauhid, kaum ini juga pernah disayang oleh Allah SWT.

Bahkan Allah SWT mengutus sejumlah nabi-Nya untuk menyelamatkan kaum ini dari kemusyrikan. Namun sayang, walau berkali-kali ditolong oleh Allah SWT, kaum ini tetap cenderung pada kesesatan, bahkan membunuhi dan berkhianat kepada para Nabiyullah, sehingga suatu ketika Allah SWT begitu murka dan mengutuk kaum ini menjadi babi dan kera."

dalam bagian tentang Nabi Isa dan Yahudi:

"Nabi Isa a.s. atau yang dalam literatur Barat disebut dengan Yesus merupakan Nabi Allah yang juga menjadi korban dari konspirasi jahat kaum Yahudi.

Sutradara Mel Gibson dengan sangat berani mengangkat fakta sejarah ini lewat film “The Passion of the Christ’.

Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana para pendeta Yahudi yang tergabung dalam kelompok Sanhendrin mengejar-ngejar, mengejek, mengadili Yesus, dan menghasut Raja Roma Herodes agar menghukum mati Yesus di tiang salib.

Keberhasilan tentara Herodes dan Sanhendrin menangkap Yesus disebabkan pengkhianatan salah seorang muridnya bernama Yudas Iskariot, yang juga seorang Yahudi.

Suatu ketika datanglah Yudas salah seorang murid Yesus kepada imam-imam kepala Yahudi untuk membicarakan penangkapan Yesus. Yudas berkata "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Yesus kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya (Matius 26: 15).

Setelah para Imam Yahudi tersebut menangkap Yesus, para Imam membawa Yesus kepada Keyafas seorang Imam Besar Yahudi untuk diadili, kemudian Yesus diadili dihadapan Imam besar, para imam, dan sesepuh Yahudi.

Dalam pengadilan Yesus tersebut mereka berusaha menemukan kesalahan Yesus yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menghukum mati Yesus :

"Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak," tanya Imam Besar kepada Yesus.

"Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Jawab Yesus.

"Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatnya Bagaimana pendapat kamu?" Tanya Imam Besar kepada para Imam dan sesepuh Yahudi.

"Ia harus dihukum mati!" Jawab mereka lalu mereka meludahi mukanya dan meninjunya.

Film ‘The Passion of the Christ’ mengangkat dengan baik adegan sejarah ini. Oleh Mel Gibson, sesuai dengan refernsi yang ditelusurinya, di setiap kelompok Imam Yahudi itu mencerca atau mengadili Yesus, maka di tengah-tengah Imam Yahudi itu tampak iblis yang menyertai mereka.

Dan ketika matahari telah mencapai atas langit, seluruh imam dan tokoh Yahudi di Roma tersebut berkumpul dan memutuskan jika Yesus harus disalib hingga mati. Mereka lalu membawa Yesus kehadapan Pontius Pilatus, hakim tinggi di Roma, guna memperoleh kekuatan hukum. Semua peristiwa ini terdapat dalam Injil Matius pasal 26: 63-67 dan pasal 27:1-2 dimana Yesus dihukum karena dituduh telah menghujat kepercayaan mereka selama ini."

Dalam majalah Eramuslim Digest edisi "Genesis of Zionism" tersebut memang diuraikan tentang jejak panjang sejarah kaum Yahudi yang penuh dengan darah. Kaum pembunuh para nabi, demikian salah satu sebutan untuk kaum terkutuk ini, Yahudi laknatullah.

Selengkapnya, insya Allah akan aku upload ke bagian write.



message 18: by Leli (last edited Nov 28, 2008 08:23PM) (new) - rated it 5 stars

Leli Diana: reviewnya menjiwai sekali, top ah..

ttg suatu kaum.. gimana kalo kita sendiri dilahirkan sebagai orang yahudi?
gw setuju sama nanto, ga bisa dijudge secara fisik aja. munkin kita bisa saja melihatnya mengarah ke sebuah nilai/sifat, bukan sekedar kebangsaan.

buat pertimbangan aja, ada kondisi yang ironis bagi kaum yahudi (di sini sbg atribut kebangsaan dan juga kampung halamannya isa), coba cek teks lagu i'm a jew in christmas eve di salah satu episode film kartun south park (katauan deh hobinya nonton kartun), munkin empati2 seperti ini yang ingin ditularkan oma lee.

pertanyaan2 scout, jem & nanto "waktu lahir, pilihan ke berapa elo jadi jawa to?" ---> jadi mengingatkan pertanyaan anakku sewaktu dia kelas 1 : "mi.. kenapa orang muslim menjadi muslim?"


