Palsay 's Reviews > Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar

Suluk Abdul Jalil by Agus Sunyoto
Rate this book
Clear rating

by
567709
's review
May 13, 08

bookshelves: sufism
Recommended to Palsay by: gre
Recommended for: everyone
Read in May, 2008

Terlepas dari persepsi apapun tentang Syaikh Abdul Jalil, atau yang terkenal dengan nama Syaikh Siti Jenar, buku ini menyajikan kisah yang dapat membuat kita terpental sebentar ke masa lalu, di kala sang tokoh kontroversial ini hidup.

”...Kesadaran San Ali tentang hakikat ’aku’ pribadi dan ’Aku’ semesta itu telah membawanya kesuatu hamparan kegamangan luar biasa dalam memaknai hidup. Jika sebelumnya, seperti murid2 padepokan yang lain, ia memiliki harapan besar untuk bisa menjadi penghuni surga yang penuh kenikmatan maka kini ia meragukan harapannya itu sebagai kebenaran mutlak. Bukankan surga pada hakikatnya adalah ’aku’ pribadi dan bukan ’Aku’ semesta yang menjadi sumber segala ’aku’? Bukankah ’aku’-ku akan menyatu dengan ’aku’ surga jika harapanku memang kesana? Bukankah agama mengajarkan intisari hakikat innalillahi wainnailaihi rajiun, yang bermakna sesungguhnya semua ’aku’ berasal dari ’Aku’, dan semua ’aku’ akan kembali ke ’Aku’ sebagai asal segala ’aku’...?”

”...Jika keberadaan ’aku’ pribadiku saja belum kuketahui hakikatnya, bagaimana mungkin aku mengetahui hakikat ’Aku’ semesta? Dan jika hakikat ’Aku’ semesta belum kuketahui, bagaimana ’aku’ bisa sampai kepadaNya?...”

Berawal dari pertanyaan2 itulah, maka perjalanan spritual San Ali, alias Abdul Jalil, alias Siti Jenar yang mengagumkan itu dimulai.

Buku kesatu dari pentalogi Suluk Syaikh Siti Jenar ini mencoba menceritakan sisi manusiawi seorang tokoh spiritual yang hidupnya berakhir dengan tragis. Tanpa bermaksud melakukan pembelaan, Penulis berusaha memaparkan sebuah biografi perjalanan hidup anak manusia dan pemikirannya yang penuh dengan logika sufistik yang memang kadang sulit dicerna dengan logika orang kebanyakan.

Tengok saja orang-orang yang tercatat sebagai guru-guru spiritualnya. Abdul Jalil tidak membatasi diri berguru hanya kepada orang suci yang disebut Syaikh saja. Namun ia juga belajar pada seorang Brahmana Hindu, mantan Perompak yang insyaf, saudagar kaya, ulama bobrok sampai pada pengemis yang mengais-ngais sampah, yang kesemuanya semakin mendekatkan dirinya pada ”Aku” yang dicarinya.

Sikap toleran Abdul Jalil didasari oleh ajaran pamannya, Ario Damar, alias Ario Abdillah. Sabdanya, ” O, Anak, Engkau tidak bisa menilai sesuatu ajaran sebagai sesuatu yang najis atau suci. Sebab, semua itu berasal dariNya. Semua milikNya. Perbedaan yang engkau lihat sebenarnya hanya pada tingkat penampakan indriawi belaka; hakikatnya adalah sama, yakni menuju hanya kepadaNya. Yang gelap maupun yang terang, semua menuju kepadaNya”

Nikmat sekali membaca suluk SSJ ini, seolah menyantap se krim yang membuat kita makin haus, begitulah kisah perjalanan ruhani SSJ dalam mencari Tuhannya. Yang menarik, diceritakan juga saat Abdul Jalil menemukan makna dari hijab-hijab misterius yang menyelubungi rahasia Illahi, suatu metafor mengenai tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba dan tujuh benteng.
Dengan segala daya upayanya, Abdul Jalil berusaha menyingkap hijab-hijab tersebut, salah satunya menanggalkan keakuannya, termasuk merelakan kehilangan segala yang dicintainya. Dikisahkan, sebagaimana layaknya seorang pemuda berusia baligh, Abdul jalilpun tak luput dari cobaan yang bernama cinta, terhadap seorang gadis cantik yang telah melabuhkan dirinya di rumput kerinduan.

