ijul (yuliyono)'s Reviews > Antologi Rasa

Antologi Rasa by Ika Natassa
Rate this book
Clear rating

by
1051411
's review
Nov 24, 11

bookshelves: ada-di-lemari, bintang-empat, novel-aseli-indonesia, novel-metropop
Read on August 25, 2011

Mengapa cinta harus serumit ini, sih??

Denise:
Aku bahagia dengan persahabatan kita, Ruly, Keara, Harris!
Ruly:
Aku akan selalu memimpikanmu untuk menjadi istriku, Denise.
Keara:
Gue musti apa untuk mendapatkan cinta lo, Ruly?
Harris:
Gue akan ngelakuin apa aja buat lo, Keara, asal lo jadi milik gue.

Wahhhh, selain menunggu terbitnya lagi novel fiksi karya Alberthiene Endah, menunggu tulisan paling anyar dari Ika Natassa adalah penantian terpanjangku sebagai penikmat lini metropop. Sejak tergila-gila pada A Very Yuppy Wedding (AVYW) dan terpikat ketika membaca Divortiare, aku selalu berharap penulis yang adalah bankir ini dapat menerbitkan novel fiksinya secara reguler. Tiap bulan, maybe? #ngarep.

Dan, penantian panjang itu berakhir dengan terbitnya novel metropop terbaru Ika bertajuk Antologi Rasa (AR). Ketika kali pertama tahu tentang buku ini dari newsletter yang dikirim Gramedia by email, kupikir bentuknya adalah kumpulan cerita (terkait judulnya yang menggunakan kata antologi). Sudah ketar-ketir aja, secara aku agak kurang bisa menikmati kumcer, recently. Thank GOD, it’s a novel!

AR mengalir dalam irama khas Ika Natassa. Gaya menulisnya yang telah menyihirku sejak AVYW masih terasa di AR ini. Sinis, sarkastis, terkadang hiperbolis, dan tak jarang komikal-kocak (terutama dialog-dialog vulgar menjurus mesumnya, hehehe), membuatku enggan untuk meletakkan buku ini sebelum benar-benar tuntas terbaca. Oke, nggak langsung habis dalam hitungan jam, namun selesai dalam sehari masih terbilang cukup cepat buatku. Ugh, adiktif bener lah tulisan si mbak satu ini. Buatku, paling tidak.

Soal ceritanya sih, bukan barang baru. Novel ini “hanya” me-repackage kisah cinta bersegi biasa dalam kemasan baru. Yang bikin beda, tentu saja sentuhan khas Ika dan bumbu penyedap racikannya yang bikin segar konflik-konfliknya. Ini “cuma” cerita 4 orang sahabat yang terjebak dalam hubungan persahabatan yang dipenuhi letupan-letupan asmara rahasia di antara mereka. Tambahkan setting kota besar, barang bermerek, dan event mewah ber-budget nggak masuk akal, maka novel ini memang stereotipe metropop kebanyakan. Bagi yang nggak suka lini metropop, ornamen inilah yang membuat kebanyakan dari mereka mencibir. Penting gitu, ngebahas branded things? Hahaha, gue sih fun-fun aja. Secara nggak bakal juga kebeli tuh barang-barang. Nyante aja, man!

Oke, untuk segmen tertentu, novel ini akan dengan mudah disukai. Pertama, pembacanya harus menguasai bahasa Inggris minimal secara pasif, karena cukup banyak kisahnya yang ditulis dalam bahasa bule itu. Kedua, pembacanya harus open-minded. Jangan kayak gue yang kolot gini. Baca bagian di mana para tokohnya minum alkohol kayak minum aer saja aku sudah nggak tahan pengen ngehujat. So, anggap saja lah ini memang realitas bunga-bunga sosialita Jakarta. Jangan lagi merasa aneh jika di sebagian kisah yang lain, seseorang ML sesering ia ganti celana dalam tanpa ikatan pernikahan, free sex. Sudah jelas, novel ini bakal masuk kategori “amoral” jika membacanya sembari mengingat aplikasi keagamaan. Jadi, bacalah dengan pikiran terbuka dan yah...sekadar membaca, just for fun, jus for laugh (jadi inget Tukul). Ketiga, ya soal background tokoh-tokohnya yang sudah so f*cking perfect, tajir pula. Sinetron banget, kan? Siap-siap merasa hina deh bagi peminder sejati (like me, huhuhu). Nggak ada deh tuh tokoh hidung pesek, gigi tonggos, atau melarat yang bakal beruntung dapat porsi di novel ini. Namun, khusus untuk yang ketiga ini, aku sih udah nggak gitu-gitu peduli. Oleh sebabnya, seseorang pernah bilang, “kasian pembacanya donk kalo di cerita aja masih harus baca tokoh jelek dan kere, secara di dunia nyata sudah miserable,” maksudnya hidup di dunia sudah susah, ya biar saja lah pengarang memanjakan pembacanya dengan yang indah-indah, dengan fantasi kelas tinggi. And, I must agree with that.

