Eva's Reviews > Warm Bodies

Warm Bodies by Isaac Marion
Rate this book
Clear rating

by
2516769
's review
Jan 16, 12

bookshelves: interesting-much, favorites, e-book
Read in January, 2012

** spoiler alert ** Pada suatu waktu di masa mendatang, bumi sudah hancur menyisakan reruntuhan dan puing2 kekosongan. Dikatakan sebelum kehancuran ini terjadi, dunia diterjang bencana dan peperangan. Akibatnya bangsa2 tercerai berai, kebudayaan musnah, peradaban surut dan kehidupan kembali ke jaman analog.
Lalu, seakan seperti kutukan Tuhan yang muak dengan ulah manusia, mendadak orang2 mati bangkit dari kuburnya dan mulai memangsa mereka yang hidup atau menyeret mereka menjadi bagian dari dunia setengah hidup-setengah mati ini. Bagaikan Air Bah yang ditimpakan Allah pada manusia di jaman Nuh, dunia di masa modern terkena wabah zombie.
Bertahun2 berlalu, tidak ada yang tahu apakah keadaan akan berubah, harapan semakin menipis dan mimpi2 perlahan raib dalam keletihan hidup. Dengan suplai obat2an yang makin lama makin sulit dicari dan bahan2 pokok yang langka, cepat atau lambat kedamaian koloni2 kecil yang rapuh ini akan berubah menjadi medan peperangan bagi manusia2 yang ingin bertahan hidup.
Tapi keadaan akan segera berubah. Tanpa disadari, sebuah serangan zombie pada sekelompok remaja yang sedang mengais obat2an merupakan awal dari rentetan efek domino yang mengubah kehidupan selepas hancurnya peradaban. Sebutlah R, dia zombie yang tinggal di bandara udara terbengkalai bersama kawanannya di bawah kepemimpinan kerangka2 hidup yang menyerupai makhluk Dementor ketimbang zombie. Sebagaimana zombie lainnya, dia tak memiliki memori mengenai kehidupan masa lalunya, dia makhluk immortal selama dia terus mengkonsumsi otak dan daging manusia. Tapi berbeda dengan zombie lainnya yang bergerak seperti sekumpulan ternak tanpa pikiran, dia dan kawannya, M, memiliki sisa2 personifikasi dari hidupnya yang lama. Bahkan untuk R, dia jauh lebih kompleks. Dia berhasil mengembangkan sejenis karakter yang nyaris bisa disebut persona meskipun sangat sederhana; mulai dari pemilihan aisle Boeing 747 mogok sebagai tempat tinggalnya dan hobinya mengkoleksi pernak pernik manusia hidup yang beragam. Dia mendengarkan lagu dan bisa menikmatinya. Dia suka Frank Sinatra.
Bisa dikatakan R memiliki potensi untuk sebuah perubahan, tapi katalisator dari perubahan yang sesungguhnya adalah ketika R memangsa seorang remaja bernama Perry Kelvin dan sejak itulah takdir keduanya saling bertautan. Perry adalah remaja yang dulunya dipenuhi harapan dan impian yang kemudian layu dibawah tekanan hidup dan pesimisme yang kerap melanda dirinya.
Ketika R memangsanya, tak disangka dia menyerap memori Perry ke dalam dirinya berikut fase2 kehidupan yang pernah dijalani anak laki2 itu; seluruh harapannya sebelum dihancurkan kenyataan yang menyakitkan, seluruh cita2nya, filosofi kehidupannya, bahkan cintanya yang mendalam terhadap Julie. Tak diyana gadis itu juga ada bersama2 dengannya sewaktu R membunuh Perry. Anehnya, dengan kematian Perry, justru R memperoleh 'kehidupan' yang sebelumnya selalu mengambang dalam mimpi (atau ide) setengah sadarnya. Karena mendapatkan suntikan kepribadian dari Perry-lah, R memutuskan menyelamatkan Julie dari serbuan teman2 zombienya. Membawanya pulang ke tengah kawanan mayat hidup lainnya dan memperkenalkan gadis itu pada dunia dalam pesawat terbangnya sambil mencoba mengelabui pemimpin2 zombie di sana berikut teman2nya.
Pada akhirnya keberadaan Julie terkuak dan pemimpin2 dari kawanan R mencoba menghabisi Julie, dia memutuskan memberontak dan menciptakan sejenis pemberontakan kecil diantara zombie2 itu sendiri. Pada akhirnya Julie berhasil kabur ke dalam koloninya yang disebut Stadium, meninggalkan R sendirian. Tapi perubahan itu sudah terjadi, dan pada akhirnya R yang meskipun kebingungan--didorong oleh kenangan kolektif Perry--memutuskan untuk menyusul Julie ke tengah2 manusia, menyongsong marabahaya yang akan timbul dari keputusannya.

