Fredrik's Reviews > Vandaria Saga: Takdir Elir

Vandaria Saga by Hans J. Gumulia
Rate this book
Clear rating

by
3741808
's review
Apr 02, 12

bookshelves: indonesian
Read from March 31 to April 03, 2012 — I own a copy

Selesai baca dalam beberapa hari. :)

Lumayan cepat, menurutku, buat novel fikfan lokal yang biasanya sering bikin mandek di tengah jalan entah karena gaya berceritanya yang ajegile atau terus menerus bikin kening berkerut.
Tapi gaya penulisan Hans ini asik kok, mudah diikuti, selain memang ceritanya cepet banget (terlalu cepet, bahkan) dan halamannya gak banyak.

Intinya, alkisah adalah lima orang berbeda yang terpilih oleh takdir atau, bisa juga, “takdir?” untuk menyelamatkan Benua Elir dari jiwa jahat seorang pengkhianat yang sempat tersisa karena gak ter-tumpas (sengaja bahasanya, :P) sampai habis sewaktu dikeroyok para pahlawan di masa lalu.

Ada yang bilang kalau buku ini isinya kebanyakan filler.
Well, imo, enggak.

Memang ADA filler-filler gak penting yang selain menuh-menuhin halaman ternyata pada akhirnya juga gak mendukung plot cerita, misalnya lagu sepanjang satu halaman di akhir bab 2 yang gunanya menunjukkan kalau ada banyak dewa-dewi di dunia itu dan (sebagian besar?) penduduknya relijius.
Tapi so what? Toh fakta ini gak mendukung kisah.
Kalau ternyata dunia Vandaria adalah monoteis, pembaca Takdir Elir juga gak akan merasa.
Kalau ngomongin soal filler, seriously, masih banyak buku fikfan lokal yang filler-nya jauh lebih banyak dan lebih parah isinya daripada yang ada di Takdir Elir. Jadi ini yaa ... masih bisa diterima lah. :D


Yang kurang banget dari buku ini, imo, justru adalah sense of urgency -nya, kalau gak mau dibilang gak ada sama sekali.
Ini menurutku ada beberapa faktor yang terkait:

1. Ada kekuatan jahat berlatar-belakang deimos/iblis yang sedang bangkit dan (mungkin?) akan mengacaukan dunia, selain Benua Elir. Tapi gak ada perasaan genting dalam bentuk apa pun yang diinfiltrasikan ke benak pembaca.
Seluruh kisah (yang seolah-olah penting) ini cuma berasa macam side quest yang dilakukan oleh para tokoh utama semata-mata karena mereka gak ada kerjaan lain.

Rozmerga pekerjaan utamanya adalah makan asparagus bakar, dan dia mungkin mulai bosan dengan rutinitas monotonnya (iya, makan asparagus bakar!), dan Sang Pendeta Agung (+ Sang Penguasa Kematian) mungkin juga mulai sadar kalau kebanyakan makan asparagus bakar bisa bikin seorang Kesatria Valiant jadi lenje dan dodol, maka berangkatlah Roz ke Benua Elir dalam sebuah misi sederhana (yang masih mending, daripada gak ada, dan terus menerus makan asparagus bakar!), menjadi ... kurir antar surat.
Kenapa Roz, btw, sama sekali gak jelas. Gak ada latar belakang tentang tokoh ini yang bikin pembaca peduli bahwa hidupnya harus diselamatkan dari takdir monotonnya ... makan asparagus bakar.
Oya, “bom” di ending juga gak mengubah apa pun.

Ketiadaan sense of urgency yang sama juga kerasa buat tokoh-tokoh lain.
Sigmar, seorang pemuda bukan siapa-siapa (secara literal, karna aku gak tau satu hal penting pun tentang dia), yang lagi berpetualang mencari harta, secara KEBETULAN bertemu dengan cewek frameless cakep semi bugil yang “jatoh dari langit” dan tubuhnya cem kena mutasi sampe bisa fluoresensi segala (:O).
Sigmar juga KEBETULAN mendapatkan keberuntungan lagi karna kemudian mendapatkan satu pusaka keren, The Super-sharp Glowing Dagger, yang fungsi spesialnya ... glow-in-the-dark.
Is he somewhat blind sampai-sampai dia harus nemu cewek fluoresens dan belati glow-in-the-dark?
Dan TERNYATA karena keisengan takdir, dia juga harus terlibat dalam lintang-pukang mengatasi kekuatan gelap yang mulai merayap bangkit.


2. Masih terkait dengan karakterisasi, sense of urgency terkikis habis karena semua karakter utama di buku ini digambarkan macam robot yang terus menerus dikasih tugas sama si penulis.
Kasian.
Mereka gak punya pendapat sama sekali.

