Ikra Amesta's Reviews > Catch 22
Catch 22
by Joseph Heller, Gunther Danehl , Irene Danehl
by Joseph Heller, Gunther Danehl , Irene Danehl
Apa yang menjadikan perang masuk akal? Patriotisme? Nasionalisme? Lalu apakah itu sebuah kewarasan namanya, sesuatu yang melandasi sebuah ide penting tentang membunuh pihak musuh yang tidak dikenal dan tidak memiliki dendam secara pribadi sebagai syarat utama dari kemenangan yang dielu-elukan?
Kapten Yossarian adalah seorang antihero. Sebagai anggota pasukan pengebom angkatan udara Amerika yang mengambil peran pada perang dunia II ia dilanda oleh sebuah histeria tentang ketakutan bahwa ada sekitar ribuan orang yang belum pernah ia temui sebelumnya, terus-menerus mencoba untuk membunuhnya. Ia tidak mengerti tentang esensi dari perang yang ia ikuti, yang ia tahu adalah memenuhi seluruh misi terbang yang sudah ditetapkan dan setelah itu kembali pulang, hidup dengan damai sebagai warga negara. Tidak peduli siapa yang akan memenangkan perang, satu-satunya misi yang ia percaya adalah untuk bertahan hidup.
Ia menolak untuk terbang, karena tiap kali misinya hampir selesai, markas pusat selalu menaikkan kuota jumlah misinya yang harus dilengkapi untuk bisa pulang. Oleh karenanya ia memilih untuk menjadi orang tidak waras agar dibebastugaskan dari kewajiban untuk terbang. Namun ketidakwarasan telah lama menjadi elemen penting dalam setiap peperangan sehingga dalam setiap aksi kegilaan Yossarian untuk menunda misi berbahaya seperti meracuni makanan satu skuadron, diam-diam memindahkan jalur bom di peta, menghadiri upacara militer dengan telanjang, memutar balik pesawatnya ke markas di tengah konvoi penyerangan besar-besaran ke Bologna dengan alasan ia tidak bisa mendengar suara temannya di interkom (alat komunikasi di pesawat jet) dan sebagainya adalah justru merupakan tindakan yang paling waras yang lahir dari insting naluriah untuk menghindari kematian.
Yossarian rajin datang ke klinik, mengeluh sakit di liver-nya, memohon surat pernyataan tidak waras, sampai akhirnya ia harus dirawat karena benar-benar mengalami kecelakaan dalam perang. Apa yang mendorong perilakunya adalah kenyataan horor perang di mana ia menjadi saksi atas satu per satu temannya yang tewas. Kematian dihadapinya dengan begitu canggung seperti saat menemani temannya yang meregang nyawa sambil berkata “I’m cold. I’m cold” ia menyambutnya dengan polos “There, there. There, there” seperti semacam nina-bobo kepada seorang bayi. Ia terlibat dalam absurdisme yang getir saat dirinya sedang dirawat di rumah sakit di mana pada suatu waktu ia diperintahkan untuk menyamar menjadi seorang prajurit yang sudah meninggal bernama Giuseppe karena kebetulan keluarga prajurit tersebut datang menjenguk:
“Giuseppe”
“My name is Yossarian.”
“His name is Yossarian, Ma. Yossarian don’t you recognize me? I’m your brother John. Don’t you know who I am?”
“Sure I do. You’re my brother John.”
“He does recognize me! Pa, he knows who I am. Yossarian, here’s Papa. Say hello to Papa.”
“Hello, Papa.”
“Hello, Giuseppe.”
“His name is Yossarian, Pa.”
Hari-hari penuh kegilaan menjadi bagian dari karir militer Yossarian yang juga terbentuk dari kegilaan yang sudah melekat pada lingkungannya. Berbagai kekonyolan tercipta dari situasi yang di tiap detiknya dipenuhi napas-napas ketakutan akan kematian dari setiap orang. Lalu siapa itu Washington Irving? Atau Irving Washington? Mengapa seorang pelacur memukuli kepala Orr dengan sepatu? Mengapa Major Major memerintahkan pada setiap orang yang ingin menemuinya agar masuk ke dalam ruang kantornya justru di saat ia sedang tidak berada di sana? Kenapa si pendeta dianggap mencuri tomat kolonel Cathcart? Kenapa kapten Flume memilih untuk tinggal di atas pohon daripada di dalam tenda yang sudah disediakan? Kenapa pelacur kesayangan Nately ingin menusuk Yossarian dengan pisau? Dan memang hanya kegilaan yang mampu menjawab semuanya.
