Windry's review
Lanang
by Yonathan Rahardjo
lepas dari benar tidaknya komentar yang dikutip di review itu, konon katanya memang disarankan untuk melakukan yang sama ke setiap penulis besar, yang dikagumi sekalipun. Entah karena masih ada kesalahan seremeh apapun itu, kayak salah ketik ato ungkapan yang ngaco. Yang hebat ada kurangnya, bisa jadi yang belum hebat juga ada lebihnya. Alias, Membesarkan hati kalo lagi terserang demam minder.
Pera: baca saja auw silakan dan lihat bagaimana struktur bahasa di buku ini berantakan. bagaimana logika tidak mendukung plot dengan kuat. menunjukkan ketidakterampilan dan ketidakjernihan *menulis kan kegiatan berpikir jernih*
Nanto: mas, buku ini ngga hebat :D really. saat tahu buku ini memenangkan sayembara (walaupun bukan juara satu), kami komentar, "oh semudah itu menang sayembara DKJ?"
bukan kesalahan2 kecil (detil terlupa, salah ketik atau 'de javu' seperti yang kerap muncul di cerpen2 kompas, but they are on all pages. kurasa, semangat menulis yang besar tapi tidak diimbangi semangat editing yang besar juga. editing adalah hal paling krusial, bukan sekedar koreksi eyd tapi juga masalah logika cerita, bab, paragraf, kalimat, kata.
pertanyaan termanis siy ... juri-nya siapa tho?
btw, diskusi buku ini akan berlangsung di TIM hari jumat tgl 23 jam 2 siang, dengan salah satu pembicara Yusi Pareanom (pemilik Banana Publisher).
Kyaaa.. kalo teater pengeeennn!! Eh bukannya teater Ras? ntu tuh yang mentasin Rashomon or something?
iyak itu juga ada. waktunya barengan, beda gedung (situ situ juga). Garasi sih udah cukup terkenal bagusnya. kalau Ras, aku belum pernah tahu.
Luwes tuh yang sebelah mana Wind? daku takut nyasar, ntar disangka artis trus diajak mentas bareng.. *whoopsss mesti siap bawa foto bertanda-tangan nih*
wah pertanyaan bagus :D *ngga tahu juga wakakakaka*
Luwes itu gedung teaternya IKJ dan IKJ ada di belakang TIM, masuknya lewat pintu TIM juga.
Yo wes, berbekal peta buta dan arahan yang sangat jelas dari Windry *jelas-jelas gak tau tempatnya :p* gue coba deh melangkah kebalik semak-semak IKJ nyari gedung Luwes. Paling² nyasar nyampe ke masjid.
hehehehe ... saya bukan murid buta, sayang sekali. di kelas, kami para murid saja mengritik cerpen Sulak kok kalau emang ngga oke. peraturan di kelas: tidak ada yang boleh sakit hati.
by the way ... yep, i've read the book (kami sekelas membacanya). have you, Paman? kalau sudah baca (dengan teliti dan jernih), Paman pasti juga melihat bagaimana gramar tidak digunakan dengan jernih di buku itu. dan dengar-dengar, om Yon memang menolak editing. so ... i think we have the answer :D
Ya, sudah dibaca Win. Karena aku bukan pembaca yang rajin, maka aku jarang sekali membaca. Yang aku baca adalah yang memang ingin kubaca. LANANG kubaca juga dengan jernih. Pasti itu, aku ndak mau dong waktuku sia-sia dengan membaca tanpa mengambil manfaat dari bacaanku.
Dalam membaca LANANG, aku mengalami antusias menuntaskan buku ini naik turun. Aneh memang. Apalagi bila mentelengi Grammar (tatabahasa maksudnya, kan Win ?)nya.. Cuma aku kurang begitu terpaku dalam urutan teks ya..terlebih persoalan Grammar ini. Bila bahasa adalah arbitrase, tatabahasa apakah tidak mungkin pula berada pada wilayah yang masih dapat didiskusikan ?
