ijul (yuliyono)'s Reviews > 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

99 Cahaya di Langit Eropa by Hanum Salsabiela Rais
Rate this book
Clear rating

by
1051411
's review
Nov 12, 2011

really liked it
bookshelves: buku-non-fiksi, bintang-empat, ada-di-lemari, buku-kitab-islam
Read from October 30 to November 10, 2011

Melacak jejak Islam di Eropa

Sebagian teman, termasuk saya, masih mencantumkan Eropa dalam daftar tempat yang menjadi tempat favorit tujuan traveling. Tidak sekadar traveling, Eropa juga menjadi salah satu tempat yang paling diincar ketika ada tawaran beasiswa belajar di luar negeri. Tentu, dengan segudang alasan masing-masing. Bagi saya, simple saja, saya ingin merasakan nuansa Harry Potter-nya. Saya ingin ke stasiun King's Cross di London, hahahaha...

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya pasangan suami istri, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, ini dilabeli “Novel Islami – Best Seller” yang entah apa maksudnya. Memang ada sepenggal nuansa fiksi di bagian overture, namun ke belakang ini tampak non-fiksi banget bagi saya. Memang sih, buku ini terasa sekali nuansa novelisasinya, tapi bahkan si penulisnya sendiri bilang bahwa buku ini merupakan sekelumit catatan perjalanannya di Eropa dalam napak-tilas kedigdayaan Islam di masa silam. Jadi, label tersebut saya rasa kurang pas untuk disematkan pada buku ini. Soal ‘best-seller’, no comment deh, meskipun faktanya buku yang saya pegang-baca ini memang sudah cetakan ketiga juga sih.

Gaya penulisannya bagus. Diksinya juga pas. Singkatnya, buku ini enak untuk dibaca. Jarang saya temukan bagian-bagian yang membuat saya mogok karena kalimat yang sulit dicerna atau janggal. Persoalan saya yang terlalu lama menyelesaikan baca, itu murni kemalasan saya, hahaha. Pengetahuan tarikh saya tak begitu bagus, jadi ketika membaca ‘Eropa’ saya pikir penulis akan menuliskan cerita perjalanan mengurai Islam di (hampir) seluruh Eropa. Ternyata kisahnya hanya terjadi di empat kota di empat negara berbeda yang mungkin pernah kita dengar sewaktu pelajaran sejarah Islam di sekolahan dulu. Ahhh, harusnya ndak boleh protes, lha wong di sampulnya sudah jelas kok. Cuman ada empat gedung (bersejarah) yang ada di empat tempat tersebut.

Jujur, pada beberapa bagian saya ikut merinding membacanya. Saya benar-benar (serasa) digiring untuk ikut larut bersama perasaan Hanum dan Rangga ketika berkunjung pada tiap-tiap situs bersejarah Islam yang dikunjungi oleh mereka, dan mau tak mau membuat saya menjadi bercita-cita untuk dapat turut serta berkunjung ke sana. Semoga saja ada kesempatan yang digariskan dalam buku takdir saya. Amiinnn. Termasuk ke Mekkah. Sebagaimana disebut Hanum sebagai titik awal seluruh perjalanan dimulai. Betapa pun sudah menjelajah ke seluruh penjuru dunia, Mekkah selalu menempati posisi teratas dalam daftar tempat yang WAJIB untuk dikunjungi.

Saya menyukai buku traveling yang menyajikan begitu banyak warna budaya lokal di masing-masing tempat yang dituju. Tales from the Road-nya Matatita, Life Traveler-nya Windy Ariestanty, Kedai 1001 Mimpi-nya Valiant Budi, adalah sederet buku tentang perjalanan penulisnya yang kaya dengan taburan unsur lokal. Buku ini tak terkecuali, meskipun dari kacamata Hanum, ia memang mencari unsur Islam masa silam yang mungkin masih terselip di tiap tempat yang dikunjunginya. Ia mengkritisi beberapa hal dan saya bisa memakluminya.

Bagian paling kurang penjelasan, bagi saya, adalah overture. Meskipun, begitu kelar membaca, saya dapat menyimpulkan mengenai siapa dan peristiwa apa yang digambarkan dalam overture tersebut. Te-ta-pi...menurut saya, sebaiknya diberikan saja sedikit penjelasan sehingga bagian itu tidak seperti sedang berdiri sendiri di celah-celah gedung bersejarah yang bercerita. Terlalu terpisah, dan bagi saya, itu tidak bagus.

