Peni Astiti's Reviews > Fatima's Good Fortune: A Novel

Fatima's Good Fortune by Joanne Dryansky
Rate this book
Clear rating

by
1869867
's review
Mar 29, 12

bookshelves: baca-bareng, beli-sendiri, buku-terjemahan, dibaca-2012, woman-books, un-down-able-to-put-books
Read in March, 2012 — I own a copy

Kurang lebih, ini review saya... semoga layak disebut "review"... :D

Pertama, tentang opini orang yang suka membanding-bandingkan satu sama lain. Meski Rachida dan Fatima kakak beradik, nggak berarti mereka harus sama persis, plek plek plek, kan? Nah, sayangnya, Countess berharap terlalu banyak ketika Fatima datang. Dan langsung dikasih kerjaan yang sama dengan Rachida, di awal harinya berada di Paris. Saya jadi ingat, waktu salah satu sepupu saya mempekerjakan pembantu yang kakak beradik. Dia membandingkan, bahwa kakaknya jauh lebih baik daripada adiknya. Tapi, ya, lumayan, lah, adiknya bisa kepake juga. Gitu, kurang lebih, katanya. Ternyata, nggak di sini, nggak di sana, membandingkan satu orang pembantu dengan pembantu yang lain (notabene kakak beradik) mah sama aja, ya... :D

Kedua, tentang pelayan yang berasal dari negara lain. Seperti yang kita tahu, bahwa negara kita, juga punya banyak pahlawan devisa, yang disebut sebagai Tenaga Kerja Indonesia atau TKI? Nggak tahu kenapa, khusus untuk perempuan ada istilah Tenaga Kerja Wanita alias TKW, sementara untuk kaum lelakinya nggak ada istilah Tenaga Kerja Pria atau TKP. Singkatan TKP justru dipakai untuk akronim Tempat Kejadian Perkara. #kriuk
Saya baru tahu dari buku ini, kalo Tunisia juga menghasilkan TKW yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Perancis. Kelihatannya, sama saja dengan di Indonesia, perlindungan warga negara Tunisia yang bekerja sebagai TKW di negara lain, kurang mendapatkan perhatian dari pemerintahnya. Di Indonesia, TKW yang bekerja di luar negeri yang disiksa, bahkan dibunuh oleh majikannya, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Mengenaskan, ya. Padahal mereka mendapat gelar sebagai "pahlawan devisa negara". Miris banget. Tampaknya pemerintah baru bergerak kalo udah dioprak-oprak orang-orang lewat media. Gemes banget, deh, kalo udah begini...

Nah, sekarang yang ketiga. Tentang ceritanya. Saya suka ceritanya. Mengalir dan terkait satu sama lain dengan jelas. Meski terkadang, alurnya pindah-pindah, tapi nggak mengganggu. Sebab, alur yang berpindah-pindah ini mampu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang ada ketika membaca. Namun, berhubung saya nggak belum bisa berbahasa Perancis, bingung juga memahami kutipan bahasa Perancisnya. Plus, nggak ada footnote yang menjelaskannya. Jadi, yah, kurang lebih, menginterpretasikan sendiri, deh... tahu sendiri, kan, kalo menginterpretasikan sendiri, bisa ke mana-mana arahnya? *keluh*

Keempat. Karakter. Ada banyaaaaaaaaaak sekali karakter di dalam buku ini. Plus, nama mereka lumayan susah, terutama yang bernama Perancis. Saya cuma bisa mengingat beberapa nama karakter di dalam cerita ini, terutama yang paling sering disebut. Semisal Countess, Suget, Hadley, Didi, Emma, Carmen, Angel, Monsiour Robert, dan sebagainya, dan sebagainya.... Jadi, akibat "kebolotan" saya ini, kadang kudu bolak balik halaman, untuk mengingat lagi, ini siapa, ya? Hubungannya apa, ya? Dia tadi ngapain, ya? Gitu... hehe... Tapi, ke semua karakter ini punya hubungan satu sama lain. Jadi, yah, seperti di poin ketiga tadi, ceritanya mengalir.

Kelima, setting. Dengan mengambil setting kota Paris, Perancis, di sini ada banyak informasi tentang kota ini. Misalnya tentang pemakaman di sana, sistem transportasi di sana, keadaan jalan raya di sana, dan masih banyak lagi informasi yang bisa saya dapatkan dari buku ini. So, saya bisa membayangkan kayak apa, sih, salah satu sudut kota Paris itu, meski belum pernah ke sana...

Keenam, moral ceritanya. Pesan di dalam cerita ini kuat banget, meski agak membosankan, karena kita udah bisa nebak. Berhubung desain ceritanya kayak kehidupan sehari-hari, pesan moralnya terangkat dengan baik. Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Saya sih percaya, masih ada banyaaaaaaak orang-orang baik yang tulus di dunia ini. Semoga, kita salah satunya, ya... Hehe...

Ketujuh. Sampul alias cover. Terus terang, dari judul sama gambar sampul, rada "menipu". Kenapa? Soalnya, di sampulnya terlihat tampak seperti chicklit, padahal bukan :D Tapi saya suka desain sampulnya, jujur aja. Hanya saja, teks di bagian belakang, warna fontnya nggak kontras dengan gambar sampul belakang. Saya susah payah membaca bagian belakang bukunya. Padahal, itu kan sinopsis buku ini. Ya penting, tentu saja.

Nah, dari ketujuh point di atas, saya kasih bintang 4 dari 5 bintang. Mungkin kalo bukunya bakalan cetul alias cetak ulang, poin ke-6 dan poin ke-3 (yang tentang bahasa Perancisnya) sebaiknya diperhatikan, karena ini buku bagus, walau nggak bisa dibilang buku ringan, tapi buku ini menghibur, menginspirasi, sekaligus memberi informasi. Saya sempat hanyut dalam perasaan Fatima, karena di saat yang sama, saya sempat merasa sama nggak beruntungnya kayak Fatima. Halah! Malah curcol. Recommended-kah buku ini untuk dibaca para perempuan? Yup! Ini buku bagus!

Diposting juga di blog buku saya. Silakan mampir :D
1 like · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Fatima's Good Fortune.
sign in »

Comments (showing 1-1 of 1) (1 new)

dateDown_arrow    newest »

Tukang Kueh Keren ooowhhh...gak ada footnote? (doh) *baru merhatiin* maafkan yak.....padahal aku sudah memberi catatan soal istilah2 prancis itu :(


back to top