Hasanuddin's review

Hasanuddin's review

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela
by Tetsuko Kuroyanagi

1084008 Hasanuddin's review
rating: 4 of 5 stars4 of 5 stars4 of 5 stars4 of 5 stars4 of 5 stars
bookshelves: dunia-anak, life

Musim libur sekolah. Selesai ujian kelulusan atau kenaikan kelas, anak-anak menikmati liburan dengan suka-cita. Mereka bermain sepanjang hari tiada bosannya. Memang dunia mereka adalah dunia bermain-main yang tak akan pernah selesai.

Hanya mereka? Oh, tidak! Pada orang-orang dewasa juga bersemayam jiwa kanak-kanak yang ternyata suka bermain-main pula. Lihatlah pada komputer, telpon genggam atau perangkat orang dewasa lainnya, terselip di dalamnya media permainan yang secara sengaja menjadi ajang main-main bagi orang dewasa pada jam-jam kantor maupun di luar jam kantor. Lihat pula dalam bentuk yang lebih sederhana dan dilakukan oleh masyarakat luas, di pojok areal parkir, sudut kampung, atau ujung trotoar di depan pertokoan, para orang dewasa asyik bergerombol bermain catur atau gaple dalam durasi yang biasanya lebih dari separuh hari.

Jadi aktivitas kita sejak masa kanak-kanak hingga dewasa sesungguhnya hanyalah bermain-main. Bekerja sekalipun sesungguhnya bermain-main. Perhat...more

Like this review?   yes   (3 people liked it)  flag




comments (showing 1-25 of 114)

dateDown_arrow

message 1: by Weni
07/28/2008 09:06PM

1073731 Sedih emang ngeliat dunia pendidikan di indo :(
Mau masuk SD ada ujian calistung. Jadilah anak2 TK 'dipaksa' bisa baca, bisa nulis, dan bisa matematika. Saya dengar dari beberapa teman, bbrp sekolah TK malah menerapkan hukuman, misal berdiri di depan kelas, kalo si anak tidak mengerjakan PR. Beberapa sekolah TK lainnya tidak lagi memasukkan agenda nyanyi2 dan bermain2.

flag abuse *

message 2: by Hasanuddin
07/28/2008 09:19PM

1084008 Yup, seharusnya pendidikan pra sekolah adalah tempat bermain yang menyenangkan. Tempat untuk memacu kretivitas dan perhatian terhadap lingkungan --seperti yang Totto Chan. Kita masih berpedoman pada kecerdasan IQ yang dinilai dengan deret angka.

*Weni, Agenda menyanyi dihapus??? Malah tambah parah tuh... Orang dewasa yang lupa terhadap masa kecil. Buat kurikulumnya juga ngaco!

flag abuse *

message 3: by Leli
07/28/2008 09:37PM

581752 homo luden.

flag abuse *

message 4: by Hasanuddin
07/28/2008 09:40PM

1084008 Maksud Leli??

*bingung*

flag abuse *

message 5: by Leli
07/28/2008 09:43PM

581752 hihi maap ya irit.
manusia itu mahluk bermain
homo homini ludus
jadi ya.. tugasnya bermain, hore!!


flag abuse *

message 6: by nanto
07/28/2008 09:47PM

153882 sampe kuliah pun saya masih bermain. intinya nambah teman hi hi hi

flag abuse *

message 7: by Amang "Po"
07/28/2008 09:47PM

348055 homo ludens kali...

flag abuse *

message 8: by Hasanuddin
07/28/2008 09:47PM

1084008 Oh maksudnya gitu....

*buru2 dicatet takut lupa*

flag abuse *

message 9: by Leli (last edited 07/28/2008 09:49PM)
07/28/2008 09:48PM

581752 s-nya ditaro di teh
hahaha

kalo homo leiden??

flag abuse *

message 10: by Hasanuddin
07/28/2008 09:51PM

1084008 Kalo dibuat persamaan jadinya begini kali ya,

menyenangkan x menikmati = bermain

flag abuse *

message 11: by nanto
07/28/2008 09:51PM

153882 jadi gak dingin donk homo luden-nya...

flag abuse *

message 12: by Amang "Po" (last edited 07/28/2008 09:56PM)
07/28/2008 09:55PM

348055 Singkat kata, sekolah tidak menjadi komunitas yang menyenangkan. Semua dilakukan dengan tujuan hanya menjadi pintar menurut standar rapot.

