Tyas's Reviews > Virus Akalbudi

Virus Akalbudi by Richard Brodie
Rate this book
Clear rating

by
1445709
's review
Nov 09, 08

bookshelves: biology

English starts here
Don't you wonder why people would love, with all their hearts, to tie bombs to their bodies and explode themselves away (presumably to Heaven, I'd rather think to Hell), taking other people away with them? That's the problem with memes: these things so 'abstract' fill your mind and mine, telling us what to do, in some aspects probably defining ourselves (if we are what we think and we do).

Some points are still probably debatable (and yes! Debate about it! Science is built on arguments!), but this is a good book to remind us not to let ourselves fall to the dangerous memes out there.

Indonesian starts here
Saya, Anda, dan bahkan semua orang, adalah target potensial bagi virus akalbudi. Barangkali kita memang sudah menjadi korbannya, hanya saja belum menyadarinya. Namun bersyukurlah, karena jika Anda masih bisa membaca tulisan ini, berarti Anda belum menjadi korban virus akalbudi yang mengharuskan Anda menghancurkan diri Anda sendiri sampai lenyap dari muka bumi. Kita belum sesial para pengikut David Koresh, misalnya. Mungkin Anda jadi bertanya-tanya, apa itu virus akalbudi? Nah, tepat itulah fokus dari buku hasil karya perancang Microsoft Word, Richard Brodie, yang diberi judul Virus of the Mind (yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh KPG menjadi Virus Akalbudi).

Yang disebut virus akalbudi pada dasarnya adalah meme (dibaca mim). Istilah meme diperkenalkan pertama kali oleh ahli biologi kenamaan, Richard Dawkins, dalam bukunya The Selfish Gene (1976, edisi baru 1989). Dawkins mengajukan pemikirannya tentang meme sebagai contoh lain pengganda (replicator) selain gen (Dawkins 1989: 192). Gen, kita tahu, adalah pengganda, yang memanfaatkan tubuh-tubuh organisme (termasuk tubuh kita) sebagai wahana (vessel) untuk memperbanyak diri. Atau lebih tepatnya, tubuh organisme adalah wahana yang diciptakan gen untuk kesintasan gen! Jutaan tahun lamanya gen – yang berawal dari sebuah pengganda sederhana yang kita belum bisa tahu pasti seperti apa wujudnya – menghasilkan generasi demi generasi makhluk hidup yang tanpa sadar ‘dianugerahi’ tugas untuk melaksanakan tujuan egois gen, yakni memperbanyak diri. Tapi alangkah lambatnya proses evolusi gen (hal. 95). Wahana yang disebut manusia baru muncul dalam sekelumit dari keseluruhan waktu evolusi. Kesadaran dan akalbudi pun belum terlalu lama munculnya. Tapi, akalbudi rupa-rupanya telah menjadi tempat bersemayam sebuah jenis pengganda baru, yang waktu evolusinya bahkan lebih cepat dari gen: meme!

Definisi meme adalah ‘unsur utama informasi di dalam akal budi yang keberadaannya memengaruhi berbagai peristiwa sedemikian rupa sehingga tercipta lebih banyak salinan meme itu di dalam akalbudi orang lain’ (hal. 28). Meme – namanya diambil Dawkins dari kata Yunani ‘mimeme’ yang disingkat menjadi ‘meme’ agar menjadi suku kata tunggal yang berirama dengan ‘gen’ (Dawkins 1989: 192) – lahir dalam akalbudi dan memperbanyak dirinya dengan melompat dari satu otak ke otak lainnya. Ia menular melalui komunikasi. Caranya bermacam-macam, mulai dari yang halus sampai yang kasar, dari mulut-ke-mulut sampai disalurkan melalui karya manusia, misalnya tulisan. Saat Anda sedang membaca tulisan ini pun, ada sejumlah meme yang berlompatan masuk ke dalam akalbudi Anda.

Meme bekerja memengaruhi kita dengan cara ‘menekan tombol-tombol’ alias membangkitkan dorongan-dorongan mendasar yang ada dalam diri kita, yang kita peroleh melalui evolusi fisik. Keempat tombol ‘lapis pertama’ adalah yang berhubungan dengan marah, takut, lapar, dan birahi (hal. 106). Namun masih ada tombol-tombol lapis berikutnya, misalnya menjadi bagian kelompok, lain daripada yang lain, peduli, persetujuan, dan mematuhi kekuasaan (hal. 108-110).

