Windry's review

Windry's review

Lanang Lanang
by Yonathan Rahardjo

145888 Windry's review
rating: 1 of 5 stars1 of 5 stars1 of 5 stars1 of 5 stars1 of 5 stars
bookshelves: fiction, indonesian

Yusi said,

"saat mental kalian sedang drop, buka buku ini. halaman berapa saja. tertawa-lah. dan kalian akan merasa lebih baik.

karena masih banyak yang lebih buruk dari tulisan kalian.
dan tulisan itu menang sayembara DKJ."

:D

Like this review?   yes   (3 people liked it)  flag




comments (showing 1-25 of 89)

dateDown_arrow

message 1: by Pera
05/18/2008 10:56AM

149151 serius nih?

flag abuse *

message 2: by nanto (last edited 05/18/2008 11:47AM)
05/18/2008 11:44AM

153882 lepas dari benar tidaknya komentar yang dikutip di review itu, konon katanya memang disarankan untuk melakukan yang sama ke setiap penulis besar, yang dikagumi sekalipun. Entah karena masih ada kesalahan seremeh apapun itu, kayak salah ketik ato ungkapan yang ngaco. Yang hebat ada kurangnya, bisa jadi yang belum hebat juga ada lebihnya. Alias, Membesarkan hati kalo lagi terserang demam minder.

flag abuse *

message 3: by Windry (last edited 05/18/2008 07:24PM)
05/18/2008 07:15PM

145888 Pera: baca saja auw silakan dan lihat bagaimana struktur bahasa di buku ini berantakan. bagaimana logika tidak mendukung plot dengan kuat. menunjukkan ketidakterampilan dan ketidakjernihan *menulis kan kegiatan berpikir jernih*

Nanto: mas, buku ini ngga hebat :D really. saat tahu buku ini memenangkan sayembara (walaupun bukan juara satu), kami komentar, "oh semudah itu menang sayembara DKJ?"

bukan kesalahan2 kecil (detil terlupa, salah ketik atau 'de javu' seperti yang kerap muncul di cerpen2 kompas, but they are on all pages. kurasa, semangat menulis yang besar tapi tidak diimbangi semangat editing yang besar juga. editing adalah hal paling krusial, bukan sekedar koreksi eyd tapi juga masalah logika cerita, bab, paragraf, kalimat, kata.

pertanyaan termanis siy ... juri-nya siapa tho?

btw, diskusi buku ini akan berlangsung di TIM hari jumat tgl 23 jam 2 siang, dengan salah satu pembicara Yusi Pareanom (pemilik Banana Publisher).

flag abuse *

message 4: by Au
05/18/2008 07:27PM

90956 euw... sungguh, diriku jadi penasaran *mudah penasaran* :D

flag abuse *

message 5: by Windry
05/18/2008 07:29PM

145888 beliii *promosi mode on*. wajib punya. *kok ironis?*

flag abuse *

message 6: by -syl-
05/20/2008 09:58PM

92370 Wah kalo gitu elo kudu hadir tuh Wind, buat 'bedah' ni buku sampe tuntas di TIM nanti :D

flag abuse *

message 7: by Windry
05/20/2008 10:00PM

145888 hadiiir diriku hadir! mau jadi suporter Yusi :D wakakaka

flag abuse *

message 8: by Amang Baba Lux
05/20/2008 10:03PM

348055 info diskusi bisa diliat di link ini:

http://www.goodreads.com/event...

flag abuse *

message 9: by -syl-
05/20/2008 10:11PM

92370 Yusi yang jadi pembantainya yaa?? opss.. I mean, pembicara :D

flag abuse *

message 10: by Windry
05/20/2008 10:13PM

145888 yep, Yusi jadi tokoh antagonisnya wakakaka
malemnya ada Teater Garasi, Syl di Luwes IKJ

flag abuse *

message 11: by -syl-
05/20/2008 10:15PM

92370 Kyaaa.. kalo teater pengeeennn!! Eh bukannya teater Ras? ntu tuh yang mentasin Rashomon or something?

flag abuse *

message 12: by Windry
05/20/2008 10:17PM

145888 iyak itu juga ada. waktunya barengan, beda gedung (situ situ juga). Garasi sih udah cukup terkenal bagusnya. kalau Ras, aku belum pernah tahu.

