ayu-si-peri-kecil yudha's Reviews > Unforgettable

Unforgettable by Winna Efendi
Rate this book
Clear rating

by
2627187
's review
Sep 23, 12

bookshelves: buku-punya-sendiri
Read in May, 2012 — I own a copy

Perempuan dan lelaki itu beruntung. Seorang Winna Efendi, dengan tangannya yang selalu saja menghasilkan karya-karya indah, mau menuliskan kisah mereka dalam sebuah novel, yang tentu saja, indah.

Mungkin aku tidak seberuntung mereka, belum ada penulis yang mau menuangkan kisahku dalam novel. Atau bisa jadi karena kisahku memang tidak tragis seperti mereka. Maka aku, hanya mampu mencoba untuk menuliskan sendiri kisahku, tentu saja dengan caraku, pilihan kata-kataku, serta campur aduknya rasa yang aku punya.

Aku mengenalnya seperti perempuan itu mengenal wine pertamanya. Tanpa rasa ketertarikan yang besar, namun terpaku saat mendengar kelembutannya. Nama yang terasa asing, suasana yang menyenangkan, membuat semua rasa yang terhirup terasa begitu campur aduk.


Berwarna kuning pucat, beraroma vanila, jeruk nipis, dan buah peach, begitulah perempuan itu mengenalnya. Satu dua patah kata, tiga empat detik jabat tangan, dan lima enam tatapan mata, begitulah aku mengenalnya.

Perempuan itu begitu menyendiri, tenggelam dalam dunianya sendiri. Mungkin seperti wine favoritnya, tidak terlalu populer dengan rasa yang juga tidak terlalu menyegarkan. Rasa kering yang tidak istimewa yang akan muncul beberapa saat setelah meminumnya justru membuatnya sangat menyukai wine jenis tersebut. Dan lelaki itu, menyukai hal-hal yang tidak istimewa dari perempuan itu.

Rak kayu berisi botol-botol wine milik keluarga perempuan itu dibangun dalam waktu yang tidak sebentar, isi yang hanya sedikit namun bertambah banyak seiring berlalunya waktu, pelajaran tentang cara yang tepat untuk membuatnya tetap awet, hingga mengetahui detail rasa serta aroma setiap jenisnya. Semuanya melalui proses yang tidak pendek. Rak tersebut memuat berbagai kenangan antara perempuan itu, dengan kakak dan ayahnya. Hingga lekat dalam tiap sel otaknya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, aku telah memiliki rak. Serbaguna, penuh dengan buku dan bebeberapa kotak kecil berisi benda-benda. Sebagian masih berfungsi, sebagian lainnya kusimpan hanya karena kenangannya. Rak bermodel sederhana seperti inginku dan dipoles dengan warna favorit lelakiku. Empat tingkat yang tinggi, masing-masing dengan jenis buku yang berbeda. Butuh sekian bulan untuk membiasakan diri agar tidak lagi salah menaruh pada tempatnya. Karena kotak-kotak yang selalu saja menipuku dengan bentuknya yang mirip, lelakiku membuat semuanya boleh diletakkan di mana saja. Hingga genap dalam tiap langkahku.

Perempuan dan lelaki itu begitu berbeda. Masa lalu yang mengikat, bilik-bilik kenangan yang mengintip, penyendiri dengan penjelajah, rutinitas dengan kejenuhan, menulis dengan alkohol dan rokok. Pencinta penuh yang berhadapan dengan ketakutan untuk mencinta sangat. Hanya nyaman yang mampu membuat mereka dapat beriringan. Ataukah cinta?

Tanpa banyak persamaan, aku selalu saja tersenyum melihat jejak lelakiku yang semakin lama semakin menarik untuk diceritakan. Kesendirian tetap setia menemaniku saat lelakiku sedang mengejar mentari dalam dunianya. Dan melihat wajah ceria lelakiku sesudahnya, menjanjikan rasa yang begitu aku sukai. Atau aku cintai?