Kita belum tahu pasti kapan kesadaran muncul (dan malahan, para ahli masih bersilang pendapat mengenai apa itu ‘kesadaran’ sebenarnya), tapi kita tahu bahwa manusia purba sudah memiliki suatu pencitraan dunia dalam otaknya. Mereka sanggup membuat peralatan, menghasilkan seni, dan melaksanakan berbagai ritual. Saat itu, berarti tampaknya meme telah lahir. Dan sejak saat itu, berbagai meme terus tercipta dan memperbanyak diri secara non-genetik. Seperti juga gen, tak semua meme ‘baik’, dalam artian ‘pandai’ mengganda. Sebuah gen yang menyebabkan organisme pembawanya mati sebelum sempat bereproduksi, misalnya, takkan bertahan lama dalam populasi. Tapi meme bisa lebih gawat. Meme yang mendorong seseorang bunuh diri, justru bisa memperbanyak dirinya dengan membuat orang lain ingin mengorbankan diri juga! Mengerikan? Jelas. Seperti juga gen, meme tidak peduli pada kita. Yang penting bagi mereka adalah memperbanyak diri mereka sendiri. Meme berjangkit laksana virus. Meme sanggup mengubah kita menjadi apa yang digelari Keith Henson sebagai ‘memeoid’: korban yang termakan habis-habisan oleh meme sampai-sampai keselamatan diri sendiri menjadi tidak penting.

Bagaimana cara menghindari meme yang berakibat fatal? Sederhana: kenali meme, dan pelajari cara memilah-milahnya agar Anda bisa memilih meme-meme yang menurut Anda paling baik untuk Anda. Kemudian, sebarkanlah!

Virus of the Mind adalah tempat yang tepat untuk memulai pelaksanaan proses untuk mengenali dan mempelajari meme. Takut terlalu pelik? Jangan khawatir. Buku Brodie tersebut bukan buku saintifik murni, bukan pula buku memetika (ilmu yang mempelajari meme) yang rumit. Penjabarannya dapat dikatakan sederhana, dengan gaya bahasa yang santai dan ringan, serta dihiasi lawakan di sana-sini. Apalagi, Brodie memberikan berbagai contoh sehari-hari yang mungkin selama ini memang menggelitik keingintahuan Anda, misalnya mengapa ‘usaha-usaha mustahil’ dengan skema piramida tetap saja dipercaya orang (hal. 264-269); mengapa masih saja banyak orang yang manut mengikuti pemimpin sekte yang ‘aneh-aneh’ (memetika agama dibahas dalam bab tersendiri, bab kesepuluh); mengapa makin banyak saja iklan yang tidak ‘nyambung’ dengan produknya namun anehnya justru membuat Anda makin mengingat produk tersebut (hal. 204-213); dan lain sebagainya. Anda mungkin bisa terheran-heran sendiri saat menyadari betapa banyak virus akalbudi yang mungkin telah kita ‘telan’ mentah-mentah selama ini.

Dalam bab terakhir, Brodie membahas cara-cara yang mungkin bisa kita lakukan untuk men-disinfeksi diri kita dari pengaruh virus-virus akalbudi yang menyerang kita dari segala arah. Dan karena pendidikan – yang pada dasarnya merupakan proses penggandaan meme – sangat mudah tersusupi oleh virus akalbudi, Brodie merasa sudah saatnya kita menata ulang pendidikan (hal 299-300), apalagi mengingat sudah betapa kacau-balaunya sekolah-sekolah kita sekarang. Pernyataan yang ini barangkali akan diamini oleh banyak sekali orangtua Indonesia yang memiliki anak yang masih bersekolah!

Dan jika setelah membaca tulisan ini Anda merasakan dorongan ingin tahu lebih lanjut mengenai buku Virus Akalbudi, percayalah, Anda baru saja tersusupi oleh meme-meme saya!
Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Virus Akalbudi.
Sign In »

No comments have been added yet.