Joseph Heller menyajikan kisah satir yang kompleks dengan tokoh-tokoh yang dihidupkan lewat karakter-karakter uniknya yang kuat. Ia menciptakan realita perang yang sarat black comedy yang berhasil menyampaikan kesan perang sebagai hal dan situasi yang “menggelitik” dan konyol untuk diikuti. Kemahirannya adalah bahwa dalam setiap lelucon yang terkandung di dalam cerita ini tidak menjadikan kisah patriotisme menjadi semacam lucu-lucuan namun justru mendatangkan ironi yang pekat dan kritis sifatnya dalam mempertanyakan makna.
Selain perang itu sendiri, ia mengkritik hal lain. Salah satunya adalah tentang kapitalisme lewat tokoh Milo yang memanfaatkan situasi demi mendapatkan keuntungan. Milo bahkan rela memihak musuh (Jerman) untuk menyerang markas teman-temannya dalam sebuah kontrak dagang yang telah dia sepakati. Dan setelahnya, ia kembali ke markas dengan meyakinkan bahwa setiap orang akan mendapat bagian dari bisnis yang ia jalankan. Di sini Heller mengajukan pertanyaan, apakah nasionalisme ataukah kapitalisme yang memiliki “urusan” sebenarnya dalam perang?
Ada salah satu bagian yang cukup menarik yaitu saat Yossarian yang percaya namun membenci Tuhan atas perang yang terjadi dengan seorang atheis. Dengan penuh semangat, Yossarian menyumpahi dan mengutuk Tuhan di hadapan si atheis. “On the judgment day. Yes, that’s the day I’ll be close enough to reach out and grab that little yokel by His neck.” Namun di tengah serapahnya itu, si atheis justru berteriak menyuruh Yossarian berhenti menjelekkan Tuhan karena sebagai atheis, ia memiliki kepercayaan bahwa “God i don’t believe in is a good, merciful God. He’s not the mean and stupid God you make Him out to be.” Maka Yossarian menarik sebuah kesimpulan yang sangat mungkin dipercayai secara diam-diam oleh kita semua: “You don’t believe in the God you want to, and I won’t believe in the God I want to.”
Novel ini turut mengangkat karakter Yossarian bersama legenda fiksi lainnya semacam Atticus Finch (To Kill A Mockingbird), Holden Caulfield (The Catcher in the Rye), Tom Joad (The Grapes of Wrath), atau Billy Pilgrim (Slaughterhouse-five). Sementara gaya penulisan posmodern Heller yang seolah-olah meneriakkan setiap kata-katanya ke atas kertas dengan strukur penceritaan yang meloncat-loncat seenaknya, membawa namanya sejajar dengan dewa-dewa posmodern seperti Kurt Vonnegut, Thomas Pynchon, Jack Kerouac, atau William S. Burroughs.
Maka dari novel ini dapat diperoleh sebuah jawaban yang paling masuk akal dari pertanyaan apa yang menjadikan perang masuk akal? Tentu saja bukan patriotisme ataupun nasionalisme yang mendorong manusia untuk saling membunuh, menembak, menusuk, atau mengebom, melainkan hasrat yang paling mendasar untuk bertahan hidup.
Lalu mengapa mesti ada perang bila hidup begitu berharga?
Kapten Yossarian adalah seorang antihero. Sebagai anggota pasukan pengebom angkatan udara Amerika yang mengambil peran pada perang dunia II ia dilanda oleh sebuah histeria tentang ketakutan bahwa ada sekitar ribuan orang yang belum pernah ia temui sebelumnya, terus-menerus mencoba untuk membunuhnya. Ia tidak mengerti tentang esensi dari perang yang ia ikuti, yang ia tahu adalah memenuhi seluruh misi terbang yang sudah ditetapkan dan setelah itu kembali pulang, hidup dengan damai sebagai warga negara. Tidak peduli siapa yang akan memenangkan perang, satu-satunya misi yang ia percaya adalah untuk bertahan hidup.
Ia menolak untuk terbang, karena tiap kali misinya hampir selesai, markas pusat selalu menaikkan kuota jumlah misinya yang harus dilengkapi untuk bisa pulang. Oleh karenanya ia memilih untuk menjadi orang tidak waras agar dibebastugaskan dari kewajiban untuk terbang. Namun ketidakwarasan telah lama menjadi elemen penting dalam setiap peperangan sehingga dalam setiap aksi kegilaan Yossarian untuk menunda misi berbahaya seperti meracuni makanan satu skuadron, diam-diam memindahkan jalur bom di peta, menghadiri upacara militer dengan telanjang, memutar balik pesawatnya ke markas di tengah konvoi penyerangan besar-besaran ke Bologna dengan alasan ia tidak bisa mendengar suara temannya di interkom (alat komunikasi di pesawat jet) dan sebagainya adalah justru merupakan tindakan yang paling waras yang lahir dari insting naluriah untuk menghindari kematian.