Disuruh pergi ke benua seberang antar surat, pergi.
Disuruh teleport ke tempat A, B, C, teleport.
Disuruh pergi ke kuil misterius, pergi.
Disuruh naik ke pesawat, naik.
Disuruh siap-siap buat perang, siap-siap.
Disuruh berhenti siap-siap buat perang, berhenti siap-siap.

They just don’t think. @__@
Dan jika karakter gak berhenti buat mikir, pembaca gak akan bisa relate dengan apa pun yang mereka lakukan.


3. Yaaah, mungkin berpikir memang mahal dan buang-buang waktu.
Karena jujur, gak akan sempat!

Setiap peristiwa di dalam buku disajikan dengan sangat cepat!
Melompat-lompat dengan kecepatan ultra fast. Hop, hop, hop.
Bahkan itu pun masih terlalu lambat sehingga lebih dari satu kali, para tokoh utama kita harus teleport demi menghemat cerita mengejar waktu!

Namun walau cepat, bukan berarti mereka gak sempat makan asparagus bakar sih. Ayolaaah, makan itu kebutuhan primer kan?? *wink*

So, sangat minim drama.
Hanya satu even ke even lain ke even lain, dan seterusnya. Terlalu lurus. Sulit membangun sense of anything, sebenarnya.


4. Dan ini kan kembali lagi ke awal cerita di mana seharusnya ada suatu kegentingan yang dibangun di sana. Bahwa seisi buku ini adalah demi mengatasi sebuah masalah (apa pun itu).
Tapi pembaca ditinggalkan dalam keadaan blank.
Disuruh-suruh maju terus cem karakter-karakter utama tanpa tau mau dibawa ke mana. :-?

Oh, jadi tentang pengkhianat yang bersekutu dengan iblis di masa lampau! Oh, jadi tentang mengumpulkan relikui kematian! Oh, jadi ada lima jumlahnya! Oh, jadi ada lima pahlawan juga!

Semacam itu lah.

Tapi untungnya, sekali lagi, kalimat-kalimat yang ditulis di dalam buku ini enak dan gampang diikuti. Jadi semuanya mengalir lancar.
Dan ilustrasi-ilustrasinya juga keren. Aku adalah pembaca yang ga cerewet soal ilustrasi. Ilustrasi adalah medium penting dan punya kekuatan tersendiri dalam novel. Dan dalam kasus Vandaria Saga, kurasa ini adalah elemen yang sangat penting bahkan, jadi gak perlu lah dihilangin. Orang-orang yang mengaku terganggu dengan adanya ilustrasi di dalam novel, aku percaya mereka gak akan mati kalaupun ngeliat.
Jadi, selama ilustrasinya bagus, terusin aja.
Salut buat Rama Indra! ^^b


Selain tentang sense of urgency, ada beberapa hal lain yang kucatat juga:

- Ada beberapa penggunaan kata yang gak tepat, semisal “frekuen” di hal 9.

- juga blunder yang aneh, misalnya gurauan Sang Pendeta Agung yang terdeteksi pedo di hal 14 (heh?!? O__o).

- Serta copas redudant menjengkelkan dari perangkat kepemimpinan kedua negara, Serenade dan Vandergaard, yang dipimpin oleh cowok muda + keren, punya dua tangan kanan yang salah satunya harus tolol dan emosi-an supaya yang satu lagi bisa keliatan lebih sabar dan berwibawa, serta rajanya juga jadi bisa keliatan lebih bijak daripada seharusnya.
Memang sih kalau di-game biasanya brute dengan strength atau kemampuan war tinggi, stat intelligence-nya pasti dodol parah.
Tapi yaaa... please deh. Stereotipe klise banget. -___-'

- Copas mengerikan juga terjadi di bab 19 dan 20.
Isinya sama persis, cuma para pelakunya aja yang beda.
Intinya ada dua orang asing muncul di dua tempat berbeda dan harus meyakinkan dua raja berbeda dan para ajudan klise-nya bahwa mereka punya info penting dan kata-kata mereka dapat dipercaya.
Peringatan: Awas déjà vu akut!

- Dan setuju juga kalau diplomasi yang hilang juga jadi pertanyaan besar karena ternyata hubungan antara kedua raja (muda + keren) sebenarnya cukup akrab, bahkan mereka bisa saling melemparkan senyum simpul misterius di hal 221 sehingga sempat menimbulkan kesan kalau keduanya sepertinya punya hubungan BL di masa lalu. Err...

- Nuansa khas dunia RPG juga masih sangat kentara di mana para tokoh utama hidup hanya demi melakukan quest saja tanpa ada pertimbangan tentang rutinitas sehari-hari mereka kalau tanpa quest itu ngapain?
(Makan asparagus bakar lah, Fred!) Oh, yeah... @__@

- Apa beda frameless dengan manusia? Ini juga jadi pertanyaan, karena sepertinya gak ada.
Demi membuat frameless jadi keliatan lebih keren daripada manusia, maka mata dan rambutnya dibuat eksentrik dikit. Tapi selebihnya? Sama aja. Sihir? Manusia juga bisa. Jadi ya, kenapa harus frameless? Kenapa gak cukup muggle dan penyihir aja?

