Jimmy's Reviews > God Explained in a Taxi Ride: Since the bginning of mankind, more thought has gone into the understanding of God than any other subject under the sun ... this little book explains once and for all

God Explained in a Taxi Ride by Paul Arden
Rate this book
Clear rating

by
1161178
's review
Dec 04, 08

bookshelves: ingin-punya
Read in October, 2008

Aku berada di padang rumput yang sangat luas dan indah. Rumputnya yang hijau menghampar di sekelilingku. Pemandangan indah yang sudah sangat lama tidak aku jumpai lagi, terakhir ketika aku masih kecil dan tinggal di desa. Aku mulai mengayunkan langkah disegarkan oleh angin yang berhembus. Mataku memandang sekeliling berharap menemukan orang lain di sini, dan pandangan mataku terpaku pada sebatang pohon yang cukup rindang. Bukan pohon itu yang membuat aku terpaku, namun. sesosok tubuh yang sedang duduk di bawahnya, bersandar pada batangnya. Sosok itu terdiam menundukkan wajahnya. Sepertinya dia merenung, mungkin bersedih. Aku tidak tahu karena aku belum bisa melihat wajah sosok itu dengan jelas. Ada sinar yang menyilaukan pandanganku. Mungkin hanya seseorang yang sedang beristirahat, pikirku. Hatiku ingin mengabaikan dan melanjutkan langkah, namun bagai magnet yang berbeda kutub, sosok itu seolah menarik kakiku untuk mendekat ke arahnya. Hatiku pun mengalah dan mengikuti langkah kakiku.

Semakin dekat, semakin jelas aku melihat sosok itu, namun wajahnya tetap tidak bisa kulihat dengan jelas. Ternyata, cahaya yang menghalangi pandanganku itu datang dari sinar yang dipancarkan wajahnya. Makhluk apakah ini? Wajah manusia tidak pernah bercahaya sesilau itu. Aku berhenti, tak berani lebih dekat lagi. Dia mengarahkan pandangannya kepadaku, aku terdiam dan waspada, jangan-jangan dia datang dari planet lain. Tidak tahu mengapa, tapi aku seperti melihat senyuman hangat dari wajah itu, seolah mengajakku untuk datang lebih dekat. Kemudian dia menundukkan wajahnya lagi, dan aku seperti bisa merasakan aura kesedihan dalam dirinya. Rasa waspadaku tiba-tiba hilang, yang timbul malah rasa aman saat langkahku semakin dekat kepadanya.

Aku pun duduk di sampingnya, namun aku tidak punya keberanian untuk memandang langsung ke wajahya. Setiap aku mencoba melirik lewat sudut mataku, cahaya dari wajahnya memaksaku untuk berpaling. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat seolah-olah aku sudah lama mengenal dia, tapi entah dimana. Dan itu juga yang membuat aku merasa penasaran ingin tahu kenapa dia kelihatan bersedih dan duduk sendirian disini.

“Apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanyaku pelan. Dia masih terdiam sambil menghela nafasnya.

“Mungkin kamu mau bercerita, dan mungkin aku bisa membantumu,” tambahku sambil melihat lurus ke depan.

“Bagaimana kamu akan membantuku? Bisakah kamu menghapus rasa gundah di hatiku?” akhirnya dia menjawab dengan pertanyaan.

“Gundah karena apa?” seolah tak mau kalah, aku menjawabnya dengan pertanyaan juga.

“Hatiku gundah, aku sedih karena makhluk yang aku ciptakan dengan tanganku sendiri merasa lebih kuat dari aku.”

“Makhluk ciptaanmu? Kamu ilmuwan yang menciptakan robot ya?”

“Bukan robot. Aku menciptakan makhluk hidup yang dikenal dengan sebutan manusia, ya seperti dirimu,” suaranya datar namun terdengar berwibawa.

“Oh ya, manusia seperti diriku? Terus, apa yang telah mereka perbuat?”