Yossarian rajin datang ke klinik, mengeluh sakit di liver-nya, memohon surat pernyataan tidak waras, sampai akhirnya ia harus dirawat karena benar-benar mengalami kecelakaan dalam perang. Apa yang mendorong perilakunya adalah kenyataan horor perang di mana ia menjadi saksi atas satu per satu temannya yang tewas. Kematian dihadapinya dengan begitu canggung seperti saat menemani temannya yang meregang nyawa sambil berkata “I’m cold. I’m cold” ia menyambutnya dengan polos “There, there. There, there” seperti semacam nina-bobo kepada seorang bayi. Ia terlibat dalam absurdisme yang getir saat dirinya sedang dirawat di rumah sakit di mana pada suatu waktu ia diperintahkan untuk menyamar menjadi seorang prajurit yang sudah meninggal bernama Giuseppe karena kebetulan keluarga prajurit tersebut datang menjenguk:
“Giuseppe”
“My name is Yossarian.”
“His name is Yossarian, Ma. Yossarian don’t you recognize me? I’m your brother John. Don’t you know who I am?”
“Sure I do. You’re my brother John.”
“He does recognize me! Pa, he knows who I am. Yossarian, here’s Papa. Say hello to Papa.”
“Hello, Papa.”
“Hello, Giuseppe.”
“His name is Yossarian, Pa.”
Hari-hari penuh kegilaan menjadi bagian dari karir militer Yossarian yang juga terbentuk dari kegilaan yang sudah melekat pada lingkungannya. Berbagai kekonyolan tercipta dari situasi yang di tiap detiknya dipenuhi napas-napas ketakutan akan kematian dari setiap orang. Lalu siapa itu Washington Irving? Atau Irving Washington? Mengapa seorang pelacur memukuli kepala Orr dengan sepatu? Mengapa Major Major memerintahkan pada setiap orang yang ingin menemuinya agar masuk ke dalam ruang kantornya justru di saat ia sedang tidak berada di sana? Kenapa si pendeta dianggap mencuri tomat kolonel Cathcart? Kenapa kapten Flume memilih untuk tinggal di atas pohon daripada di dalam tenda yang sudah disediakan? Kenapa pelacur kesayangan Nately ingin menusuk Yossarian dengan pisau? Dan memang hanya kegilaan yang mampu menjawab semuanya.
Joseph Heller menyajikan kisah satir yang kompleks dengan tokoh-tokoh yang dihidupkan lewat karakter-karakter uniknya yang kuat. Ia menciptakan realita perang yang sarat black comedy yang berhasil menyampaikan kesan perang sebagai hal dan situasi yang “menggelitik” dan konyol untuk diikuti. Kemahirannya adalah bahwa dalam setiap lelucon yang terkandung di dalam cerita ini tidak menjadikan kisah patriotisme menjadi semacam lucu-lucuan namun justru mendatangkan ironi yang pekat dan kritis sifatnya dalam mempertanyakan makna.
Selain perang itu sendiri, ia mengkritik hal lain. Salah satunya adalah tentang kapitalisme lewat tokoh Milo yang memanfaatkan situasi demi mendapatkan keuntungan. Milo bahkan rela memihak musuh (Jerman) untuk menyerang markas teman-temannya dalam sebuah kontrak dagang yang telah dia sepakati. Dan setelahnya, ia kembali ke markas dengan meyakinkan bahwa setiap orang akan mendapat bagian dari bisnis yang ia jalankan. Di sini Heller mengajukan pertanyaan, apakah nasionalisme ataukah kapitalisme yang memiliki “urusan” sebenarnya dalam perang?
Ada salah satu bagian yang cukup menarik yaitu saat Yossarian yang percaya namun membenci Tuhan atas perang yang terjadi dengan seorang atheis. Dengan penuh semangat, Yossarian menyumpahi dan mengutuk Tuhan di hadapan si atheis. “On the judgment day. Yes, that’s the day I’ll be close enough to reach out and grab that little yokel by His neck.” Namun di tengah serapahnya itu, si atheis justru berteriak menyuruh Yossarian berhenti menjelekkan Tuhan karena sebagai atheis, ia memiliki kepercayaan bahwa “God i don’t believe in is a good, merciful God. He’s not the mean and stupid God you make Him out to be.” Maka Yossarian menarik sebuah kesimpulan yang sangat mungkin dipercayai secara diam-diam oleh kita semua: “You don’t believe in the God you want to, and I won’t believe in the God I want to.”
