Robin Hartanto's Reviews > Free Culture: The Nature and Future of Creativity

Free Culture by Lawrence Lessig
Rate this book
Clear rating

by
6714976
's review
Mar 17, 2012

really liked it
Read in February, 2012

Belum lama ini, dunia maya diramaikan dengan berbagai protes dari situs-situs mainstream seperti Google, Wikipedia, Mozilla, hingga Flickr terhadap Stop Online Piracy Act (SOPA) dan PROTECT IP Act (PIPA). Mereka menyerukan bahwa SOPA dan PIPA akan membatasi kebebasan dan kreativitas. Rupanya, perang terhadap kebebasan ini sebenarnya bukanlah barang baru.

Tahun 2004, Lawrence Lessig, salah seorang pencetus Creative Common yang juga seorang pakar hukum, telah menyerukannya. Melalui buku Budaya Bebas, ia telah membukakan fakta penting bahwa kebebasan masyarakat dunia sedang terancam. Penemuan teknologi-teknologi baru, terutama internet, merupakan pemicunya. Kemampuan internet untuk memberikan berbagai kemudahan dalam memperoleh dan menyebarluaskan konten di sisi lain telah mendorong para pencetus kebijakan untuk membatasi gerak gagasan di ranah publik, dengan beragam motivasi di baliknya.

Obyek utama yang menjadi sumber pertentangan adalah masalah hak cipta. Pembatasan gerak tersebut sebenarnya bermaksud melindungi karya-karya kreatif terhadap pembajakan ilegal. Namun, Lessig berpendapat bahwa penyebaran karya-karya kreatif yang legal disebarkan di ranah publik turut terkena dampaknya karena yang diserang adalah teknologinya. Lessig menganggapnya sebagai sebuah kekonyolan dengan sebuah argumen sederhana, bahwa pistol tidak dilarang untuk diproduksi dan digunakan walaupun memiliki kemampuan untuk membunuh orang, karena di sisi lain ia berfungsi untuk melindungi diri.

Buku ini menceritakan berbagai kisah-kisah perlawanan terhadap pengekangan kebebasan, yang seringkali berujung pada kekalahan mereka. Dari seorang anak berumur 12 tahun yang tidak berdaya menyerahkan seluruh uangnya karena dituntut melanggar hak cipta, seorang siswa yang juga dituntut karena berinovasi dengan membuat sistem jaringan berbagi di sekolahnya, juga Lessig sendiri yang kalah dalam pengadilan melawan wewenang Kongres untuk memperpanjang hak cipta.

Dan yang terpenting dalam buku ini, Lessig memberikan argumen-argumen mengapa kita harus melawan pembatasan gerak tersebut, yang memiliki dampak berbahaya bagi kreativitas manusia. Walaupun telah berumur delapan tahun, karya yang diterjemahkan oleh KUNCI Cultural Studies Center ini masih sangat relevan untuk dicermati.
1 like · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Free Culture.
Sign In »

No comments have been added yet.