ijul (yuliyono)'s Reviews > If I Stay

If I Stay by Gayle Forman
Rate this book
Clear rating

by
1051411
's review
Jan 23, 12

bookshelves: ada-di-lemari, bintang-lima, favorites, novel-young-adult, novel-terjemahan
Read from January 18 to 21, 2012

Mbrebes mili...

Summary
Mia Hall adalah seorang gadis yang beruntung. Dia punya Mum, Dad, dan si kecil Teddy yang menggemaskan. Tak hanya itu, Mia juga punya Adam Wilde, seorang rockstar yang sedang menanjak popularitasnya bareng band Shooting Star, yang sudah resmi menjadi pacarnya. Namun, sebuah kecelakaan tragis di suatu pagi yang dingin-musim-salju, merenggut kebahagiaannya. Dalam sekejap dia kehilangan Mum, Dad, dan Teddy. Bahkan, nyawanya pun dekat sekali jurang kematian.

Ketika raganya masih diusahakan untuk sembuh dari segala kerusakan yang ada, jiwa Mia berkelana. Dalam hitungan jam, Mia yang tak kasatmata menyusuri tiap sudut rumah sakit, menyaksikan orang-orang yang disayanginya menjadi panik, sedih, pasrah, dan tak percaya atas apa yang terjadi. Bahkan, hatinya pun seakan teriris sembilu ketika menyaksikan Adam berjuang untuk bisa masuk ke ruang perawatannya dan membuat janji yang akan mengubah segalanya.

Rasakan puncak kepiluan dari dua hati yang dipersatukan dengan dukungan sebuah keluarga yang harmonis namun dalam waktu singkat harus menghadapi cobaan hidup mahadahsyat dalam novel karya Gayle Forman berjudul If I Stay ini.

WOOOWWW! Kapan saya terakhir kali tiba-tiba menangis tanpa bisa saya cegah hanya dari membaca novel? Hmmm....sudah lama sekali rasanya. Dan, saya mengalaminya lagi ketika membaca novel ini. Serius! Padahal dalam dunia nyata saya sulit sekali untuk merasa sedih, lho. Aneh, memang. Mungkin, otak saya salah program. Dunno. Tapi, syukurlah, novel ini memang diciptakan dalam topografi berbukit-bukit. Jadi, ketika telah dihadirkan satu adegan yang begitu mengharukan, dengan konsep flashback, penulis membawa pembaca ke masa lalu Mia yang menyenangkan. Sehingga ketika tak sengaja air mata mengalir, detik berikutnya rasa sedih tersapu kedamaian melihat masa lalu yang indah, dan air mata berhenti dengan segera.

Bagian inilah yang membuat bendungan mata saya tak mampu menahan luapan air mata yang tumpah:

Gramps.... dan berbisik.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini.” Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. “Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang.”

Pada saat itu, saya teringat Bapak. Pada saat itu, saya teringat Ibu. Saya ingat betapa Bapak dengan pelan membisik kepada saya yang sedang tersedu malam sebelum Ibu saya diapnggil kembali padaNya, “Le, ndang lungguh sanding Makmu, wacakne dungo ben ora loro (Nak, sana duduk dekat Ibu, bacakan doa biar nggak sakit).” Itulah salah satu momen saya menumpahkan seluruh air mata. Saya sudah mencoba meminta padaNya untuk menyembuhkan Ibu, namun malam itu Bapak membuatku mengikhlaskan jikalau sekiranya Alloh hendak memanggil kembali Ibuku. Dan, Alloh memang memanggil Ibu saya, keesokan harinya.

Sosok Gramps, yang digambarkan oleh Gayle sebagai sosok pendiam dan pekerja keras ini, langsung membuat saya jatuh simpati pada beliau. Sudahlah, yang jelas, saya sesak napas ketika sampai di bagian ini (hlm. 152)

Saya membaca novel ini justru setelah membaca sekuelnya, karena buku keduanya saya dihadiahi oleh sahabat baru saya di group Blogger Buku Indonesia dalam proyek My Secret Santa (review buku kedua disepakati akan diposting secara bersamaan dengan semua member yang ikut serta program tersebut di akhir bulan Januari ini). Kalau tidak salah, saya pernah men-tweet soal saya yang tidak terhanyut ketika membaca Where She Went dan tak sampai merasakan kedalaman hati seorang Adam Wilde, dan Mery Riyansah menyarankan kepada saya untuk membaca buku pertamanya yang memang sudah saya niatkan. Dan, tak salah, saya memang terhanyut, bahkan tenggelam, dalam kisah mengharukan Mia Hall. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya.

Namun demikian, satu yang terlintas dalam benak saya. Ahhh.... film Ghost banget ini ceritanya, atau film Just Like Heaven banget, atau novel Memory and Destiny banget nih novelnya... tentang sosok-setengah-hantu-dengan-tubuh-terbaring-koma dan judgement saya memang tidak meleset jauh. Ini memang kisah seperti itu. Tapi, apa yang membuatnya istimewa? Tentu saja, kepiawaian penulisnya yang berhasil menyeret saya ke muara kesedihan yang begitu dalam namun tidak sampai menye-menye kayak sinetron.

Saya suka semua karakternya. Khususnya Teddy. Lagi-lagi saya sudah lama sekali tidak mendapati tokoh bocah cilik yang memang masih bocah di novel-novel yang saya baca. Ada sih sosok anak-anak namun kebanyakan sudah dicekokin sama kedewasaan karena keegoisan atau ketidaksanggupan penulisnya untuk menghadirkan tokoh anak kecil yang berjiwa anak-anak. Selebihnya, karakter tokoh-tokohnya di sini sangat kuat. Saya bahkan tak mengenali Mia di sini seperti halnya Mia di Where She Went, dan saya suka Mia yang ada di sini. Di If I Stay dia terlihat tegar dan rapuh pada saat yang bersamaan (dan tepat) sementara di buku keduanya justru menjadi sosok peragu. Tapi, entahlah, memang kedua buku ini berbeda sudut pandang dan berbeda situasi sih ya.