”...Makin kuat ia berjuang menghalau keindahan nafsa dari relung-relung ingatan dan mahligai jiwanya, makin hanyut ia ke pusaran sungai kerinduan yang bermuara ke samudera cinta. Pikirannya terbang ke angkasa melintasi awan khayalan, menggapai rembulan dan bintang gemintang. Dan bagaikan burung patah sayap, begitulah ia merasakan dirinya terkapar tanpa daya melihat khayalnya terbang ke angkasa bermadu kasih dengan bayangan Nafsa, bidadari jiwanya...”

”...Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang-orang meringkuk kedinginan dalam tidur lelap, Abdul Jalil duduk di teras Masjid al-Isthilam sambil membatin, ’Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, o musafir papa, yang tak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa’”

Titik balik dari keterpurukan Abdul Jalil dari jerat cinta, adalah kala ia menemukan sahabat yang berasal dari Tabriz, yang mampu membuatnya melupakan nafsa.
Dan puncak perjalanan ruhaninya di buku kesatu ini adalah saat Abdul Jalil menjalankan Ibadah Haji, salah satunya adalah dimana ia diberikan penjelasan gamblang mengenai apa yang dimasud dengan Ruh al Haq, oleh seseorang yang sangat misterius.

Saya merekomendasikan buku ini untuk siapa saja, karena mungkin dapat membuka wawasan baru tentang seorang Sufi besar yang pernah hidup di tanah Jawa ini beratus-ratus tahun yang lalu.
7 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Suluk Abdul Jalil.
Sign In »

Comments (showing 1-8)




dateUp arrow    newest »

Phoenixfly saluuuttt... loe mampu menuliskan review atas kisah perjalanan si siti jenar..:).. lha diriku pun bahkan tak mampu menuliskan setiap image yang ada dalam pikiran gw tentang SSJ setelah membaca keseluruhan bukunya


Palsay  sahabatku, diriku sangat-sangat terpukau dengan kalimat-kalimat indah dalam buku ini, hingga kalau tak lelah jari ini, kalau tak harus berkejaran dengan deadline kerja dan kalau-kalau lainnya, ingin rasanya menuliskan kembali buku suluk yang sangat ruarr biasa ini...
karena 'aku', juga sangatlah merindukan 'Aku'...

huhuhuhu......jadi nelangsa sendiri...

(*ghainnya makin tebel soalnya nih gree...)



message 6: by gieb (new)

gieb capaian mbah jenar dalam ranah kajian sufistik memang fenomenal. buku ini menarik bagi keingintahuan tentang sosok mbah jenar. namun tak lengkap dan tak berani mengungkapkan hal-hal alamiah yang dialami mbah jenar. buku ini berhenti pada tataran ilmiah saja.

kalau ilmiahnya saja sudah memukau. apalagi bila anda bisa bertatap muka dengan sosok jenar ini?

gieb.


Phoenixfly @gieb
tidak mudah untuk menuliskan setiap pengalaman spiritual ke dalam lapisan kata-kata dan susunan aksara.
pengalaman spiritual mau tidak mau harus dijalani sendiri-sendiri..
perumpamaannya sama dengan susahnya menggambarkan ke dalam kata-kata tentang manisnya rasa gula atau pahitnya rasa kopi pekat, kecuali dengan mengalaminya sendiri.

gitu juga dengan menerjemahkan setiap pengalaman spiritual ke dalam hukum empirik adalah hal yang sangat rumit sekali walaupun sebenarnya bisa.

buku suluk abdul jalil hanyalah terjemahan kasar sebuah pengalaman spiritual, tapi sudah lumayan membuka 'sedkit' pemahaman dari suatu makna perjalanan spiritualitas.


Palsay  bener gieb...

memang curiositylah yang mendasari saya membaca buku ini, karena saya, seperti jutaan awam lainnya terlampau sering mngetahui beliau dalam versi yang lain...

Untung bro phoenixfly berbaik hati meminjamkan buku ini..*kedip-kedip sama burung phoenix*



message 3: by gieb (new)

gieb sip lah.

mari mencari.

gieb.


message 2: by Toriq (new)

Toriq subhanalloh..... wallohuallam..., Memang sepengetahuan dan pengalaman saya bertemu sufi sufi itu, kata kata dan tindakannya susah sekali untuk diterjemahkan oleh orang awam pada umumnya.... karena semua nya bu=isa berakibat positif, dan juga kebanyakan berakibat negatif (memberhalakan misalnya, atau salah tafsir)... yang fenomenal beberapa saat lalu adalah ex presiden kita : GUSDUR yang semua tindakannya jadi kontrofersial bila di terjemahkan hanya dengan AKAL saja...


message 1: by Arief (new) - added it

Arief Budhi Mungkinkah pada akhirnya tak ada aku,....??
'Suwung',............. dalam buku ketujuh...


back to top