Bunga Mawar's Reviews > Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan

Blind Power by Eko Ramaditya Adikara
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Oct 14, 2008

liked it
bookshelves: indonesia, stated-as-nonfiction, buku-dikasih, it-s-mine
Read in October, 2008

Pernah menonton film Daredevil atau membaca komiknya? Ini kisah superhero ciptaan Amerika, mengenai seorang pengacara, Matt Murdock yang memiliki identitas lain sebagai jagoan pembela kebenaran melawan penjahat. Dengan ketajaman indera yang telah diasah (serta didukung teknologi mutakhir), jadilah sang Daredevil yang dalam film diperankan oleh Ben Affleck ini mampu mengalahkan kaum durjana satu per satu.

Pernah lihat buku Blind Power? Baca deh. Ini kisah asli Indonesia, mengenai seorang pemuda 28 tahun dari Bekasi bernama Eko Ramaditya Adikara yang memiliki beragam kegiatan: mahasiswa, jurnalis, penata musik computer game, kontributor tulisan majalah, motivator, sekaligus "tukang curhat daring" alias blogger. Dipandu sekawanan bidadari, Rama menjalani kegiatan keseharian itu nyaris sama seperti orang kebanyakan.

Adakah hubungan antara Daredevil dengan Rama?

Ada. Satu, Daredevil itu khayalan, sedang Rama adalah manusia hidup "beneran". Sama hidupnya dengan penulis dan pembaca postingan ini. Dua, Daredevil tidak menerbitkan buku, sementara Rama menelurkan buku Blind Power ini. Tiga, begitu melihat kedua tokoh ini, niscaya Anda akan langsung tahu bahwa keduanya... buta. Tunanetra. Empat, ketidaksempurnaan indera penglihatan tidak menjadikan kedua jagoan ini terhalang menikmati hidup dan romansanya.

Kehidupan Rama sebagai penyandang tunanetra sejak lahir kemudian menjadi inti dari buku Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan yang terbit bulan Agustus 2008 ini. Rama, atau lengkapnya Eko Ramaditya Adikara mungkin bukan seorang superhero, namun pengalamannya mampu bertahan untuk bisa mandiri di tengah masyarakat "normal" sepatutnya bisa menjadi cermin bagi "orang-orang normal". Catatan pertama dari pengalaman luar biasa Rama adalah bahwa ia menuliskan sendiri kisah-kisah yang diceritakan di buku ini. Awalnya dimuat di blog pribadi yang dikelolanya sendiri sejak 2003 (www.ramaditya.com), kemudian penyusunannya menjadi buku dibantu oleh penulis Hermawan Aksan.

Ditulis dengan gaya ringan menyerupai catatan harian, buku ini diawali dengan kelahiran Rama hingga cara keluarganya membesarkannya. Rama mencatat bahwa kekuatan cinta kedua orangtuanya sangat membungkus dirinya. Mereka tidak pernah mengecilkan dirinya, atau justru mengistimewakan dirinya dibandingkan adiknya yang berpenglihatan normal. Dua anak lelaki ini diperlakukan sama, dibiarkan bermain bersama teman-teman lain di luar rumah, dan juga sama-sama ditegur dengan keras bila melakukan kesalahan. Bahwa akhirnya ia menyadari ada yang berbeda pada dirinya, yaitu penglihatan yang tidak setajam orang lain baru diketahuinya dari teman-teman bermainnya. "Kamu itu buta," kata mereka saat Rama berusia tujuh tahun.

Bagian berikutnya dari buku ini membawa kita menyaksikan saat Rama bersekolah hingga perguruan tinggi. Kekuatan lain menjalani hidup diperolehnya saat ia harus belajar mandiri ketika tinggal di asrama semasa bersekolah di SLB tingkat sekolah dasar. Berbagai penghalang bertebaran, dan meskipun tak mulus, berhasil juga dilewatinya. Rama memang masih tetap manusia biasa. Saat merakit komputer, jangan tanya berapa kali ia kena setrum listrik. Ia pernah dua kali menangis di tempat umum saat mendengarkan Sherina menyanyi. Atau ketika menyeberang jalan di daerah Kalimalang, sopir angkutan kota berteriak dengan keras padanya, "Kalo nyebrang pake mata, dong, sembarangan aja sih!"

Rama memang tidak menyembunyikan kecacatannya. Namun sebagai bagian dari generasi kini, meski memiliki keterbatasan penglihatan, Rama mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membantu aktivitasnya. Komputer jinjing adalah benda yang paling banyak bersentuhan dengannya sepanjang hari. Disandingkan dengan screen reader dan pengolah bunyi, perangkat itulah yang mendukungnya chatting, nge-blog, mengirim e-mail, hingga memainkan dan menyusun musik untuk computer game.

