Rahmat's Reviews > Perahu Kertas

Perahu Kertas by Dee
Rate this book
Clear rating

by
5611648
's review
Jun 22, 11

Read in June, 2011

"Inspiring!". Bagi saya itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan novel Perahu Kertas yang dikarang oleh Dewi "Dee" Lestari. Karya yang ditulis ulang selama 60 hari setelah penantian panjang selama bertahun-tahun untuk diterbitkan ini memang menyuguhkan cerita yang rumit, namun dengan gaya bahasa yang sederhana. Kali ini Dee memang menggunakan gaya bahasa khas remaja semacam novel-novel teen lit, tentu ditambah dengan kosakata-kosakata yang lebih luas khas Dee.

Kugy dan Keenan, dua karakter utama dalam novel ini digambarkan sebagai makhluk yang tidak biasa. Mereka punya imajinasi yang melekatkan jiwa dan pikiran keduanya, yang sulit dilakukan oleh orang lain. Saya lebih suka menyebutnya sebagai takdir karena memang terkadang tidak masuk akal dan sulit dijelaskan. Eko dan Noni menjadi sahabat setia mereka berdua yang membumbui alur cerita hingga berkembang. Tapi, meskipun cukup banyak tokoh, Dee cukup berhasil merangkainya dalam satu kesatuan yang terhubung satu sama lain. Karakter-karakter yang terdapat dalam novel, terutama tokoh utama, juga sangat kuat. Seenggaknya saya menangkap dua tema besar dalam novel karya Dee ini.

Pertama, tentang cinta. Novel ini memang sarat dengan konflik tentang percintaan dan memang mendominasi dalam cerita. Ya, bahkan konflik sudah dimulai dari pikiran dan hati Kugy dan Keenan hingga akhirnya menjalar ke dunia realitas. Kisah percintaan yang sebenarnya tidak akan jadi rumit seandainya Kugy dan Keenan tidak saling gengsi untuk mengungkapkan perasaannya masing-masing. Seperti bisa ditebak, perasaan sakit hati, merenggangnya hubungan persahabatan, dan semacamnya, akan mewarnai cerita ini. Kegengsian mereka pulalah yang memunculkan tokoh-tokoh lainnya seperti Wanda, Remi, dan Luhde, yang akhirnya "dikorbankan" dalam cerita ini. Ya, kalau Keenan dan Kugy langsung mengungkap perasaan masing-masing, mungkin novel ini nggak akan jadi setebal 400-an halaman. :D

Kedua, tentang idealisme. Selain cinta, Dee juga tampaknya mengajak para pembaca untuk memegang teguh idealisme, atau bahasa dalam novel ini "cita-cita". Kugy dan Keenan diceritakan memang memiliki cita-cita yang "tidak layak". Seperti yang dikatakan oleh Dee sendiri dalam tulisannya, ia menyindir,"cita-cita yang layak dalam masyarakat kita adalah cita-cita yang bisa menghasilkan uang." Kugy bermimpi menjadi juru dongeng sedangkan Keenan bercita-cita menjadi pelukis. Disini, Dee mengkritik pandangan tersebut dan mengajak kita untuk menjadi diri sendiri (Be Yourself!) . Menariknya, Dee juga mengajak kita untuk meng-khayal-kan realitas, bukan me-realitas-kan khayalan kita. Disini Dee menggabungkan bakat Keenan dan Kugy menjadi profesi yang menguntungkan. Menurut Dee, dengan melakukan sesuatu yang kita inginkan, kita akan merasa bebas. Dan orang akan menemukan diri kita dari apa yang telah kita hasilkan. Seperti Dee yang menulis karya ini, saya melihat Kugy sebagai Dee sendiri. Saya menemukan Dee dalam Perahu Kertas. :)
1 like · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Perahu Kertas.
sign in »

No comments have been added yet.