Vidi's Reviews > Supernova: Partikel

Supernova by Dee
Rate this book
Clear rating

by
3866866
's review
May 19, 12

bookshelves: indonesian-author
Read from April 25 to 28, 2012 — I own a copy

Serendipity...

Hanya kata itu yang terlintas dalam benak saya ketika membaca kisah ini. Benarkah kita semua telah mempunyai takdir masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Predestined. Bagaimana kita tahu makna kehadiran kita dunia. Mungkin terlalu naif bila mengharapkan rentetan kebetulan yang akan menuntun kita ke takdir kita. Tapi inilah yang terjadi dalam rangkaian kisah Supernova: Diva (KPBJ), Boddhi (Akar), Elektra (Petir), dan Zarah Amala (Partikel).

Pecarian Zarah Amala terhadap ayahnya yang hilang menuntun dirinya melintasi belahan dunia ke belahan dunia lain, bahkan dimensi lain. Dari Bogor ke pedalaman Kalimantan ke London. Pencarian ini juga sekaligus merupakan pencarian Zarah Amala terhadap takdirnya. Pencarian Zarah seperti dituntun oleh semesta dari satu tempat ke tempat lain, dari satu orang ke orang lain. Sekali lagi Serendipity.

Cerita dikemas oleh latar belakang obsesi ayah Zarah terhadap kehidupan lain di luar Bumi. Hanya Dee yang dapat mengawinkan shamanisme, science dan UFO menjadi suatu cerita yang amat menarik. Mengguncang mungkin adalah kata yang tepat. Ada satu sikap yang paling pas dalam membaca sebuah science fiction, walaupun saya tidak mengkategorikan buku ini sebagai salah satunya. Bukankah dulu Galileo sempat dipenjara oleh otoritas Roma atas pembelaannya terhadap teori heliosentris Copernicus. Maksud saya adalah sesuatu yang diterima oleh kebanyakan orang sebagai kebenaran bukan berarti itu adalah kebenaran.

Ada satu lagi yang menarik dari serial ini. Melalui tokoh-tokohnya, Diva, Boddhi, Elektra dan Zarah, Dee seakan-akan ingin kembali menegaskan bahwa Tuhan merupakan suatu pencarian dan pengalaman spiritual bukanlah sekedar agama kaku yang dihapal. Jangan jadikan Tuhan sebagai objek. Manusia menjadi impoten, pada saat yang bersamaan dengan ketika Tuhan menjadi sekedar konsep yang sudah dirumuskan. ‘Rumusan Tuhan’ itu akan terasa dipaksakan oleh suatu otoritas dan harus dianggap benar dengan mengabaikan pilihan moral seorang subjek. Mungkin inilah yang ditulis Nietzsche sebagai: 'Tuhan telah mati'.

Kembali lagi ke serendipity. Naif atau tidaknya untuk percaya pada serendipity dalam menuntun hidup kita mungkin tidak menjadi masalah di buku ini. Pesannya adalah mengasah kepekaan kita terhadap sekitar kita. Jangan sampai kalau serendipity itu ada, kita tidak menyadarinya.

Pada akhir kisah, Dee menyajikan sekelumit benang merah yang menghubungkan Akar, Petir dan Partikel sekaligus melambungkan ekpektasi terhadap akhir dari serial ini. Ini merupakan tantangan terhadap dirinya sendiri untuk menciptakan sebuah akhir yang spektakuler. Kalau skenario akhir Dee melibatkan peristiwa berskala dunia maka saya sangat berharap tokoh-tokoh dari seri Supernova berikutnya adalah bukan orang Indonesia.
9 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Supernova.
sign in »

No comments have been added yet.