Endah's Reviews > Musashi

Musashi by Eiji Yoshikawa
Rate this book
Clear rating

by
1597717
's review
Oct 09, 2008

it was amazing

Juli 2005 lalu, sebuah buku terbit—judulnya Elang Retak. Ditulis oleh Gus Ballon, buku ini menceritakan tentang operasi sebuah pasukan Angkatan Darat TNI di pulau tak bertuan, dekat samudera Pasifik. Pada mulanya, seperti buku-buku baru lain, rasa-rasanya tak ada beda. Tapi ada yang mengusik. Sebuah kalimat terpampang menggelitik di sampul depan: "Mati bukan masalah, hidup itulah persoalan."

Itulah kalimat yang pas untuk melukiskan kesan yang saya dapat setelah membaca Musashi. Seluruh apa yang dibicarakan dan dipertanyakan Musashi dalam pengembaraan spiritualnya terangkum padat dalam kalimat itu. "Mati bukan masalah. Hidup itulah persoalan." Ada sebuah nada aneh, dan akan mengendan di dalam benak bila memikirkan seuntai kalimat itu berulang-ulang. Bukankah antara mati dengan hidup seperti hanya terpisah oleh selembar tipis kulit bawang?


Sudahlah. Yang jelas, Musashi sendiri diceritakan, memang baru belakangan menyadarinya. Tapi baginya (dan saya kira penulisnya juga), mati tak ada guna sekiranya hidup diobral begitu murah. Yang penting adalah apa yang mesti dilakukan dalam dan/atau untuk hidup. Dan Takuan Soho pernah menandaskan, bila hidup kita anggap murah, maka mati pun percuma.

Musashi adalah seorang samurai yang dilahirkan di Miyamoto, Propinsi Mimasaka pada akhir abad XVI Masehi. Kala itu, Jepang adalah wilayah kepulauan tempat berlangsungnya pertikaian antara dua kelompok besar samurai dalam merebut kekuasaan untuk memerintah negeri. Dua kelompok besar itu sebenarnya adalah gabungan dari kelompok-kelompok samurai yang ada. Kaisar berada di atas semua itu tanpa hak penuh untuk mengatasi keadaan.


Dalam keadaan yang demikian, Musashi mesti mempertanyakan hidup. Ia mencari jawab tentang hakikat hidup di tengah kematian yang dianggap biasa saat itu. Nyawa memang murah. Pertikaian kecil, apa boleh buat, sering bikin darah tumpah. Begitu saja. Orang-orang banyak maklum tanpa mampu berbuat untuk menghindar dari itu semua.


Awalnya, Musashi tak memedulikan antara mati dan hidup. Baginya, sama saja. Sampai akhirnya, ia disadarkan oleh Takuan Soho, seorang pendeta Zen, yang ditemuinya ketika ia kembali pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan. Menurut si pendeta, mati pun adalah terserah bila Musashi tak mengubah pandangannya bahwa hidup dan mati tak ada beda. Hidup seharusnya dihargai, karena di sanalah terdapat makna akan mati. Kematian yang terjadi dalam hidup yang begitu dihargai adalah kematian yang tak percuma.


Makanya, ujar pendeta itu dalam sebuah nasehat yang diberikannya sengit, banyak samurai yang tak pernah mengerti apa makna jalan samurai yang dijalaninya. Ini ditekankannya, mengingat Musashi memiliki keinginan menjadi seorang samurai. Tentang hidup ke-samurai-an, sebenarnya Musashi telah mengenal lama dari gemblengan ayahnya yang termasuk salah seorang samurai di Propinsi Mimasaka. Tapi tak ada apa-apa , sampai si pendeta menyadarkan dan membangkitkan hasratnya untuk memelajari dan menjalani hidup di atas jalan samurai.


Lamat-lamat, menyeruak sebuah kalimat dalam Catatan Pinggir 4 (Grafiti Press, Jakarta, 1994) ke dalam benak saya. "Apa yang sebenarnya brutal," demikian Goenawan Mohamad menulis, "dikemas baik-baik dalam keindahan: indahnya baja yang mengilat putih [...:] terkena cipratan merah setelah menebas leher...".

Musashi ini ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Sejatinya adalah "cerita bersambung" pada sebuah surat kabar di Jepang sebelum Perang Dunia II yang diterbitkan kembali menjadi sebuah buku tebal. Semangat untuk perubahan demikian terasa pada gagasan-gagasan yang dilontarkannya melalui tokoh Musashi, seorang tokoh bukan-fiktif yang dikenal luas dalam seni beladiri Jepang.


Saya sendiri pertama kali tahu ihwal Musashi adalah lewat sosok Lord Shigeru. Ia, paman Genji dalam Samurai (Qanita, Bandung, 2004), diceritakan sebagai seorang pemain pedang terkenal dalam keluarganya. Tak ada yang menyangsikannya. Gaya kuda-kudanya ketika bertarung itulah yang segera mengingatkan banyak orang pada Musashi dengan "Gaya Dua Pedang"-nya. Tak banyak samurai yang seperti itu. Tapi sayang, Shigeru akhirnya tewas oleh musuh-musuhnya ketika coba mempertahankan rombongan keponakannya di dekat kuil pada sebuah musim salju.


Lantas, dengan sedikit memaksa, apa hubungannya dengan novel Musashi yang dibicarakan di sini?

Sebuah keanehan, sebab ternyata, baik Musashi atau pun Lord Genji yang didukung oleh Lord Shigeru, akhirnya sama-sama sadar. Untuk mengembangkan sebuah peradaban, berarti untuk maju juga, manusia mesti belajar dulu bagaimana mengendalikan alam. Bukan menyerah pada alam. Kesulitan didapat dan diterima be gitu saja hanya membuat manusia mandek, tak berdaya. Apapun hasilnya, pada mulanya adalah usaha. Dan dalam catatannya, usaha yang mesti dilakukan itu bukan dengan memaksakan kemauan begitu saja, tetapi mencari kemungkinan-kemungkinan yang tersedia di tengah keadaan yang terjadi.


Ketika melihat novel Musashi yang tergeletak di atas meja baca, tiba-tiba saja saya teringat pada sesuatu yang sempat saya rekam dan saya letakkan dalam ingatan. Dalam sebuah ruangan sederhana dengan interior yang mewah, saya lihat sebuah lemari tersandar di dinding yang bewarna hijau muda. Ada guci-guci Cina di pojokan ruang. Ada meja batu, dan asbak di atasnya. Sebuah vas bunga ditaruh sengaja di atas meja yang dialasi taplak kecil sederhana, sedang kursi-kursi tamu yang empuk di sekitarnya. Di atas kursi-kursi itu, ada bantal-bantal warna-warni pelengkap sekaligus pemanis kursi tamu. Saya ingat bantal-bantal itu ketika melihat Musashi yang terge letak di atas meja baca.

Rimbun Natamarga
3 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Musashi.
Sign In »

No comments have been added yet.