Sadam Husaen Mohammad's Reviews > Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck by Hamka
Rate this book
Clear rating

by
M 50x66
's review
Jul 28, 2012

liked it
Read in August, 2010

“Saya cinta akan dikau, biarlah hati kita sama-sama dirahmati Tuhan”(Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)
Itulah perkataan Hayati ketika menerima cinta Zainudin. Tentu kita ingat haya ti dan Zainudin, mereka adalah tokoh utama dalam novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Novel fiksi romantik yang berlatar di daerah Makassar, Minangkabau, Padang Panjang, Jakarta, Lamongan, dan Surabaya ini bertemakan perbedaan adat, tak jauh dari tema di tahun angkatan Pujangga Baru.
Cerita dalam novel ini dimulai ketika Zainudin hendak pulang ke kampung halaman bapaknya -Pendekar Sutan- di desa Batipuh, Minagkabau. Zainudin yang berniat untuk belajar malah terjerumus ke dalam percintaan ketika dia bertemu Hayati. Tapi sayangnya Zainudin tak sanggup melawan adat warga kampung Batipuh karena dia dianggap orang asing dikarenakan Ayahnya dan satu lagi Zainudin dianggap tak ber-uang.
Akhirnya Zainudin memutuskan untuk pergi menuntut ilmu ke Padang Panjang. Tapi percintaan dia sejoli itu tetap tak bisa dielakkan karena antara Zainudin dan Hayati tetap berkirim-kirim surat, akhirnya Hayati pun memaksakan diri untuk pergi ke Padang Panjang dan dikarenakan Hayati mempunyai seorang sahabat yang tinggal disana, diizinkanlah Hayati untuk berangkat ke Padang Panjang. Khadijah nama sahabat Hayati yang bertinggal di Padang Panjang, selama beberapa hari Hayati menginap di rumah Khadijah untuk memuaskan rasa rindunya kepada Zainudin.
Ketika suatu hari Hayati diajak oleh Khadijah dan kakanya Aziz untuk melihat pacuan kuda, bertemulah Hayati dengan Kekasihnya Zainudin tapi sayangnya Khadijah tak menghiraukan pertemuan kedua sejoli itu, malah Khadijah menyeret tangan Hayati dan meninggalkan Zianudin. Tampaknya ada rasa tak suka di hati Khadijah kepada Zainudin. Akhirnya Khadijah yang tahu Aziz –kakaknya- menyimpan rasa kepada Hayati akhirnya mencoba menghasut Hayati agar dia meninggalkan Zainudin dan menikah dengan Aziz.
Setelah mendengar hasutan Khadijah, Hayati merasa bimbang dengan perasaannya kepada Zainudin, karena dibandingkan dengan Aziz, Zainudin lebih tak beruang. Setelah Hayati pulang ke desa Batipuh akhirnya pihak keluarga Aziz memutuskan untuk segera meminang Hayati. Setelah perdebatan panjang antara mamak-mamaknya, dengan segala rasa sesal Hayati menerima pinangan keluarga Aziz. Karena dalam pandangan mata mamak-mamak Hayati, Aziz lebih terpandang dibandingkan dengan Zainudin.
Zainudin yang mendengan kabar pinangan Aziz kepada Hayati seketika jatuh sakit. Dia terus mengigaukan nama Hayati. Akhirnya kedua induk semang yang menampung Zainudin dirumahnya yaitu Muluk dan ibunya memanggilkan dokter. Tapi kata dokter, jika Zainudin tak dipertemukan dengan Hayati, Zainudin tidak akan sembuh. Dengan arahan sang dokter kedua induk semang itu membujuk keluarga Hayati agar Hayati diizinkan menjenguk Zainudin yang sakit dan ternyata keluarga Hayati mengizinkannya.
Akhirnya Hayati dan suaminya Aziz tiba di rumah yang ditempati Zainudin. Seperti mendapat mukjizat, Zainudin langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan senyum yang merekah dari mukanya, tapi ketika melihat cincin kawin melingkar di jari Hayati Zainudin seakan meleleh dan menyuruh semuanya keluar dari kamarnya agar dia bisa menyendiri. Setelah kejadian itu Zainudin sadar bahwa Hayati sudah menjadi milik orang lain. Lalu Zainudin memutuskan untuk menempuh hidup yang labih baru tanpa Hayati, walaupun itu dirasa berat.
Bersama Muluk, Zainudin memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Zainudin dan Muluk berjanji untuk setia bersahabat. Setelah sampai di surabaya Zainudin ternyata mendapat peruntungan dari keahliannya mengarang. Roman-roman romantis yang dia buat laris di pasaran. “Z” itulah nama samaran atau nama pena Zainudin.
Hubungan pernikahan Zainudin dan Hayati tidak berjalan harmonis, akhirnya mereka juga memutuskan untuk merantau ke Surabaya tanpa mengetauhi Zainudin ada disana. Pertemuan antara Zainudin, Hayati dan Aziz berlangsung ketika ada undangan dari klub anak Sumatra, meraka semua diundang dalam acara itu. tapi seakan Zainudin sudah tak mengenali Hayati lagi ketika bertemu.
