Alvina's Reviews > Hex Hall

Hex Hall by Rachel Hawkins
Rate this book
Clear rating

by
2834743
's review
Jan 19, 13

bookshelves: fantasy-fiction
Read from January 18 to 20, 2013 — I own a copy

Siapa sangka bahwa di masa modern sekarang ini, masih banyak makhluk-makhluk ajaib yang sebenarnya ada di sekitar kita. Dari luar mereka nampak seperti manusia biasa, tapi sebenarnya bisa jadi dia seorang penyihir, atau peri, atau shapeshifter, atau werewolf, bahkan vampir.

Seperti Sophie Mercer, yang sekilas nampak seperti anak belasan tahun lainnya, kecuali fakta bahwa dia seorang penyihir. Sayangnya, Sophie belum mampu mengendalikan kekuatannya sampai suatu hari ia meramalkan mantra cinta dengan ‘kelewat baik’ hingga mencelakakan beberapa orang. Karena kejadian itu, ia dikirim ke Hecate Hall atau yang biasa disingkat Hex Hall, sebuah sekolah khusus prodigium. Tempat itu berada di sebuah pulau terpencil, yang tujuannya mendidik para prodigium untuk mampu bertindak ‘dengan bijaksana’ atas kemampuan mereka.

Sophie tak lantas bisa membaur dengan anak-anak di sekolah tersebut, meski ia cukup dekat dengan teman sekamarnya, Jenna, yang seorang vampir. Ternyata teman sekamar Jenna sebelumnya juga seorang penyihir bernama Holly, yang ditemukan meninggal karena kehabisan darah di kamar mandi dengan dua luka di lehernya. Semenjak itu Jenna hampir tidak punya teman lagi karena ia dituduh membunuh temannya sendiri. Penyelidikan pernah dilakukan tapi tak temu titik terang, sehingga Sekolah tidak memiliki alasan untuk mencegah vampire melanjutkan studi mereka di Hex Hall.

Tapi kemudian peristiwa itu terus menerus terjadi, satu demi satu penyihir ditemukan terluka persis seperti Holly dan sekolah tidak tinggal diam. Sophie yang merasa tahu betul bagaimana pribadi Jenna tidak mungkin melakukan hal tersebut memutuskan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekolah itu.

Ternyata misteri tersebut melibatkan jauh dari apa yang sebenarnya ingin Sophie ketahui, karena ternyata ada banyak pihak yang ingin menghabisi semua prodigium, dan mungkin saja misteri itu berhubungan dengan diri Sophie sendiri.

Awal membaca novel ini mau tak mau mengingatkan saya tentang Harry Potter, yah tidak semua tentunya, hanya sebagian kecil saja, dan Sophie jelas berbeda dengan Harry Potter. Sophie adalah gadis yang biasa diabaikan di sekolah, tapi begitu masuk Hex Hall dia seakan membuat satu sekolah mengenal dirinya dengan kecerobohannya yang sering dilakukan. Banyak tokoh utama cerita fantasi yang saya baca dan jarang membuat saya terpikat, terutama pada peran wanita, tapi Sophie lain. Sophie tampak jauh lebih ‘manusia’ daripada menjadi seorang penyihir, mungkin karena dia masih awal dalam menggunakan kemampuannya, tapi dia juga bukan penyihir yang hebat.

Terjemahan yang asyik dengan ukuran huruf yang memuaskan pembacanya, membuat saya tak perlu waktu lama menikmati buku ini. Drama ala pelajar wanita, kisah cinta diam-diam, misteri serta sihir yang ada menambah warna di cerita ini.

Selesai membaca buku ini, saya jadi berpikir ulang, ternyata sihir tak selalu butuh tongkat, atau sapu terbang, atau kata kata ajaib. Sihir Cuma butuh bakat, latihan dan yah.. sedikit gen keturunan, sepertinya.

Oh satu lagi, saya rasa butuh sedikit magic untuk membuat Demonglass segera muncul di meja saya saat ini, sebab saya tak sabar membaca kisah Sophie selanjutnya.
2 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Hex Hall.
sign in »

No comments have been added yet.