Buku ini seakan tuturan mas Yon ke telingaku. Menurutku ini sebabnya aku jadi tidak objektif dalam memberikan penilaian, sebab aku hafal lantunan suara dan isi suara mas Yon. Kalau Windry dan pembaca lain memperhatikan kata pengantar yang ditulis mbak Medy Loekito, mungkin sudah mendapatkan kunci untuk menikmati buku ini selain dari melakukan tindakan forensik pada sisi tatabahasa dan plot dan logika dan..dan..dan...
Sebab buku ini memang NOVELPUISI. Dan dalam menafsirkan puisi, aku biasanya tidak mempercayai teks 100%.
Dan aku tidak tahu apakah mas Yon menolak editing atau tidak. Rasaku ini gak perlu menjadi satu argumen bagiku untuk menikmati novelpuisi ini..hehehehe..
salam DownUnderTheGround
pakcik
saya prosais tulen len len len, Paman. jadi kejernihan adalah salah satu hal penting yang saya perhatikan.
apa yang dilakukan om Yon di buku ini berbeda dengan kenakalan-kenakalan om Joni dalam membelokkan aturan gramar. walau om Joni sering membuang subyek dalam kalimat-kalimatnya, pembaca tidak tersesat. mereka tetap menerima transfer informasi yang jernih dari penulis. ini sebenarnya hal yang kemarin kami bahas di kelas. kami (prosais) tidak bisa membuat pembaca bingung dalam prosa.
saat ada sebuah paragraf menggunakan 'dia' atau 'mereka' ... pembaca harus tahu pasti siapa yang dirujuk. dan tentunya, kalimat-kalimat di dalam paragraf itu sangat mempengaruhi hal ini.
frase 'bisik lirih', misalnya. hal sepele yang bagi kami krusial. prosa tidak sepadat puisi tapi prosais juga tidak bisa membiarkan satu kata tertulis percuma.
atau 'bebunyian logam-logam sebagai peralatan standar sapi perah bertumbuk dengan gelas-gelas botol, etc.' something wrong with this sintence. apa yang seharusnya menjadi 'peralatan'? apakah bebunyian atau logam? apa yang 'bertumbuk' dengan gelas-gelas botol? apakah bebunyian atau logam? ini kejernihan yang kami bahas. juga logika kalimat tersebut. apakah bebunyian memang bisa bertumbuk? dan mengapa bertumbuknya dengan gelas-gelas botol? kata 'sebagai' memang hanya 7 karakter tapi wow, efeknya besar terhadap pemahaman kalimat.
yep, we do this kind of thing di kelas. kami kerjanya mempreteli karya. *korban-korbannya: pena kencana, laskar pelangi, ayat-ayat cinta, hubbu, dan forever apa gitu*
metafora daun-daun ikut getir saat si tokoh sedih sih bikin aku ngga bisa menikmatinya sebesar orang lain :D
solusi terbaik, ya editing. tulisan yang pertama kali keluar dari kepala kita tidak pernah menjadi tulisan final. karena pekerjaan editing dengan menulis adalah pekerjaan berbeda.
tapiii silakan yang ingin menikmati buku ini. toh saya hanya penulis amatir tanpa nama yang bisanya hanya menyesatkan ehehehe :D *om Pinang mode on ... eh om Pin sih ngga amatir yak*
dan itulah sastra! sastra adalah tujuan ziarah kemerdekaan pemikiran. (lepas dari persoalan teknis tulisan yang pada dasarnya bisa dipelajari)
sastra mungkin tidak bisa memberikan nilai yang baik dan buruk. tapi sastra bisa menawarkan keharmonisan hidup. sastra bisa menghadirkan permenungan. sastra memberikan penjernihan jiwa. pada gilirannya sastra bisa mengerem kerakusan, penjajahan, kekuasaan, ketidakadilan.
dus, mari, berdamai dengan tetek bengek teknis. pikirkan hakikatnya sebuah karya sastra. sebuah pola pikir untuk memerdekakan pikiran.
gieb,
sekedar penikmat. tak lebih. itu saja.
Hmmm, jadi prosa itu ketat logika. Juga terhadap metafor yang ada di dalamnya. Begitu ya Win.. Bagaimana dengan Olenka ? Windry udah baca Olenka ?
