Vidi's Reviews > The Farthest Shore

The Farthest Shore by Ursula K. Le Guin
Rate this book
Clear rating

by
3866866
's review
Jan 08, 12

Read in January, 2012 — I own a copy

Bacalah buku ini ketika masih anak-anak, maka kita akan menemukan sebuah fantasi seru ala Neverending Story-nya Michael Ende. Penuh dengan sihir, perjalanan dan naga-naga.

Bacalah buku ini ketika dewasa, maka kita akan menemukan percakapan-percakapan penuh dengan alegori kehidupan.

Dualisme yang disajikan dalam buku ketiga ini adalah dualisme purba dalam pemikiran manusia. Kehidupan dan kematian.

“... Kematian dan Kehidupan merupakan hal yang sama – seperti dua sisi tangan, telapak dan punggungnya. Meskipun begitu telapak dan punggung tangan tetap tidak sama… Keduanya tidak bisa dipisahkan, maupun digabungkan.” (hal. 143)

Paradoks yang menarik adalah ketakutan manusia terhadap kematian. Seorang anak kecil mungkin tidak takut kematian. Lalu mengapa setelah dewasa, manusia takut terhadap kematian? Manusia dewasa telah akrab dengan segala kesenangan hidup. Sebagian dari mereka menamakan itu cinta atau orang yang dicintai, sebagian lagi menamakan itu harta, jabatan atau kekuasaan. Apapun namanya, manusia tidak mau kehilangan semua kesenangan hidup. Bagaimana bila harga sebuah kehidupan abadi adalah kehilangan semua kesenangan hidup itu? Ironis.

“…Kematian adalah harga yang harus kita bayar demi kehidupan yang kita miliki dan demi seluruh kehidupan.” (hal. 335)

Kehidupan menjadi berarti karena ada kematian yang menantinya. Bayangkan bila kita memiliki seluruh waktu yang ada di dunia. Seluruh yang kita kerjakan mungkin akan menjadi tak berarti. Seperti dewa-dewa yunani yang memiliki keabadian, mereka dapat melakukan apapun mempermainkan kehidupan manusia tetapi tidak melakukan apapun terhadap kehidupan mereka sendiri. Bintang di langit membutuhkan kegelapan untuk dapat bersinar.

Great book! A classic tale!
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Farthest Shore.
sign in »

No comments have been added yet.