Bunga Mawar's Reviews > De Winst

De Winst by Afifah Afra
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Feb 07, 2009

it was ok
bookshelves: fiction, indonesia, buku-boleh-pinjem
Read in June, 2008 , read count: 1

Di Gramedia Depok, akhir Mei lalu, saya tertarik dengan sampul luarnya. Gelap, berawan, dan secercah cahaya di ufuk yang menerangi sepasang manusia yang saling berhadapan. Bagi saya, menjanjikan sesuatu. Misterius.

Lalu ada nama pengarangnya, yang saya sudah kenal sebagai salah satu aktivis FLP yang cukup produktif (dan belum satu pun bukunya saya baca). Waah... mungkin sudah waktunya saya beli ni. Sayang, anggaran terbatas, dan petang itu buku ini tak jadi saya masukkan tas belanja.

Kurang dari sebulan kemudian, seorang teman meminjamkannya pada saya. Pucuk dicinta ulam tiba! Gratis pulak!:) Dan ternyata ulam di tangan langsung terbang jauh ke angkasa begitu membaca bab-bab pertama (nanti dulu. Yang bisa terbang itu punai kan, bukan ulam? Hehe...). Sebabnya, banyak kesalahan ejaan nama yang sebenarnya sudah dikenal umum ("Shakespiere", atau "van de venter"). Ah, mungkin editornya kurang teliti ya? Jujur, hal itu sempat membuat saya mogok membaca. Geleng-geleng kepala. Saya tengok lagi sampulnya: Karya Terbaik Afifah Afra. Berhubung tidak punya pembanding dengan karya Afifah lainnya, saya jadi bertanya-tanya juga, apakah Afifah sudah tidak berharap di masa depan melahirkan karya yang lebih baik dari De Winst ini? Nah, itu sayang sekali. Ayo dong mbak, berjuang!

Seperti saya nih, yang kemudian berjuang perlahan meneruskan membaca bulu ini. Ceritanya dimulai tahun 1930-an, saat sebuah kapal laut beranjak dari Eropa menuju Hindia Belanda. Di kapal itu ada Raden Mas Rangga Puruhita yang baru lulus sarjana ekonomi universitas Leiden hendak kembali ke kampung halamannya di Surakarta. Di kapal yang sama juga ada Everdine Kareen Spinoza, gadis Belanda yang pernah bersekolah di Bandung, dan tahu-tahu begitu tertarik pada Rangga melalui diskusi dengannya, di antaranya lewat ide Karl Marx. Mereka tiba di Batavia sudah saling tertarik, namun tanpa harapan untuk bersatu karena di luar segala perbedaan bangsa dan budaya, Rangga sudah dijodohkan dengan Rara Sekar Prembayun yang masih kerabatnya sendiri.

Nah, nasib yang dituliskan pengarang akhirnya mempertemukan kembali Rangga dan Kareen. Saat itu di Surakarta Rangga telah beberapa lama menjadi pegawai di bawah orang Belanda pada pabrik gula de Winst. Terjadi pergantian pimpinan di pabrik tersebut dan bos barunya ternyata adalah Jan Thijsse, yang ternyata baru menikahi Kareen.

Cerita makin seru? Harusnya iya. Apalagi karena Sekar yang berpendidikan menengah sekolah Belanda tidak setuju dijodohkan dengan Rangga, sementara Kareen mati-matian meyakinkan Rangga ia terpaksa menerima Jan sebagai suaminya. Rangga digambarkan sebagai cowok peragu, hati kecilnya masih mendamba Kareen tapi semangat Sekar menolak pinangannya malah membangkitkan kekagumannya. Konflik perasaan muncul antara ketiganya, oh kelimanya, kalau Kresna dan Jatmiko yang dua-duanya mengaku sebagai kekasih Sekar ikut dihitung. Penghubung kelima tokoh ini kemudian adalah pergerakan masyarakat menuntut perbaikan nasib yang selama ini diinjak-injak kolonialis pemilik modal.

Selidik punya selidik, teman yang meminjamkan buku ini tertarik dengan tagline di sampul buku; novel pembangkit idealisme. Kok ya jadi terdengar seperti tagline Seabad Kebangkitan Nasional, ya. Kalau tidak salah menduga, Afifah menempelkan latar belakang sejarah masa awal kebangkitan nasional untuk memperlihatkan bahwa tidak ada kata terlambat menjadi nasionalis, patriot tanah air dan bangsa. Mungkin idenya adalah perubahan sikap sang protagonis Rangga yang tadinya di Belanda hanya punya idealisme akademis, namun beralih membela rakyat nan terzalimi oleh kolonial. Tapi idealisme kerakyatan Rangga bisa dibilang terlambat, kalau bukan aneh, apalagi sebagai bangsawan dan pemilik saham pabrik de Winst, selama ini keluarga Rangga tidak pernah terusik dengan kondisi para buruh. Atau malah terlihat sebagai pelarian patah hati Rangga saat Kareen dinikahi Jan Thijsse. Nilai keislaman yang didapat Rangga dari para mentor aktivis Sarekat Islam di Pasar Laweyan jadi terkesan tempelan.