flag abuse *

message 13: by -syl-
05/20/2008 10:21PM

92370 Luwes tuh yang sebelah mana Wind? daku takut nyasar, ntar disangka artis trus diajak mentas bareng.. *whoopsss mesti siap bawa foto bertanda-tangan nih*

flag abuse *

message 14: by Windry
05/20/2008 10:23PM

145888 wah pertanyaan bagus :D *ngga tahu juga wakakakaka*
Luwes itu gedung teaternya IKJ dan IKJ ada di belakang TIM, masuknya lewat pintu TIM juga.

flag abuse *

message 15: by -syl-
05/20/2008 10:26PM

92370 Yo wes, berbekal peta buta dan arahan yang sangat jelas dari Windry *jelas-jelas gak tau tempatnya :p* gue coba deh melangkah kebalik semak-semak IKJ nyari gedung Luwes. Paling² nyasar nyampe ke masjid.

flag abuse *

message 16: by Pakcik
05/22/2008 12:23AM

Nophoto-m-25x33 Windry punya persepsi begitu setelah membaca bukunya atau setelah mendengar ulasan Yusi ?

flag abuse *

message 17: by Windry (last edited 05/22/2008 07:52PM)
05/22/2008 07:51PM

145888 hehehehe ... saya bukan murid buta, sayang sekali. di kelas, kami para murid saja mengritik cerpen Sulak kok kalau emang ngga oke. peraturan di kelas: tidak ada yang boleh sakit hati.

by the way ... yep, i've read the book (kami sekelas membacanya). have you, Paman? kalau sudah baca (dengan teliti dan jernih), Paman pasti juga melihat bagaimana gramar tidak digunakan dengan jernih di buku itu. dan dengar-dengar, om Yon memang menolak editing. so ... i think we have the answer :D

flag abuse *

message 18: by Pakcik
05/22/2008 08:05PM

Nophoto-m-25x33 Ya, sudah dibaca Win. Karena aku bukan pembaca yang rajin, maka aku jarang sekali membaca. Yang aku baca adalah yang memang ingin kubaca. LANANG kubaca juga dengan jernih. Pasti itu, aku ndak mau dong waktuku sia-sia dengan membaca tanpa mengambil manfaat dari bacaanku.

Dalam membaca LANANG, aku mengalami antusias menuntaskan buku ini naik turun. Aneh memang. Apalagi bila mentelengi Grammar (tatabahasa maksudnya, kan Win ?)nya.. Cuma aku kurang begitu terpaku dalam urutan teks ya..terlebih persoalan Grammar ini. Bila bahasa adalah arbitrase, tatabahasa apakah tidak mungkin pula berada pada wilayah yang masih dapat didiskusikan ?

Buku ini seakan tuturan mas Yon ke telingaku. Menurutku ini sebabnya aku jadi tidak objektif dalam memberikan penilaian, sebab aku hafal lantunan suara dan isi suara mas Yon. Kalau Windry dan pembaca lain memperhatikan kata pengantar yang ditulis mbak Medy Loekito, mungkin sudah mendapatkan kunci untuk menikmati buku ini selain dari melakukan tindakan forensik pada sisi tatabahasa dan plot dan logika dan..dan..dan...
Sebab buku ini memang NOVELPUISI. Dan dalam menafsirkan puisi, aku biasanya tidak mempercayai teks 100%.