Tak seperti AVYW yang tak kulewatkan satu tanda baca pun, pada AR ada beberapa part yang aku lompati karena hanya berupa pengulangan dari statement masing-masing tokohnya. Ada Ruly yang dari satu bab ke bab lain terus saja bermimpi hidup berdampingan dengan Denise. Atau Harris yang terus menerus memuja Keara. Entah ini kategori bagus atau jelek, aku melewati part itu gegara geregetan pengen tau gimana ending-nya sebenarnya. Dan, about the ending? Aku suka bab terakhir, meskipun jalan menuju bab terakhir, yang melibatkan proses “8 month later” itu, duhh, kok ya kayak gitu ya. Nggak rela banget, perjuangan sebegitu dramatisnya, diakhiri hanya dengan begitu? #huhuhu

Gaya mendongeng Ika yang maju-mundur perlu mendapat kecermatan tersendiri, agar plotnya tetap logis dan kronologis. Awalnya aku ingin secara khusus peduli pada pergantian waktu yang di-manage oleh si pengarang. Namun, akhirnya kuabaikan saja soal perhitungan waktu itu. Bodo amat deh, nikmati aja lah jalan ceritanya. Soal lain yang aku suka dari Ika adalah kepiawaiannya untuk menguraikan hal-hal umum keseharian sebelum membawanya ke kehidupan para tokohnya. Analogi-analoginya juga masuk banget.

Yang lucu adalah sehabis aku menyelesaikan Waiting for You-nya Susane Colasanti yang John Mayer banget, lha kok...novel ini juga nggak kalah John Mayer-nya. Widihh, ada apa sih dengan John Mayer ini. Sekeren itu kah male soloist satu ini? Apa aku perlu menghayati lagu-lagu John Mayer (atau malah belajar gitar kayak doi) biar ada cewek yang klepek-klepek? #eh malah curcol. Huff!

My favorit line, yang bisa aku pakai kalau lagi suntuk di kantor dan terkadang pengen loncat dari lantai 20 gedung kantorku:
“Bodoh banget memang gue ya lama-lama, nonstop mengeluh tentang kantor ini, tapi tetap aja kerja di sini sepenuh hati. Yeah, sepenuh hati my ass.”

Sedangkan sedikit rasa penasaran pada:
1. Berapa kemungkinan dua orang yang berbeda memiliki fantasi pada satu tokoh yang sama? Keara yang paranoid ketemu Hannibal Lecter di kereta dan Harris yang berfantasi menjadi santapan Hannibal Lecter (hlm: 323). No biggie lah ya, hanya saja, jelas terlihat bahwa si pengarang masih terlibat di sini, bukan si tokoh yang bercerita, padahal PoV yang digunakan orang pertama.
2. Just a silly question, di pesawat (penerbangan internasional) masih boleh gitu ya nyalain BB? (hlm: 226)

Yang bikin kesel, pada awalnya, adalah para tokohnya yang pemuja kebebasan ini, kok ya masih terjebak pada ketakutan untuk menghancurkan persahabatan jika dua orang yang bersahabat terlibat dalam hubungan cinta? Apa susahnya sih ngomong, I love you? #halah gue aja nggak berani kok bilang itu ke inceran gue. #eaaa Tapi, ya, ini juga stereotipe novel metropop, ya? ML oke, tapi ngaku cinta aja cemen. So, let it be. Hahaha.

