Bunga Mawar's Reviews > The Alchemyst

The Alchemyst by Michael Scott
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Aug 22, 08

bookshelves: fiction, translated-into-indonesian, children-teens, buku-perpus-smart, buku-krl
Read in August, 2008

Buku tebal tercepat yang pernah saya baca.

Bagaikan Nick Fleming, eh, Flamel bersama Josh dan Sophie Newman yang dikejar-kejar John Dee, Morrigan hingga Bastet karena menyimpan dua lembar terakhir dari Codex, buku Abraham Sang Magus, saat The Alchemyst ini saya kuasai banyak orang di luar sana yang mengejar-ngejar saya. Ini karena saya ambil dari Mahbubi (kelas 5) yang belum selesai membacanya pada Jumat siang lalu. Padahal Mahbubi juga meminjamnya dari Faisal (kelas 2) yang telah mendaftarkannya di perpustakaan untuk masa pinjaman kedua karena dia belum selesai membacanya. Padahal lagi, Iyas (kelas 2) sudah mengantri untuk meminjamnya setelah Faisal, belum lagi Bu Latifah (Kepala SMA) nampaknya sudah berminat membacanya setelah saya. Apa boleh buat, sambil menanti kereta menuju Jakarta kemarin malam, buku ini saya kebut karena Senin besok saya sudah berjanji mengembalikannya untuk dibaca oleh Iyas. Sampai di rumah, hanya terkejar sekian halaman karena lelah dan tertidur, maka baru tadi pagi buku ini akhirnya kelar. Huuuuffff... petualangan mengejar buku perpustakaan paling dramatis... :)

Oh ya, cerita bukunya sendiri tentang apa yah? Semata sebuah petualangan berbau "magic" atau sihir kuno karena:
1) melibatkan tokoh-tokoh yang immortal, berusia ratusan hingga puluhan ribu tahun
2) mencampur berbagai mitologi,dongeng, legenda dan sejarah dalam untaian peristiwa yang konon saling berkaitan (contoh: ada sphinx dan pterodactyl "hidup" di San Fransisco. loh!)
3) selain itu, tokoh-tokoh di buku ini mampu menciptakan mahkluk tak bernyawa namun mampu dikendalikan. Dalam bahasa zaman sekarang, mereka disebut "robot", namun karena setting cerita sudah dibangun lintas waktu dan tempat, maka mahkluk2 ini disebut "golem", "lacra", "torc" dan lain-lain.

Seperti banyak cerita lain, terlalu banyak unsur kebetulan (buat saya) yang menjadikan si kembar Sophie dan Josh Newman sebagai pelaku utama cerita. Jalan ceritanya sudah cukup ramai dan seharusnya mendebarkan. Tapi entahlah, unsur mendebarkan dan emosi-emosi lainnya tidak terasa di sini. Kita seperti mendengarkan saja peristiwa demi peristiwa yang disaksikan pengarang; sangat detil dan membuat kita seperti melihatnya sendiri. Sayangnya saksi tersebut kurang berempati pada kejadian, jadi kita bisa menganggapnya sebagai peristiwa biasa.

Bukan berarti lantas saya percaya bahwa Nicholas Flamel atau John Dee benar-benar kenal William Shakespeare, yah. Sebagai sebuah kemungkinan, hal itu masuk akal, sama seperti masuk akalnya bahwa di masa Babilonia, seorang gadis pernah dijodohkan untuk menjadi permaisuri Nebukadnezar (tapi gadis itu tak harus Scathach, kan?). Kalau buku ini saya kebut, selain alasan yang sudah saya tulis di atas, alasan lainnya adalah saya menunggu kemunculan banshee yang pastinya dikenal oleh pengarang, dan Kaisar Zhu Di yang mengirim armada penjelajah dunia, hehehe...

Ternyata tidak ada di buku ini. Di buku kedua, mungkin ada tidak? :D
5 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Alchemyst.
sign in »

No comments have been added yet.