Dan saya tidak pernah membaca buku karena tertarik nama penulisnya. Sesuai pesan Ali ra. Jadi bagi saya semua penulis sama besarnya. Karena kerja menulis sebenarnya adalah kerja ilmiah yang memiliki prosedur-prosedur ketat. Bukan kerja mbengong sambil megang mug kopi terus nulis. Hehehehe...
Jadi asyik nih diskusinya..
Hehehehehe... kalau gramernya berantakan... berarti tulisan tersebut tidak bisa dibaca, dong...
Ajari aku dong, Windry... Bagaimana cara membaca gramer yang salah... Aku belum pernah ikutan semacam TOEFEL untuk bahasa Indonesia.
Aku juga pengen belajar gaya bahasa.. antara gramer dengan gaya bahasa itu beda, kan? Sebab, sering sekali saya memosisikan sama antara gaya bahasa dengan gramer...
Aku juga sering bingung tentang ejaan. Sering kali saya susah membedakan kata "sekedar" dengan "sekadar". Ketika aku buka KBBI Onlen, kata "sekedar" diberi tanda tanya (?), katamu, lewat seseorang, yang benar "sekedar". Lalu, kutunjukkan kata "kadar" pada teman kita, dan di sana terdapat kata "sekadar". Pengalamanku membuka kamus selalu berangkat dari kata dasar, bukan kata yang sudah berimbuhan... Untuk itu aku juga ingin belajar pada Windry.
Please... ajari aku juga membaca Lanang menjadi tidak nyaman... Sebab, aku sudah baca dari halaman 1-416, dengan sedikit selip-selip, aku merasa nyaman... apa yang salah dari cara bacaku, ya?
Gieb:
buat saya, teknis bukan tetek bengek :D *maaf yaaa*. tapi ada perbedaan besar antara TIDAK TAHU dengan NAKAL. penyelewengan teknis akan menjadi asyik kalau yang menyelewengkan memang sadar dia sedang melakukan penyelewengan. dan itu karena dia sudah faseh hal tetek bengek teknis.
Paman:
kalau metafor siy lebih ke selera, Paman. seperti pilihan rasa cheese cake. mau blueberry atau marble?
iyaaaw aku sudah baca Olenka. one of my fave :D.
hehehe, Caklul kayaknya lebih jago dari aku deh. aku siy masih hijau. PR-ku masih menumpuk di meja. *sok merendah*
sekadar dan sekedar dua-duanya baku, mas. keduanya ada di kamus. bisa jadi diambil dari 'kadar' bisa jadi dia tidak berasal dari kata dasar manapun. but some editors say, 'baku ngga baku ditentukan dari mayoritas pemakaian wakakaka.'
jadi kalau Lanang secara majority dibilang bagus, ya bagus :D. selesai perkara hehehe.
btw, keknya ngga ada hubungannya yak nyinggung2 masalah KBBI dengan pembahasan novel lanang. dan ya, gramar dan gaya bahasa memang dua hal yang berbeda. lalu? arah pembicaraan itu ke mana? penyindiran? pengujian? penyudutan? hehehe, yang mana saja boleh deh. just bring it on!
btw, lanjut nanti saja di TIM? gotta go niy. Bintaro jauh.
Dalam Olenka Windry tidak terganggu ? Mengapa ? pasti bukan karena itu bukunya pak Budi Dharma dong ya.
Di Olenka banyak betul aturan tatabahasa yang tidak lazim kutemukan. Banyak betul metafor yang menurutku kurang logis di sana. Kalau memakai cara Windry membaca, aku akan meletakkan kembali buku Olenka curianku (nyuri punya sepupu sekitar 20 tahun silam..hehehe)ke lemari tanpa meyelesaikannya.
Tapi, persoalan selera dan gaya memang ndak bisa seragam. Kalau aku sih cheese cake sama aja, sama-sama mahal dan enak. Hehehehehe
Windry's review
Lanang by Yonathan Rahardjo
Windry's review
rating:
![]()
![]()
![]()
![]()
bookshelves:
fiction,
indonesian
Yusi said,
"saat mental kalian sedang drop, buka buku ini. halaman berapa saja. tertawa-lah. dan kalian akan merasa lebih baik.
karena masih banyak yang lebih buruk dari tulisan kalian.
dan tulisan itu menang sayembara DKJ."
