Irwan's Reviews > Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari
Rate this book
Clear rating

by
183639
's review
Jan 10, 09

bookshelves: finished, 2009
Read in January, 2009

Excellent!! Sebuah karya tulis yang solid. Penceritaannya mengalir lancar. Penokohannya kompleks.

Dukuh Paruk adalah sebuah mikrokosmos dengan tata nilainya yang khas. Ronggeng - yang diluar dukuh paruk dikonotasikan dengan kecabulan - adalah sebuah institusi yang wajar dan diterima, bahkan dibanggakan dalam tata nilai tersebut. Fenomena ronggeng adalah simbol power dalam Dukuh Paruk. Srintil, sang Ronggeng, dengan kecantikannya menjadi pujaan para pria dan berkuasa untuk mengendalikan, menerima atau menolak permintaan pemuasan kebutuhan birahi mereka. Dia juga menjadi kebanggaan para wanita yang memproyeksikan 'ketidak-berdayaan' mereka terhadap lelaki dalam konteks seksualitas tradisional. Lewat Srintil-lah mereka bisa berangan-angan untuk membuat para lelaki takluk dan menuruti kemauan perempuan. Dukuh Paruk dengan kemelaratan dan kebodohannya memiliki tabiat yang sangat liberal. Penulis novel ini berhasil membangun mikrokosmos tersebut.

Dunia kecil Dukuh Paruk lantas ditempatkan dalam konteks yang lebih besar, yaitu Indonesia pada masa gonjang-ganjing PKI 1965. Dukuh Paruk, yang diwakili Ronggengnya, yang buta huruf dan buta politik, terseret dalam sebuah fitnah besar yang membuat mereka harus dihukum dan direndahkan. Cap komunis adalah sebuah dosa tak berampun hingga penyandangnya (sadar atau tidak) harus dihukum dan direndahkan martabatnya. (Btw, bagian inikah yang disensor pada masa Suharto?)

Gonjang-ganjing yang menjungkirbalikkan kehidupan di Dukuh Paruk itu menjadi latar dari perjalanan dalam ruang batin tokoh Srintil sendiri. Proses penemuan bakat ronggengnya mengingatkanku pada disiplin geisha yang dipotret dalam cerita Memoir of A Geisha (aku baru melihat filmnya saja), mulai dari pelajaran menyanyi, menari dan merias diri sampai sayembara bukak klambu. Perjalanan cinta sejatinya kepada Rasus pada puncak karier keronggengannya malah menerbitkan sebuah impian mustahil untuk menjadi ibu rumah tangga. Kemudian pengalaman dipenjara sebagai tahanan politik semakin menambah kuatnya hasrat untuk meninggalkan dunia ronggeng dan meraih impian mustahil tadi. Pada titik ini penulis punya pilihan untuk mewujudkan impian tersebut dan layaknya sebuah dongeng everyone will live happily ever after. Namun ternyata tidak, kisah ini adalah sebuah tragedi. Semua pergulatan batin tokoh utama tersebut dituliskan dengan baik.

Tokoh-tokoh pendukungnya juga diolah dengan baik. Rasus diberikan masa lalu yang membuat gambarannya terhadap Srintil cukup tidak sehat (Freudian analysis here?). Hal inilah yang berperan penting pada tragedi kehidupan Srintil. Sakum sang tukang calung, pasangan Sakarya, pasangan Kartareja, dan lain-lain, semuanya menguatkan penggambaran dunia kecil Dukuh Paruk tersebut.

Dari semua paparan diatas, aku setuju dengan Sapardi yang dalam blurb nya mengatakan bahwa novel ini menunjukkan kepiawaian Ahmad Tohari dalam mendongeng. Ini adalah karya yang juga layak untuk diapresiasi dunia internasional.