Novel ini turut mengangkat karakter Yossarian bersama legenda fiksi lainnya semacam Atticus Finch (To Kill A Mockingbird), Holden Caulfield (The Catcher in the Rye), Tom Joad (The Grapes of Wrath), atau Billy Pilgrim (Slaughterhouse-five). Sementara gaya penulisan posmodern Heller yang seolah-olah meneriakkan setiap kata-katanya ke atas kertas dengan strukur penceritaan yang meloncat-loncat seenaknya, membawa namanya sejajar dengan dewa-dewa posmodern seperti Kurt Vonnegut, Thomas Pynchon, Jack Kerouac, atau William S. Burroughs.
Maka dari novel ini dapat diperoleh sebuah jawaban yang paling masuk akal dari pertanyaan apa yang menjadikan perang masuk akal? Tentu saja bukan patriotisme ataupun nasionalisme yang mendorong manusia untuk saling membunuh, menembak, menusuk, atau mengebom, melainkan hasrat yang paling mendasar untuk bertahan hidup.
Lalu mengapa mesti ada perang bila hidup begitu berharga?
Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Catch 22.
sign in »
Comments (showing 1-13 of 13) (13 new)
date
newest »
newest »
message 1:
by
Oon
(new)
-
added it
Jun 03, 2011 04:22am
I'm waiting for your review ya :D
reply
|
flag
*
hampir mirip dengan slaughterhouse-five di mana alur ceritanya meloncat-loncat kesana-kemari dan isi ceritanya juga memang satir, semacam black comedy yang punya dua arti antara lucu dan miris. Kalo suka karya2 Vonnegut, buku ini bukan masalah buat dilahap ko.
ohh begitu ya. gw sempet mau beli tapi denger review seperti ini: "It rather reminded me of something that a fourteen year old might write if he was trying to be shocking and clever without really achieving either." tapi mungkin yg nulis review itu ga satu selera aja ma gw hehehe. dan kalo similar to style of writing nya vonnegut, gw very likely bakal suka!
Gaya penulisan Heller di buku ini disebut oleh para kritikus sastra sebagai "shout on paper", seolah-olah kata-kata, kalimat-kalimat yang kita baca itu seperti mendengarkan orang bicara 'ngalor-ngidul', tidak terstruktur, meloncat-loncat, dan cepat berpindah dari satu topik ke topik yang lain. Namun itu tidak jadi merendahkan kualitas buku ini karena kerangka ceritanya sendiri kalau sy perhatikan benar2 tersusun rapi. Menurut sy, Heller mencoba membawa pembacanya utk mengumpulkan emosinya pelan-pelan sampai akhirnya menemui horor-nya peperangan. Ya, semuanya balik lagi ke selera sih (terutama selera humor), tapi apa mungkin melewatkan karya penulis ini yang disebut oleh Kurt Vonnegut sebagai: "a first-rate humorist, who cripples his own jokes intentionally, with the unhappiness of characters who perceive them."
Selamat mempertimbangkan!
aduh, belum nemu2 buku ini*curhat
baru nonton filmnya doang, http://en.wikipedia.org/wiki/Catch-22...
dan katanya filmnya banyak yg beda dg bukunya.
sekilas, kayaknya mirip2 dg george Orwell (1984, Animal Farm) atau bahkan A Clockwork Orange-nya Anthony Burgess yak?
Hmm kalau menurut saya berbeda sekali, apalagi dari segi atmosfernya, kalau dalam dunia film mungkin buku ini lebih nyerempet ke gaya2nya sutradara wes anderson (Rushmore, The Royal Tenenbaums, etc.) yang absurd2 lucu gitu. Tema yang diangkat memang ga kalah serius dengan tema2 Orwell, hanya saja penyampaian dan penokohan karakternya tidak "seberat" dia. All the characters here make me wanna sing 'American Idiot'. Adaptasi filmnya sendiri sy belum nonton.Selamat mencari, saya dapetin bukunya di kinokuniya jakarta
^ eh? sy malah merasa buku2 Orwell justru ringan penyampaiannya. tokoh2nya juga ringan (baru baca 2 buku orwell sih, heuheu). cuman yah itu, black-comedy, satir, multiinterpretasi. beuh.
Nah bagian multiinterpretasinya itu yang ga terlalu berat, di sini semua kegilaan terjadi apa adanya, blak-blakan dan konyol sekonyol-konyolnya, yang semuanya dilandasi oleh motif bertahan hidup
Hey I have a question. Is this book explicit? Does it have profanity? Moreover, sexually explicit or have nudity in it? Thanks!
This book is funny in every senses. You won't find any explicit contents, you will find smart black comedy filled with laughable tragedies. It has profanity and nudity (in a small scope) but it's not as hard as Tropic of Cancer (Henry Miller) or anything else you could imagine. Instead, it adds up the excitement to the 500-pages-and-more fun trip.My suggestion, be patient while you read this book. You'll probably get confused with the structure and how new characters keep on popping up arbitrarily. But once you get the storyline,you'll love Yossarian as i do.