Tanpa disadari, perjalanan zombie tanpa identitas ini akan merubah nasib umat manusia. Masihkah ada harapan akan kehidupan di tengah dunia yang hancur ini?

Novel ini bercerita tentang kehidupan dan kematian; dan harapan yang justru muncul ketika keduanya bertautan satu sama lain.
Benar mereka bilang ini merupakan zombie romance, tapi romansa yang ada bukan seperti yang gue kira; kisah cinta kacangan model Harlequin. Ini adalah romansa mengenai hidup, dibawakan secara satire dengan gaya macabre yang horor. Berbagai pertanyaan filosofis mengenai hidup bersliweran di dalamnya. Kenapa kita ada? Apakah tujuan kita di sini? Apakah hidup itu? Apakah sekedar tulang berbalut daging dan darah digerakan oleh nafas?

Pacing-nya juga bergerak pelan tapi sangat-sangat cantik. Memang agak mendayu2 dengan hutan kalimat berbunga lengkap dengan berbagai kiasan, metafora, personifikasi dan seribu satu majas yang terangkai elok laksana untaian mutiara khatulistiwa. Bagi yang gemar dengan kalimat efisien mungkin akan berasa 'hueek', tapi gue suka dengan kalimat puitis jika diterapkan dengan tepat. Gue sangat suka dengan penggambaran si pengarang mengenai mimpi2 R dimana dia bertemu dengan Perry dan bahkan bertukar pikiran dan nasehat mengenai filosofi masing2. Deskripsi surealistik dari pertemuan mereka, penggambaran dunia selepas surutnya peradaban juga dituturkan dengan sangat apik. Kosakatanya luarbiasa kayanya dan tidak ada pengulangan yang berarti.

Secara pribadi gue juga tidak terlalu suka dengan pemilihan sudut pandang orang pertama semenjak berbagai kontradiksi akan muncul karena sistem ini; di sini dikatakan zombie mengidap short term memory lost, sulit embentuk komunikasi verbal kompleks dan terbatas pada geram2 gak penting, mereka tidak bisa membaca, dan menulis. Ingatan masa lalu mereka sama sekali tidak bisa diakses dan bahkan mereka kesulitan menerka siapa mereka dari busana yang dipakai. Lalu... bagaimana mungkin R bisa mendeskripsikan segalanya sampai begitu detail jika sampai mendekati akhir cerita dia sendiri kesulitan bicara lebih dari enam kata?
Menurut gue sih... sudut pandang orang ketiga akan terasa lebih masuk akal dan wajar, lagipula dengan kalimat penuh bunga2 itu, narasi orang ketiga adalah pilihan yang menyegarkan.

Warm Bodies adalah cerita yang merayakan kehidupan dan harapan di dalamnya, bahwa di dalam lorong paling gelap sekalipun sebenarnya ada cahaya di ujungnya.

Vive La vie!!
Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Warm Bodies.
Sign In »

No comments have been added yet.