Endah's Reviews > Saya Terbakar Amarah Sendirian!

Saya Terbakar Amarah Sendirian! by André Vltchek
Rate this book
Clear rating

by
1597717
's review
Jan 22, 2009

liked it

Ketika beberapa waktu lalu saya membaca soal pencalonan Pramoedya Ananta Toer di ajang Nobel bidang sastra, terbersit rasa bangga di hati sebagai orang Indonesia. Bangga rasanya 'memiliki' seorang sastrawan besar yang karya-karyanya diperhitungkan di dunia internasional. Walau pun belum berhasil memenangi penghargaan bergengsi tersebut, saya tetap saja merasa bangga pada Pak Tua itu. Sesaat, rasanya sebagai bangsa, saya berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi, setelah selama ini terpaksa malu oleh 'prestasi' negeri tercinta sebagai pemegang rangking satu negara terkorup.

Pernah suatu hari, kantor kami kedatangan tamu delegasi ekonomi Asia Pasifik. Kebetulan, saya ikut mendampingi mereka melihat-lihat kebun dan pabrik teh kami. Di antara anggota delegasi tersebut, ada seorang perempuan anggun berambut kuning jerami, bermata hijau lembut, dari Cili. Sambil menikmati teh, saya sempat bercakap-cakap dengannya. Tentulah akhirnya sampai ke topik Pablo Neruda. Nyonya cantik ini terkejut dan tampak bangga sekali ada orang dari negeri lain, ribuan kilometer berjarak dari negerinya, mengenal Neruda, sastrawan kebanggaan negeri mereka. Lalu, ia ganti 'membalasnya' dengan menyebut Pram. Kali ini, gantian saya yang bangga. Begitulah.

Karya Pram yang pertama kali saya baca adalah Bumi Manusia. Waktu itu saya masih duduk di kelas II SMP. Saya tidak tahu kalau itu buku terlarang. Dengan pemahaman seorang remaja 14 tahun, saya melahap buku tersebut dengan rakusnya dilanjut buku keduanya : Anak Semua Bangsa. Sedangkan dua judul lagi yang terakhir, Rumah Kaca dan Jejak Langkah, baru saya baca bertahun-tahun kemudian, setelah novel tersebut beredar dengan bebas. Sejak itu, saya mulai mengoleksi buku-buku Pram, baik novel, kumpulan cerpen, drama, atau pun esai-esainya, atau buku-buku yang berkenaan dengan Pram. Termasuk buku Saya Terbakar Amarah Sendirian!

Buku tipis ini memuat wawancara dua orang jurnalis, yaitu Andre Vltchek (Amerika Serikat) dan Rossie Indira (Indonesia) dengan Pram yang dilakukan selama empat bulan, dari Desember 2003 sampai dengan Maret 2004. Wawancara tersebut berlangsung di kediaman Pram di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Dalam wawancara panjang ini, Pram menuturkan banyak hal yang sebelumnya hanya sedikit saja pernah diungkap media massa. Selain karena menyangkut hal-hal yang sensitif, juga karena alasan 'keamanan' di bawah tekanan rezim Soeharto, nama yang banyak disebut Pram sebagai orang yang paling berperan dalam peristiwa penangkapan dirinya, 13 Oktober 1965, pasca huru-hara politik yang menewaskan jutaan rakyat Indonesia dan jutaan lainnya lagi kehilangan kemerdekaannya ditahan di penjara-penjara serta kamp kerja paksa : Pulau Buru.

Pram, sebagaimana ribuan tapol 1965 lainnya, dipenjarakan di Pulau Buru tanpa melalui proses pengadilan selama bertahun-tahun sampai saat pembebasannya, empat belas tahun kemudian. Di kamp kerja paksa ini, di tengah-tengah deraan siksaan aparat, lahirlah karya masterpiece-nya yang memukau dunia sastra : "Tetralogi Buru"

Pram bicara banyak mengenai macam-macam hal, dari mulai keluarga, kudeta 1965, Sukarno, Soeharto, masa-masa selama dalam tahanan, revolusi, CIA, Jawanisme, sastra, sampai dengan soal Aceh dan Timor Leste. Disampaikan dalam nada getir, marah, dan pedih. Kepedihan itu terasa sekali kala ia mengisahkan tentang pemusnahan naskah-naskahnya pada tahun 1965 oleh aparat tentara. Naskah-naskah tersebut (semuanya ada delapan judul) dibakar habis bersama dengan buku-buku lain koleksi perpustakaan pribadinya.

Bagi seorang yang menggantungkan hidup (dan cintanya) pada menulis, pastilah amat menyakitkan kehilangan dokumen sepenting itu. Lebih menyakitkan lagi, ia sama sekali tak memiliki kopinya, dan ia tak akan pernah bisa menulisnya ulang. Oleh karenanya, ia tak bisa memaafkan tindakan tersebut sampai kapan pun.

Namun, yang paling terasa pedih buat saya, adalah saat Pram menyatakan bahwa dirinya tak mampu lagi menulis sejak stroke menyerangnya di tahun 2000. Kondisi fisiknya telah sangat lemah akibat usia sepuhnya. "Saya benar-benar tidak bisa menulis lagi. Saya tahu batas kemampuan saya dan saya sudah harus berhenti di sini. Saya ingin berhenti bermimpi." (hlm.124)

Dari wawancara ini, nyatalah betapa Pram bukan hanya sekadar sastrawan besar, tetapi juga seorang pemikir, nasionalis, humanis. Alangkah kecewa dan marah dirinya, ketika menyaksikan negeri yang dicintai dan pernah diperjuangkannya ini perlahan-lahan terjerumus ke dalam kehancuran di segala bidang hanya karena salah urus segelintir elit yang lebih mementingkan diri sendiri. Untuk menyembuhkannya, ia meyakini, hanya ada satu cara : revolusi total! Dan hanya kaum mudalah yang mampu melakukannya.

