Anton's Reviews > The Travels of a T-Shirt in the Global Economy : Menguak Fakta Perdagangan Dunia di Balik Kekuasaan dan Politik Ekonomi

The Travels of a T-Shirt in the Global Economy  by Pietra Rivoli
Rate this book
Clear rating

by
1824163
's review
Mar 08, 12

bookshelves: globalisasi
Read from April 01 to 10, 2008 — I own a copy

Agak lucu juga nemu buku ini. Sekitar sebulan lalu aku dapat kaos oleh-oleh dari bos di kantor yang baru pulang dari Belgia. Seumur hidup sampai sekarang, baru kali ini aku dapat kaos dengan logo fair trade di belakangnya. Ada logo Max Havelaar dan keterangan bahwa kaos itu diproduksi dengan menerapkan prinsip-prinsip fair trade.

Menurut organisasi fair trade sedunia International Federation of Alternative Trade (IFAT), fair trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling menghormati. Tujuannya untuk menciptakan keadilan, pembangunan berkelanjutan, melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair serta memihak pada hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan.

Ada sembilan prinsip utama yang diterapkan oleh badan usaha maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendukung fair trade. Di antaranya keterbukaan dan pertanggungjawaban, pembayaran yang layak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, serta menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu LSM, sekaligus usaha bisnis yang menerapkan fair trade dan mendapat sertifikat dari IFAT di Bali, adalah Mitra Bali.

Merujuk pada prinsip yang diterapkan dalam fair trade, maka aku senang bukan kepalang ketika dapat kaos oleh-oleh itu. Satu karena kaosnya dari Belgia (dasar penderita inferior syndrome! hehehe). Dua karena kaosnya polos tanpa gambar apa pun selain logo kantor pusat (susah banget kan cari kaos polos saat ini). Tiga karena berlabel fair trade itu tadi.

Sekitar seminggu setelah dapat kaos putih polos yang kekecilan itu, aku cari buku di Gramedia Simpang Siur Kuta Timur. Eh, ada buku dengan judul The Travel of a T-Shirt in the Global Economy ini. Tanpa pikir panjang, langsung kusambar saja. Dan, isinya memang menarik banget. Aku jadi tahu betapa di balik kaos yang aku pakais sehari-hari ternyata begitu banyak persoalan di belakangnya. Sebagai pecinta kaos oblong dan penikmat cultural studies, buku ini mengenyangkan otakku.

Di balik kaos yang aku pakai sehari-hari, ternyata tersimpan nasib petani kapas di bawah bayang-bayang globalisasi. Buku ini telah menguak fakta perdagangan dunia di balik kekuasaan dan politik ekonomi. Dan, petani terjepit di antara itu.

Seperti judulnya, buku ini memang fokus membahas bagaimana perjalanan sebuah kaos di tengah globalisasi. Pietra Ravioli, menggunakan kisah sederhana tentang petani kapas di Texas, produsen kaos dan nasib pekerja di Cina, aktivos anti-globalisasi, hingga pucuk pimpinan negara adidaya Amerika Serikat yang terhubung satu sama lain dalam produk kaos. Ravioli, Associate Professor di McDonough School of Business, George Town University, ini mengungkapkannya dalam bahasa sederhana namun didukung data dan fakta lengkap tentang politik ekonomi perdagangan kaos.

Buku terbitan TransMedia Pustaka Jakarta (2007) ini terbagi dalam empat bagian besar dari produksi kapas dan nasib petani, produksi kaos dan nasib buruh, kontroversi impor kaos dalam perdagangan bebas, serta membanjirnya kaos bekas ke negara-negara miskin di Afrika. Tiap bagain menjelaskan lebih detail dari masing-masing persoalan tersebut. Pada Bagian I: Raja Kapas, misalnya, buku setebal 312 halaman ini, mengupas tentang nasib petani kapas di Texas, daerah penghasil kapas terbesar di Amerika Serikat.

Menurut Ravioli, Texas bisa menjadi produsen kapas terbesar di Amerika, bahkan dunia, karena petani kapas di sana mendapat perlindungan dari beragam risiko termasuk risiko harga, pasar tenaga kerja, kredit, dan ancaman cuaca. Majunya pertanian kapas di Texas terjadi karena adanya subsidi oleh pemerintah AS. Namun, besarnya subsidi pemerintah AS ini membuat perdagangan tidak adil bagi petani di negara-negara miskin. Sebab petani kapas dari negara miskin tidak bisa memasarkan produknya ke Amerika dengan harga lebih tinggi dibanding petani dari AS.

Meski demikian, keberhasilan petani Amerika juga karena kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan modernitas. Petani AS mengadaptasi metode produksi, strategi pemasaran, pemanfaatan teknologi, dan organisasi. Salah satunya melalui organisasi seperti Farmer’s Cooperative Compress dan Plains Cotton Cooperative Association. Organisasi-organisasi ini bahkan, misalnya melakukan, pengaturan risk sharing di mana tidak ada petani yang akan mendapat keuntungan terlalu besar maupun terlalu kecil. Dari konteks perdagangan adil (fair trade), organisasi ini juga membuat petani bisa mengatur harga kapas dengan konsumen, tidak hanya diputuskan sepihak oleh pembeli.

Menariknya buku ini karena dia juga memberikan contoh berimbang antara dampak negatif maupun positif dari perdagangan bebas terhadap petani, terutama petani kapas. Salah satunya bahwa penggunaan traktor, mesin, dan sarana pertanian modern lain juga telah melenyapkan tradisi bertani. Bahwa sering kali masalah ekonomi mengalahkan sosial budaya.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Travels of a T-Shirt in the Global Economy .
sign in »

No comments have been added yet.