7 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Ronggeng Dukuh Paruk.
Sign In »

Reading Progress

12/27/2008 page 90
22.67%
show 7 hidden updates…

Comments (showing 1-35)




dateUp arrow    newest »

Hippo dari Hongkong Excellent = bintang lima :D
duh, jadi pengen baca


Dharwiyanti emang bagus kok!


message 33: by Roos (new)

Roos Waduh...jadi pengen baca nih. Vote dulu yah Mas Irwan.


Hippo dari Hongkong prasaan kemaren tulisannya cuman "excellent" doang. Sekarang ada buntutnya :D
vote ah, sekalian mo baca aja bukunya.


Irwan hehehe... beli "daging" dulu sebelum bikin reviewnya :-)


message 30: by Endah (last edited Jan 11, 2009 11:43PM) (new) - rated it 5 stars

Endah kabarnya pak tohari sempat berang dan kecewa berat saat buku ini daingkat ke film dengan judul Darah Mahkota Ronggeng. Pemerannya Enny Beatrix.


Irwan Really?? Aku sih belum liat filmnya, tapi dari judul dan pemerannya aku bisa menduga filmnya kayak apa :-))


message 28: by Hippo dari Hongkong (last edited Jan 11, 2009 11:48PM) (new) - rated it 5 stars

Hippo dari Hongkong nah, gara2 film itu *blom nonton sih* yang ada dipikiran jadinya nganggap buku ini buku saru. maklum, pemerannya "bom sex" sih :D


Irwan oh kirain karena nganggap buku ini chicklit :-)


Endah ya memang, akhirnya spt film "saru" karena yang diekspos bgn bukak kelambunya itu. Enny Beatrix kan saat itu terkenal sbg bintang film seks, ya?


Hippo dari Hongkong Irwan wrote: "oh kirain karena nganggap buku ini chicklit :-)"

bwahahaha.. bawa2 chicklit lagi
dulu kalo gak salah pas SMP film keluar

@endah
dah nonton film nya ya? iya, dia bom seks seangkatan eva arnaz, hihihihi


Endah pak toh juga pernah cerita loh. Katanya nih, tokoh Rasus itu terinspirasi pengalaman beliau wkt remaja.


message 23: by Endah (last edited Jan 11, 2009 11:58PM) (new) - rated it 5 stars

Endah @Erie
aku sdh ntn filmnya tapi udah lamaaaaaa....banget. Sutradaranya kalau ga salah chaerul umam.


Irwan o'ow.. bagian dari karakter Rasus yang cukup "menganggu" adalah ketika dia mengasosiasikan Srintil dengan ibunya. Mungkin ini yang membuat hubungan mereka jadi tidak berjalan lancar...


Endah oh maaf, judul filmnya ternyata Darah dan Mahkota Ronggeng. Dan yang benar itu Enny Beatrice :D *habis googling*


Endah Aku mencatat ada juga yg janggal di buku RDP ini. Ingat ga wkt Srintil menyusui Goder, anak tetangganya itu? Apakah perempuan yang belum pernah hamil dan melahirkan, bisa mengeluarkan air susu?


Dharwiyanti Chaerul Umam rasanya bikin film Sunan Kalijaga juga ya?

btw, apa Pak Tohari nggak tau waktu buku ini mau difilmkan?


Irwan Endah wrote: "Aku mencatat ada juga yg janggal di buku RDP ini. Ingat ga wkt Srintil menyusui Goder, anak tetangganya itu? Apakah perempuan yang belum pernah hamil dan melahirkan, bisa mengeluarkan air susu?"

Bener juga. Kalo ini mungkin sebuah kejanggalan. Kalo yang aku sebutkan sebelumnya bisa dilihat sebagai kompleksitas karakter Rasus (yang diambil dari pengalaman pribadi penulis?).