Ketika sampai di bagian Ka’bah, saya terhanyut pada filosofi yang dituliskan Hanum. Sepenggal saja, seperti ini:
Bentuknya demikian sederhana, namun begitu sempurna. Tak perlu membuatnya beraneka warna, tak perlu membentuknya aneka rupa. Hitam saja. Kubus saja.
...budaya barat mengidentikkan hitam dengan kematian, namun aku lebih suka mengasosiasikannya dengan pencapaian puncak. Bukankah dalam seni bela diri, sabuk hitam adalah pencapaian paling tinggi? Demikian juga dalam pencapaian gelar akademis; toga berwarna hitam.

(hlm. 382)

Sebagaimana banyak pengalaman para traveler, traveling menjadi semakin lengkap ketika traveler bertemu dengan banyak orang dan bahkan menjalin persahabatan dengan traveler lain yang ditemui di lokasi. Hanum dan Rangga juga ‘beruntung’ bertemu dengan orang-orang yang memberikan warna indah dalam perjalanan mereka. Sebut saja Fatma, Marion, Sergio, dan Ranti. Dari merekalah sejatinya perjalanan Hanum dan Rangga menjadi demikian syahdu. Dan, tentu saja, ini tentang napak-tilas sejarah Islam, sehingga unsur religi Islam tak dapat lepas pada setiap langkah pasangan muda ini. Unsur religi inilah yang membuat saya ikut tergetar, di waktu-waktu tertentu.

Namun, seperti kata pepatah, sealu tak ada gading yang tak retak. Setelah terbuai dengan diksi dan gaya penulisan yang menawan, typo justru mulai bertebaran di bagian tengah ke belakang. Seperti yang saya temukan ini:
(hlm. 293) menaklukan [padahal di halaman yang sama sudah benar tertulis menaklukkan]
(hlm. 293) penderitan [penderitaan]
(hlm. 294) ditaklukan [ditaklukkan]
(hlm. 305) keindan [keindahan]
(hlm. 345) membat [membuat]
(hlm. 367) kebahagiannya [kebahagiaannya]
(hlm. 371) berbicang [berbincang]

Overall, saya suka buku ini. Sampulnya yang setipe dengan Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi memang agak mengganggu, tapi saya sendiri menyukai gedung-gedung tinggi sih, so no biggie.

Hmm, saya berharap Hanum bisa menuliskan kisahnya yang lain. Tiga tahun di Eropa, masak cuman di empat negara tersebut, kan? Apalagi ia juga bilang sendiri telah berkunjung ke banyak tempat. Yang terpenting sih, aku suka gaya menulisnya.

Selamat membaca.
6 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read 99 Cahaya di Langit Eropa.
Sign In »

Reading Progress

10/30/2011 page 33
8.0% 5 comments
11/01/2011 page 88
21.0% 3 comments
11/09/2011 page 424
100.0% "...itu semua telah membawaku ke titik awal tempat semuanya berasal. Awal diturunkannya Al Quran, awal kelahiran Islam. Agama yang sempurna."

Comments <span class="smallText"> (showing 1-11 of 11) </span> <span class="smallText">(11 new)</span>

dateDown arrow    newest »

message 1: by Sweetdhee (new) - added it

Sweetdhee cuma gini doang review nya?
*penonton kecewa*
*ngejar angkot*
#eh?


ijul (yuliyono) belum donkkkk....itu baru judul repiu-nya doank, masih disusun inih....


message 3: by Sweetdhee (new) - added it

Sweetdhee Layak dibeli?


ijul (yuliyono) :jempol....iyakkkk aku sih merekomendasikan...atau mau ngintip-baca dulu?


message 5: by Sweetdhee (new) - added it

Sweetdhee Ngintip dulu deh, Jul..
*bwahahaha, ujung2nya minjem juga*


message 6: by Cho (new)

Cho Choiriyah berapa harga? ^^


ijul (yuliyono) @Didiet.... hihihi, baiklah, ntar klo ktmuan pas nobar sang penari (klo jadi) atau pas klub buku bulan ini, aku bawa deh bukunya....

@Cho...hmmm.....agak2 lupa nih, skitaran 40-50rb klo ga salah, banyak tokbuk biasa/online yg ngasih diskon kok...


message 8: by Sweetdhee (new) - added it

Sweetdhee Wokeeeh..


message 9: by indri (new)

indri juwono baca review ijul gara2 pengen tau kayak apa sih buku nominator API ini?


message 10: by Sweetdhee (new) - added it

Sweetdhee baca comment mba indri jadi inget, ijuuul kok kmrn buku ini ga dibawa pas nonton RDP yaa?


Tezar Yulianto iya, Ijul gimana tuh


back to top