Amanda Martadinata's Reviews > Moga Bunda Disayang Allah

Moga Bunda Disayang Allah by Tere Liye
Rate this book
Clear rating

by
4735804
's review
Jun 22, 12


"Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna....
Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada...."


Pernah tidak kalian membayangkan bagaimana frustasinya diisolasi dari kehidupan? Kalian hanya bisa merasakan, tanpa bisa mengenali apa yang kalian rasakan. Yang kalian punya hanyalah isi pikiran yang membuncah. Rasa ingin tahu yang terkungkung. Kalian hanya bisa marah dan gemas. Ini apa, sih? Kursi? Apa itu kursi? Untuk apa? Untuk duduk? Duduk itu seperti apa?

Kalian tahu, aku suka hujan, aku suka memandangi butiran bening seperti kristal itu. Aku suka mendengar gemericiknya, menenangkan. Apalagi jika hujan turun di malam hari, pasti akan menambah nyenyak tidur. Tapi, pernahkah kalian mengenal seseorang yang menyukai hujan padahal melihatnya saja tak pernah? Menyukai hujan padahal mendengar gemericiknya saja belum? Tentu kalian akan bertanya, lantas apa yang membuatnya menyukai hujan?

Novel ini akan mengenalkan kalian padanya. Membuat kalian mengerti makna hidup dan kehidupan. Novel ini membuat kita belajar dari kanak-kanak bernama Melati yang berjuang mengenal dunia dan isinya meski tembok takdir begitu besar menghadangnya. Tembok ini memang begitu besar. Tidak mungkin dipindahkan, kecuali dihancurkan sekalian.

Membaca setiap kalimatnya membuat aku berpikir sejenak. Menutup telinga dan mataku. Tapi tetap ada sedikit cahaya, ada sedikit suara. Andai saja melati bisa, sedikit. Kalian juga akan belajar dari Karang. Belajar kalau setiap orang memiliki kesempatan layaknya melempar bola ke dinding, 100% pasti kena. Kalian akan belajar dari seorang ibu yang tak pernah lelah mencarikan keajaiban untuk putrinya.

Banyak kalimat aku tulis ulang besar-besar. Aku tempel di kamarku. Semangat hidup. Perjuangan. Kesabaran. Rasa cukup. Segala yang sering aku lupakan diingatkan kembali oleh novel ini. Moga Bunda Disayang Allah, novel yang membuat kita berpikir ketika bahkan setelah membacanya. Novel yang akan dibaca lagi saat otak kita mulai bebal, mulai menyalahkan takdir dan kehilangan kepercayaan pada kemudahan setelah kesulitan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang tersimpan. Setiap kejadian bahkan menyiratkan pelajaran untuk kita. Aku sampai membaca setiap lembarnya dengan tidak sabar, meski sesekali berhenti, membayangkan, merasakan, mengelap air mata yang basah di pipiku.

Bila kalian kehilangan penglihatan kalian, kalian masih bisa belajar dari apa yang kalian dengar. Jika kalian kehilangan pendengaran kalian, kalian masih bisa belajar pada apa yang dilihat. Lalu, bila kalian harus kehilangan penglihatan sekaligus pendengaran, apa yang akan kalian lakukan? Bagiku, itu sungguh menyakitkan. Menyakitkan karena tidak bisa menatap wajah Bapak dan Ibu. Tidak bisa mendengar bahkan setiap kalimat yang selalu sama setiap harinya, "Kami menyayangimu, Nak. Bersabarlah. Teruslah berusaha. Kamu harus punya keinginan yang kuat."

Oya, kurang rasanya bila aku sejak tadi bicara nilai kehidupan, tapi tidak membagikannya. Baiklah, kawan. Berikut beberapa nilai yang kutemukan, sisanya kalian carilah dengan membaca novel ini, ya! Jangan menyesal bila lembarannya habis padahal kalian belum puas.

Hal yang paling menyakitkan di dunia bukan ketika orang lain ramai menyalahkan diri kalian. Tapi saat kalian menyalahkan diri sendiri.

Ada yang utuh memiliki seluruh panca inderanya, tapi tak sekejap pun peduli dan bersyukur.

20 tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan.

Dalam proses kepergian, lazimnya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan. Yang pergi akan menemui tempat baru, kehidupan-kehidupan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan tetap berkutat dengan segala kenangan itu.
2 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Moga Bunda Disayang Allah.
sign in »

No comments have been added yet.