Buku ini tergolong lengkap sebagai catatan pengalaman seorang yang dalam usia relatif muda telah mengalami hidup yang tidak selalu mulus. Salah seorang pembaca blog-nya yang merasa kasihan mengirim e-mail, mengatakan Rama lari dari kenyataan dan tak mau menerima keadaan dirinya cacat mata. Dengan kata lain, secara halus sang pengirim e-mail itu menyatakan bahwa Rama telah menciptakan khayalan kelebihan dirinya agar bisa diterima orang lain.

Tentu ada yang menganggap aneka pengalaman Rama ini "biasa saja". Apa sih yang begitu menarik dari seorang tunanetra yang bisa bersekolah sejak sekolah menengah hingga kuliah di perguruan tinggi "normal"? Atau, bukankah sudah banyak tunanetra lain tanpa gembar-gembor melakukan perjalanan seorang diri dari Jakarta sampai tempat-tempat yang jauh di bumi ini? Atau, seberapa hebat Rama sebagai penyusun musik permainan komputer dibandingkan musikus tunanetra yang lagunya mendunia macam Stevie Wonder?

Ada dua hal yang mengganggu saat membaca buku ini. Pertama, alur cerita saat kehidupan Rama diambilalih oleh Lima Bidadari yang terus mendampinginya. Oke, kelima bidadari ini tokoh rekaan yang hanya hidup di benak Rama, katanya masing-masing sebagai perwakilan dari mood Rama saat menghadapi sesuatu. Namun sebaiknya penceritaan diskusi Wahita dan kawan2 itu tidak jadi cerita permenungan Rama. Nggak asik, maksa dan nyebelin. Mungkin lebih baik dibuat lampiran saja, terpisah dari kegalauan Rama saat kelima karakter fiktif ini muncul. Apalagi kata Rama dia juga merencanakan menulis cerita khusus tentang lima bidadari ini. Semacam Final Fantasy, kali ya?

Kedua, cerita cinta Rama sang jagoan. Sebagai pria normal, Rama menceritakan berbagai episode jatuh cintanya yang berkali-kali, dan yang kandas berkali-kali pula. Agak nekad juga memang, betapa terbukanya Rama menuliskan nama gadis-gadis yang pernah mampir mengisi hatinya lengkap dengan sejarah mereka (hey, salah satunya adalah tetangga saya!). Kepercayaan atas kekuatan cinta itu pula yang pernah membawanya naik-turun buskota dan kereta api antarwilayah, membawa suling: mengamen untuk mengumpulkan ongkos bis ke Palembang, tempat pujaan hatinya berada. Begitu seriusnya Rama menceritakan perjalanan cintanya, sehingga bisa-bisa pembaca berpikir, “Cowok ini ternyata playboy juga, ya?”

Bagi mereka yang memiki keterbatasan fisik, buku ini bisa jadi panduan dan penyemangat bahwa hal itu ternyata tidak berarti langkah di bumi ini menjadi terbatas. Selama kita punya mimpi, semua yang kita harapkan terjadi bisa kita capai. Kepercayaan diri dan pantang menyerah adalah kuncinya. Lebih dari itu, Rama mampu membuat apa yang sebenarnya “normal” buat kita jadi terlihat “kurang normal” bila melihat apa yang kita miliki. Pada saat sebagian besar dari kita mampu melihat dengan mata yang sempurna, sementara dengan penglihatan terbatas Rama mampu melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik, bukankah kita menjadi pihak yang “kurang normal”?

Ada baiknya kita resapi juga kata-kata Rama di buku ini: "Mungkin ini salah satu tujuan Allah kenapa aku dilahirkan dalam keadaan cacat. Supaya aku bisa membuka mata mereka, yang berpandangan bahwa hal-hal mustahil itu selamanya akan mustahil".

Dengan berbagai kekuatan yang ada di sekitar kita, semestinya tidak ada yang mustahil untuk mencapai kehidupan yang lebih berwarna, meski dunia yang gelap berada di sekitar kita.
1 like · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Blind Power.
Sign In »

Reading Progress

10/14/2008 page 3
0.8% "baru mulai..."
10/16/2008 page 8
2.14% "halam 8 tuh resminya, yg ga resmi, udah sampai belakang, karena loncat2..."

Comments (showing 1-1 of 1) (1 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Ontorsoh (new)

Ontorsoh he-eh... sukses juga ya...


back to top