Ternyata setelah berpindah ke Surabaya, sifat Aziz yang suka mabuk-mabukan dan berjudi semakin menjadi, akhirnya Aziz mengalami kebangkrutan. Hubungan perkawinanya dengan Hayati pun semakin tidak harmonis. Sadar telah melakukan kesalahan, Aziz mencoba untuk memperbaikinya. Dia menitipkan Hayati kepada Zainudin dengan menahan rasa malu dan memutuskan untuk ke Banyuwangi untuk mencari pekerjaan lain dan Zainudin pun setuju.
Tapi Zainudin masih bersikap seperti tak pernah mencintai Hayati. Karena frustasi dan depresi, Aziz bunuh diri. Berita itu diketahui oleh Zainudin dan Hayati dari surat kabar. Aziz meninggalkan pesan agar Hayati menikah dengan Zainudin, tapi Zainudin malah menyuruh Hayati untuk pulang karena lebih baik Hayati bersama keluarganya di Batipuh. Sebelum pulang Hayati mencoba untuk mengetahui perasaan Zainudin yang sebenarnya kepadanya saat itu, akhirnya Hayati meminta bantuan kepada Muluk dan Hayati pun tidak sengaja menemukan sebuah foto besar di rung kerja Zainudin, foto itu adalah foto Hayati yang bertuliskan “Permataku yang Telah Hilang”. Tapi Zainudin mencoba berbohong bahwa dia masih mencintai Hayati.
Setelah itu Zainudin memberikan beberapa uang kepada Hayati untuk bekal pulang dan Zainudin tak bisa mengantarkannya pulang karena dia ada kepentingan mendadak di Malang. Akhirnya Hayati dengan hati bersedih memutuskan untuk pulang dengan membawa foto Zainudin yang sembunyi-sembunyi Hayati ambil dari ruang kerja Zainudin.
Dalam perjalanan pulang di kapal Hayati begitu gelisah, dipandanginya terus foto Zainudin yang dibawanya. Tanpa disadari ketika malam hari kapal yang ditumpangi Hayati yaitu kapal Van Der Wijck tenggelam. Sedangkan Zainudin sekembalinya dari Malang dia ingin menyusul Hayati, karena Zainudin tidak bisa membohongi hatinya bahwa dia masih mencintai Hayati. Tapi semua itu terlambat karena Zainudin tanpa sengaja membaca surat kabar yang menuliskan kecelakaan kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati di Tuban dekat Lamongan.
Besoknya Zainudin yang telah mengetahui berita itu segera menuju Lamongan. Saat itu Hayati sedang kritis. Zainudin pun mencoba mengungkapkan perasaan sebenarnya kepada Hayati. Hayati tersenyum dan mengatakan bahwa ia juga masih mencintai Zainudin. Setelah mengatakan itu, Hayati menutup mata untuk selamanya. Zainudin makin sedih dan depresi. Ia merasa bahwa Hayati meninggal adalah kesalahannya. Dia selalu berkunjung ke makam Hayati. Zainudin sering sakit- sakitan dan kurang produktif lagi dalam menulis roman. Tetapi sebenarnya dia sedang menyelesaikan karya besar. Enam bulan kemudian Zainudin meninggal. Karyanya sudah selesai dan dibukukan. Dan Zainudin dimakamkan di sebelah makam Hayati.
Itulah jalan cerita dari novel HAMKA yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Zainudin tak kuasa membohongi kesetiaan cintanya kepada Hayati dan Hayatipun tak bisa melupakan cintanya kepada Zainudin. Mungkin bisa disebut Zainudin dan Hayati adalah Romeo dan Juliet asal Indonesia karena kesetiaan cinta mereka, tapi yang coba disampaikan HAMKA di novel ini bukan hanya kisah cinta yang bisa membuat kita menitikan airmata ini. Perbedaan adat dan kekayaan itulah yang juga ingin disampaikan oleh HAMKA di novel ini.
Jiwa yang masih muda nampaknya tetap ada dalam diri HAMKA, walaupun dia sudah berusia 31 tahun saat dia menulis novel ini. Karena dia menulis sebuah karya dimana darah muda seseorang masih cepat mangalir dalam diri dan khayalan serta sifat masih bergelora dalam jiwa sang tokoh. HAMKA menuliskan novel ini dengan penuh kedalaman dan keluguan serta menyusun novel ini dengan rapi, sehingga menarik untuk dibaca.
Memang keseluruhan novel angkatan Pujangga Baru selalu mengangkat kisah percintaan, perbedaan adat yang kental dan perjodohan dan akhirnya tema-tema tersebut menjadi genre dari angkatan Pujangga Baru. Ditambah dengan bahasanya yang masih menggunakan bahasa melayu novel ini menjadi mendayu-dayu ketika dibaca. Pantas jika Zainudin dan Hayati kita juluki sebagai Romeo dan Juliet asal Indonesia karena belum sempat mereka melangsungkan pernikahan, kematian sudah memisahkan mereka dan seperti tak ingin kehilangan Hayati Zainudin menyusulnya ke alam kubur, sama seperti juliet yang rela minun racun untuk menyusul romeonya. Tapi kita tidak bisa menyamakan novel ini dengan kisah Romeo dan Juliet karena novel ini memiliki tenden yang dahsyat ketika di masa Pujangga Baru.
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Sign In »

No comments have been added yet.