Tita's Reviews > 100 Bullets, Vol. 8: The Hard Way

100 Bullets, Vol. 8 by Brian Azzarello
Rate this book
Clear rating

by
222402
's review
Jul 26, 2007

really liked it
bookshelves: comics-graphicnovel

Hidupmu berjalan biasa2 saja. Yah, mungkin sebenarnya cenderung kacau, atau membosankan, tapi tetap saja berlangsung tanpa gairah. Dalam hati kecilmu, kau tau bahwa kacaunya jalan hidupmu ini adalah akibat kelakuan seseorang, yang hendak kau beri ganjaran setimpal, andai kesempatan itu ada..
Tiba-tiba, seseorang menghampirimu. Laki-laki ini berusia tengah baya namun terlihat masih tegap, berperawakan sedang, berpakaian rapih, berpotongan rambut pendek dan bertampang keras, namun tetap ramah. Ia tahu namamu, dan masalahmu yang terdalam; ia menawarkan sebuah koper berisi sebuah pistol dan 100 buah peluru yg tak akan dapat dilacak. Tidak hanya itu; di dalam koper itu terdapat foto seseorang yang bertanggung jawab atas kacaunya hidupmu - disertai berkas2 lengkap yang membuktikan hal itu. Kau telah diberi sebuah pilihan, sebuah pistol, dan 100 butir peluru tak terlacak. Apa yg akan kau perbuat?

Demikianlah inti dari awal seri berjudul "100 Bullets" ini. Laki-laki misterius itu, yg menyebut dirinya Agent Graves, menghampiri para tokoh di kisah ini satu persatu dengan cara demikian. Pada awal cerita, terdapat kesan bahwa orang2 yang dihampiri Graves adalah random, sebab lokasi dan status dari satu tokoh dengan yang lain sangat bervariasi. Tapi dengan segera kita mengetahui bahwa mereka mempunyai banyak persamaan. Satu persatu para tokoh ini 'dibangunkan' oleh Graves, langsung terseret ke dalam plot yang lebih padat, ke sebuah jaringan penuh intrik, kekerasan sekaligus kemewahan, dunia kriminal jalanan sekaligus permainan tingkat tinggi.

Duet Brian Azzarello (writer) dan Eduardo Risso (artist) memang saling memunculkan kehebatan masing2 dalam seri 100 Bullets ini. Kehandalan Azzarello dalam menuliskan naskah terlihat, antara lain, dari ketepatannya memasukkan slang dan istilah2 khusus dalam dialog, sesuai dengan setting (lokasi, adegan) dan para karakter yang dikisahkan. Alur cerita yang agak kompleks, namun tetap kompak, menyajikan suspense di sana-sini - namun jelas-jelas berkembang ke klimaks. Seperti berjalan melalui petasan2 kecil untuk menuju ke ledakan dinamit.
Melalui gambarnya, Risso mengimbangi - kalau tidak bisa dibilang memperkuat - plot yang ditulis Azzarello. Gambar yang berkesan realis, namun tetap memanfaatkan medium 'komik' untuk menekankan berbagai ekspresi - mulai dari yang ringan dan konyol, lembut dan menggairahkan, hingga ke brutal, babak belur dan cedera parah. Sebagian besar panel didominasi kegelapan dan bayangan yang sangat sesuai dengan atmosfir cerita: misterius, gelap, dan, kalaupun sempat senyap, lebih mirip kesunyian sebelum badai melanda.

Hingga kini, koleksi 100 Bullets saya sudah sampai (trade paper back) jilid ke-8. Dan seri ini masih berlangsung, entah sampai jilid berapa. Bagi saya, yang paling menarik adalah membaca cerita di balik cerita utama, melalui gambar2 Risso. Perhatikan detail, baik elemen maupun karakter yang muncul di jilid awal, yang dapat muncul lagi di jilid2 berikutnya. Perhatikan bahwa Risso juga sering menggambarkan adegan yang sama sekali berbeda dari konteks cerita utama, namun memiliki kisah sendiri, tanpa mengganggu plot. Hampir tak dapat dipercaya bahwa duet Azzarello-Risso ini bekerja sama hanya melalui fax dan Internet, tanpa bertemu muka!
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read 100 Bullets, Vol. 8.
Sign In »

No comments have been added yet.