Annisa Anggiana's Reviews > The Girl Who Played with Fire

The Girl Who Played with Fire by Stieg Larsson
Rate this book
Clear rating

by
383883
's review
Dec 25, 11

bookshelves: mystery, thriller
Read from December 17 to 24, 2011

“There are no innocents. There are, however, different degrees of responsibility.”

Akhirnya kebaca juga buku kedua dari millenium trilogi ini. Over all saya lebih menyukai buku kedua ini karena kadar kesadisan nya ngga separah yang pertama dan lebih banyak bercerita tentang tokoh kesukaan saya Lisbeth Salander dari pada sang Don Juan Mikael Blomkvist :) .

Setelah huru hara yang terjadi di buku pertama, Lisbeth Salander berhasil “mengamankan” sejumlah kekayaan yang membuat dia tidak perlu pusing-pusing lagi bekerja di masa yang akan datang. Setelah mengakhiri hubungan singkatnya dengan Mikael, Salander memutuskan untuk travelling keliling dunia.

Sementara itu kantor Millenium yang saat ini tengah mengalami kebangkitan dari kondisi sebelumnya akan menerbitkan sebuah buku yang mengungkap tentang seluk beluk dunia “sex trade” yang terjadi di Swedia. Termasuk aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Buku ini diprediksi akan menyebabkan kehebohan karena banyak aparat hukum, termasuk dari kepolisian yang terlibat dalam dunia tersebut yang akan terungkap dalam buku.

Ketika Salander kembali dari tour nya, ia mencoba untuk mencari tahu apa yang akhir-akhir ini dikerjakan oleh Mikael. Alangkah terkejutnya Salander ketika membaca material buku dan menemukan nama Zala di dalamnya. Sebuah nama dari masa lalu ketika peristiwa yang dia sebut “All The Evil” belum terjadi.

Lalu suatu malam pengarang dari buku yang akan diterbitkan oleh kantor Millenium, Dag Svensson dan pacarnya Mia Johansson ditemukan terbunuh di apartemen mereka. Senjata api yang dipergunakan untuk membunuh teregister milik Nils Erik Bjurman, tokoh dari buku pertama yang kita ketahui merupakan legal guardian dari Salander yang dengan semena-mena menyalahgunakan posisinya. Tidak lama kemudian diketahui pula ternyata Bjurman pun sudah tertembak mati di apartemennya sendiri.

Pada senjata yang digunakan untuk ketiga pembunuhan tersebut ditemukan sidik jari Lisbeth Salander. Tidak butuh waktu lama bagi media untuk mencium berita tersebut, dan Lisbeth Salander pun menjadi buronan nomor satu di Swedia. Ditambah dengan fakta bahwa Salander dimasukan ke rumah sakit jiwa pada umur 12 tahun dan dinyatakan legally incompetent membuat dirinya semakin menjadi bulan2an media.

Sebuah tim di kepolisian dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Di awal penyelidikan misi mereka sangat jelas, memburu secepat mungkin Lisbeth Salander. Di sisi lain, beberapa orang yang mengenal baik Salander pun berusaha mencari fakta yang sebenarnya terjadi untuk membebaskan Salander dari tuduhan.

My oh my. Saya semakin menyukai karakter Lisbeth Salander. Di buku kedua ini masa lalu Salander terbongkar, termasuk salah satu episode dalam hidupnya yang selama ini hanya disebut-sebut sebagai “All The Evil”. Masa lalunya memang mengerikan. Dan saya dapat merasakan betapa selama ini Lisbeth Salander salah dimengerti oleh semua pihak dan kesal setengah mati pada orang-orang yang berkonspirasi sehingga ia dicitrakan sebagai perempuan muda yang sakit jiwa.

Sekali lagi Stieg Larsson berhasil menyajikan mistery thriller yang bikin betah untuk dibaca sampai akhir dan menutupnya dengan ending yang dramatis dan tidak terduga. Mari baca buku ketiganya !!

“I am what I am,” Salander said. “I ran away from everything and everybody.”
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Girl Who Played with Fire.
sign in »

Reading Progress

12/19/2011 page 88
14.0% "Huaa.. I wish i have more time to read!!"
show 1 hidden update…

No comments have been added yet.