mellyana's Reviews > Hiroshima

Hiroshima by John Hersey
Rate this book
Clear rating

by
196693
's review
Jul 17, 2007

it was amazing
bookshelves: narrative-journalism
Read in May, 2007

Membaca Hiroshima, membuat aku lupa aku sedang membaca sebuah laporan. Serasa baca novel. Fiksi. Apa ya istilahnya, page turner. Aku sulit berhenti membacanya. Padahal, aku mulai membaca jam 11 malam, dan sampai jam 12 malam, aku masih bersemangat menyelesaikan Hiroshima.

Oya, aku musti bilang, aku tidak suka cerita perang. Aku tidak suka film perang. Kalau aku menonton film perang, syarat utama adalah film itu harus memiliki gambar yang bagus. Bukan gambar indah, tapi gambar yang bagus, gambar yang kuat, warna yang kuat. Tapi, tanpa darah bercucuran. Aduh, kalau pakai darah, mendingan aku tutup mata saja, deh. Aku juga tidak suka membaca cerita perang. Capek. Kesal. Marah. Ingin menangis. Sesak. Napasku betul betul sesak.

Untuk Hiroshima, semua perkataan di atas harus aku tarik. Hiroshima, bercerita tentang perang, tanpa harus mengumbar kekerasan perang dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan. Justru dengan kata-kata yang terlihat lembut, kekejaman dan kekerasan peristiwa itu begitu kuat. Memukau.

Membaca Hiroshima, seperti menonton Hiroshima. Tapi, aku tidak sedang berbicara tentang Film Hiroshima yang disutradai Koreyoshi Kurahara dan Roger Spottiswoode, aku sedang membaca Hiroshima yang ditulis oleh John Hersey.

Bagian-bagian awal tulisan, Hersey bergantian bercerita tentang orang-orang yang berbeda di lokasi yang berbeda. Kalau ini film, aku suka sekali gaya seperti ini. Model Pulp Fiction atau Love Actually. Di awal bacaan belum kelihatan, apa sih kaitan satu tokoh dengan tokoh lain. Tidak lama, akan segera diketahui, bagaimana keseluruh tokoh adalah “hibakusha”, survivor, mereka yang lolos dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Semuanya begitu detail. Kegiatan para hibakusha itu sebelum, pada saat, dan setelah kejadian. Apa yang sedang mereka pakai, bahkan apa yang sedang mereka pikirkan. Bagaimana tiap cerita bergantian tertulis, tanpa terasa ada jeda atau pergantian orang dan tempat. Sungguh, sulit membayangkan ini adalah hasil wawancara. Sulit melihat ini bukan fiksi, bukan rekayasa. Bagaimana bisa John Hersey mengingat semuanya seperti ini?

Tunggu, aku rubah pertanyaaannya. Bagaimana bisa John Hersey bercerita seakan-akan dia ada di dalam hati dan jiwa tiap tiap tokohnya, dan seakan-akan dia mengalami semuanya. Aku tidak tahu. Bagaimana dia bisa melakukannya.

Sayang, aku tidak akan bisa hadir di kelas yang membahas Hiroshima. And I hate that so much. Aku ingin tahu, apa yang akan dibahas. Aku ingin tahu, bagaimana tulisan ini bisa dibuat sebegitu rupa. Aku berharap, bisa memperoleh cerita dari siapapun yang hadir saat itu, dan membuat aku merasa seakan-akan aku hadir di kelas (walaupun saat itu aku ada di seberang pulau), sebagaimana John Hersey membuat aku seakan-akan hadir di Hiroshima, di tahun 1945.
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Hiroshima.
Sign In »

No comments have been added yet.