Jimmy Wahh,,,jadi seru (baca: serius) nih bahasannya hehehe..

Gua setuju sama...siapa ya...*lihat kiri kanan*

Gua cuma mau bilang, kalo gua ngga mau men-generalisasi sifat/kelakuan (baik itu baik ataupun buruk)suatu kaum, bangsa, suku, atau apalah itu. Ketika seseorang yang beragama A atau bersuku B melakukan tindak kejahatan, apakah kita bisa mengatakan bahwa semua orang yang beragama A atau bersuku B adalah jahat? Belum tentu, bukan? Seperti sub-judul buku ini, Novel tentang kasih sayang dan prasangka. Hayooo...siapa yang berprasangka :p
Seperti kata Ibu Theresa "When you judge people, you have no time to love them"

Jadi...gua memutuskan setuju dengan Ibu Theresa aja dehh
*peace, jadi merasa komen gua antara nyambung dan ngga nyambung nih :D*


message 16: by Hasna Diana (last edited Nov 30, 2008 10:40PM) (new) - rated it 5 stars

Hasna Diana terima kasih atas semua comment-nya :)

tentang Yahudi ini, bagaimana kalau kita sepakat untuk tidak sepakat, ok?

Selanjutnya, mari kita bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang diperselisihkan.

Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Untuk catatan penutup tentang kaum Yahudi ini:

Tingginya lebih dari 175 centimeter. Tubuhnya ramping. Hampir setiap hari, lelaki berdarah Yahudi tersebut mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan topi khas Yahudi yang juga hitam. Rambutnya yang kecoklatan panjang di bagian depan dan dipilin dengan rapi di kedua sisi bawah telinga bagian muka sehingga menyatu dengan janggut dan kumisnya yang juga lebat.

Walau berdarah Yahudi, bahkan dia seorang Rabbi atau guru agama Yahudi, lelaki tersebut terkenal sebagai seorang pengecam Zionisme di Amerika Serikat yang sangat vokal. Dia tidak segan-segan untuk berdebat dengan siapa pun soal yang satu ini. “Zionisme adalah ajaran yang mengkhianati Yudaisme! Zionisme adalah kepercayaan setan!” ujarnya tegas tanpa takut sedikit pun.

Nama lelaki itu adalah Rabbi Yisroel Dovid Weiss. Pekerjaan resminya adalah Juru Bicara Neturei Karta International, sebuah gerakan kaum Yahudi menentang Zionisme (Jews against Zionism). Rabbi Yisroel Dovid Weiss berdarah Yahudi Hongaria. Kedua orangtuanya menjadi korban kebrutalan Nazi Jerman di kamp Auschwitz, Polandia. Sekarang, dia bersama keluarganya tinggal di New York dan memimpin kelompok Neturei Karta bersama-sama dengan gerakan kemanusiaan lainnya berjuang menentang Zionis-Israel dan mewujudkan negara Palestina yang merdeka.

Masih di Amerika. Universitas De Paul di Chicago tahun lalu memecat salah seorang profesornya hanya gara-gara sang professor itu mengatakan bahwa rezim Zionis telah memanfaatkan tragedi Holocaust untuk menutupi kejahatan-kejahatan yang dilakukannya saat ini. Andai saja sang professor bukan seorang berdarah Yahudi, maka peristiwa ini tentunya dianggap biasa. Namun tidak kali ini.

Norman G. Finkelstein, nama profesor itu, merupakan seorang Yahudi dan pakar di bidang teori politik dan sejarah. Ibunya bahkan menjadi salah seorang Yahudi korban Nazi di kamp Auschwitz dalam Perang Dunia II. Namun Finkelstein menentang Zionisme dan menyebutkan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Finkelstein bahkan mengecam Israel dan membela Palestina serta menuding media-media besar dunia telah menyembunyikan banyak sekali fakta dan kebenaran soal kejahatan Zionisme.

Akibatnya, Finkelstein pun diusir dari kampus tempatnya mengajar. Bahkan pihak perguruan tinggi tersebut menginstruksikan agar semua buku-buku karya Finkelstein ditarik dari perpustakaan kampus dan menjadi buku terlarang di kampus tersebut.