Selamat membaca, kawan!
33 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Antologi Rasa.
Sign In »

Reading Progress

08/25/2011 page 200
61.0% "...akhirnya ada juga obat rinduku pada salah satu penulis favoritku ini..." 3 comments

Comments (showing 1-32 of 32) (32 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Ayu (new) - rated it 4 stars

Ayu Yudha aku juga baru beli nih.. bagus gak Jul..


ijul (yuliyono) gw sih 4*, Non, tapi ya itu...karena gw telanjur ngefans penulisnya sih, hahaha #jelassubjektifbanget


Speakercoret ripiunya manaaa? *pengentau*


message 4: by Azia (new)

Azia pinjem ^^ reviewnya asyik nih,hehehe


Nilam Suri Tapi, ya, ini juga stereotipe novel metropop, ya? ML oke, tapi ngaku cinta aja cemen.

Ooo, gitu ya jul? *manggut2* LOL

Tapi aku emang suka juga nih sama si Ika Natasya, padahal udah jarang bisa nikmatin metropop.

Jadi masuk kategori layak beli ya jul?


ijul (yuliyono) Speakercoret wrote: "ripiunya manaaa? *pengentau*"

udah tuhhh, barusan dipasang...koneksi di kampung sendut-sendut kagak jelas...#ugh


ijul (yuliyono) Azia wrote: "pinjem ^^ reviewnya asyik nih,hehehe"

monggo...abis lebaran, ya, hehehe...


ijul (yuliyono) Nielam wrote: "Jadi masuk kategori layak beli ya jul?"

nahhh, klo pertanyaannya udah gini, gw jd speechless, hahaha...tapi gak rugi lah kenal ama Harris, Keara, Panji...gokil tuh tokoh2nya...tetep metropop sih, yang pake kebaya aja musti Marc Jacobs #hadehhh


Speakercoret ripiu curhat nongool lagiiiiii *pencetlike*
:)


Nilam Suri @Ijul: waks, emang sekarang marc jacobs ngeluarin kebayaa jugaa??hahahhaa, mangstab deh ;)

btw,endingnya enak ga jul?gw lg ogah berurusan sm ending gantung, ngambang, atau bahkan pait nih,wehehehe.


message 11: by Speakercoret (new) - added it

Speakercoret Aku suka bab terakhir, meskipun jalan menuju bab terakhir, yang melibatkan proses “8 month later” itu, duhh, kok ya kayak gitu ya. Nggak rela banget, perjuangan sebegitu dramatisnya, diakhiri hanya dengan begitu? #huhuhu

eeeh tapi seringnya novel lokal (eh apa metropop yah) emang begitu bukan, kadang akhirnya kurang memuaskan, perasaan kurang seru penyelesaiannya. ya berasa "yah cuma begini doang nih?"
yah menurut gw sih :D


Nilam Suri iya kok mutee, gw juga suka ngerasa kaya gituu. bahkan kadang ada beberapa novel lokal yang setelah gw baca gw malah mikir "jadi point-nya apa?" hehehe.


message 13: by Speakercoret (new) - added it

Speakercoret Nielam wrote: "iya kok mutee, gw juga suka ngerasa kaya gituu. bahkan kadang ada beberapa novel lokal yang setelah gw baca gw malah mikir "jadi point-nya apa?" hehehe."

iyah, penyelesaiannya kurang manis, kurang seru..
padahal masalahnya dah ribet setebel buku, tapi akhirnya proses penyelesaiannya cuma beberapa lembar :D


message 14: by Sweetdhee (last edited Aug 25, 2011 09:57PM) (new)

Sweetdhee *ngintip*

ckckckck.. makin banyak yang ngeripiu disambi curhat
hihihi

Nielam wrote: "btw,endingnya enak ga jul?gw lg ogah berurusan sm ending gantung, ngambang, atau bahkan pait nih,wehehehe."