Perempuan dan lelaki itu sama-sama merindu. Begitu mudah tercipta dari percakapan panjang di tiap malamnya, dari denting gelas wine yang menemani, dari petikan senar gitar yang mengalun, bahkan dari hilangnya suara saat tergantikan tatapan mata yang begitu dalam. Kebersamaan yang semakin lama semakin sulit dihitung hanya dengan dua tangan, menit yang terasa lama saat lelaki itu beranjak dari kursi, gerak bibir yang terlihat dari kejauhan, kenyataan yang tetap saja berhasil menusuk, dan hujan yang seperti mengerti basahnya perasaan perempuan itu. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu dirasakan.

Tidak seperti perempuan itu, aku hanya ingin bersama-sama merawat rak tinggi milikku dan lelakiku, melihatnya berdebu dalam hitungan hari, membersihkannya bersama lelakiku yang akan bersin saat terkena debu, merapikan semuanya, menata ulang semauku, lalu membongkarnya lagi saat lelakiku tidak menemukan apa yang dia cari, kembali memasukkan tiap hal-hal kecil yang kutemukan, untuk dapat aku lihat lagi saat aku membutuhkannya, dan begitu seterusnya.

Akhirnya perempuan itu meletakkan semuanya pada pagi itu, dalam bisikan pendeknya pada lelaki itu. Ketakutannya yang terangkum dalam keinginannya untuk berhenti. Keberaniannya yang mendadak muncul, bersamaan dengan lepasnya beban yang selama ini mengikat. Lelaki itu pun menyerah dengan ketakutannya.

Perempuan dan lelaki itu membagi cerita bagian akhirnya dengan menggenggam kebersamaan. Kebersamaan yang mengikat.

Kisahku belum tertulis hingga bagian akhir seperti cerita perempuan dan lelaki itu. Mungkin di suatu siang yang sejuk, aku akan mengajak lelakiku untuk melihat isi kotak-kotak kecilku bersama, menertawakan setiap keping yang mengandung cerita sedih, senang, cemas, marah, dan lainnya. Menceritakan kembali sedikit yang terlupa, memberitahu rahasia kecilku yang memalukan, menunjukkan tulisan-tulisan rindu yang tak pernah kuperlihatkan, menikmati sinar mata lelakiku yang ceria, menagih cerita melalui renyahnya suara lelakiku, dan tentu saja berbagi lelucon yang hanya dimengerti olehku dan lelakiku.

Tapi itu nanti, tentu saja masih nanti. Mungkin sekitar 12, 37, atau 56 tahun yang akan datang.

Bagaimana, lelakiku?

Kamu mau?

10 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Unforgettable.
sign in »

Comments (showing 1-31 of 31) (31 new)

dateDown_arrow    newest »

Sweetdhee iiiih.. kamu suka juga yaaa
bintangnya sama pulak..
ni lagi semedi bikin review nya..
wifi di camp lagi bersahabat sama siput :)


ayu-si-peri-kecil yudha Sweetdhee wrote: "iiiih.. kamu suka juga yaaa
bintangnya sama pulak..
ni lagi semedi bikin review nya..
wifi di camp lagi bersahabat sama siput :)"


iyak, aku memang suka tulisan Winna kok. deuh, situ mending, siputnya sahabatan cuma sama wifi camp. siput di tempatku, bersahabat sama otakku keknya. bikin susah mikir.. :D


Sweetdhee mana review nyaaa
katanya mau duluan...


ayu-si-peri-kecil yudha sabar atuuh, ini kan lagi kejar-kejaran sama deadline akhir bulaan..
awal bulan deh ya di publish. masih ada kurang dikit-dikit iniiih.. :D


Sweetdhee hihihi.. kesandung garis mati ternyata.. sangkain masih bersahabat sama siput otaknya...
*ngeloyor mandi*


message 6: by Mery (new)

Mery ini manah reviewnyaaa? -.-


ayu-si-peri-kecil yudha woh iya, udah telat sekian bulan yah.. nyicil boleh kali yah.. :D


message 8: by Mery (new)

Mery ayu-si-peri-kecil wrote: "woh iya, udah telat sekian bulan yah.. nyicil boleh kali yah.. :D"

kamuuuu janjinya senin iniiih... *manyun*


ayu-si-peri-kecil yudha Yaudah deh, Senin besok yaaaa.. XD

Aku nyicil 2 paragraf pembuka dulu deh yaa.. Hihihi..


