Endah's Reviews > Kimya Sang Putri Rumi

Kimya Sang Putri Rumi by Muriel Maufroy
Rate this book
Clear rating

by
1597717
's review
Nov 25, 08

Read in December, 2005

Saya, seperti (alm) Nurcholis Madjid, percaya bahwa banyak pintu menuju Tuhan. Melalui "pintu-pintu" yang berbeda itu, kita mencari jalan menuju penyatuan dengan-Nya. Salah satu "pintu" tersebut adalah tasawuf yang banyak dipakai oleh kaum sufi untuk mencapai taraf manunggal ing kawula gusti.

Tasawuf adalah aliran mistik dalam Islam. Kaum orientalis menyebutnya sufisme, suatu istilah yang dikhususkan untuk agama Islam. Baik sufisme maupun mistisisme, agama-agama di luar Islam, membawa para pengikutnya untuk melakukan hidup zuhd, yaitu meninggalkan atau menjauhi hidup kematerian, dan lebih banyak mementingkan kerohanian. Tekun beribadah serta berusaha menyucikan diri dengan jalan menjauh dari keramain dunia dan berkontemplasi agar dapat berhubungan langsung dengan Tuhan (Ensiklopedi Indonesia terbitan PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta)

Bicara tentang tasawuf, kita akan segera teringat nama besar Jalaludin Rumi, sufi yang hidup pada abad 13 Masehi. Dalam riwayat hidupnya, selain pernah menikah dua kali, diceritakan pula bahwa Rumi pernah mempunyai seorang anak angkat perempuan sekaligus murid kesayangannya bernama Kimya.

Kimya terlahir dari ibu bernama Evdokia, seorang perempuan beragama Nasrani serta ayahnya Farouk, seorang muslim. Sejak kecil, Kimya telah menunjukkan tanda-tanda kesufiannya. Ia sering tiba-tiba saja merasa mendengar suara-suara asing dalam kepalanya yang tidak ia mengerti. Sebagai anak berusia tujuh tahun, ia tampak berbeda dari teman-temannya. Jika teman-temannya asyik bermain, Kimya memilih duduk menonton mereka dan kepada Evdokia, ibunya, Kimya selalu menanyakan hal yang sama : "Ibu, mengapa aku hidup? Di mana aku berada sebelum lahir?"

Jika sudah demikian, biasanya Evdokia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tanpa mampu menjawab pertanyaan putri bungsunya itu.

Hanya ada satu orang yang melihat bakat Kimya, ialah Pater Chrisostom, seorang pendeta yang menjadi sahabat baik seluruh penduduk desa di mana Kimya sekeluarga tinggal. Sebuah desa di mana para penduduk dari segala macam agama - Kristen, Yahudi, dan Islam - hidup berdampingan rukun dan damai. Bahkan pernah pada suatu masa, saat desa mereka belum memiliki masjid, sudut paling timur dari gereja dipakai sebagai tempat menyelenggarakan salat Jumat. Itu dulu, sekian abad yang lalu.

Menjelang kematiannya, Pater Chrisostom berpesan agar Kimya dikirim belajar ke Konya, sebuah kota tempat para orang kaya dari seluruh penjuru dunia berdatangan. Di sinilah, Kimya menemukan takdirnya : menjadi anak angkat Rumi dan menikah dengan Syams, sahabat kesayangan Rumi.

Dari kedua lelaki ini, Kimya menimba ilmu, mengisi jiwanya dengan keimanan pada Tuhan, menyatukan diri dan hanya menyerahkan cinta pada-Nya semata, sebab Dialah cinta itu sendiri.

Seperti Rabiah Al Adawiyah, Kimya tenggelam dalam kegairahan menemukan cinta sejatinya. Hari-harinya hanya berisi doa dan ibadah untuk Allah semata. Rumi dan Syams menuntunnya mencapai pencariannya.

Namun, tak seperti Rabiah, nama Kimya sebagai sufi tak banyak dikenal, sehingga meskipun penulis novel ini menyatakan bahwa Kimya adalah tokoh historis, ia lebih terasa sebagai fiksi. Mungkin juga itu disebabkan tidak disebutkannya kapan terjadi setiap peristiwa yang dialami Kimya dalam buku ini. Kronologinya hanya dituliskan sedikit di halaman 13 dan 14.

Sebagai sebuah novel, Kimya cenderung datar-datar saja. Nyaris tak ada konflik yang membawa pembaca pada rasa penasaran atau pun keterlibatan emosi. Ia lebih banyak bertutur tentang sufisme dan mazhab cinta Rumi. Sedikit gejolak kita dapati pada bagian kehidupan rumah tangga Kimya dan Syams, selebihnya plot mengalir tenang dan lambat.

Buat yang senang kisah-kisah sufi, Kimya Sang Putri Rumi ini bisa menjadi teman di kala galau.

Penulisnya, Muriel Maufroy, pernah juga menulis buku lain tentang Rumi, yaitu Breathing Truth.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Kimya Sang Putri Rumi.
sign in »

No comments have been added yet.