Esti's Reviews > I Shall Not Hate

I Shall Not Hate by Izzeldin Abuelaish
Rate this book
Clear rating

by
2163640
's review
Oct 02, 2011

it was amazing
Read in October, 2011

"I will keep moving, but I need you to join me in this journey.”



Namanya Izzeldin. Penampilannya biasa, tak istimewa. Dia lahir sebagai anak pertama dari istri kedua seorang pria Palestina yang tinggal di kamp pengungsian Jabalia City. Tetapi di sosok biasa-biasa ini tersimpan sebuah jiwa dan hati yang luar biasa.



Terlahir dari keturunan tetua desa yang terusir karena pendudukan Israel, sejak kecil hidup Izzeldin tidaklah mudah. Dia harus membantu sang ibu mengais rejeki di kamp pengungsian yang padat, karena nafkah sang ayah harus dibagi untuk dua keluarganya. Ibunya bahkan lebih memilih Izzeldin membolos dan ikut bersama paman untuk menyelundupkan barang, daripada sekolah. Semua demi sesuap nasi.



“Untung ada guru-guru yang percaya padaku,” begitu katanya. Yang terus membuatnya bertahan di sekolah dan bertekad menjadi yang terbaik. Sejak kecil Izzeldin percaya bahwa pendidikan adalah kunci baginya untuk keluar dari kesengsaraan menjadi seorang Palestina yang terjajah Israel.



Hidup di kancah perang sejak lahir tidaklah mudah. Hidup terkurung, terpasung. Dibangunkan paksa jam 12 malam untuk melihat rumahnya dibuldoser Israel. Hanya karena Ariel Sharon merasa jalan Jabalia kurang lebar untuk tanknya.

Namun, diantara semua kesulitan yang mendera, dia berhasil meraih cita-cita. Menjadi dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Bahkan dia menjadi salah satu dokter yang disegani baik oleh orang Israel mau pun Palestina. Dia bekerja di Rumah Sakit Soroka Israel, bekerjasama dengan Gertzner Institute di Israel untuk mengembangkan terapi bagi pasangan yang kurang subur. Dia merawat siapa saja, orang Israel mau pun Palestina. Setiap Kamis dan Minggu sore, Izzeldin harus menjalani penghinaan, penantian tak berujung di pintu perbatasan Erez. Untuk pulang ke Jabalia, dan masuk kembali ke Israel, merawat para pasiennya.



Sempat terucap olehnya, “Penindasan, penghinaan, embargo, kelaparan dan desing peluru adalah hidangan warga Palestina sehari-hari. Mereka dijadikan tawanan di negeri sendiri. Selalu ketakutan. Bagaimana Anda bisa berharap kami bisa berpikir rasional dalam kondisi seperti ini?”



Bahkan saat sang istri menjelang ajal pun, Izzeldin harus pontang-panting dari Erez ke Ashqelon dan kembali lagi, hanya agar bisa masuk ke Israel dan mendampingi sang istri yang dirawat oleh para koleganya di RS Soroka. Izzeldin terombang-ambing perbatasan nyaris 24 jam, karena kesalahan dan prasangka petugas perbatasan Israel, sementara sang istri meregang nyawa. Terdampar, menunggu dalam kalut, tanpa ponsel, tanpa kabar.



Manusia seperti apakah yang tidak terbakar dendam dan kebencian apabila seumur hidup mengalami itu? Dialah Izzeldin. Dr. Izzeldin Abuelaish, yang terus percaya bahwa untuk meraih perdamaian, kita harus berpegang erat pada kemanusiaan. Berpegang erat pada cinta, yang menjadikan kita tetap sebagai manusia.



“Bukan orangnya! Bukan orangnya!” seakan dia berkata. “Tapi rezimnya. Bencilah rezimnya. Hapuskan sistem yang menindas, tapi rangkullah orangnya! Karena kita semua sama.”



Wawancara Dr. Izzeldin :

http://www.michaelmoore.com/words/mus..." http://www.michaelmoore.com/words/mus...





Dan salah satu komen:

… Indeed, Dr. Abuelaish deserves the Peace Nobel Prize, more so than others. If anyone were asked to put oneself into his shoes, would we be capable to react like him? Would we be able not to hate, after having lost three children and another family member?

8 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read I Shall Not Hate.
Sign In »

Comments (showing 1-6 of 6) (6 new)

dateDown arrow    newest »

Rahmadiyanti whoaa, udah napsu banget pengen baca, kemarin tanya lagi ke mbak arum, bukunya belom ada =__=


message 2: by Koko (last edited Oct 03, 2011 09:44PM) (new) - rated it 4 stars

Koko Nata Senang bisa bertemu sang penulis hari Minggu kemarin di toko buku Mizan


Rahmadiyanti Koko wrote: "Senang bisa bertemu sang penulis hari Minggu kemarin di toko buku Mizan"

Eh gimana, seru? Siapa aja yang datang, ko?


message 4: by Koko (last edited Oct 03, 2011 10:02PM) (new) - rated it 4 stars

Koko Nata Kita kan niat banget, mbak. Rombongan pakai motor dan carter angkot gitu. Sampai di tobuk kirain sudah mulai. Ternyata...
Zing!!!
Sepi!
Ternyata, di standing banner tertulis diskusinya jam 14.00. Kita datang 15 menit sebelum jam 14.00. Panitia atau karyawan tobuk malah baru beberes pas lihat kita. Coz lumayan banyak sekitar 20-an orang, mayoritas yang diskusi sama Mbak Dee itu. Panitia baru menyusun bangku dan meja, pasang sound system. Ada yang sibuk nelpon, kayaknya memastikan di mana posisi Izzeldin Abuelaish.

Sekitar 15 menit kemudian datanglah Izzeldin Abuelaish. Diskusi dimulai. Bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Dia ngomongnya pelan-pelan dan langsung diterjemahkan oleh Mas Fanfan.

Saat sesi tanya jawab, 6 penanya semua dari FLP Depok (yang baru gabung) itu. Mereka kayaknya senang dan terinspirasi sekali. Maulana sampai curhat dan pengen ke Palestina segala, juga cewek yang nempelin stiker nama di jidat itu(lupa namanya). Antusias banget nadanya pas bertanya. Trus pada beli buku (saling pinjam uang ^_^) dan minta ttd + foto2 deh. Semoga menyemangati mereka yang baru gabung untuk giat berkarya


Rahmadiyanti Koko wrote: "Kita kan niat banget, mbak. Rombongan pakai motor dan carter angkot gitu. Sampai di tobuk kirain sudah mulai. Ternyata...
Zing!!!
Sepi!
Ternyata, di standing banner tertulis diskusinya jam 14.00.....

Wooo, mantaap! Thanks ya, ko, pasti mas Fanfan seneng deh liat 20 orang anak FLP Depok dateng, hahaha!

eh, mbak Esti, maap, jadi numpang cerita di reviewnya hehehe



Esti ah serunya di Mizan Depok. Hiks hiks.... sayang ga bisa ikutan


back to top