Bunga Mawar's Reviews > The Boy Who Ate Stars

The Boy Who Ate Stars by Kochka
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Sep 04, 08

bookshelves: fiction, translated-into-indonesian, children-teens, buku-perpus-smart
Read in September, 2008

Inilah buku yang mungkin bisa disebut sebagai buku pegangan "pengenalan penderita autistik bagi pemula" :) Dengan mengambil sudut pandang anak-anak yang polos dan bahasa sederhana, orang yang tidak dekat dengan dunia autistik bisa mencoba memahami keterbatasan (atau justru keluasan) dunia penderitanya.

Lucy menjadi narator buku ini, anak sekolah berusia 12 tahun yang bersama orangtuanya pindah ke apartemen baru di Paris, Perancis. Di apartemen itu ada Matthew, bocah empat tahun yang menderita autistik. Perilaku Matthew yang suka mengusik-usik rambut orang lain mengusik Lucy. Setelah mendapat penjelasan dari Marie, ibu Matthew, Lucy dan sahabatnya Theo berusaha membuka dunia lebih luas bagi Matthew. Usaha ini melibatkan pula Francois, anjing kecil pemalu milik pasangan kenalan orangtua Lucy.

Tanpa penjelasan banyak tentang Lucy, gadis kecil ini jadi agak-agak mirip dengan Anastasia Krupnik, bocah Amerika dalam serial karangan Lois Lowry yang terbiasa mengambil langkah sendiri bila menghadapi hal baru. Dia suka beradu pendapat dengan orangtuanya, dan suka membuat catatan peristiwa yang dijalaninya. Ciri Lucy lainnya (yang juga ada pada Anastasia): bertindak dulu, resiko belakangan.

Hal yang terasa lebih mendesak saya rasakan saat membaca buku ini: a feeling that something was lost.

Ini perasaan yang sama ketika tahun 2001 lalu saya langsung membaca dua edisi Le Petit Prince-nya St. Exupery. Yang satu adalah edisi bahasa Perancis yang diterbitkan Gallimard (dan di bagian belakangnya ada trivia yang menarik banget). Satunya adalah terbitan Pustaka Jaya yang diedit oleh almarhum Wing Kardjo, kalau tidak salah terbit tahun 1984. Saya langsung menyukai dua-duanya, artinya memang terbitan PJ itu diterjemahkan langsung dari karya St. Ex en Francais. Belum lagi kita tahu kualitas Pak Wing, terutama dari nilai sastra beliau.

Lalu sebuah penerbit lain kemudian menerjemahkan kembali si Pangeran Cilik ini, kalau tidak salah Penerbit Jendela, demikian pula Gramedia. Di dua buku inilah perasaan "something lost" muncul. Saya tidak merasa bahwa sesi pertemuan sang Pangeran dengan rubah merupakan pertemuan yang mengharubiru (bagian favorit saya!). Ternyata, lepas dari kualitas penerjemahan, dua edisi ini diterjemahkan bukan dari bahasa asli. Yah, inilah resiko penerjemahan ganda.

Demikian juga saat membaca karya penulis kelahiran Libanon ini. Karya asli berbahasa Perancis diterjemahkan ke bahasa Inggris, lalu dialihkan lagi ke bahasa Indonesia. Tak bisa dimungkiri pasti banyak yang hilang, terutama masalah "rasa" yang seperti tidak "sesedap" aslinya. Saya bisa menangkap kalau ini buku yang baik, tapi memberi lebih dari 3 bintang tidak mungkin karena saya tidak menangkap emosi dari edisi ini.

Walau belum tentu juga kalau saya membaca buku edisi Perancisnya, bintangnya bisa bertambah :)
3 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Boy Who Ate Stars.
sign in »

Comments (showing 1-4 of 4) (4 new)

dateDown_arrow    newest »

Roos Setuju Mbak Vera...buku tipis ini jadi agak tersendat karena masalah "rasa yang tidak sesedap aslinya"...hehehe.


Bunga Mawar haha... iya mbak Roos, saya jadinya penasaran pengen baca versi aslinya. Jangan2 memang bagus, ya?


Roos Yang bahasa Prancis? Wah-wah keren euy....
Aku juga dah selesai bacanya, agak bingung juga sih dengan kata-katanya...tapi garis besar tahulah...karena dekat dengan dunia Autistik...hehehe.


Bunga Mawar Hmmm, mbak Roos... dekat dengan dunia autistik? Jangan2... *ngibrit untuk mengecek ke apartemen Marie*


back to top