:D
"saat mental kalian sedang drop, buka buku ini. halaman berapa saja. tertawa-lah. dan kalian akan merasa lebih baik.
karena masih banyak yang lebih buruk dari tulisan kalian.
dan tulisan itu menang sayembara DKJ."
:D
lepas dari benar tidaknya komentar yang dikutip di review itu, konon katanya memang disarankan untuk melakukan yang sama ke setiap penulis besar, yang dikagumi sekalipun. Entah karena masih ada kesalahan seremeh apapun itu, kayak salah ketik ato ungkapan yang ngaco. Yang hebat ada kurangnya, bisa jadi yang belum hebat juga ada lebihnya. Alias, Membesarkan hati kalo lagi terserang demam minder.
Pera: baca saja auw silakan dan lihat bagaimana struktur bahasa di buku ini berantakan. bagaimana logika tidak mendukung plot dengan kuat. menunjukkan ketidakterampilan dan ketidakjernihan *menulis kan kegiatan berpikir jernih*
Nanto: mas, buku ini ngga hebat :D really. saat tahu buku ini memenangkan sayembara (walaupun bukan juara satu), kami komentar, "oh semudah itu menang sayembara DKJ?"
bukan kesalahan2 kecil (detil terlupa, salah ketik atau 'de javu' seperti yang kerap muncul di cerpen2 kompas, but they are on all pages. kurasa, semangat menulis yang besar tapi tidak diimbangi semangat editing yang besar juga. editing adalah hal paling krusial, bukan sekedar koreksi eyd tapi juga masalah logika cerita, bab, paragraf, kalimat, kata.
pertanyaan termanis siy ... juri-nya siapa tho?
btw, diskusi buku ini akan berlangsung di TIM hari jumat tgl 23 jam 2 siang, dengan salah satu pembicara Yusi Pareanom (pemilik Banana Publisher).
Kyaaa.. kalo teater pengeeennn!! Eh bukannya teater Ras? ntu tuh yang mentasin Rashomon or something?
iyak itu juga ada. waktunya barengan, beda gedung (situ situ juga). Garasi sih udah cukup terkenal bagusnya. kalau Ras, aku belum pernah tahu.
Luwes tuh yang sebelah mana Wind? daku takut nyasar, ntar disangka artis trus diajak mentas bareng.. *whoopsss mesti siap bawa foto bertanda-tangan nih*
wah pertanyaan bagus :D *ngga tahu juga wakakakaka*Luwes itu gedung teaternya IKJ dan IKJ ada di belakang TIM, masuknya lewat pintu TIM juga.
Yo wes, berbekal peta buta dan arahan yang sangat jelas dari Windry *jelas-jelas gak tau tempatnya :p* gue coba deh melangkah kebalik semak-semak IKJ nyari gedung Luwes. Paling² nyasar nyampe ke masjid.
hehehehe ... saya bukan murid buta, sayang sekali. di kelas, kami para murid saja mengritik cerpen Sulak kok kalau emang ngga oke. peraturan di kelas: tidak ada yang boleh sakit hati.
by the way ... yep, i've read the book (kami sekelas membacanya). have you, Paman? kalau sudah baca (dengan teliti dan jernih), Paman pasti juga melihat bagaimana gramar tidak digunakan dengan jernih di buku itu. dan dengar-dengar, om Yon memang menolak editing. so ... i think we have the answer :D
Ya, sudah dibaca Win. Karena aku bukan pembaca yang rajin, maka aku jarang sekali membaca. Yang aku baca adalah yang memang ingin kubaca. LANANG kubaca juga dengan jernih. Pasti itu, aku ndak mau dong waktuku sia-sia dengan membaca tanpa mengambil manfaat dari bacaanku.
Dalam membaca LANANG, aku mengalami antusias menuntaskan buku ini naik turun. Aneh memang. Apalagi bila mentelengi Grammar (tatabahasa maksudnya, kan Win ?)nya.. Cuma aku kurang begitu terpaku dalam urutan teks ya..terlebih persoalan Grammar ini. Bila bahasa adalah arbitrase, tatabahasa apakah tidak mungkin pula berada pada wilayah yang masih dapat didiskusikan ?
