Stebby Julionatan's Reviews > Cala Ibi

Cala Ibi by Nukila Amal
Rate this book
Clear rating

by
335796
's review
Sep 21, 11

Read from August 30 to September 21, 2011

kalau di awal aku berkata: "sementara ngasih nilai 3 bintang dulu lah buat karya ini, kan masih baca sampai 28 halaman." kini... sepertinya tanpa harus dipaksa ataupun terpaksa aku akan memberikan poin sempurna, 5 bintang buat Cala Ibi.

well, memang terkadang, ternyata ada buku-buku yang harus kubiarkan mengendap lama dulu dalam rak buku di perpustakaanku, baru... jadi enak dibacanya. duh, kok kayak mo makan rawon aja ya? hehehe. Cala Ibi ini adalah salah satu contohnya. bayangkan... aku punyanya dari tahun 2005 (cetakan pertama), tapi saat itu masih nggak ngeh, nggak ngerti tentang apa maksud novel ini. apa maksud Nukila dengan segala carut marut pilinan kata plus perlambang yang ia gunakan dalam karyanya ini.

saat itu, aku benar-benar kelabakan... aku benar-benar bodoh....

kini, ketika usia semakin melaju, tentunya disertai dengan pemahaman yang semakin bertambah dan aku bukanlah lagi penikmat pemula dalam hal sastra, aku sangat menikmati membaca novel karya Nukila Amal ini.

menikmati setiap inci, setiap kata, setiap kalimat, setiap paragraf dan setiap halamannya. penuh tebaran kata-kata yang indah di sana. sejak dari halaman pertama di mana aku membukanya, sampai halaman terakhir aku menutupnya. (tuh kan, aku terbawa Nukila, nulis komentar model gini aja pake kata-kata puitis segala. :))

misalnya di halaman awal aku membukanya saja sudah kutemukan sebuah paragraf dasyat seperti ini:

"Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan."

mantap betul bukan??? dan ini bisa kau temudi di seluruh halamannya, kawan...

pembacaan buku ini pun (setidaknya bagiku) memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. hingga tak ada satu kata atau idiom apapun yang terlewat. tak bisa juga aku baca sambil meloncat dari bab ini atau langsung ke halaman ini seperti yang biasa aku lakukan saat membaca chicklit ataupun novel-novel yang lebih ringan cara bertuturnya. membaca Cala Ibi, haruslah runut... dari satu halaman ke halaman selanjutnya, dari bab satu ke bab yang lain.

huffff.... (tarik napas dulu)

kini setelah selesai aku membacanya, ada sebuah pertanyaan tersisa yang ingin kualamatkan langsung pada Nukila. kenapa dia mengambil setting dunia perhotelan dalam novelnya ini? apa karena hotel adalah simbol dari kehidupan, dimana di dalam hidup ini kita senantiasa bertemu dengan banyak orang, yang datang dan pergi seperti yang biasa terjadi di hotel?? allahualam... mungkin hanya Nukila dan Tuhan yang tahu.

PS: satu alasan lain aku menyukai novel ini adalah karena Nukila menceritakan tentang tanah asal leluhurku. :) ya, aku orang Ambon... setidaknya separuh daraku adalah Ambon.
Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Cala Ibi.
Sign In »

Reading Progress

08/30/2011 page 28
10.0% "sementara ngasih nilai 3 bintang dulu. kan masih 28 halaman... well, memang ternyata ada ya buku-buku yang harus aku biarkan mengendap lama dulu dalam perpustakaanku, baru jadi enak dibacanya. contohnya novel yang satu ini, Cala Ibi. bayangkan, aku punyanya itu dari tahun 2005, cetakan pertama pula, tapi saat itu masih nggak ngeh, nggak ngerti tentang apa maksud pengarang dengan karyanya ini. :)"
09/03/2011 page 39
14.0% "Jika kau lupa apa jenis kelaminmu, berjalan-jalanlah keliling kota atau naiklah bis kota, dan jika tubuhmu seperti bukan milikmu, tapi sebuah properti publik, berarti kau PEREMPUAN."
09/04/2011 page 70
26.0% "Pulau itu menjelma lelaki. Yang semulanya Puan... menjadi pulau berTuan. Yang Dipertuan."
09/05/2011 page 109
40.0% "percakapan-percakapan udara yang usang!"
09/13/2011 page 150
55.0% "Awalnya kau tak tahu. Lalu ia mengubah ketaktahuanmu jadi pengetahuan. Menyihir pengetahuan jadi keinginan. Dari keinginan jadi kebutuhan, tak terelakkan. Iklan itu seperti setan."
09/18/2011 page 175
65.0% "rumah yang lapang dengan anak kecil berkejaran di halaman tak berpagar, berlarian ke tanah lapang, anak-anak yang tak bernama, tak dinamai, dan sepasang orang tua itu berkata, carilah namamu sendiri, anakku, semesta begini luas, tak berhingga."
09/19/2011 page 227
84.0% "kau akan jadi apa pun yang kau inginkan: pecundang atau pemenang, sama saja, aku akan tetap mengasihimu apa adanya. orang atau bukan orang, betapa tipisnya. lebih baik kau jadi seorang pecundang yang bahagia daripada pemenang yang menderita. kau tak perlu jadi orang seperti kata orang-orang, kau hanya perlu jadi dirimu. itu telah cukup bagiku, anakku."
09/20/2011 page 254
94.0% "bab akhir, akhir perayaan: SURAT DAN TANDA TERAKHIR"
09/21/2011 page 271
100.0% "finish!!! ada sebuah pertanyaan tersisa yang ingin kutanyakan langsung pada Nukila... kenapa hotel? kenapa settingnya dunia hotel?? ada alasan khususkah??? #garukgarukkepala"

No comments have been added yet.