Idealisme semacam ini tidak salah, sayangnya terlalu dipaksakan Afifah. Ditambah dengan tambalan hipokrisi Raden Suryanegara (ayah Rangga) yang mengantar kita memaklumi kehadiran Pratiwi setelah separo buku, bahkan menjadi prominent person yang nasibnya menentukan perubahan sikap semua orang di sekitarnya. Waah keren... gadis penakluk.:).

Tapi ini belum semuanya. Hal paling "maksa" saya temukan ketika diceritakan Rangga tahu-tahu sudah menikah. Hah... kok bisa begitu saja? Seperti supir mikrolet kejar setoran, apalagi ternyata istrinya adalah... ah, baca aja sendiri, hehehe...

Buku bermuatan sejarah? Iya, walau datanya belepotan (dan ini membuktikan sulitnya fakta sejarah dijadikan pewarna sebuah fiksi). Roman cinta yang menyentuh? Tidak, sebelum para tokoh roman di sini berhenti berbicara dengan bahasa seperti telenovela. Pembangkit idealisme? Hmm... Bisa tercapai kalau latar belakang para jagoan digambarkan hingga jelas perjuangannya. Yang jelas, saya yang belum bisa membuat buku fiksi ini benar-benar tidak berharap novel ini memang karya terbaik yang bisa dihadirkan seorang Afifah Afra.
4 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read De Winst.
Sign In »

Comments (showing 1-16 of 16) (16 new)

dateDown arrow    newest »

Azia sebagai novel yang dipromosiin sebagai novel pembangkit idealisme..kurang 'nendang'..


Bunga Mawar ntar kalo ditendang kan sakit, mbak azia... :)


Roos Pabrik-pabrik tebu tersebut kampung halamanku....Mbak Vera. Aku dulu pernah tinggal ditengah ladang tebu dan menikmati banyak permainan dari ladang tebu tersebut....


Bunga Mawar Pasti masa kecilmu penuh maltosa ya, kak Roos? :)


Roos Yah bisa dilihat dari bentuk saya sekarang....hehehehe.

Belum pernahkan makan tebu dengan cara batang tebu direndam di dasar kali atau sungai selama semalam kemudian dibakar saat pesta Bakar Batu Bata...Ehhhhmmm rasa karamel yang benar-benar berbeda....gosong-gosong gurih gimana gitu...bisa bayangin kan sungainya itu kayak apa....hihihihihi.


Bunga Mawar di komplekku dulu ada kok pohon tebu. Bukan kebun yah, hanya segerombolan pohon tebu, yang kalau batangnya sudah membesar digolok oleh tetangga di samping gerombolan itu, lalu dibagi2 buat anak2 komplek yang kurang jajanan macam aku, hehe...

*masih terlihat juga dari bentuk sekarang*


Roos Ohya adalagi satu permainan yang agak sedikit berbahaya...yaitu nggeret batang-batang tebu yang sudah ditumpuk di satu kereta yang lagi berjalan kencang....whoahahahaha...habis itu balapan lari dari kejaran mandor....


Bunga Mawar wah

*manyun, kehabisan cerita ttg ngisap2 batang tebu*


Roos Pernah juga kita anak-anak kecil nih, pas mau ambil batang-batang tebu yang kita rendam didasar sungai...eh kebelet...(kebelet dua-duanya nih, tahukan?) ya udah langsung pada nyincing celana dan jongkok aja tuh di sungai yang airnya setinggi lutut. Endingnya kita lupa ngambil itu tebu-tebu yang udah lumutan...tapi sueeerrr...masih enak kok waktu habis dibakar....hehehehehe.


mahatma betapa sopannya vera menulis review atas buku yang menjengkelkan ini!


Bunga Mawar ah, aku sopan, yah?

*jadi malu*


Indiva Media Kreasi Iya, ini bukan karya terbaik Afifah Afra. Masih akan ada karya-karya yang jauh lebih baik. Ditunggu saja ya?! (penerbit buku ini)


Indiva Media Kreasi Iya, ini bukan karya terbaik Afifah Afra. Masih akan ada karya-karya yang jauh lebih baik. Ditunggu saja ya?! (penerbit buku ini)


Bunga Mawar baiklah, saya tunggu.

*beneran nunggu di pojokan*


Indiva Media Kreasi Masukan berharga ini akan disampaikan ke beliau :-)


Bunga Mawar trus, yang akan disampaikan beliau kepada saya, apa?

*masih nunggu*


back to top