Selain Rabbi Yisroil Dovid Weiss dan Profesor Norman G. Finkelstein, masih banyak orang-orang Yahudi di Amerika yang dengan gigih dan tak takut mati menentang dan menelanjangi segala kejahatan Zionisme Israel seperti Profesor Albert Einstein, Noam Chomsky, Profesor Israel Shahak, dan lain-lain.

Mereka, walau pun berdarah Yahudi, tidak takut dicap anti-Semit. Semuanya yakin, seperti yang berulang kali diteriakkan Rabbi Weiss, “Zionis merupakan ideologi setan!”

Seperti yang saya kutip sebelumnya:

"Yahudi dalam terminologi merupakan istilah yang mengacu kepada keyakinan dan sikap hidup, millah, bukan ras.

Sebagaimana Qur’an mengatakan hal seperti itu.

Jadi, orang-orang berdarah Yahudi yang telah kembali kepada ketauhidan, mereka sesungguhnya bukan lagi Yahudi."

wallahu'alam bish showab

Thank you for your attention :)
Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Sincerely,
Diana



Jimmy Setuju dengan Hasna, mari kita sepakat untuk tidak sepakat, kalimat yang menarik :D

Tapi kan memang di sini kita bukan bertujuan untuk menyamakan pikiran, tapi menuliskan pandangan masing-masing atas suatu hal. Jadi jangan diambil hati hehehe...

Ditunggu review buku yang lain ya, Hasna...



nanto sama-sama Hasna, ikut menunggu reviewnya


Hasanuddin Salut buat reviewnya, aku terkesan banget. Ikut vote juga

Salam,

Hasan


message 12: by Inna (new) - added it

Inna aaihh...ini review TOP markotob deh..

*tetep masih belum bisa menamatkannya*


message 11: by Roro (new)

Roro oh yeah , i agree with you 100% although i can't understand whatever language you are writing .LOOOOOOOOL


message 10: by Teralaysha (new) - added it

Teralaysha how can u read the books


Jori To Kill a mockingbird has been translated into other languages.


message 8: by Hihihhi (new)

Hihihhi hello LOL


message 7: by Ij (new) - rated it 4 stars

Ij Baik meninjau! Atticus Finch adalah ayah yang hebat dan dinamika keluarga merupakan fokus utama dari buku ini.

Apa pikiran Anda tentang dinamika rasial?


Maruko :(
setelah baca buku To Kill A Mockingbird sampai habis, melihat betapa prejudice-nya orang-orang di pengadilan kepada orang kulit hitam, prejudice-nya warga terhadap Boo Radley, and all.. kamu masih belum mengerti juga? kamu masih tidak bisa melepaskan prasangka terhadap orang-orang Yahudi (mengutip: "laknatullah") ?? sangat mengecewakan.. kamu kehilangan inti penting buku ini.. :(

coba deh, baca sekali lagi..

"You never really understand a person until you consider things from his point of view--until you climb into his skin and walk around in it" (Atticus Finch)


message 5: by Ij (new) - rated it 4 stars

Ij Maruko wrote: ":(
setelah baca buku To Kill A Mockingbird sampai habis, melihat betapa prejudice-nya orang-orang di pengadilan kepada orang kulit hitam, prejudice-nya warga terhadap Boo Radley, and all.. kamu mas..."


Saya setuju! Itulah sebabnya saya bertanya pertanyaan saya.


Maruko terima kasih.
sebenarnya comment saya lebih saya tujukan ke Hasna Diana Nurrahmannisa, yang menulis review ini, karena sayang sekali kalau Hasna melewatkan point tentang kemanusiaan ini :)


Mira Roderica hmm, saya ga tau sih yahudi yang dimaksud di novel itu mengacu pada ras atau sikap hidup. dan karena ketidaktahuan itu saya rasa lebih baik ga sembarang menyebut mereka sebagai "laknat". anda mungkin memegang definisi bahwa ketika seorang berdarah yahudi namun telah kembali ke ketauhidan maka ia bukan lagi seorang yahudi. tapi toh itu kan anggapan anda. orang yang berada dalam posisi itu (berdarah yahudi namun telah kembali ke ketauhidan) belum tentu memegang definisi yang sama. ia mungkin sakit hati dan merasa kaumnya dilecehkan. cuma kemungkinan sih... saya kan juga ga tau. dan memang lebih baik saya ga berprasangka macam-macam :D


Sari Sadtyaningrum Baca buku ini sekitar 4 tahun yg lalu, waktu itu kelas 10. Nggak tahu kenapa, tokoh yg paling saya ingat adalah Atticus.
baca comment disini bikin saya pingin baca-ulang buku ini.


back to top