Eva's Reviews > Blaze of Glory

Blaze of Glory by Michael Pryor
Rate this book
Clear rating

by
2516769
's review
May 10, 11

bookshelves: interesting-much
Read in April, 2011

Awesomeeee!!

Satu hal soal novel ini menurut gue... it's hilarious! Percayalah!
Gue memberi acungan jempol pada keputusan si pengarang menjadikan Aubrey sebagai karakter yang rada2 pin-pin bo, agak songong dan suka ngatur2 (mengingat dia seorang bangsawan), serta lebih sering kali... lebayyyy!! Mungkin ada beberapa pembaca yang mendapati Aubrey sangat menyebalkan, tapi hey... he can be freaking funny you know! Kapan lagi lo ngebaca soal penyihir cowok yang ambisius tapi gagal menjalankan ambisinya, kikuk menghadapi cewek yang galaknya setengah mampus, tertekan di tengah keluarganya yang adalah kumpulan orang2 penting. Dan yang terutama...

Aubrey itu sudah mati. Secara teknis, meskipun pada praktek sebenarnya, kondisi Aubrey jauh lebih kompleks dari sekadar 'mati'. That's mean double awesomeness!

Satu2nya yang membuatnya masih hidup bernafas dan berfungsi hanyalah sihir ikatan rapuh yang mengikat jiwanya agar tetap berada dalam tubuhnya, alih2 terbang ke alam baka. Semua itu akibat ambisinya yang kurang persiapan. Well, Aubrey itu salah salah satu karakter anti-hero yang justru likeable banget, menurut gue sih.

Di sini karakter cewek juga tidak disingkirkan begitu saja, di dunia Aubrey para wanita mulai mendapatkan keberanian untuk tampil meskipun belum diakui oleh para laki2, gerakan emansipasi wanita semakin nyata, dan para perempuan berbakat ini juga berani menyatakan pendapatnya secara lantang. Sejumlah karakter perempuan dalam novel ini adalah para suffragette--aktivis kesetaraan wanita. Salah satunya adalah Caroline yang cool. Meskipun hal ini terdengar kuno--emansipasi wanita, hare gene?? Well, sampe saat ini kesetaraan wanita belom bener2 merata di seluruh dunia lho. Jadi suffragette sendiri adalah istilah yang masih kontekstual, mungkin di negara macam Eropa-Amerika, para wanita sudah mendapatkan hak yang (hampir) setara, tapi di Asia? Afrika? No... no... bahkan di era internet ini sesungguhnya kita belom beranjak banyak dari pola pikir abad ke-19.

Gue sangat suka dengan cara pengarang membangun dunianya, menciptakan batasan2 terhadap apa yang bisa dilakukan sihir, apa yang tidak. Bagaimana para penyihir berpengaruh dalam dunia politik, intelejensia, militer, dan penelitian ilmiah. Tidak mudah menciptakan alternate history dengan segala sisi fantasi yang ada, tapi gue pikir Michael Pryor (dia pengarang kenamaan di Australia lho, masih tetanggaan ama kita) tergolong berhasil menerjemahkan idenya dalam buku yang menjadi pelipur lara gue ketika gue merasa sedih dan marah dan melan akibat masalah yang menarik2 kaki gue sepanjang bulan April ini. Cobalah membaca buku ini, penjelasan ilmiahnya tidak rumit dan mudah dibaca, tidak ada romantisme yang terlalu berlebihan, ada pertempuran sihir, tonjok2an, ledak2an, dan intrik politik yang tergolong ringan karena novel ini diperuntukkan bagi remaja.
The Laws of Magic, meskpun tidak sebrilyan Harry Potter, bisa dijadikan pengganti bagi kalian yang merindukan para penyihir yang melawan kejahatan tanpa perlu dimabuk cinta seperti Romeo dan Juliet.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Blaze of Glory.
sign in »

No comments have been added yet.