Sebuah realita yang akan kuhadapi dalam waktu dekat.

flag abuse *

message 13: by Hasanuddin
07/28/2008 09:55PM

1084008 Emang Ki Amank mo sekolah lagi?

flag abuse *

message 14: by Amang "Po" (last edited 07/28/2008 10:03PM)
07/28/2008 09:57PM

348055 calon anakku. yg siap "menetas" dari rahim ibunya... poor you my child.

flag abuse *

message 15: by Amang "Po"
07/28/2008 09:59PM

348055 Dick Hartoko, salah satu tokoh pendidikan, pernah mengutarakan pentingnya mengedepankan pendidikan humaniora: yang memanusiakan manusia. Antitesis dari pendidikan robot tadi.

Di SMA gue dapatkan/nikmati pendidikan ini dengan biaya Rp 50.000,- per bulan. Tapi anakku? Anakmu? Keponakanku? Keponakanmu?

flag abuse *

message 16: by Hasanuddin
07/28/2008 10:00PM

1084008 Menetas? Ayam kali... Selamat ya Ki Amank akan jadi ayah. Selamat juga, kembali melihat realita pendidikan

flag abuse *

message 17: by nanto
07/28/2008 10:03PM

153882 jadi robot aja mahal, apalagi jadi manusia

flag abuse *

message 18: by Hasanuddin
07/28/2008 10:03PM

1084008 Ya Ki Amank, aku suka sedih lihat keponakan-keponakan kecil ku yang pulang sekolah tertatih-tatih bawa tas ranselnya kayak tentara pulang kalah perang

flag abuse *

message 19: by Amang "Po" (last edited 07/28/2008 10:08PM)
07/28/2008 10:07PM

348055 jadi robot aja mahal, apalagi jadi manusia
cynical word yang benar adanya! hehehe...

jadi inget gieb waktu ngebahas buku ini juga. gieb malah berujar kira-kira gini: repot bener ngomongin sistem pendidikan, wong banyak anak yang sekarang nggak bisa sekolah
halah! ini juga beneeeeeer banget.

jadi pointnya:
beruntunglah keponakanmu itu, yang meskipun terlihat seperti kalah perang, tapi mereka tidak terkalahkan oleh sistem.

flag abuse *

message 20: by Hasanuddin
07/28/2008 10:07PM

1084008 Aku pernah mengalami sekolah yang menyenangkan. Saat itu guru bahasa inggris SMU ku mengajar lepas dari buku diktat dan kurikulum. Baginya bahsa inggris harus dinikmati bukan dihapalkan arti tiap kata. Makanya pas ngajar pake lagu, puisi, drama, nonton film. Dan anak-anak bebas mo nanya apa aja termasuk ngartiin lagu yang sedang in n buat surat cinta pake bahasa inggris... Dan hebatnya, nilai bahasa inggris teman-teman sangat memuaskan.

flag abuse *

message 21: by nanto
07/28/2008 10:19PM

153882 nah kembali ke rumus Hasanuddin yang di atas, "menyenangkan x menikmati = bermain" harusnya jadi "Belajar+menyenangkan=bermain"

Guru Sejarah mengubah pelajaran hapalan menjadi pelajaran layaknya "indiana Jones" buat gue.

Guru bahasa Inggris gue bahkan tidak pernah marah dan menasehati gue untuk rajin masuk kelas walau telat. He he he abis kelasnya dia pagi dan gue jadi males masuk. Kadung di kantin. Tapi itu malah bikin gue niat bangun pagi dan menikmati kelas yang tidak membuat murid bodoh jadi malu...

Gue masih inget pas dipanggil karena kemaren gak masuk dan dinasehati di pintu kelas, gue cuma diem dan nunduk. Sebodo temen2 gue yang cekikikan di belakang. Gak berani ngelawan orang sebaik dia. Takut kualat!

flag abuse *

message 22: by Hasanuddin
07/28/2008 10:26PM

1084008 Akhirnya rumus ku disempurnakan Ki Nanto

flag abuse *

message 23: by nanto
07/28/2008 10:27PM

153882 Btw, jadi inget cerita Agus Salim ketika dia menolak sistem pendidikan kolonial dan mendidik anaknya di rumah.

Masa sih seradikal itu?

Mana saya gak sepinter Agus Salim dan pastinya waktunya juga sempit...

flag abuse *

message 24: by coki
07/28/2008 10:28PM

992387 Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus
Post icundum iuventutem
Post molestam senectutem

Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran




flag abuse *

message 25: by gieb
07/28/2008 10:31PM

633463 ngelmu iku kelakone kanthi laku

enak dadi cacing. ora dadi soal yen kudu dadi cacing luwih dhisik, nanging bisa ”nyolong ngelmu” saka kawruh luhur winadi. iku kaya kang ditindakake dening Siti Jenar nalika Sunan Bonang mbabar ngelmu marang Kalijaga ing sadhuwure prau ing tengahe segara.

flag abuse *


« previous 1 3 4 5
all Hasanuddin's books »