Nielam si penggemar hepi ending..
hehehehe
Kalo aye malah suka yang tragis-tragis gitu..


message 15: by Ayu (new) - rated it 4 stars

Ayu Yudha Ngaku cinta aja cemen..
Kayak ijul yah? *ngacir*


message 16: by Speakercoret (new) - added it

Speakercoret ayu-si-peri-kecil wrote: "Ngaku cinta aja cemen..
Kayak ijul yah? *ngacir*"


lah itu ijul kan dah ngaku :p

#halah gue aja nggak berani kok bilang itu ke inceran gue. #eaaa

*kek penting aja pake di bold*
:p


message 17: by Ayu (new) - rated it 4 stars

Ayu Yudha Ho oh kak.. Aku emang cuma mau mempertegas kok.. :D


message 18: by Nur (new)

Nur Arafah klimaksx kurang apik.....


ijul (yuliyono) Nur wrote: "klimaksx kurang apik....."

sedelapan...#hehehe...


ijul (yuliyono) ayu-si-peri-kecil wrote: "Ho oh kak.. Aku emang cuma mau mempertegas kok.. :D"

ahemmm.....udah tegas kyknya, kan...*uhuk-uhuk*


message 21: by Roos (new)

Roos Beuuuugh *ngelap keringet* Baca curcolnya Ijul...Bravooooooooo Ijul. Repiunya Mantep! *keplok2*


Asrina Maharani pengen baca................
*penggemar ika natasha juga ;p


ijul (yuliyono) Roos wrote: "Beuuuugh *ngelap keringet* Baca curcolnya Ijul...Bravooooooooo Ijul. Repiunya Mantep! *keplok2*"

aishhhh.....*ikut keringetan*

Asrina "Troc Gjuetar" wrote: "pengen baca................
*penggemar ika natasha juga ;p"


selamat membaca....


message 24: by Iyut (new) - added it

Iyut duh kenapa baru baca sekarang ya ini review :D *pencet like*
*penggemar Ika Natasha juga*


message 25: by Dini (new) - rated it 4 stars

Dini Puspitarini saya juga baru baca semalem mas. telat banget. tp lgsung saya kebut abis. trs saya browsing siapa pengarangnya dan karyanya yg lain. hal yg sama, yg bakal terjadi ketika saya menemukan satu buku dgn gaya cerita yg nyaman untuk diikuti (lgsung browse siap pengarangnya dan karyanya yg lain :-))

yah, cerita yang biasa....tp novel yg bagus akan selalu membawa imajinasi....memejamkan mata sebentar kalau menemukan part yg bagus, membayangkan bagaimana ketika cerita ini diwujudkan ke film. dan novel ini lumayan berhasil ke saya. hehe. Sama seperti ketika membaca novel Alita @first kaya dewie sekar


message 26: by Jessica (new)

Jessica wahh. reviewnya keren kak! jadi pengen beli gara2 review sama curcolnya., hahahag.


message 27: by ana (new)

ana . Pertama, pembacanya harus menguasai bahasa Inggris minimal secara pasif, karena cukup banyak kisahnya yang ditulis dalam bahasa bule itu. Kedua, pembacanya harus open-minded

kok aku jadi inget salah satu riview yang spektakuler itu yah..


ijul (yuliyono) Iyut wrote: "duh kenapa baru baca sekarang ya ini review :D *pencet like*
*penggemar Ika Natasha juga*"


waahhhhh...ayukkk, udah dibaca blum, bu dokter? baca gihhh...you'll love Harris, absolutely...


ijul (yuliyono) Dini wrote: "cerita ini diwujudkan ke film. dan novel ini lumayan berhasil ke saya. hehe. Sama seperti ketika membaca novel Alita @first kaya dewie sekar ."

agree!


ijul (yuliyono) Jessica wrote: "wahh. reviewnya keren kak! jadi pengen beli gara2 review sama curcolnya., hahahag."

xixixi...lumayan kok ceritanya, apalagi ada Harris-nya...:)


ijul (yuliyono) ana "a kecil" wrote: "kok aku jadi inget salah satu riview yang spektakuler itu yah.. "

ehmm....yg mana ya?


indri baca buku ini pengen mengkampret2kan cinta!! hahahaa..
i love ika natassa works!


back to top