Endah's Reviews > Omerta

Omerta by Mario Puzo
Rate this book
Clear rating

by
1597717
's review
Feb 09, 09


Mario Puzo selalu identik dengan kisah-kisah mafia. Novelnya yang paling terkenal adalah The Godfather (1969). Sedangkan Omerta (2000) adalah novelnya yang diterbitkan setahun setelah kematiannya. Novel inipun juga berisi kisah para mafioso. Omerta sendiri menurut World Book Dictionary artinya adalah hukum kehormatan Sisilia yang melarang pemberian informasi tentang kejahatan-kejahatan yang dianggap merupakan urusan orang-orang yang terlibat.

Kisah ini dimulai pada 1967.
Saat itu Don Zeno tengah sekarat di rumahnya di desa Castellammare Del Golfo, Sisilia. Selama hidupnya yang delapan puluh tahun, ia dikenal sebagai pemimpin mafia sejati. Ia menerapkan tradisi-tradisi lama dan tidak sudi berurusan dengan obat bius. Sebagai seorang boss mafia, ia dikenal amat dermawan sekaligus juga tegas dan kejam pada mereka yang dianggap mengganggu bisnisnya. Di akhir-akhir usianya ia sempat menikahi seorang perempuan muda dan dari perkawinan itu lahir seorang anak lelaki yang kini berusia dua tahun.

Sebelum Don Zeno mengembuskan napas terakhirnya, ia menitipkan putra tunggalnya itu, Astorre Zeno, kepada sahabat kepercayaannya, Raymonde Aprile. Maka lalu Aprile membawa anak tersebut ke Amerika Serikat dan menjadikannya bagian dari keluarganya. Kepada orang-orang ia bahkan mengakui Astorre sebagai keponakannya.

Raymonde Aprile sendiri memiliki tiga orang anak, yaitu : Valerius, Marcantonio, dan Nicole. Ketiganya diberi pendidikan yang baik dengan disekolahkan ke Eropa. Selain untuk bersekolah, Raymonde juga ingin menjauhkan anak-anaknya dari bisnis ayah mereka. Kecuali terhadap Astorre. Kepada anak angkatnya inilah ia justru menurunkan ilmu mafianya serta kelak Astorre pula yang mewarisi seluruh bank miliknya setelah ia mati tertembak.

Demikianlah cerita bergulir seperti film-film mafia produksi Amerika. Kelicikan, kekejaman, loyalitas beserta tipu muslihat ala mafia mewarnai keseluruhan novel ini berikut adegan tembak-tembakan dan bunuh-membunuh. Darah dibayar darah. Nyawa harus diganti nyawa. Hanya hukum balas dendam tuntaslah yang berlaku dalam bisnis mereka. Tak ada yang terasa baru mengenai fakta-fakta di seputar dunia permafiaan yang dapat kita jumpai di buku ini. Bahkan saya tak menemukan ketegangan yang tadinya sempat saya harapkan.

Penulisnya tampak sekali kagum pada tradisi dan cara hidup para mafia ini, terutama mengagumi sifat-sifat gentlement dan kesetiakawanan di antara sesama mereka. Ia juga menyatakan simpatinya kepada para petugas kepolisian (NYPD) yang terpaksa menerima suap demi mempertahankan hidup. Ia bisa memaklumi beratnya pekerjaan sebagai hamba hukum di negara yang mengagung-agungkan hak masyarakat sipil. Kadang-kadang para polisi ini serba salah. Jika mereka keras terhadap penjahat kulit hitam, mereka akan dicap rasialis. Padahal kenyataannya penjahat di New York sebagian besar adalah warga kulit hitam. Singkatnya, masyarakat justru menjepit polisi yang melindungi mereka. Penghargaan baru diterima kalau polisi yang bersangkutan tewas saat bertugas.

Dan selebihnya, buat saya, Omerta terasa biasa-biasa saja.
1 like · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Omerta.
sign in »

No comments have been added yet.