message 10: by Mery (new)

Mery tuuuh kan indaaaah.
lanjutiiinn :)


ayu-si-peri-kecil yudha Mery wrote: "tuuuh kan indaaaah.
lanjutiiinn :)"


iyaaaa, tulisannya si mpok Winna yang indaaaah.. *sok kenal..*
aku semedi part.2 dulu.. :D


message 12: by Farah (new)

Farah mana lanjutannyaaa? *nungguin


ayu-si-peri-kecil yudha Farah wrote: "mana lanjutannyaaa? *nungguin"

dih, ini udah nge-like aja. ma kasiiiih... :D
lanjutannya masih ada di kosan, hahahaha..
*sengaja nyuruh nunggu biar pas sama tema bukunya*


message 14: by Farah (new)

Farah dih. -____-"


Sweetdhee *ngemut kok badminton*


ayu-si-peri-kecil yudha Sweetdhee wrote: "*ngemut kok badminton*"

serem banget sih ngemut gituan.. mau permen aja nggak? aku punya banyak loh.. :D


Sweetdhee uhmmm.. aku maunya cokelat.. ;p


ayu-si-peri-kecil yudha Sweetdhee wrote: "uhmmm.. aku maunya cokelat.. ;p"

nnnngggg, emang maksudku tuh permen cokelat.. :))


Sweetdhee mau, mau, mau..
aku mauuuu

*entah jawab soal permen cokelat nya atau jawab pertanyaan di akhir review nya*

mwihihihihi


Sweetdhee *ngelap aer mata..*


Delisa sahim kakak ayu...
akhirnya selesai juga baca ini novel :D


ayu-si-peri-kecil yudha Sweetdhee wrote: "mau, mau, mau..
aku mauuuu

*entah jawab soal permen cokelat nya atau jawab pertanyaan di akhir review nya*

mwihihihihi"


hoahahaha, dua-duanya juga boleeeeh.. *sodorin tisu*


ayu-si-peri-kecil yudha Delisa wrote: "kakak ayu...
akhirnya selesai juga baca ini novel :D"


*getok Delisa*
selesai bacanya udah dari bulan Mei, kan ada tulisannya tuh. ini baru bikin review-nya ajaa.. :D


message 24: by Mery (new)

Mery aku kangen deh di goodreads review yang seperti iniiiiiiiii. ;D


message 25: by Farah (new)

Farah waaaaa..
aku suka reviewnyaaa x)))


ayu-si-peri-kecil yudha Mery wrote: "aku kangen deh di goodreads review yang seperti iniiiiiiiii. ;D"

kamu bikin juga doooooong... XD


ayu-si-peri-kecil yudha Farah wrote: "waaaaa..
aku suka reviewnyaaa x)))"


makasiiiih, tapi emangnya bugulu baru baca yah?


message 28: by indri (last edited Oct 03, 2012 01:00AM) (new) - rated it 5 stars

indri aku baca dua paragraf, lalu langsung aku skip.
mo baca bukunya dulu ajaaaaaaa...........


message 29: by Farah (new)

Farah ayu-si-peri-kecil wrote: "Farah wrote: "waaaaa..
aku suka reviewnyaaa x)))"

makasiiiih, tapi emangnya bugulu baru baca yah?"


Kemaren bacanya sampe yang reviewnya menyusul ituuu x))


ayu-si-peri-kecil yudha indri wrote: "aku baca dua paragraf, lalu langsung aku skip.
mo baca bukunya dulu ajaaaaaaa..........."


takut spoiler yaaaa? nggak spoiler kok.. :p


indri ayu-si-peri-kecil wrote: "indri wrote: "aku baca dua paragraf, lalu langsung aku skip.
mo baca bukunya dulu ajaaaaaaa..........."

takut spoiler yaaaa? nggak spoiler kok.. :p"


spoiler nggak spoiler biariinnn...
eh, sorry chatnya waktu itu ketiduran :D


back to top