“Mereka sudah merasa lebih kuat dari aku, mereka selalu berlomba-lomba ingin membelaku dengan cara mereka sendiri. Bahkan kadang rela mengorbankan nyawanya untuk kebanggan mereka sendiri, tapi mengatasnamakan aku, dan lebih parahnya lagi mereka rela menyakiti sesamanya bahkan membunuh sesamanya untuk aku.”

“Lho, bukannya itu bagus, ada yang masih peduli ingin melindungi kamu, bukankah itu sebagai bukti kalau mereka mengasihi kamu sebagai pencipta mereka?”

“Aku tidak ingin dibela oleh siapa pun karena aku bisa membela diriku sendiri. Sebagai pencipta mereka, bukankah aku lebih kuat dari mereka? Dengan membelaku, mereka sudah menganggap aku lemah, malah lebih lemah dari mereka. Bukankah orang kuat yang membela orang lemah?”

“Oh, terus kenapa mereka merasa harus perlu membela kamu? Dan siapakah yang telah mengancam dan menyakiti kamu sehingga perlu dibela.”

“Ya manusia juga, ciptaanku yang lain.”

“Lho, ciptaanmu yang satu menyakitimu, dan yang lain membelamu dengan caranya sendiri. Kenapa kamu tidak membela dirimu sendiri kalau kamu memang lebih kuat dari mereka?”

“Karena aku bukan pencipta yang bodoh dan kejam. Kalau mau, aku bisa saja menghancurkan semua ciptaanku dengan hanya satu jentikan jari. Dengan hanya satu hembusan nafas, aku bisa memporak-porandakan bumi tempat manusia bermukim. Tapi aku tidak berpikir dan bekerja dengan cara seperti itu. Aku menciptakan manusia dan menaruh otak di kepalanya agar bisa berpikir dengan lebih bijak untuk mengatasi masalah, sehingga mereka semakin dewasa. Dan aku juga memberi mereka otot untuk membantu otaknya dalam bertindak, bukan untuk membunuh dan menyakiti sesamanya, namun untuk membantu sesamanya. Jadi, aku sama sekali tidak ingin dibela dengan cara-cara kekerasan seperti itu.”

“Wah..kamu sepertinya sangat hebat ya. Bolehkah aku berguru kepadamu?” candaku.
Aku kembali seperti melihat senyum dibalik cahaya yang melingkupi wajahnya.

KRING…KRING….KRING..KRINGGGGGGG……..!!!!!!
Bunyi berisik alarm itu membangunkan tidurku. Dan aku memegang sebuah buku yang dalam keadaan terbuka, tertelungkup di atas dadaku. Buku itu karya Paul Arden berjudul “God Explain in a Taxi Ride”. Memang, buku ini sedang aku baca sambil tiduran semalam. Pada halaman yang terbuka itu aku membaca:

Why Does God Need You to Defend Him?

It must be because you think you are more powerful than your God.

If you think your God is weaker than you, that’s not much of a faith.

Does it follow, then, that people who fight wars for religion don’t have much faith?


Aku teringat dengan mimpiku, aku tertunduk malu dan sedih, ternyata akulah manusia ciptaanNYA yang DIA maksud. Pantas, sepertinya aku sudah sangat lama mengenal DIA.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read God Explained in a Taxi Ride.
sign in »

Comments (showing 1-4 of 4) (4 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by [deleted user] (new)

Iya Jim, bagian itu juga masih terngiang di benakku, sambil berharap orang-orang sadar tentang itu...bahwa Tuhan tidak pernah minta pembelaan dari manusia, karena Tuhan lebih besar daripada manusia! Ah...perang jihad....apakah tujuanmu sebenarnya?


Jimmy Tujuannya apa ya..? Mari kita sama-sama bertanya..hehehe.. sesama orang "bingung" dilarang saling bertanya, entar malah tersesat :p


message 3: by [deleted user] (new)

kata mama, klo tersesat harus cari & tanya pak polisi aja. :D


Jimmy Pak polisinya lagi tidur, soalnya kebanyakan polisi tidur di perumahan di Jakarta, apalagi pas hujan-hujan. *ga nyambung mode on*


back to top