Buku ini seakan tuturan mas Yon ke telingaku. Menurutku ini sebabnya aku jadi tidak objektif dalam memberikan penilaian, sebab aku hafal lantunan suara dan isi suara mas Yon. Kalau Windry dan pembaca lain memperhatikan kata pengantar yang ditulis mbak Medy Loekito, mungkin sudah mendapatkan kunci untuk menikmati buku ini selain dari melakukan tindakan forensik pada sisi tatabahasa dan plot dan logika dan..dan..dan...
Sebab buku ini memang NOVELPUISI. Dan dalam menafsirkan puisi, aku biasanya tidak mempercayai teks 100%.
Dan aku tidak tahu apakah mas Yon menolak editing atau tidak. Rasaku ini gak perlu menjadi satu argumen bagiku untuk menikmati novelpuisi ini..hehehehe..
salam DownUnderTheGround
pakcik
saya prosais tulen len len len, Paman. jadi kejernihan adalah salah satu hal penting yang saya perhatikan. apa yang dilakukan om Yon di buku ini berbeda dengan kenakalan-kenakalan om Joni dalam membelokkan aturan gramar. walau om Joni sering membuang subyek dalam kalimat-kalimatnya, pembaca tidak tersesat. mereka tetap menerima transfer informasi yang jernih dari penulis. ini sebenarnya hal yang kemarin kami bahas di kelas. kami (prosais) tidak bisa membuat pembaca bingung dalam prosa.
saat ada sebuah paragraf menggunakan 'dia' atau 'mereka' ... pembaca harus tahu pasti siapa yang dirujuk. dan tentunya, kalimat-kalimat di dalam paragraf itu sangat mempengaruhi hal ini.
frase 'bisik lirih', misalnya. hal sepele yang bagi kami krusial. prosa tidak sepadat puisi tapi prosais juga tidak bisa membiarkan satu kata tertulis percuma.
atau 'bebunyian logam-logam sebagai peralatan standar sapi perah bertumbuk dengan gelas-gelas botol, etc.' something wrong with this sintence. apa yang seharusnya menjadi 'peralatan'? apakah bebunyian atau logam? apa yang 'bertumbuk' dengan gelas-gelas botol? apakah bebunyian atau logam? ini kejernihan yang kami bahas. juga logika kalimat tersebut. apakah bebunyian memang bisa bertumbuk? dan mengapa bertumbuknya dengan gelas-gelas botol? kata 'sebagai' memang hanya 7 karakter tapi wow, efeknya besar terhadap pemahaman kalimat.
yep, we do this kind of thing di kelas. kami kerjanya mempreteli karya. *korban-korbannya: pena kencana, laskar pelangi, ayat-ayat cinta, hubbu, dan forever apa gitu*
metafora daun-daun ikut getir saat si tokoh sedih sih bikin aku ngga bisa menikmatinya sebesar orang lain :D
solusi terbaik, ya editing. tulisan yang pertama kali keluar dari kepala kita tidak pernah menjadi tulisan final. karena pekerjaan editing dengan menulis adalah pekerjaan berbeda.
tapiii silakan yang ingin menikmati buku ini. toh saya hanya penulis amatir tanpa nama yang bisanya hanya menyesatkan ehehehe :D *om Pinang mode on ... eh om Pin sih ngga amatir yak*
dan itulah sastra! sastra adalah tujuan ziarah kemerdekaan pemikiran. (lepas dari persoalan teknis tulisan yang pada dasarnya bisa dipelajari) sastra mungkin tidak bisa memberikan nilai yang baik dan buruk. tapi sastra bisa menawarkan keharmonisan hidup. sastra bisa menghadirkan permenungan. sastra memberikan penjernihan jiwa. pada gilirannya sastra bisa mengerem kerakusan, penjajahan, kekuasaan, ketidakadilan.
dus, mari, berdamai dengan tetek bengek teknis. pikirkan hakikatnya sebuah karya sastra. sebuah pola pikir untuk memerdekakan pikiran.
gieb,
sekedar penikmat. tak lebih. itu saja.
