Septri Lediana's Reviews > The Orange Girl

The Orange Girl by Jostein Gaarder
Rate this book
Clear rating

by
8266043
's review
Mar 19, 12


Novel Filsafat, Dongeng Kehidupan

Tak perlu diragukan lagi Jostein Gaarder adalah ahlinya pengarang novel bertema filsafat. Dunia Sophie novel best seller internasional yang menjadi buku pengantar kuliah filsafat di berbagai universitas dunia adalah salah satu buktinya. Diikuti dengan Maya dan Mysteri Soliter yang juga kental filsafat dan tak kalah brilian. Jostein memang mampu menyajikan filsafat dan ilmu pengetahuan menjadi cerita novel yang menarik, ringan dan nyaman di baca. Kali ini karyanya ‘Gadis Jeruk’ ikut mengambil tempat sebagai novel filsafat yang layak dibaca.
Gadis Jeruk jika dibandingkan dengan Dunia Sophie dan Maya cenderung lebih ringan. Dunia Sophie menceritakan tentang apa ilmu filsafat itu dan mengapa penting mempelajarinya. Sedang Maya bercerita tentang penciptaan manusia, adam hawa dan kontradiksinya dengan Teori Darwin. Gadis Jeruk tidak seberat kedua tema itu.

Gadis Jeruk memfokuskan pada beberapa pertanyaan penting filsafat dasar. Mengapa manusia diciptakan dan hidup di dunia? Apakah jika manusia diperbolehkan memilih, pantas atau tidak mengambil kesempatan untuk hidup. Apakah sebaiknya tidak mengambil kesempatan itu? Lalu, apakah hidup hanyalah layaknya dongen saja, yang telah diatur sedemikian rupa dan pasti berakhir.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sangat berkemungkinan dipertanyaan oleh seluruh manusia. Terutama penggemar ilmu filsafat. Pertanyaan dan pernyataan itu disampaikan Joisten melalui penceritaan yang apik. Semi misteri dan romatis.

Sama dengan Dunia Sophie, Jostein menggunakan cara penceritaan dengan surat. Kali ini tokoh utama aku dalam novel, Georg seorang remaja laki-laki berumur 15 tahun. Ia tiba-tiba menemukan surat wasiat berbentuk buku yang ditinggalkan ayahnya yang telah meninggal saat Georg berumur empat tahun. Melalui surat itulah Georg (juga pembaca) diajak sang ayah, Jan Olav mempertanyakan kehidupan. Memaparkan bahwa hidup adalah dongeng yang punya misteri sendiri dan pasti akan berakhir layaknya sebuah cerita. Manusia hanya hidup saja mengikuti dongeng dan tak tahu kapan harus tercerabut dalam dongeng itu.

Jan Olav menceritakan ketika ia remaja, ia bertemu dengan gadis misterus yang memikatnya. Gadis itu membawa sekantong besar jeruk. Di sanalah misteri bermula. Jan Olav bertanya-tanya mengapa ia selalu dipertemukan dengan gadis itu dengan cara yang aneh? dan kenapa gadis itu selalu terlihat membawa jeruk dalam jumlah sangat banyak? Jostein pun membawa pembaca ikut penasaran mengikuti Jan Olav yang mencari-cari si Gadis Jeruk yang misterius.

Misteri yang disuguhkan bukan itu saja. Diceritakan Geogr merasa heran mengapa sang ayah menyebut-nyebut tentang teleskop Hubble dalam surat yang dibuat berbelas tahun lalu. Mengapa seakan ayahnya tahu bahwa nanti, saat Georg remaja, Georg menaruh perhatian besar pada teleskop itu. Apakah ayahnya bisa melihat masa depan? Atau malah masih mengawasinya sampai sekarang? Selain itu, Ada misteri apa dibalik teleskop Hubble dan apa hubungannya dengan si Gadis Jeruk? Mengapa sang ayah mau repot-repot menulis surat yang sepanjang buku itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi pertanyaan Georg itu juga menjadi pertanyaan pembaca selama membaca novel. Jostein memang seringkali menggunakan cara ini, misteri, untuk membuat pembaca terus tertarik membaca novelnya. Seakan-akan ia memberikan sebuah peta harta karun kepada pembaca. Peta yang membuat pembaca terus mencari dan mengikuti misteri dan lalu menemukan harta karun sendiri : filsafat, ilmu, pesan sekaligus kesimpulan besar yang ingin disampaikan Jostein.
Cara penceritaan seperti ini digunakan Jostein pada sebagian besar novel yang ia tulis. Cara yang tepat untuk membuat pembaca bertahan sampai akhir cerita. Sekaligus cara yang tepat pula untuk membuat pembaca sadar tak sadar menjadi lebih teliti dan seksama membaca karena takut kehilangan rangkaian jawaban misteri.

Kisah Gadis Jeruk yang dituliskan sang ayah kepada Georg, hanyalah awalan atau pengantar untuk mengajukan sebuah pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Seakan ia ingin menyampaikan. Kehidupan yang kita jalani, hanyalah sebuah dongeng. Dan dalam dongeng terdapat aturan-aturan yang harus ditaati agar semua berjalan sebagaimana mestinya. Setiap awal akan menciptakan akhir. Setiap pertemuan akan menciptakan perpisahan.

Gadis Jeruk novel ini pada akhirnya membawa pembacanya pada sebuah perenungan tentang alam semesta hingga pada pertanyaan filosofis tentang makna hidup, takdir, kesempatan, dan pilihan hidup.
Terkait dengan hidup yang singkat yang harus dialami manusia, dan apa yang dialami Jan Olav yang sadar bahwa hidupnya tak akan lama lagi berakhir karena sakit yang dideritanya, maka di lembar-lembar terakhir suratnya ia memberikan sebuah pertanyaan filosofis pada anaknya,
“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.” "Jika hidup itu bagaikan sebuah dongeng singkat yang harus berakhir dan kita harus pergi meninggalkan segalanya, maka dalam kehidupan yang singkat ini apa yang harus kita kerjakan?"
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Orange Girl.
sign in »

No comments have been added yet.