Dan aku tidak tahu apakah mas Yon menolak editing atau tidak. Rasaku ini gak perlu menjadi satu argumen bagiku untuk menikmati novelpuisi ini..hehehehe..

salam DownUnderTheGround
pakcik


flag abuse *

message 19: by Windry
05/22/2008 08:29PM

145888 saya prosais tulen len len len, Paman. jadi kejernihan adalah salah satu hal penting yang saya perhatikan.

apa yang dilakukan om Yon di buku ini berbeda dengan kenakalan-kenakalan om Joni dalam membelokkan aturan gramar. walau om Joni sering membuang subyek dalam kalimat-kalimatnya, pembaca tidak tersesat. mereka tetap menerima transfer informasi yang jernih dari penulis. ini sebenarnya hal yang kemarin kami bahas di kelas. kami (prosais) tidak bisa membuat pembaca bingung dalam prosa.

saat ada sebuah paragraf menggunakan 'dia' atau 'mereka' ... pembaca harus tahu pasti siapa yang dirujuk. dan tentunya, kalimat-kalimat di dalam paragraf itu sangat mempengaruhi hal ini.

frase 'bisik lirih', misalnya. hal sepele yang bagi kami krusial. prosa tidak sepadat puisi tapi prosais juga tidak bisa membiarkan satu kata tertulis percuma.

atau 'bebunyian logam-logam sebagai peralatan standar sapi perah bertumbuk dengan gelas-gelas botol, etc.' something wrong with this sintence. apa yang seharusnya menjadi 'peralatan'? apakah bebunyian atau logam? apa yang 'bertumbuk' dengan gelas-gelas botol? apakah bebunyian atau logam? ini kejernihan yang kami bahas. juga logika kalimat tersebut. apakah bebunyian memang bisa bertumbuk? dan mengapa bertumbuknya dengan gelas-gelas botol? kata 'sebagai' memang hanya 7 karakter tapi wow, efeknya besar terhadap pemahaman kalimat.

yep, we do this kind of thing di kelas. kami kerjanya mempreteli karya. *korban-korbannya: pena kencana, laskar pelangi, ayat-ayat cinta, hubbu, dan forever apa gitu*

metafora daun-daun ikut getir saat si tokoh sedih sih bikin aku ngga bisa menikmatinya sebesar orang lain :D

solusi terbaik, ya editing. tulisan yang pertama kali keluar dari kepala kita tidak pernah menjadi tulisan final. karena pekerjaan editing dengan menulis adalah pekerjaan berbeda.

tapiii silakan yang ingin menikmati buku ini. toh saya hanya penulis amatir tanpa nama yang bisanya hanya menyesatkan ehehehe :D *om Pinang mode on ... eh om Pin sih ngga amatir yak*

flag abuse *

message 20: by gieb
05/22/2008 09:01PM

633463 dan itulah sastra! sastra adalah tujuan ziarah kemerdekaan pemikiran. (lepas dari persoalan teknis tulisan yang pada dasarnya bisa dipelajari)

sastra mungkin tidak bisa memberikan nilai yang baik dan buruk. tapi sastra bisa menawarkan keharmonisan hidup. sastra bisa menghadirkan permenungan. sastra memberikan penjernihan jiwa. pada gilirannya sastra bisa mengerem kerakusan, penjajahan, kekuasaan, ketidakadilan.

dus, mari, berdamai dengan tetek bengek teknis. pikirkan hakikatnya sebuah karya sastra. sebuah pola pikir untuk memerdekakan pikiran.

gieb,
sekedar penikmat. tak lebih. itu saja.

flag abuse *

message 21: by Pakcik (last edited 05/22/2008 09:09PM)
05/22/2008 09:05PM

Nophoto-m-25x33 Hmmm, jadi prosa itu ketat logika. Juga terhadap metafor yang ada di dalamnya. Begitu ya Win.. Bagaimana dengan Olenka ? Windry udah baca Olenka ?

Dan saya tidak pernah membaca buku karena tertarik nama penulisnya. Sesuai pesan Ali ra. Jadi bagi saya semua penulis sama besarnya. Karena kerja menulis sebenarnya adalah kerja ilmiah yang memiliki prosedur-prosedur ketat. Bukan kerja mbengong sambil megang mug kopi terus nulis. Hehehehe...