Soal cover, saya lebih suka yang Where She Went. Meskipun keduanya sangat merepresentasikan pokok cerita, tetapi sampul Where She Went saya rasa lebih kuat untuk menggambarkan keseluruhan cerita ketimbang yang If I Stay. Lah, kenapa saya jadi membandingkan dua buku ini, ya? Hahaha, semprul! Yang jelas, saya rada kurang suka sama sampul yang If I Stay ini.

Soal typo, yeayyy... novel ini hampir bersih dari salah ketik/cetak. Awalnya saya pikir ameba (dari kata amoeba) dan pikap (sebutan untuk pick-up) itu salah ketik, ternyata di KBBI memang begitu cara penulisannya. Yang typo hanya di hlm. 130 (menembuat = membuat) dan hlm. 148 (Grams = harusnya Gramps).

Overall, sulit bagi saya untuk tidak menyukai novel ini. Salam buat Teddy dan Gramps. 5 bintang untuk If I Stay.

Selamat membaca, kawan!
9 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read If I Stay.
Sign In »

Comments (showing 1-20 of 20) (20 new)

dateDown arrow    newest »

Alvina huaaa.. aku pingin baca buku inii... Jadi, gimana Si Adam? :D


OceMei Belikova♥ kalo kata Syahreneh, "sesuatu!" =D


ijul (yuliyono) Adam sih tetep cowok impian para cewek kayknya yaa..., flashback ceritanya nunjukin kualitas seorang cowok yang bisa membuat seorang pemusik klasik pembenci musik rock jatuh cinta pada rockstar...:)


message 4: by Ayu (new) - rated it 4 stars

Ayu Yudha waaah, aku lagi ada bukunya nih. transit dari Momo mau ke Delisa. numpang baca dulu ah kalo begitu.. :p


ijul (yuliyono) OceMei wrote: "kalo kata Syahreneh, "sesuatu!" =D"

xixixixi....


ijul (yuliyono) ayu-si-peri-kecil wrote: "waaah, aku lagi ada bukunya nih. transit dari Momo mau ke Delisa. numpang baca dulu ah kalo begitu.. :p"

ayuuukkk...dibaca, tipis kok, Non...aku yakin pasti cepet klo dirimu yang baca sih...


Sweetdhee buku aku udah nyampe belum yaaa?
*nunggu hari rabu buat ke kantor*


Lila Cyclist aku barusan selesai Where She Went. Perasaan memang mendayu dayu If I Stay, ngga sempet mbrebes mili sih, tp cukup sesekali sesak napas karena haru. Kalo Where She Went blas ga ada mili2nya hahaha... Padal banyak yg bilang tu novel adalah a crying stock novel. Mataku ga stock aairmatanya kali ya? ^_^


ijul (yuliyono) Sweetdhee wrote: "buku aku udah nyampe belum yaaa?
*nunggu hari rabu buat ke kantor*"


semoga usah sampe...:) #pas.rabu


message 10: by Ayu (new) - rated it 4 stars

Ayu Yudha ijul (yuliyono) wrote: "ayu-si-peri-kecil wrote: "waaah, aku lagi ada bukunya nih. transit dari Momo mau ke Delisa. numpang baca dulu ah kalo begitu.. :p"

ayuuukkk...dibaca, tipis kok, Non...aku yakin pasti cepet klo dir..."


iyaaa, ini lagi baca. udah 1/4 buku siiih.. :D

eh itu kalian ada transaksi buku apa siih? #kepo


Sweetdhee ga ada transaksi perasaan deh..
aku pesen buku ini di bukabuku onlen..
katanya sih mustinya jumat kemaren dah nyampe
tapi khan aku baru masuk rabu..
mau nambah cuti nih.. masih pegel2 banget..


ijul (yuliyono) iya nih, gak ada transaksi apa-apa kok, Yu...


Speakercoret Aku juga paling suka bagian yg gramps ituuuh.... bikin gw mewek jg hehehe :p


ijul (yuliyono) Speakercoret wrote: "Aku juga paling suka bagian yg gramps ituuuh.... bikin gw mewek jg hehehe :p"

he-eh...nyentuh banget...


Sweetdhee ijuuul, review nya ada typoooooo

Jadi, ketika telah dihadirkan satu adegan yang begitu mnegharukan, dengan konsep flashback, penulis membawa pembaca ke masa lalu Mia yang menyenangkan


ijul (yuliyono) Sweetdhee wrote: "ijuuul, review nya ada typoooooo

Jadi, ketika telah dihadirkan satu adegan yang begitu mnegharukan, dengan konsep flashback, penulis membawa pembaca ke masa lalu Mia yang menyenangkan"


xixixi...itu yng kucari-cari...pas nge-post di blog udah ketemu, yg di sini belum ketemu, hahaha, tengkiyu.... *edited*


message 17: by Yusnia (new)

Yusnia Laili ingin beliiiiiiiiiiiiiii ^^


Delisa sahim menunggu dari transitan kak ayu...
semoga liburan nggak galau karena mewek.


bakanekonomama Aku suka banget sama Teddy.. TT___TT


ijul (yuliyono) Rahmatika wrote: "Aku suka banget sama Teddy.. TT___TT"

me too....meski sedikit perannya, tapi Teddy digambarkan begitu natural, selayaknya bocah seusianya...


back to top