Haryadi Yansyah's Reviews > Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Kedai 1001 Mimpi by Valiant Budi
Rate this book
Clear rating

by
581237
's review
May 24, 11

bookshelves: jalan-jalan

===========================
Kedai 1001 Mimpi (2011)
Sub Judul : Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI
Penulis : Valiant ”Vabyo” Budi
Desain Kaver : Jeffri Fernando
Editor : Alit Trisna Palupi
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 978-979-780-497-8
Harga : Rp.55.000
443 Hal, Cetakan pertama, 2011
===========================


..:: ”Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain.” Hal 426. ::..


Sedikit Berceloteh

Pasca membaca tulisan Vabyo di The Journeys, aku kayak orang sakaw yang nagih baca tulisannya. Untung aku sudah temenan sama Vabyo di FB (jujur aku gak inget kapan aku ngeAdd, yang pasti sudah lama sekali, pasca Bintang Bunting yang heboh-namun-belum-aku-baca-itu), jadi aku tahu bahwa buku Kedai 1001 Mimpi ini akan beredar ya melalui Fbnya vabyo. Sudah berulang kali aku ke gramed, tapi belum muncul juga bukunya. Suatu malem aku iseng jalan dan ngecek di databasenya gramed. Kedai 1001 Mimpi ada! Tapi stoknya 0. hah? Sudah habis gitu? Aku tanya sama mbak-mbaknya, dan si mbak, bilang bukunya habis. Kok iso? Padahal kan buku baru? Namun setelah lirik-lirik di tumpukan buku baru, aku nemuin buku ini! ”oh ya maaf Mas, aku baru inget, buku ini baru datang tadi sore, jadi belum kami input di sistem.” Untuk meyakinkanku, dia nunjukin tanggal edar yang ada di barcode. 110511, sedangkan hari itu tanggal 10 jam 8 malam. Oh jadi gitu toh sistemnya gramed, hehe. Jadi dengan kejadian itu aku bisa meyakini bahwa akulah pembeli pertama buku ini di Palembang.

Tentang – Kedai 1001 Mimpi -

Jujur saja aku iri dengan Vabyo ini. Dia orang yang berpendirian dan berani melakukan hal-hal baru. Ketika orang sudah nyaman berada di zona amannya, Vabyo malah berani melamar menjadi TKI di tanah gerang, Arab Saudi, demi memuaskan hasrat ke-timur tengah-annya. Awalnya Vabyo ditawarkan untuk bekerja sebagai Barista, alias peracik kopi-susu ala bartender gitu. Namun siapa sangka, Vabyo pun harus bekerja selaiknya OB di sana.

Vabyo ditempatkan di kota Alkhobar. Kota ”ajaib” dengan karakter-karakter ajaib pula. Di kota ini, kehidupan keras dialami Vabyo. Rekan kerja yang menyusahkan, pimpinan yang tidak baik, sampe pelanggan yang hobinya melecehkan. Di hari pertama kerja, Vabyo bahkan dituduh mencuri. Kalau di Indonesia, tentu kita dengan mudah berargumentasi. Namun, di negeri padang pasir ini, dimana penduduk asli memiliki kedudukan yang tinggi, Vabyo harus berjuang mempertahankan argumennya dengan bayang-bayang hukum syariah. Mencuri = tangan dipotong.

Sayangnya, hukum yang terlalu ketat, membuat warganya blingsatan jika melihat hal-hal aneh sedikit. Siapa sangka, di sana pun ada prostitusi terselubung. Bahkan, pria-pria di sana akan dengan mudahnya melakukan ”penawaran”, bahkan kepada sesama jenis sekalipun. Vabyo sering kali disangka orang Filipina, dan disana banyak warga Filipina yang bisa diajak kencan. Karena hal itu pula, Vabyo pun tak luput dari ajakan kencan ini, bahkan Vabyo sempat ”diperkosa” pasir di kota ini.

Belum lagi kehadiran Muttawa. Polisi Syariah yang sayangnya kerap bersikap tidak baik. Walaupun menegakkan hukum, toh dia juga manusia yang memiliki nafsu, bukan? Aku bergidik ketika ada sebuah kebakaran besar dimana orang-orang yang ada di dalamnya berlari keluar tanpa menggunakan penutup wajah, namun Muttawa memaksa mereka untuk masuk kembali ke kobaran api untuk menggambil penutup kepala. Yang ada semuanya tewas...

Datang ke negeri padang pasir, seseorang harus siap diperkosa. Di negeri yang serba ”tertutup” ini, bahkan seseorang bisa mempertontonkan kelaminnya dengan mudah. Ironis memang... penduduk lokal juga kerap bertingkah pongah kepada pendatang hanya karena mereka berdarah asli saudi. Aku saja yang membaca kisah Vabyo kerap merasa muak. Secara jujur, Vabyo menampilkan apa yang ia lihat dan ia temui disecara terbuka. Sialnya, ia sering dicap berusaha merontohkan keagungan Islam. Aku sendiri meyakini bahwa Islam akan selalu indah, namun tidak dengan pengikut-pengikutnya.

Ketika ditindas, Vabyo melakukan pembalasan dengan cerdas. Juga, Vabyo patut bersyukur ketika menemukan teman-teman setanah air yang bersedia dijadikan tong sampah. Tepatnya, mereka berbagi peran penampung cerita dan perlakuan ”sampah” :P sebuah oase dinegeri pasir panas.

Seperti orang sakaw. Buku ini benar-benar ”memuaskan”ku. Kalau saja tak ingat besok akan bekerja dan kemungkinan kekurangan tenaga, ingin rasanya menuntaskan buku ini dalam satu malam. Apa yang ditulis Vabyo adalah kejujuran dan kebenaran (semoga saja), jadi jangan terlalu gegabah mengecapnya sebagai perusak citra. Karena sekali lagi, ajaran akan selalu benar dan kokoh. Tinggal kita sebagai manusia saja yang haru mampu menjaga ajaran itu agar dapat diimplementasikan dengan baik.

Isi : * * * * 1/2
Diksi : * * * * 1/2
Kaver : * * *
Fisik buku : * * * *
Keseluruhan : * * * * 1/2
Skor ala Yayan : A

Btw... aku yakin buku ini akan dicetak ulang. Semoga typo yang bertebaran akan diperbaiki kelak 
2 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Kedai 1001 Mimpi.
Sign In »

No comments have been added yet.