Jadi asyik nih diskusinya..

flag abuse *

message 22: by Caklul
05/22/2008 09:11PM

895543 Hehehehehe... kalau gramernya berantakan... berarti tulisan tersebut tidak bisa dibaca, dong...

Ajari aku dong, Windry... Bagaimana cara membaca gramer yang salah... Aku belum pernah ikutan semacam TOEFEL untuk bahasa Indonesia.

Aku juga pengen belajar gaya bahasa.. antara gramer dengan gaya bahasa itu beda, kan? Sebab, sering sekali saya memosisikan sama antara gaya bahasa dengan gramer...

Aku juga sering bingung tentang ejaan. Sering kali saya susah membedakan kata "sekedar" dengan "sekadar". Ketika aku buka KBBI Onlen, kata "sekedar" diberi tanda tanya (?), katamu, lewat seseorang, yang benar "sekedar". Lalu, kutunjukkan kata "kadar" pada teman kita, dan di sana terdapat kata "sekadar". Pengalamanku membuka kamus selalu berangkat dari kata dasar, bukan kata yang sudah berimbuhan... Untuk itu aku juga ingin belajar pada Windry.

Please... ajari aku juga membaca Lanang menjadi tidak nyaman... Sebab, aku sudah baca dari halaman 1-416, dengan sedikit selip-selip, aku merasa nyaman... apa yang salah dari cara bacaku, ya?





flag abuse *

message 23: by Windry (last edited 05/22/2008 09:24PM)
05/22/2008 09:13PM

145888 Gieb:
buat saya, teknis bukan tetek bengek :D *maaf yaaa*. tapi ada perbedaan besar antara TIDAK TAHU dengan NAKAL. penyelewengan teknis akan menjadi asyik kalau yang menyelewengkan memang sadar dia sedang melakukan penyelewengan. dan itu karena dia sudah faseh hal tetek bengek teknis.

Paman:
kalau metafor siy lebih ke selera, Paman. seperti pilihan rasa cheese cake. mau blueberry atau marble?
iyaaaw aku sudah baca Olenka. one of my fave :D.

flag abuse *

message 24: by Windry (last edited 05/25/2008 12:49AM)
05/22/2008 09:17PM

145888 hehehe, Caklul kayaknya lebih jago dari aku deh. aku siy masih hijau. PR-ku masih menumpuk di meja. *sok merendah*

sekadar dan sekedar dua-duanya baku, mas. keduanya ada di kamus. bisa jadi diambil dari 'kadar' bisa jadi dia tidak berasal dari kata dasar manapun. but some editors say, 'baku ngga baku ditentukan dari mayoritas pemakaian wakakaka.'

jadi kalau Lanang secara majority dibilang bagus, ya bagus :D. selesai perkara hehehe.

btw, keknya ngga ada hubungannya yak nyinggung2 masalah KBBI dengan pembahasan novel lanang. dan ya, gramar dan gaya bahasa memang dua hal yang berbeda. lalu? arah pembicaraan itu ke mana? penyindiran? pengujian? penyudutan? hehehe, yang mana saja boleh deh. just bring it on!

btw, lanjut nanti saja di TIM? gotta go niy. Bintaro jauh.

flag abuse *

message 25: by Pakcik
05/22/2008 09:23PM

Nophoto-m-25x33 Dalam Olenka Windry tidak terganggu ? Mengapa ? pasti bukan karena itu bukunya pak Budi Dharma dong ya.
Di Olenka banyak betul aturan tatabahasa yang tidak lazim kutemukan. Banyak betul metafor yang menurutku kurang logis di sana. Kalau memakai cara Windry membaca, aku akan meletakkan kembali buku Olenka curianku (nyuri punya sepupu sekitar 20 tahun silam..hehehe)ke lemari tanpa meyelesaikannya.

Tapi, persoalan selera dan gaya memang ndak bisa seragam. Kalau aku sih cheese cake sama aja, sama-sama mahal dan enak. Hehehehehe

flag abuse *


« previous 1 3 4
all Windry's books »