- Oya, character stats di bagian depan juga sama sekali gak membantu buat karakterisasi. Malah gak penting buatku, selain mungkin untuk fan service aja. Dan karna aku bukan fan, aku gak peduli tentang stats ini.
Bahwa Sigmar punya hobi mengintip, WTF?!? Apa itu penting? *cakar tembok*

- Trus perihal BWH, yang sepertinya memang udah jadi tradisi. Imo, sangat diskriminasi dan hanya menunjukkan kalau Vandaria Saga adalah sebuah saga yang sexist. :|
Benarkah? *pasang neon tanda tanya besar*


But overall, this book was ok for me.

Ada beberapa misteri yang belum kejawab, seperti siapa dalang di balik penyerangan di Torvain dan apa senjata pusakanya Roz.
Tentang yang terakhir, aku malah kepikiran kalau si Roz ini masih sangat misterius dan berpotensi jadi twist, entah dari senjatanya, atau dia-nya sendiri yang justru ternyata adalah salah satu hallows, atau bahkan mungkin dia adalah horcrux terakhir...?
Yah, kita liat aja. Fufufu~

Dan pastinyaaah, ada momen-momen alis terangkat dan kening berkerut yang masih bisa dibuat lebih baik di buku-buku berikutnya.
Tapi pada akhirnya, Takdir Elir ini gak sampai se-menjengkelkan itu kok dan masih bisa dinikmati.

So, congrats buat Hans dan buku perdananya! ;)
12 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Vandaria Saga.
Sign In »

Reading Progress

04/01/2012 page 107
40.0% "Hmm..."

Comments (showing 1-15 of 15) (15 new)

dateDown arrow    newest »

Fredrik *ngumpulin pe-er* :D


Anindito Alfaritsi OMG. Jadi ternyata emang bukan cuma aku doang yang agak ngerasa gurauan si pendeta agung aneh...


message 3: by Fredrik (last edited Apr 02, 2012 11:32PM) (new) - rated it 2 stars

Fredrik memang lumayan scary, al... O__o


Harbowoputra Harbowoputra <--pembaca yang tidak menganggap penting si Pendeta Agung

:P


Fredrik Pendeta Agung punya pengaruh yg berbeda ke orang-orang yang berbeda... #sokserius *plak


Dion Yulianto wow bukunya ngak tebel, tp reviewnya puanjang ya Fred ck ck ck *dikeplak si Fred. Kalo aku sih sense of urgencynya kok ngak ada perang sama sekali di belakang aduhhhh


Fredrik kan sangat berdedikasi, jadi review-nya panjang, om dion (halah)

kalau dion menantikan perang antara kerajaan Serenade dan Vandergaard di akhir buku ini berarti ... dion adalah PENJAHAT-nya, si kerudung hitam, pemuja deimos, jelmaan Gottfried!!! O__O' --> terlalu mendalami


Dion Yulianto Fredrik wrote: "kan sangat berdedikasi, jadi review-nya panjang, om dion (halah)

kalau dion menantikan perang antara kerajaan Serenade dan Vandergaard di akhir buku ini berarti ... dion adalah PENJAHAT-nya, si ke..."


huahaha sampe hafal gt Fred ck ck ck jgn2 kamu terlalu mendalami si cewek frameless semi b**** ya wahahaha maksudku perang2 dikit kek melawan siapa gitu kek, perampok apa pengawal yg pandai bergosip gt


Fredrik cewek frameless semi bugil yang mana??

ahahahaaa *tawa kering*

*buru2 ganti wallpaper dengan gambar pemandangan*

gak kok, gak mendalami apa-apa...


message 10: by Feby (new) - rated it 2 stars

Feby Seandainya dikasih judul, judul repiu ini pasti...
"ASPARAGUS BAKAR"

*digebuk Fred*


Fredrik gath berikutnya... kita harus makan asparagus bakar!

This is for ROZMERGA! TO DINER!

xD


message 12: by Feby (new) - rated it 2 stars

Feby Astaga! Aku sempat salah baca,

ROZMERGA! FOR DINNER! XD XD

*dikeroyok 5 pahlawan legendaris*


message 13: by Abyss Shark (new)

Abyss Shark setuju. gaya penulisannya asik


message 14: by Yafeth (new)

Yafeth Setuju dengan repiu ini. Saya menghabiskan novel ini dalam 3 hari sejak dibeli. Dan rasa-rasanya semua hero dan heroine di sini menjadi sedemikian bukan karena dorongan dari dalam, tapi karena diamanati sesuatu. Dorongan semacam ini lebih kurang dibandingkan dorongan dari dalam (dendam, karena pencarian jati diri, etc.)


Fredrik semoga buku kedua bisa lebih baik lagi yah :)


back to top