Purbandini's Reviews > Leaving Microsoft to Change the World: An Entrepreneur's Odyssey to Educate the World's Children

Leaving Microsoft to Change the World by John Wood
Rate this book
Clear rating

by
4938240
's review
Mar 18, 2012

it was amazing
bookshelves: memoar, terjemahan, inspirational
Read from March 11 to 18, 2012

Hmm.. Apa yang bisa kukatakan tentang buku ini? Menakjubkan pastinya. Demi anak-anak Nepal yang tidak bisa memiliki akses akan buku-buku bermutu, John Wood banting setir keluar dari Microsoft dan mengejar gairahnya untuk membangun 10.000 perpustakaan diseluruh dunia. Semangat dan kegigihannya pantas diacungi jempol, tidak heran jika pria ini telah memperoleh berbagai penghargaan.

Membaca buku ini serasa bercermin akan pendidikan dinegri sendiri. Masalah-masalah pendidikan dinegara berkembang terjadi pula di Indonesia, sekolah rusak, anak putus sekolah, ketidaksediaan guru, perpustakaan yang kurang memadai, hingga daerah-daerah terpencil yang belum tersentuh oleh pendidikan, sangat kompleks. Miris tentunya jika mengetahui di era digital yang kian canggih masih ada anak-anak kita yang buta aksara. Tanggung jawab siapakah gerangan? Secara hukum dan undang-undang, pastilah pemerintah. Tapi dengan begitu banyak alasan dan kendala, persoalan pendidikan masih belum terselesaikan. Apa yang bis kita lakukan? Lakukan apa yang kita bisa. Menjadi orang tua asuh untuk anak-anak yang putus sekolah karena kurangnya biaya, dapat menjadi salah satu jalan membantu pendidikan. Jika kita bisa mengumpulkan buku dan mengirimkannya ke daerah-daerah terpencil, itu pun akan sangat membantu. Semua terserah kita, apa kita akan mengambil bagian dari msalah ini, atau diam. Tahun akan terus bertambah, jika anak putus sekolah hari ini banyak yang tidak bisa terbantu, maka 3 hingga 5 tahun lagi akan menjadi terlambat bagi mereka untuk memperoleh pendidikan. Jika kita bisa melakukan hari ini, lakukanlah.

John sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan, hal ini ditunjukkannya dengan penyediaan beaisiwa untuk anak perempuan. Di Asia, karena kultur dan budaya patriatrikal yang menempatkan anak laki-laki diatas anak perempuan, membuat anak perenpuan menjadi beban dalam suatu keluarga. Keluarga yang memiliki anak perempuan, memaksa anak-anak mereka putus sekolah dan menikahkannya. Sungguh sangat disayangkan, karena menurut John, mendidik anak perempuan itu sama dengan mendidik seleuruh generasi muda. Ditangan para wanitalah pendidikan anak-anak mereka yang pertama hingga dewasa terletak. Jika ibu-ibu yang melahirkan anak kurang mendapatkan pendidikan, maka apa yang bisa mereka sampaikan untuk anak-anak mereka? Tidak berbeda jauh dengan di Indonesia, menyekolahkan anak perempuan hingga tingkat tinggi kadang dianggap percuma, alasannya, paling-paling nanti di dapur juga. Tapi, dengan pendidikan 'wanita yang akhirnya ke dapur juga' akan lebih mempunyai nilai plus. Walau harus masuk dapur, pendidikan dan pengetahuannya akan memberikan yang terbaik untuk keluarga, mulai dari makanan sehat hingga pola hidup sehat. jadi tidak ada kata rugi dalam pendidikan, wanita yang mengenyam pendidikan akan mempunyai rasa percaya diri, mandiri dan dapat berbuat banyak untuk orang-orang disekitarnya. Karena itu, membedakan pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan adalah keliru, semua anak berhak mendapatkan yang terbaik.
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Leaving Microsoft to Change the World.
Sign In »

Comments (showing 1-1 of 1) (1 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Jr (new)

Jr Bagus sekali review nya kak! ☺


back to top