Hmmm, jadi prosa itu ketat logika. Juga terhadap metafor yang ada di dalamnya. Begitu ya Win.. Bagaimana dengan Olenka ? Windry udah baca Olenka ?
Dan saya tidak pernah membaca buku karena tertarik nama penulisnya. Sesuai pesan Ali ra. Jadi bagi saya semua penulis sama besarnya. Karena kerja menulis sebenarnya adalah kerja ilmiah yang memiliki prosedur-prosedur ketat. Bukan kerja mbengong sambil megang mug kopi terus nulis. Hehehehe...
Jadi asyik nih diskusinya..
Hehehehehe... kalau gramernya berantakan... berarti tulisan tersebut tidak bisa dibaca, dong...Ajari aku dong, Windry... Bagaimana cara membaca gramer yang salah... Aku belum pernah ikutan semacam TOEFEL untuk bahasa Indonesia.
Aku juga pengen belajar gaya bahasa.. antara gramer dengan gaya bahasa itu beda, kan? Sebab, sering sekali saya memosisikan sama antara gaya bahasa dengan gramer...
Aku juga sering bingung tentang ejaan. Sering kali saya susah membedakan kata "sekedar" dengan "sekadar". Ketika aku buka KBBI Onlen, kata "sekedar" diberi tanda tanya (?), katamu, lewat seseorang, yang benar "sekedar". Lalu, kutunjukkan kata "kadar" pada teman kita, dan di sana terdapat kata "sekadar". Pengalamanku membuka kamus selalu berangkat dari kata dasar, bukan kata yang sudah berimbuhan... Untuk itu aku juga ingin belajar pada Windry.
Please... ajari aku juga membaca Lanang menjadi tidak nyaman... Sebab, aku sudah baca dari halaman 1-416, dengan sedikit selip-selip, aku merasa nyaman... apa yang salah dari cara bacaku, ya?
Gieb:
buat saya, teknis bukan tetek bengek :D *maaf yaaa*. tapi ada perbedaan besar antara TIDAK TAHU dengan NAKAL. penyelewengan teknis akan menjadi asyik kalau yang menyelewengkan memang sadar dia sedang melakukan penyelewengan. dan itu karena dia sudah faseh hal tetek bengek teknis.
Paman:
kalau metafor siy lebih ke selera, Paman. seperti pilihan rasa cheese cake. mau blueberry atau marble?
iyaaaw aku sudah baca Olenka. one of my fave :D.
hehehe, Caklul kayaknya lebih jago dari aku deh. aku siy masih hijau. PR-ku masih menumpuk di meja. *sok merendah*
sekadar dan sekedar dua-duanya baku, mas. keduanya ada di kamus. bisa jadi diambil dari 'kadar' bisa jadi dia tidak berasal dari kata dasar manapun. but some editors say, 'baku ngga baku ditentukan dari mayoritas pemakaian wakakaka.'
jadi kalau Lanang secara majority dibilang bagus, ya bagus :D. selesai perkara hehehe.
btw, keknya ngga ada hubungannya yak nyinggung2 masalah KBBI dengan pembahasan novel lanang. dan ya, gramar dan gaya bahasa memang dua hal yang berbeda. lalu? arah pembicaraan itu ke mana? penyindiran? pengujian? penyudutan? hehehe, yang mana saja boleh deh. just bring it on!
btw, lanjut nanti saja di TIM? gotta go niy. Bintaro jauh.
Dalam Olenka Windry tidak terganggu ? Mengapa ? pasti bukan karena itu bukunya pak Budi Dharma dong ya.
Di Olenka banyak betul aturan tatabahasa yang tidak lazim kutemukan. Banyak betul metafor yang menurutku kurang logis di sana. Kalau memakai cara Windry membaca, aku akan meletakkan kembali buku Olenka curianku (nyuri punya sepupu sekitar 20 tahun silam..hehehe)ke lemari tanpa meyelesaikannya.
Tapi, persoalan selera dan gaya memang ndak bisa seragam. Kalau aku sih cheese cake sama aja, sama-sama mahal dan enak. Hehehehehe