Buku ini tersaji benar-benar dalam bentuk tanya-jawab seperti yang kerap kita lihat di koran-koran dan majalah, di mana sang jurnalis bertanya dan nara sumber menjawab. Kalau saja bukan Pram subjeknya, barangkali akan jadi amat membosankan membaca buku ini. Jelas, Pramlah magnetnya.

Tak pelak lagi, rekaman wawancara ini semakin menambah kekaguman dan rasa hormat saya pada Pram. Saya jadi ikut-ikutan 'terbakar', oleh amarah dan juga semangatnya. Dan kita tahu, seorang seperti Pramoedya Ananta Toer tak 'kan pernah dilahirkan dua kali.
11 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Saya Terbakar Amarah Sendirian!.
Sign In »

Comments (showing 1-8)




dateUp arrow    newest »

nanto saya sempat diam waktu bagian dia mengenang pembakaran bukunya mbak. naskahnya itu...doh kenapa bodoh sekali si pembakar itu..

buat saya yang bisa teriak girang alang kepalang di tengah tumpukan buku tua, pembakar itu sejolim2 umat!


message 7: by [deleted user] (new)

Iya, baca buku ini ikut ngrasa pahit. Marah & getirnya itu terasa banget.


message 6: by nanto (last edited Jan 22, 2009 08:56AM) (new) - rated it 3 stars

nanto kebayang aja sih, kalo pram bisa segitu marahnya. naskahnya itu kayak anak pikiran dia. disusun lama, eh dalam sekejap terbakar.

setiap dia bilang, saya tidak terbiasa menulis sesuatu dua kali. momennya sudah beda...kebayang dia begitu dalam mengungkapkan itu

bagian dia kaget melihat perkembangan keluarganya, tanpa bisa memberikan warna sepantasnya sebagai seorang bapak juga dalam. harga mahal yang buat dia negara tak kan sanggup membayarnya


message 5: by Felis (new)

Felis "...saya sempat diam waktu bagian dia mengenang pembakaran bukunya mbak. naskahnya itu...doh kenapa bodoh sekali si pembakar itu..."

Tergantung melihat dari sisi yang mana, kalau dilihat dari sisi rejim yang berkuasa saat itu, memang dengan membakar naskah dan buku, tercapai tujuan mereka, menyiksa secara mental dan membatasi akses informasi, jadi tindakan si pembakar tidaklah bodoh.


message 4: by [deleted user] (new)

Tidak, Indres, saya tetap berpendapat bodoh sekali si pembakar itu. Biar pun dia dari rezim yg sedang menang. Ketika Komunisme runtuh di Eropa Timur, yang justru diselamatkan pertama adalah arsip Polisi Rahasia, karena dari situ semua sejarah kebusukannya bisa terungkap. Bukan malah dibakar.
HB Jassin pun protes ttg pelarangan dan pembakaran buku2 seterunya waktu itu. Dalam salah satu suratnya kepada Nh. Dini dia menulis:

Kesusastraan kita sudah menjadi kerdil sekali, ... dengan buku-buku golongan kiri yang juga dilarang karena pengarang-pengarangnya dianggap terlibat dalam persiapan kudeta. Mudah-mudahan saja larangan-larangan ini hanya untuk sementara, sebab buku-buku itu tidak bersalah apa-apa dan tetap merupakan kekayaan kebudayaan kita

Tapi Jassin salah. tentara memang bodoh, dan ga bisa diandalkan utk urusan kemerdekaan berpikir.

Tapi soal kemarahan dan kegetiran itu menarik. Kemarin di TIS ngobrol2 panjang dg ES Ito soal sastra Amerika Latin dan kami membandingkannya dengan Pram. Penulis2 Amerika Latin rata2 kiri dan tertindas seperti Pram, tapi mereka bisa mengatasi dendam mereka thd sejarah. Isabel Allende misalnya, yg terusir dari Cile dg pamannya (Presiden Salvador Allende) tewas spt halnya Neruda.
Itu yang membuat karya2 Allende atau Garcia Marquez misalnya terasa ada humornya (meskipun dark humor) dan sinisme yang witty. Hal yang kami pikir tidak terasa pada karya2 Pram yg serius dan sering tragis.


Endah Ini memang buku yang getir. Aku tuh nyesak banget pas bagian Pram bilang bhw dia sdh tdk mampu menulis lagi. Aku merinding....Mungkin yg Pram rasakan mirip dengan seorang mantan juara tinju yg tdk bisa naik ring lagi, bahkan utk sekadar menjadi pelatih.




Endah @Ronny
Kurasa Pram juga sedikit pandai melucu. Maksudku, ada kalanya dia juga sempat bergurau dalam beberapa bukunya. Yang aku ingat di buku "Jalan Raya Pos", di salah satu babnya Pram mengisahkan pengalaman lucunya sewaktu terpaksa harus menginap di markas tentara (kalau nggak salah di Cirebon atau Semarang. Di situ Pram sempat buang hajat di atas dandang yg - karena gelap - dia kira lubang WC.

Juga pada episode Rumah Kaca, dia memakai gaya yang sedikit lebih santai pada narasi Pangemanann (dengan dua "n").

Tapi memang sih umumnya cerita2 Pram suram dan kelam dan aku bisa mengerti jika mengingat semua kepahitan yang pernah dia terima.


message 1: by Jessica (new)

Jessica belum baca bukunya saja, dengan baca review ini, sudah membuat saya ikutan 'terbakar'. ingin beli buku ini. ><


back to top