Hippo dari Hongkong Dharwiyanti wrote: "Chaerul Umam rasanya bikin film Sunan Kalijaga juga ya?

btw, apa Pak Tohari nggak tau waktu buku ini mau difilmkan?"


mestinya sih tau, pan produser film kudu beli hak ciptanya dulu. sepertinya pak tohari gak tau kalo filmnya bakal berkonsentrasi ke adegan "bukak kelambu" kayaknya :D


message 16: by Endah (last edited Jan 12, 2009 12:18AM) (new) - rated it 5 stars

Endah Irwan, bukankah anak lelaki memang sgt memuja ibu mereka? :D itulah sebabnya antara menantu perempuan dg mertua perempuan sering tdk bisa damai. Mereka berebut cinta dan perhatian si anak lelaki :D

Ada lagi kejanggalan lain. Tohari mendeskripsikan suasana yang indah dengan pelangi yang terlihat di di langit timur pada suatu pagi hari.


Irwan Erie wrote: "Dharwiyanti wrote: "Chaerul Umam rasanya bikin film Sunan Kalijaga juga ya?

btw, apa Pak Tohari nggak tau waktu buku ini mau difilmkan?"

mestinya sih tau, pan produser film kudu beli hak ciptanya..."



Film yang tidak setia pada buku aslinya kan bukan barang baru. Kalo aku jadi Pak Tohari, melihat casting filmnya aja pasti dah bisa menduga-duga.
Btw, aku dengar film Laskar Pelangi juga gak terlalu setia pada bukunya. Bener gak?




Endah oh pak tohari tentu tahu dong bukunya mau difilmkan. Dan itu atas izinnya (teken kontrak). tetapi mungkin pak tohari tdk menduga kalau akhirnya seperti itu. Seperti juga Romo Mangun yang kecewa berat dengan film Roro Mendut.


Irwan Endah wrote: "Irwan, bukankah anak lelaki memang sgt memuja ibu mereka? :D itulah sebabnya antara menantu perempuan dg mertua perempuan sering tdk bisa damai. Mereka berebut cinta dan perhatian si anak lelaki :D..."

Masalahnya dalam novel ini tidak ada figur ibu mertua. Tapi "gangguan" itu ada dalam diri Rasus sendiri :-)




Endah iya memang. tp maksudku, anak lelaki yg memuja ibu mereka kan kasus yang umum :D


Endah oh ok. Terima kasih, Po :D


Endah *lagi baca ulasan Hikmat yang darmawan* :D


Irwan Btw, apa yang bisa dilakukan penulis ya kalo bukunya di"seleweng"kan?


Endah kalau pak toh cuma bisa ngedumel :D


Irwan Endah wrote: "kalau pak toh cuma bisa ngedumel :D"

hehehe... kasian ya...


Hippo dari Hongkong Irwan wrote: "Btw, apa yang bisa dilakukan penulis ya kalo bukunya di"seleweng"kan? "

bagusnya sih pak toh ikut "terlibat" ato "dilibatkan" dalam proses pembuatannya. soalnya ada author yang ogah terlibat. mereka cuman jual hak ciptanya doang, gak mau urusan mo jadi kek apa filmnya terserah. ato dalam kasus ini bisa jadi pak toh kecolongan ya?




nanto toss!!!

kita sama menilainya excellent sama menilainya sarat pesan yang layak dinikmati dunia internasional!

Bravo Pak Toh!!


Irwan toss!!


message 3: by [deleted user] (new)

Kalau ceritanya diselewangkan, apakah filmnya masih bisa menggunakan judul sesuai buku? Karena akan merusak esensi yg tertuang di buku, kan... :(


message 2: by Jaja (new)

Jaja susah mencari pengganti ahmad tohari.


Irwan Mas Eko, kok spam ya? Dan ini bukan kali pertama....

Eko wrote: "Eko Cahyono Kepada seluruh masyarakat Indonesia, yang mempunyai bahan bacaan, jenis dan kondisi tidak jadi masalah, saya mohon bersedia menyumbangkan ke Perpustakaan Anak Bangsa, ji jl Ahmad Yani, ..."


back to top