bakanekonomama's Reviews > Kitchen

Kitchen by Banana Yoshimoto
Rate this book
Clear rating

by
7120507
's review
Apr 01, 2012

it was ok
bookshelves: jepang, 日本文学, yagitudeh, terjemahan

Menerjemahkan buku dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia adalah perkara yang sangat sulit. Jauh lebih sulit ketimbang komik, karena jelas sekali banyak gambar yang tersaji di komik. Gambar-gambar itu berperan penting dalam memberikan penjelasan kejadian apa yang sedang berlangsung saat itu.

Berbeda dengan cerpen atau novel. Mereka tidak punya gambar untuk mendukung isi cerita. Sehingga semua tergantung kekayaan imajinasi sang pembaca untuk bisa menafsirkan apa yang terjadi dalam cerita. Hal itulah yang kurang bisa ditangkap sebagian besar penerjemah Indonesia-Jepang. Dalam hal ini penerjemah cerpen atau novel karya sastrawan Jepang, bukan penerjemah komiknya. Banyak aspek-aspek sosial budaya di Jepang yang sulit sekali untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, buku-buku yang diterjemahkan tidak memiliki kekuatan dari segi cerita maupun alur.

Saya membeli buku ini ketika diskon di toko buku. Bukunya diobral habis-habisan, tampaknya tidak laku. Ketika buku berbahasa Jepang yang begitu terkenal tidak laku di pasaran Indonesia, permasalahannya hanya ada dua. Penerjemahan yang buruk atau cerita yang tidak sesuai dengan kultur sosbud Indonesia. Buku ini yang pertama. Saya tidak bisa menangkap apa maksud Yoshimoto di dua cerpen yang tersaji di buku ini. Padahal, saya sudah mendengar kehebatan cerita ini sejak lama. Tapi, ketika saya membaca versi Indonesianya, saya tidak mendapatkan feel-nya sama sekali. Datar. Nggak bermakna. Absurd. Ya, saya tahu sih banyak sastrawan Jepang yang karya-karyanya memang absurd. Tetapi, menurut saya keabsurdan disini bukan disebabkan oleh ceritanya.

Hal yang sama juga terjadi kepada buku-buku bahasa Jepang lainnya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Tidak semuanya memang, tetapi sebagian besar yang diterjemahkan oleh penerjemah amatir ataupun penerjemah yang menerjemahkan buku itu bukan dari bahasa sumbernya, melainkan dari bahasa Inggris. Kalau buku-buku Jepang yang diterjemahkan oleh para dosen sastra Jepang sih tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Penerjemahannya sangat bagus. Tapi, ternyata buku itu tetap tidak bisa menarik hati masyarakat Indonesia, ya. Nah, kalau yang ini sih jelas permasalahannya ada di nomor dua.

Penerjemah itu memang penting sekali dalam menyampaikan isi pesan buku. Dialah yang nantinya akan menentukan penerimaan buku ini di masyarakat, karena mereka tidak bisa bahasa aslinya. Jadi, menerjemahkan bukanlah perkara mudah. Bahkan ada yang namanya penerjemah tersumpah, yang bisa masuk penjara kalau ia sampai salah menerjemahkan atau menginterpretasikan bahasa yang ia sampaikan. Nah. Interpretasi ini juga penting, karena ada aspek-aspek bahasa yang tidak diungkapkan secara harfiah.

Sekarang, kalau saya mau membaca buku-buku berbahasa Jepang, saya rasa saya tidak akan memilih lagi saduran bahasa Indonesianya. Kecuali kalau penerjemahnya jelas-jelas adalah sensei-sensei Jepang, khususnya yang senmon(keahlian)-nya adalah kesusasteraan Jepang. Saya sudah kapok beli beberapa buku terjemahan seperti Jeritan Lirih (Oe Kenzaburo), In The Miso Soup dan 69 (Murakami Ryu), yang semuanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan saya sama sekali nggak bisa menangkap maknanya. Bahkan semua buku itu akhirnya jadi onggokan, yang nggak akan pernah selesai saya baca...
2 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Kitchen.
Sign In »

No comments have been added yet.