Desi Puspitasari's Reviews > Anak Semua Bangsa

Anak Semua Bangsa by Pramoedya Ananta Toer
Rate this book
Clear rating

by
1662965
's review
Nov 13, 2011

really liked it

Setelah berpisah dan kehilangan Annelies, Nyai Ontosoroh dan Minke harus tetap melanjutkan hidup. Berdasar saran sahabat Belanda, Kommer, dan Jean Marais dari Perancis, Minke mulai belajar menulis menggunakan bahasa Melayu. Awalnya ia menolak, karena sebelumnya ia telah terbiasa menulis dengan bahasa Belanda yang sempurna dan juga bahasa Inggris. Tapi ia tetap menuruti saran tersebut, dan dimulailah perjalanan Minke mempelajari dan mengenal bangsanya sendiri. Dan juga pergolakan (batin, politik, dan hukum) dalam proses menulisnya.

Ada banyak kutipan bagus di sini, sampai-sampai aku melipat-lipat ujung halaman buku dan mencoret bagian tertentu menggunakan pensil sebagai penanda.

Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya. –hal. 102

Seluruh dunia kekuasaan memuji-muji yang kolonial. Yang tidak kolonial dianggap tak punya hak hidup. Berjuta-juta umat manusia menderitakan tingkahnya dengan diam-diam seperti batu kali yang itu juga. Kau, Nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudianhari. –hal 112

Dan untuk kesekian kalinya terpikir olehku: lulus H.B.S. ternyata hanya makin membikin orang tahu tentang ketidaktahuan sendiri. Maka kau harus belajar berendahhati, Minke! Kau, lulusan H.B.S.! Sekolahmu itu belum lagi apa-apa.... –hal. 163


“Peduli amat orang Eropa mau baca Melayu atau tidak. Coba, siapa yang mengajak bangsa-bangsa Pribumi bicara kalau bukan pengarang-pengarangnya sendiri seperti Tuan?”

“Hidup yang tak tertahankan, Tuan. Orang yang menyadari ini patut mengajaknya bicara. Bicara dari orang pada orang yang sebanyak itu jumlahnya tentu tidak mungkin, maka menulislah aku, seorang yang bicara pada orang banyak orang.’

“Tahu Tuan, mereka, entah berbangsa apa, yang tidak menulis dalam bahasanya sendiri kebanyakan orang yang mencari pemuasan kebutuhan dirinya sendiri, tidak mau mengenal kebutuhan bangsa yang menghidupinya, karena kebanyakan memang tidak mengenal bangsanya sendiri?”

Tak kenal bangsa sendiri! Ucapan yang sungguh berlebihan, dan menyakitkan, seperti pukulan mata kapak tumpul. Lebih menyakitkan karena berasa dari orang-orang bukan Pribumi: Indo dan Prancis. Aku tak kenal bangsaku sendiri pada mata mereka. Aku!

“Memang masih diperlukan waktu untuk memikirkan, Tuan Marais. Ingat Tuan Minke, pada Multatuli: kalau orang Belanda tak mau membaca atau mencetak tulisannya, katanya, akan kuterjemahkan tulisan-tulisan-ku dalam bahasa-bahasa Pribumi.... Melayu, Jawa, dan Sunda! Itu seorang Multatuli, Tuan, guru Tuan sendiri, bahkan ia pun sudah pernah menulis Melayu!”

“Pendeknya aku dinilai sebagai orang yang tak kenal bangsa sendiri.”

“Memang menyakitkan kalau kesimpulannya seperti itu. keras. Tapi begitulah kurang-lebih. Dari karangan-karangan Tuan sendiri, nampak Tuan lebih tahu tentang orang-orang Belanda dan Indo.”

“Itu tak benar. Aku mahir berbahasa Jawa.”

“Belum berarti Tuan mengenal bangsa Jawa lebih baik. Pernah Tuan mengenal kampung dan dusun orang Jawa, di mana sebagian terbesar bangsa Tuan tinggal? Paling-paling Tuan hanya melaluinya saja. Tahu Tuan apa yang dimakan petani Jawa, petani bangsa Tuan sendiri? Dan petani adalah sebagian terbesar bangsa Tuan, petani Jawa adalah bangsa Tuan.” –hal. 156-160


Aku tertampar. Auw!

Masih ada lebih banyak kutipan lain, tapi kurang bagus kalau ‘dilepas’ dari keutuhan kalimat atau paragraf yang menyertainya, karena rasanya seperti ‘mencabut’ dari konteks—bahwa pemahaman kutipan tersebut akan lebih bagus bila disertai konteks yang mendasarinya.

Minke dan Nyai pun harus menghadapi Insinyur Maurits Mellema yang hendak mengambil alih perusahaan yang dibesarkan oleh Nyai. Di sini benar-benar terlihat betapa Nyai Ontosoroh, seorang perempuan Jawa, seorang gundik yang dipanggil nyai, begitu belajar, begitu cerdas, begitu ‘tinggi’, begitu ‘besar’, dan begitu banyak membaca (pula tergambar jelas di buku pertama: Bumi Manusia). Aku salut pada karakter nyai satu ini. Benar-benar, sungguh-sungguh.

“Ya, Ma, kita sudah melawan, Ma, biarpun hanya dengan mulut.”

Ada juga cerita mengenai Surati. Perempuan Jawa yang berani menantang maut. Pergi kabur dari rumah, berjalan kaki, ke desa seberang yang telah ditutup dan hendak dibakar karena terserang wabah cacar, dan dengan tabah Surati membiarkan tubuhnya terserang cacar hanya untuk—uah! Cerita bagian ini sungguh luar biasa. Baca sendirilah!

Begitulah... Seru pokoknya! Alalalala...~



Selamat membaca!
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Anak Semua Bangsa.
Sign In »

No comments have been added yet.